CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
104. Akung dan Uti


__ADS_3

Hari itu adalah jadwalnya Winarsih pulang dari rumah sakit. Pagi-pagi sekali Dean sudah bangun membereskan perlengkapan istri dan anaknya. Winarsih sedang berada di kamar mandi saat pintu kamar diketuk.


Ryan tampak baru datang bersama Novi dengan membawa sejinjing belanjaan pesanan Dean. Novi tampil lebih ceria dan segar. Tak tahu apa yang mereka lakukan di luar sana selama kedua majikan mereka berada di rumah sakit.


"Pak, saya mau laporan," ujar Ryan.


"Nov, kamu tolong bantu istri saya dulu ya. Saya mau turun ke lobby. Bilang kalo saya ada urusan sama Ryan. Mau ngomongin masalah kerjaan. Sekalian bayar tagihan. Bilang gitu ya Nov," ujar Dean.


Tampaknya mulai sekarang Dean harus lebih detil tiap permisi pada isterinya. Dia tak tahan jika harus menerima sindiran halus Winarsih sejak mendengar percakapan Genk Duda Akut kemarin.


"Pake ini dulu gih, capek liatnya pincang-pincang gitu terus," ujar Ryan seraya menyerahkan kembali sebuah tongkat pada Atasannya.


Dean meraih tongkat yang disodorkan oleh Ryan dan kembali meletakkannya di siku kanan.


"Sebenarnya ini udah mau sembuh, cuma dikit ngilu aja kalo dipake jalan cepet-cepet," tukas Dean


"Kalo di rumah bisa dilepasin, jadi nggak manja juga."


"Manja--" ucap Dean sinis pada sekretarisnya.


"Ke luar dari rumah sakitnya jam berapa Pak?" tanya Novi pada Dean.


"Tunggu Dokter Kandungan visit yang terakhir, mungkin entar-entar lagi," jawab Dean. "Ini biar saya ke bawah sekalian bayar tagihannya."


"Baik Pak," sahut Novi.


"Ya udah sih, biar saya yang selesaikan tagihannya. Pake kas kantor," ujar Ryan.


"Enggak usah, lahiran bini gua. Lebih nyaman pake uang dari kartu debit sendiri." Dean tertawa melihat Ryan mencibir.


Mereka sudah tiba di sebuah kafetaria yang berada di lobby rumah sakit. Ryan meletakkan sebuah amplop coklat ke atas meja dan langsung membuka isinya.


Itu adalah foto-foto yang dilaporkan kemarin oleh agen yang mereka sewa. Agen itu direkrut dari dua perusahaan yang berbeda. Keduanya ditugasi untuk melihat pergerakan Dennis Atmaja dan Disty. Sengaja direkrut dari dua dua agen karena Dean ingin mendapatkan hasil dari dua sudut yang berbeda.


"Fix Disty udah menggugurkan kandungannya, Dennis Atmaja jelas nggak mau," ujar Ryan seraya menyodorkan foto-foto Disty yang sedang memakai seragam rumah sakit serta foto list pasien dan keperluannya yang didapat dari meja resepsionis.


"Aborsi itu ilegal. Tapi gua rasa Dennis Atmaja punya rekan yang cukup baik ama dia. Berbagai alasan bisa dibuat. Selanjutnya?"


"Ini foto-foto Disty lagi di airport. Tujuan penerbangan nya ke Palembang. Kayaknya hubungan Disty dengan Dennis Atmaja udah berakhir. Kasus penusukan itu adalah janji Dennis Atmaja pada Disty."


"Dengan sejumlah uang yang cukup besar pastinya. Disty nggak akan ninggalin sesuatu yang bisa menghasilkan untuk hidupnya."


"Pak Dean tetap harus dateng ke sidang untuk memberi kesaksian soal kasus penusukan itu," ujar Ryan.


"Gampang kalo itu, tapi yang nabrak gua nggak keliatan kan?"

__ADS_1


"Agen kita nggak bisa dapet rekaman CCTV jalanan Pak," sahut Ryan. "Jadi sekarang yang dikerjain tinggal kasus Hartono Coil?".


Dean mengangguk.


"Backup-nya Dennis Atmaja itu udah sekelas Menteri juga. Pengusaha-pengusaha tajir negeri ini. Meski ketangkep kasusnya juga bakal mandek dan susah diproses. Elu kan tau sendiri. Gua sih pengennya punya satu cara yang bikin Dennis berenti ganggu Papa. Biar mereka bisa menghabiskan masa pensiun dengan damai dan menghormati satu sama lain. Sebenarnya sebelum-sebelum ini, Dennis juga nggak panasan kok sama Papa. Hanya sekedar persaingan bisnis aja. Ini semua ya karena Disty. Dennis cuma mau bales budi karena udah banyak memberdayakan Disty selama ini. Intinya kan karena gua juga Yan. Disty pulang ke Palembang juga karena Dennis udah muak. Dennis juga nggak maulah keluarganya sampai tau. Apalagi juga cucunya udah banyak. Gak mungkin dia mau menukar itu semua cuma demi seorang perempuan yang masih bisa dia cari lagi yang lain. Dennis kan laki-laki, gua juga bakal gitu kalo jadi dia."


Setelah berbicara panjang lebar, Dean membuka penutup air mineralnya menghabiskan setengah isinya.


"Maksudnya Bapak bakal gitu juga kayak dia, gimana? masih bisa cari perempuan yang lain lagi gitu?" tanya Ryan sok polos.


"Maksudnya lebih milih keluarga Yan, ketimbang perempuan itu. Ah elu, tapi ya namanya laki-laki nggak menutup kemungkinan juga. Ya nggak sih?" Dean menaikkan alisnya dan mengedipkan mata.


"Halah Pak, gaya bener deh! mau turun ke sini aja penjelasannya ke istri udah kayak paparan bukti di pengadilan." Ryan terbahak-bahak. Dean melengos.


Setelah menghabiskan senampan penuh jatah makan siang pasien serta tambahan dua potong roti, Winarsih tersenyum sumringah menatap suaminya.


Ryan dan Novi telah turun lebih dulu membawa dua tas besar milik Winarsih dan bayinya.


"Win, itu babysitter-nya Dirja udah nunggu di rumah. Novi kemarin yang aku minta cariin. Jadi kamu enggak capek banget."


"Sebenarnya saya juga nggak apa-apa kok Pak kalo nggak pake babysitter. Kan sekarang jarang ke dapur, jadi nggak capek."


"Pake babysitter itu juga demi ketenangan batinku. Kamu aja yang bilang nggak apa-apa. Kalo kamu capek, yang apa-apa itu aku Win. Masak dari pagi sampai mau tidur kamu pegangnya bayi terus, megang akunya kapan."


"Sama anak sendiri begitu," sungut Winarsih.


**********


"Selamat ya Win.... sekarang udah punya bayi," seru Pak Lutfi di depan teras rumah saat Winarsih baru turun dari mobil.


Dean yang mendengar perkataan Pak Lutfi langsung menimpali, "panggilnya pakai 'Bu'. Bu Winarsih. Pak Dean dan Bu Winarsih," ucap Dean menunjuk dirinya sendiri dan isterinya bergantian.


"Eh iya Pak," jawab Pak Lutfi meringis.


"Papa mana?" tanya Dean yang sedang menggendong Dirja.


"Ada Pak,"


"Itu elevator udah jadi diservice?"


"Udah Pak, udah beres. Udah bisa dipakai lagi," jawab Lutfi cepat.


"Oke, makasi." Dean kemudian masuk ke dalam rumah menyusul Winarsih yang sedang berdiri di bawah tangga.


"Enggak usah naik tangga, elevator samping udah bisa dipake. Nanti kamu banyak jalan-jalan, jaitan itu kamu jadi lama sembuhnya. Aku juga yang kalang-kabut." Dean merangkul pundak Winarsih dan mengajaknya berjalan ke sisi kanan rumah.

__ADS_1


"Bukannya emang diservice untuk Bu Amalia? biar gampang kalo mau turunnya," tanya Winarsih.


"Iya, itu juga alasannya Sayang," jawab Dean cepat mengedipkan mata pada isterinya.


"Kita ke kamar Mama dulu yuk, mau?" tanya Dean hati-hati. Dia tak ingin memaksa Winarsih kalau isterinya itu masih merasa capek dan tak siap dengan reaksi ibunya.


"Iya, mau." Winarsih mengangguk. Tentu saja dia mau mengunjungi mertua perempuannya. Sebagai seorang ibu, dia pasti tak akan menolak jika Dirja membawa anak yang akan diperkenalkan padanya kelak.


Saat Pak Hartono membukakan pintu kamar, Bu Amalia sedang duduk di atas kursi rodanya menonton televisi. Tontonannya kali itu adalah film Mulan. Wajahnya terlihat lebih segar. Sepertinya Bu Amalia baru saja bangun dari tidur siangnya.


"Cucu Akung udah pulang!" seru Pak Hartono di depan pintu kamar. Tangannya langsung terentang untuk mengambil Dirja dari gendongan Dean.


"Mari--mari sini, Akung mau gendong dulu," Pak Hartono memeluk Dirja di gendongannya dengan hati-hati.


"Ma, liat deh. Mirip kamu loh ini Ma. Mirip Dean waktu bayi. Dean kan mirip Mama," ucap pak Hartono yang berjalan mendekati kursi roda isterinya.


Pak Hartono duduk di tepi ranjang dan Winarsih mendorong kursi roda Bu Amalia untuk mendekat pada suaminya.


"Mama belum bisa gendong," ucap Pak Hartono mendekatkan Dirja yang masih tertidur ke depan isterinya.


"Ayo, ngomong dong Ma, Mama pengen dipanggil apa sama Dirja." Dean berjongkok di dekat kaki ibunya. Winarsih yang berdiri di belakang Bu Amalia tak berani membayangkan ekspresi wajah ibu mertuanya itu.


Winarsih memandang wajah Pak Hartono dan Dean bergantian. Tersirat makna penuh harapan yang sama besarnya untuk melihat Bu Amalia bisa bereaksi saat melihat Dirja.


Pandangan Winarsih berpindah pada jemari putih gading Dean yang sedang menggenggam tangan ibunya. Bentuk jari-jari mereka sama persis dengan warna kulit yang sama.


Benar kata Pak Hartono, Dean adalah versi laki-laki dari Bu Amalia. Suaminya itu mendapatkan keelokan paras dari kecantikan ibu kandungnya.


"Dirja Ma, namanya Dirja kata Dean. Mama mau dipanggil apa sama Dirja. Ayo ngomong. Dirja nungguin ini." Pak Hartono kembali memeluk Dirja yang terlihat menggeliat di dalam selimutnya.


"Cucu Akung udah bangun," ujar Pak Hartono. Suara tangis Dirja yang tampaknya sudah haus membuat Pak Hartono sedikit kelimpungan.


Bu Amalia terlihat menoleh Dirja yang sedang mengeluarkan tangis bayinya. Karena serangan stroke yang menyerang sebagian wajahnya, ekspresi Bu Amalia terlihat datar saja. Tapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia sedang sedikit tak sabar saat melihat Dirja yang menggeliat menangis.


"Sini Pa. Kayaknya Dirja haus. Ya udah, kita ke kamar dulu ya Pa, biar dia nyusu." Dean berdiri untuk mengambil bayinya.


Wajah Pak Hartono terlihat sedikit memancarkan kekecewaan saat cucu laki-laki pertama itu diambil dari tangannya.


"U-ti." ucap Bu Amalia.


Dean dan Winarsih yang sudah melangkah menuju pintu berbalik menatap punggung ibunya. Wajah Pak Hartono terlihat gembira.


"Ayo coba Ma disebut lagi, Dean dan Winarsih mau dengar," pinta Pak Hartono.


"Uti," ulang Bu Amalia.

__ADS_1


Dean dan Winarsih berpandangan seolah tak percaya kalau Bu Amalia baru saja membuka pintu hatinya untuk Sang Cucu.


To Be Continued.....


__ADS_2