CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
75. I Heart You


__ADS_3

Dean mencium isterinya yang masih sedikit terisak. Tangan kiri menopang berat tubuhnya yang berbaring miring menghadap Winarsih.


"Udah dong Bu Winar, Pak Deannya udah di rumah. Nginep di Kantor Polisi cuma ngobrol-ngobrol aja dengan Petugas yang sedang piket. Aku nggak ada ngapa-ngapain dengan perempuan itu. Ketemu lagi pas tadi pagi aja. Nggak ada kepikiran lagi yang macem-macem," ujar Dean merapikan lembar rambut isterinya yang lengket karena air mata.


"Saya nggak bisa tidur Pak," ucap Winarsih.


"Maaf--" jawab Dean.


"Saya mikirnya Bapak pasti sendirian dan kalut," sambung Winarsih lagi.


"Iya--Maaf"


Dean mencermati tiap kata-kata yang ke luar dari mulut isterinya dan menyadari tak satupun yang diucapkan Winarsih menyinggung soal Disty.


"Kamu nggak cemburu ngeliat aku digiring polisi ama dia?" tanya Dean sedikit heran masih menatap isterinya yang melemparkan pandangan ke langit-langit.


"Nggak Pak--" jawab Winarsih singkat.


Dean menghela nafas panjang.


"Kamu bener nggak cemburu ngeliat aku pagi-pagi udah ngobrol ama dia meski di Kantor Polisi?" tanya Dean lagi.


"Nggak" Winarsih masih tak memandang mata suaminya. Tangannya gini menggaruk-garuk tepi kerah kemeja Dean.


"Aku sejak tadi malem ketemu terus ama dia loh. Kamu nggak cemburu?" Dean menggeser letak tangannya agar menjauh dan bisa melihat wajah isterinya lebih jelas.


Winarsih menggeleng.


"Waahhh.... kemana hati nuranimu Bu Winarsih?" Dean bangkit dari posisinya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Winarsih sedikit terperanjat melihat reaksi suaminya yang sedikit terlihat gusar.


"Maksud saya--"


"Aku nggak nyangka kamu bisa mikirnya cuma gitu aja," potong Dean.


"Iya, tapi saya memang ngga ada mikir yang--"


"Kamu nggak cinta aku ya Win? padahal kita udah sering begitu-begitu." Dean duduk menyebelahi isterinya dan menunduk menatap kuku-kuku di jarinya.


"Saya cinta sama Pak Dean, makanya saya khawatir. Pak Dean ngambek karna saya nggak cemburu sama mantan pacar Bapak itu?" Winarsih memegang pundak Dean yang sekarang mengerucutkan bibirnya.


"Hmmm--" gumam Dean.


"Kan Pak Dean pernah minta ke saya untuk selalu percaya dengan Pak Dean. Sewaktu Pak Dean menikahi saya, saya sudah sepenuhnya percaya sama Bapak. Bahkan tanpa perlu Pak Dean minta. Saya selalu mempercayai Bapak," ujar Winarsih.


Tangannya kini mengelus punggung suaminya dengan lembut.


"Ya udah, aku nggak ngambek lagi. Kamu udah berenti nangis. Mari sini peluk aku," ucap Dean tersenyum merentangkan kedua tangannya. Dean berhasil membalik posisinya menjadi korban.


Winarsih memeluk suaminya erat.


"Aku cinta kamu Bu Winar--" sambung Dean memegang kepala isterinya.


"Saya juga cinta Pak Dean," balas Winarsih.


"Karna kita saling mencintai, maka ada baiknya kita saling menunjukkannya sekarang." Tangan Dean kini berpindah ke tempat favoritnya.

__ADS_1


"Kamu mau ngelanjutin pelajaran kemarin nggak? Aku lagi pengen jadi guru ni--" ucap Dean.


"Yang kemarin mana?" tanya Winarsih melepas pelukannya.


"Baru satu malam aku di Kantor Polisi kamu udah lupa. Gimana kalo--" Perkataan Dean terhenti karena tangan Winarsih berpindah ke kancing celananya.


"Yang ini?" tanya Winarsih.


"Eh? iya--" gumam Dean sesekali melirik tangan isterinya yang sudah berhasil melepaskan pengait dan menurunkan resletingnya.


"Ak--aku perlu rebahan dulu atau gimana? Eh--" Perkataan Dean lagi-lagi terhenti karena merasakan tangan Winarsih sudah memegang aset yang paling dibanggakannya.


"Terus Pak?" tanya Winarsih dengan wajah polos.


"Aku geser ke situ dulu. Kamu tetap gitu aj--" Dean bergumam tak jelas karena meresapi sentuhan hangat tangan isterinya di bawah sana.


"Ahhh, enak Win. Tapi kamu harus nunduk biar kamu bisa-- Aku pengen dicium," ucap Dean pelan tapi penuh harapan isterinya akan memahami maksudnya.


Winarsih yang masih berada di tepi ranjang duduk menghadapi Dean yang kini bersandar pada tumpukan bantal.


Perlahan wanita itu menunduk dan membuka mulutnya. Dean dengan setengah ternganga ikut menunduk untuk melihat apa yang akan dilakukan isterinya. Ujung mulut pria itu sedikit terangkat meringis karena khawatir. Dia was-was dengan apa yang akan dilakukan isterinya yang polos itu.


"Kamu ngerti ya maksud ak--Oohhh, Win--kamuuu Ahhh" Dean memejamkan matanya.


Kedua tangan Dean merapikan dan mengangkat rambut yang menutupi wajah isterinya.


Perlahan Dean menggerakkan kepala Winarsih untuk mengikuti irama naik-turunnya.


"Aduuhh" erang Dean sembari memejam.


Beberapa saat yang lama namun terasa singkat bagi Dean.


"Karena aku capek nggak tidur semaleman di Kantor Polisi, hari ini kamu yang kerja ya untuk kita berdua" Dean yang masih bersandar melolosi semua pakaian Winarsih hingga tak bersisa.


Winarsih hanya memandang tangan kiri Dean yang kini mulai memijat dadanya. Sementara tangan kanan pria itu menarik tubuh Winarsih dengan maksud mengarahkan untuk naik ke atas tubuhnya.


Mata Dean tak lepas menatap bagian bawah tubuh Winarsih saat tangannya sedang mencari dan mengarahkan aset berharganya itu ke tempat yang tepat.


Saat mencapai pintu masuknya, Dean menengadah menatap mata isterinya yang mulai layu.


Meski kedua tangannya kini bergerak menuntun gerakan, matanya tak lepas memandang Winarsih yang kini mencengkeram kedua tangannya.


Dada yang selalu jadi benda favorit Dean ikut bergerak menambah gaduh dan gemuruh di bawah sana.


Semakin lama gerakan Dean semakin cepat yang kemudian membuat Winarsih mengerang panjang dan berhenti untuk mengeratkan cengkeraman pada kedua tangannya.


Nafas wanita itu tersengal-sengal dan dadanya semakin terlihat menggemaskan bagi Dean.


"Udah?" tanya Dean pada isterinya.


"Eh? udah apa?" tanya Winarsih dengan mata redup.


"Sekali lagi ya? aku sekali juga belum. Bu Winar ternyata lebih kangen aku kayaknya," ucap Dean terkekeh.


Kemudian Dean kembali mengangkat pinggang isterinya untuk kembali bergerak. Beberapa saat yang cukup lama hingga akhirnya,


"Nunduk sini Win! aku mau cium itu--" Terengah-engah Dean mencari tempat di mana mulutnya biasa berada.

__ADS_1


Winarsih yang sekarang sudah hafal kebiasaan suaminya, menunduk ke depan dan membiarkan pria itu menyesap dalam puncak dadanya seperti biasa.


Akhirnya Dean menarik dan mengetatkan pegangannya pada pinggul Winarsih berkali-kali.


"Banyak Win, kayaknya kangen kita sama besarnya" Dean kemudian terkekeh karena merasa ucapannya menggelikan.


Winarsih yang polos hanya menatapnya datar-datar saja.


Masih dengan tertawa kecil Dean menarik kedua tangan isterinya untuk berbaring.


Setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua, Dean mulai mengelus-elus perut isterinya.


"Cepet mateng ya Nak, biar Bapak bisa nyobain gaya-gaya baru" Dean tertawa lagi.


"Apa sih yang lucu? dari tadi ketawa terus," ujar Winarsih sedikit cemberut.


"Bu Winar nanti pasti akan tau pada waktunya. Pelajaran hari ini, segini dulu. Nanti kalo Dean sachet ini udah lahir, aku ajarin yang lain ya" ucap Dean sembari meremas pelan dada isterinya.


"Untuk hari ini, kamu bener-bener cepet belajar. Sebagai seorang guru aku merasa berhasil," sambung Dean lagi.


TOK!! TOK!! TOK!! TOK!!


Tiba-tiba pintu kamar Dean digedor keras dari luar.


"Dean!! Dean!!" panggil Bu Amalia dari luar.


"Ke mana anak itu?" tanya Bu Amalia seperti kepada dirinya sendiri.


Kemudian Dean melihat ponselnya di atas meja nakas menyala tanpa suara. Tampak tulisan 'MAMA' mengisi layarnya.


Dean meletakkan jari telunjuknya di bibir agar Winarsih tak bersuara. Dia benar-benar lelah dan mengantuk sekarang ini. Tenaganya hanya tersisa sedikit untuk berdebat dengan ibunya.


"Dean!!" teriak Bu Amalia lagi dari luar. Ponsel Dean masih terus menyala.


Hening sesaat, kemudian ponsel itu padam dan terdengar suara langkah kaki menjauh.


Bu Amalia telah pergi.


"Pak, nggak boleh gitu. Harusnya telfonnya dijawab aja" lirih Winarsih pada suaminya.


"Males ah!" balas Dean.


Winarsih yang tadinya bersandar pada bantal kini bangkit meraih lengan kiri Dean dan merentangkannya.


Winarsih meletakkan kepalanya di atas lengan suaminya dan berbaring miring menghadap Dean yang sepertinya sedang berpikir.


"Aku udah capek ngasi pengertian ke Mama. Jadi tiap ngomong sebentar aja, aku udah kebawa emosi," ucap Dean.


"Kalau uang habis, bisa dicari lagi Pak. Ilmu saat terlambat didapat juga msh bisa dikejar. Tapi bakti pada orang tua kalau sudah lewat, itu nggak akan pernah kembali lagi," ucap Winarsih pelan seraya membelai pipi suaminya.


Dean hanya diam menatap wajah isterinya. Saat ini dia sedang terpukau dengan perkataan isterinya yang semakin hari semakin di luar dugaannya.


To Be Continued.....


Maaf untuk late update ya, sibuk beberes untuk perjalanan 5 hari ke 3 kota.


Happy Long Weekend gaes... :*

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaks kalian


__ADS_2