CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
83. Kram Dini Hari


__ADS_3

Dean baru saja selesai menyabuni seluruh tubuh Winarsih sembari meremas dan memijat tiap anggota tubuh isterinya.


Winarsih menuruti semua hal yang diminta suaminya malam itu. Bahkan saat Dean memilin dan memainkan puncak dadanya terlalu lama, Winarsih hanya menunggu dengan sabar sampai semua hasrat suaminya terpenuhi.


Winarsih sekarang benar-benar memikirkan bagaimana nanti jika dia harus menyusui bayinya sepanjang waktu jika Ayah Bayinya saja sering bertingkah seperti itu.


Dean meninggalkan banyak bercak kemerahan di dada dan lehernya. Dan puncak dadanya sekarang sudah memerah.


"Nggak apa-apa kan Win? semua yang ada sama kamu kan milik aku," ujar Dean saat menyadari bahwa Winarsih terus menatapnya saat menyeruput puncak dadanya itu terlalu lama.


Lagi-lagi Winarsih hanya tersenyum geli meski pegal. Pria yang sedang memainkan dadanya itu sangat tampan sekali. Terlebih pria itu juga sedang tak berbusana.


Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam dan Dean telah selesai mengambil jatah combonya seperti biasa.


"Aduh-aduh-aduh" pekik Winarsih saat melangkahkan kakinya ke luar dari bathtub. Sejak tadi kakinya memang terus menekuk karena sedang melakoni adegan berikutnya di kamar mandi.


"Aduh kenapa? sakit yang mana? Ini Win? atau yang mana?" tanya Dean berjongkok memijat betis isterinya.


"Kram," ujar Winarsih.


"Sebentar aku pakein jubah mandi. Untung udah selesai ya," ucap Dean.


"Apanya?" tanya Winarsih meringis.


"Ya mandinya. Ya itu juga--" gumam Dean pelan.


"Sini aku keringkan dulu rambutnya. Bisa jalan pelan-pelan kan? aku nggak bisa gendong Win. Kamu udah besar banget soalnya," sambung Dean.


"Besar banget--" gumam Winarsih cemberut.


"Maksudku perutnya yang besar. Kamu nggak besar. Aku nggak bermaksud bilang kamu itu gemuk," potong Dean cepat.


"Gemuk--" gumam Winarsih lagi.


"Nggak. Siapa yang bilang kamu gemuk? kamu itu montok, seksi, bohay." Dean yang juga masih mengenakan lilitan handuk menuntun isterinya duduk di kursi meja riasnya.


Winarsih masih sedikit cemberut.

__ADS_1


"Saya gemuk ya sekarang?" tanya Winarsih sembari menatap pantulannya di kaca. Pipinya memang terlihat lebih gempal dan berisi.


"Nggak. Kamu itu makin cantik sejak hamil anakku," jawab Dean mengambil handuk dan mengeringkan rambut isterinya.


"Tapi saya memang gemuk Pak," gumam Winarsih.


"Nggak. Kamu tuh montok dan seksi. Makanya aku bisa khilaf. Lagian cewe buat apa kurus-kurus banget? untuk aku yang tangannya lebih aktif, aku suka yang berisi kayak kamu." tutur Dean sembari mencolokkan kabel hair dryer kemudian menyalakannya.


"Bu Winar bisa insecure juga ternyata. Kan Pak Dean selalu bilang, jangan mikirin yang harusnya nggak dipikirin. Sejak ketemu Bu Winar, Pak Dean selalu bisa dua kali," sambung Dean lagi.


"Maksudnya sebelum ketemu saya, Pak Dean cuma sekali? sama siapa? katanya nggak pernah begitu-begitu." Winarsih semakin menekuk wajahnya.


Dean pucat pasi merasa salah bicara lagi.


"Emang nggak pernah. Ya sekali, maksudnya kalo aku sedang beraksi mandiri. Aku biasanya cuma sekali. Lagian kan capek kalo nggak ada lawan tempurnya. Aku tau enaknya dua kali itu sejak nyobanya ama kamu waktu aku-- itu juga salah kamu. Kenapa kamu gede, aku jadi susah fokus. Makanya aku nggak suka kalo laki-laki lain mandang kamu." Dean sedang berkilah selicin belut sawah. Tangannya terus mengeringkan rambut Winarsih bak seorang penata rambut.


"Jadi yang salah saya ya," gumam Winarsih melirik suaminya melalui pantulan kaca.


"Iya," jawab Dean.


"Makanya kamu harus tidur meluk aku sampe pagi," sambung Dean lagi.


"Duduk aja, aku yang ambilin pakaian kamu." Dean berdiri menuju lemari.


Sesaat kemudian dia kembali dengan sebuah daster yang biasa dipakai isterinya.


"Yang ini kan?" tanya Dean pada Winarsih yang duduk dengan menumpukan sebelah tangannya ke belakang.


Winarsih mengangguk kemudian tangannya terulur untuk mengambil daster itu dari tangan Dean.


"Aku aja yang makein," ujar Dean menarik tali jubah mandi yang tersimpul di atas perut isterinya.


Saat jubah mandi itu terbuka dan kembali menampilkan sepasang payudara indah yang sedang mempersiapkan diri menyimpan ASI, Dean bergumam :


"Aduh Win--aku sebenarnya berat untuk berbagi ini."


Lima menit kemudian Dean telah selesai memakaikan daster pada isterinya. Dan dia sendiri melepaskan handuk dan mengenakan piyamanya.

__ADS_1


"Udah selesai, udah dinihari. Ayo kita tidur. Kasian istriku kakinya sampe kram," ujar Dean merapikan letak bantal.


"Pak," panggil Winarsih.


"Ya?" Dean menoleh kepada isterinya.


"Saya belum pake daleman," ujar Winarsih pelan.


Dean tertawa terbahak-bahak jam satu dinihari.


"Aku lupa. Keseringan ngelolosin daleman kamu ya gini jadinya. Ya udahlah nggak usah dipake. Siapa tau Dean sachet perlu dikunjungi lagi nanti. Ayo sini baring!" Dean merentangkan tangannya memanggil isterinya.


Dean menepuk-nepuk bantal agar Winarsih segera merebahkan kepalanya di sana. Saat isterinya berbaring, Dean menarik membelai rambut isterinya dan mengecup dahi wanita itu.


"Kamu tidur aja ya, aku ambil minyak pijat untuk ngebalur betis kamu." Dean setengah bangkit meraih laci meja nakasnya.


Beberapa saat kemudian, Winarsih sudah setengah memejamkan mata dengan sebelah kaki yang berada di pangkuan suaminya.


Winarsih tidur dengan posisi miring memeluk sebuah guling yang biasa dijadikannya penumpu perutnya. Sejak tadi Dean membalur kedua kakinya dengan minyak dan memijat perlahan kaki isterinya.


Nafas Winarsih sudah teratur saat Dean melirik isterinya itu dan tersenyum.


"Makasi ya Win, kamu udah mau jaga anak aku dalam perut kamu. Bisa aja kamu dulu buang anak aku, karna aku nggak tau," gumam Dean sendirinya.


Diam sesaat, Dean kembali mengoles minyak di telapak kaki isterinya.


"Tadi aku ketemu saingan bisnis Papa dan ribut sebentar di kantornya. Sebenarnya aku tau imbasnya pasti besar banget buat kita semua. Tapi harga diriku lebih besar dari rasa takut aku Win," sambung Dean.


"Semoga Papa dan Mama bisa kuat seandainya badai itu dateng lagi ya Win. Kamu juga harus kuat. Maaf karna belum bisa ngasi kamu sebuah rumah tangga yang penuh ketenangan. Maaf kalo Mama belum bisa jadi mertua yang baik untuk kamu," lirih Dean sedikit tercekat.


"Tapi aku selalu berusaha melengkapi itu semua untuk kamu. Aku akan selalu berusaha mengisi tiap bagian kosong dalam hidup kamu. Dan kamu tau nggak Win? seandainya waktu bisa diputar mundur lagi, sampai ke peristiwa malam itu. Aku nggak akan merubah apapun. Karna saat kamu melangkahkan kaki masuk ke rumah ini, kamu sebenarnya dikirim untuk aku Win." Dean tersenyum seraya meletakkan kaki Winarsih dan menarik selimut menutupi tubuh isterinya.


Saat Dean ikut berbaring di sebelah Winarsih, pria itu kembali mengusap perut isterinya. Dean menepuk-nepuk pelan paha isterinya kemudian ikut memejamkan mata.


Sedetik kemudian, Winarsih mengerjapkan mata karena bulir air mata yang lolos dari sudut matanya.


To Be Continued......

__ADS_1


Don't forget to likes, comments and Visit Instagram @juskelapa_


__ADS_2