CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
67. Bertemu Reporter Desa


__ADS_3

Dean masih berjongkok menghadapi seember penuh air yang baru saja selesai ditimbanya.


"Kok cuma dilihat Pak?" tanya Winarsih yang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan sebuah handuk.


"Dingin Win, aku mandi di hotel aja boleh? nunggu Ryan dateng ke sini," tawar Dean menatap isterinya.


"Nggak boleh, harus mandi sekarang"


"Mandiin dong,"


"Pantang bicara begitu" ujar Winarsih.


"Emang kenapa?" tanya Dean lagi.


"Cuma orang meninggal aja yang dimandiin Pak," jawab Winarsih kalem menyodorkan handuk.


"Sekalinya bercanda nyeremin amat Win," Dean cemberut mengambil handuk dari tangan isterinya dan menutup pintu.


Pagi itu Dean telah menghubungi Ryan dan memintaq sekretarisnya itu datang siang hari.


Setelah menghabiskan sepiring nasi goreng dan telur dadar, Dean memaksa Winarsih untuk mengajaknya melihat sawah tempat Bu Sumi dan dirinya bekerja selama ini.


"Sawah itu milik siapa Win?" tanya Dean yang kini sudah berpakaian rapi seperti hendak ke mall.


"Dulunya milik keluarga kami Pak, tapi sejak Ayah kena stroke dan perlu pengobatan, Ibu menjual sawah itu pada tengkulak. Tapi kemudian saya dan Ibu bekerja lagi di sana. Jadi buruh harian," terang Winarsih.


"Saya mau liat sawahnya boleh?"


"Sawah kan di mana-mana sama saja Pak,"


"Tapi saya mau liat sawah bekas keluarga kalian itu Sayang--"


Mendengar Dean memanggilnya dengan sebutan sayang, Winarsih langsung menyanggupi.


"Saya ganti baju dulu ya," Winarsih membuka tas pakaiannya dan melihat satu-persatu baju yang dibawanya dari Jakarta.


Dean duduk bersandar di dekatnya.


"Yang itu aja, dress krem berkerah itu," ucap Dean memberikan pendapatnya.


"Warnanya pasti bagus ke kulit kamu," sambung Dean lagi.


"Yang ini?" tanya Winarsih mengangkat sebuah pakaian yang dimaksud suaminya.


Dean mengangguk.


"Ganti bajunya di sini aja, jangan ke mana-mana. Aku mau liat," ucap Dean tersenyum-senyum.


Menuruti permintaan suaminya, Winarsih segera mengganti pakaian dengan apa yang disarankan oleh Dean tadi.


Beberapa saat berada di kota, penampilan Winarsih telah banyak berubah.

__ADS_1


Saat berada di luar rumah, wanita itu tak pernah lagi mengikat rambutnya. Poninya yang mulai panjang kini tersisir rapi ke samping dan kadang tersangkut di balik telinganya.


Saat istrinya selesai berpakaian, Dean bangkit dari duduknya dan jemarinya menyisir rambut Winarsih.


"Leher kamu harus selalu tertutup, dan seluruh dress yang kamu punya kancingnya harus sampai di batas ini--" tangan Dean merapikan kerah dress yang berbentuk kemeja.


"Jangan sampai laki-laki lain melihat kedua benda milikku ini--" Dean menyentuh dan memijat pelan dada isterinya.


Tak sampai semenit menyentuh, Dean kembali memegangi kedua pipi istrinya dan menyeruput bibir bawah Winarsih yang sedang terbuka hingga berdecak sangat keras.


Dean tampaknya sangat gemas melihat Winarsih yang semakin lama terlihat semakin cantik.


Setelah Dean menggigit dan mengulum bibir isterinya beberapa saat, pria itu melepaskan isterinya yang terlihat terengah-engah.


"Aku cuma pengen cium kamu aja Bu, nggak mau tidur sekarang. Kamu kok udah terengah-engah gitu," sindir Dean terkekeh.


Dan Winarsih yang tersipu mengarahkan cubitan ke perut suaminya. Dean langsung menangkap tangan itu dan mencium telapaknya.


"Aku makin suka dengan perubahan isteriku sekarang," gumam Dean sembari menyelipkan selembar rambut ke belakang telinga isterinya.


Dean sudah berdiri di bawah gawang pintu menghadap ke halaman depan, saat matanya berkeliling seperti mencari sesuatu.


"Cari ini kan?" tanya Winarsih sembari berjongkok dan memberikan sepasang Loafer coklat ke depan kaki suaminya.


"Tadi saya bersihkan. Sedikit berlumpur pinggirnya. Pak Dean cocoknya pakai yang bersih-bersih begini," Winarsih menepuk sepasang sepatu itu dan tersenyum mendongak pada suaminya.


Dean menatap sepatunya yang sudah sangat bersih dibanding ketika baru tiba di rumah isterinya.


Akankah Dean melirik Winarsih yang saat itu hanya seorang pembantu yang jarang sekali bertemu dengannya?


Tahukah Mamanya kalau saat ini hatinya sangat bahagia memiliki seseorang seperti Winarsih sebagai pendampingnya?


"Yuk Pak," ajak Winarsih setelah mengaitkan pintu rumahnya.


Dean langsung menggenggam tangan isterinya dan berjalan menjauhi halaman.


"Rumah itu milik keluarga kamu Win?" tanya Dean sedikit menoleh ke belakang.


"Iya Pak, itulah satu-satunya peninggalan Ayah saya. Meski bentuknya sangat sederhana, tapi kami semua merasa aman karna nggak perlu mengontrak rumah. Jadi cari nafkah hanya untuk mengisi perut saja," Winarsih meringis menoleh ke arah Dean.


Dean kembali menoleh rumah itu sekilas.


Dengan tangan yang masih bergandengan, kedua suami istri itu berjalan menyusuri gang untuk menuju jalan besar.


Disebut jalan besar, sebenarnya jalanan itu pun tak terlalu besar. Kalau dua buah mobil berjalan dari arah berlawanan, salah satunya harus mengalah untuk lebih ke tepi agar tak bersenggolan.


Hampir 15 menit berjalan kaki, Winarsih mengajak Dean berbelok ke sebuah jalan yang terletak di kiri.


"Persawahan terletak di ujung jalan sana Pak, yang di depan ini jajaran rumah tengkulak di desa kami. Besar-besar rumahnya," terang Winarsih seraya menyapukan pandangan ke sebelah kiri mereka di mana terdapat jajaran rumah yang memiliki halaman luas.


Saat melintasi sebuah warung,

__ADS_1


"Win! Winarsih!" suara seorang wanita terdengar meneriakkan namanya.


Langkah kaki Winarsih terhenti, dan mencari asal suara.


"Bu Sutri ternyata--" sapa Winarsih.


"Wah, benar Winarsih ternyata! Saya pangling liatnya. Sekarang makin cantik. Ke mana saja nggak pernah terlihat lagi? ada yang bilang kamu kerja di kota, perginya dengan Utomo tapi kamu pulang sendiri, sedang ham--" Bu Sutri salah satu istri tengkulak yang sedang berada di warung memburu Winarsih dengan berbagai penasaran.


"Utomo jadinya gimana Win?"


"Ehem!!" Dean berdehem. Bu Sutri menoleh kepada Dean yang sedang berdiri memasang wajah masam.


Melihat ekspresi suaminya, Winarsih sedikit merasa ngeri mengingat Dean yang selalu pandai menjawab pertanyaan orang dengan tajam.


"Perkenalkan Bu, ini suami saya," ujar Winarsih pada wanita setengah baya yang sedang menatap Dean.


"Eh, ini suaminya Winarsih. Mba--Mba Mis!! Ini loh, Winarsih. Mantan calon mantumu. Mba Mis ke sini dulu," Bu Sutri memanggil seorang wanita lain yang sedang berada di warung.


Seorang wanita setengah baya lainnya tampak ke luar dari warung dengan wajah malas-malasan menatap Winarsih.


Dia adalah Ibu kandung Utomo yang mati-matian menolak hubungan Winarsih dengan anaknya.


"Winarsih sudah menikah dengan orang lain nih Mba Mis, kamu nggak perlu khawatir lagi anakmu yang tampan itu nikah dengan dia," ujar Bu Sutri menyindir Ibu Utomo.


Dean sedikit melihat tatapan remeh yang dilontarkan Ibu Utomo kepada istrinya.


"Ini suaminya Mba, ganteng bener! namanya siapa? kerja di Jakarta juga? sama-sama dengan Utomo? Utomo kan katanya sekarang kerja kantoran kan Mba?" tanya Bu Sutri seraya mengikut lengan Ibu Utomo.


"Perkenalkan saya Dean Danawira Hartono, LL.M. Saya Pengacara di Jakarta,"


"Anaknya Pak Harto, tengkulak itu. Pengacara juga tapi pake S.H nama belakangnya. Nak Dean ini kok beda? Pengacara apa? Bisa bela-belain orang di pengadilan juga? Bela-belain penjahat gitu? maling-maling gitu," ujar Bu Sutri sok tahu.


"Saya lulusan sekolah hukum di Universitas California, Berkeley. Magister Hukum Bisnis. Saya Pengacara khusus hukum bisnis Bu, nggak bisa belain maling ayam. Biasanya belain perusahaan," jawab Dean tersenyum.


Winarsih melirik wajah Dean yang berusaha sabar menjawab ocehan Bu Sutri. Winarsih harus meremas-remas lembut tangan Dean untuk memberi kekuatan kepada suaminya.


"Wih, hebat loh kerjanya Mba! Pengacara. Berarti nggak sekantor sama Utomo ya--" Bu Sutri kembali mencolek lengan Ibu Utomo yang sedang tersenyum kaku.


"Nggak--nggak sekantor dengan Utomo, Utomo kerjanya di perusahaan Ayah saya," Dean tampaknya harus membuat wajah kaku Ibu Utomo semakin kaku.


"Hah? Mba Mis, itu perusahaannya Pak Menteri Hartono kan?. Eh iya!! Tadi nama belakang suamimu pakai nama Hartono juga ya Win? Winarsih menantu Menteri? saya kok nggak nyangka," Bu Sutri yang merupakan salah satu reporter desa tertawa menepuk-nepuk bahu Winarsih.


"Pasti Winarsih bahagia sekarang. Utomo yang kerja di perusahaan itu saja bangganya bukan kepalang. Seisi desa ini tau Utomo kerja di mana. Apalagi jadi menantunya ya Win? Suamimu juga gantengnya luar biasa gini. Mirip bintang filem. Untung kamu dulu nggak merestui hubungan Utomo dengan Winarsih ya Mba," Bu Sutri yang sepertinya punya dendam pribadi kepada Ibu Utomo kembali tertawa.


Dean hanya tersenyum geli melihat drama ibu-ibu penghuni warung pagi itu. Tak sabar Dean bertemu Ryan siang ini. Dia harus memastikan kalau rumah besan Menteri Hartono harus melebihi rumah tengkulak di simpang jalan itu.


To Be Continued.....


Happy weekend gaees..


Jejaks ya..jejaks :*

__ADS_1


__ADS_2