CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
96. Titik Balik


__ADS_3

Masih menjelang siang saat Bu Amalia masuk ke UGD Rumah sakit dengan dampingan Novi dan Winarsih. Dean yang langsung mendapat telepon dari isterinya langsung meninggalkan pekerjaannya dan bergegas ke rumah sakit.


"Kalo dari ciri-cirinya kayak stroke Bu," ujar Novi yang duduk bersisian dengan Winarsih di ruang tunggu UGD.


"Padahal Pak Hartono yang pernah mengalami stroke. Kenapa Bu Amalia yang--" Winarsih sedang mengingat apa yang terjadi pagi itu.


"Berita Pak Hartono. Pasti karna berita Pak Hartono tadi pagi," tukas Novi.


"Oh iya!" seru Winarsih seraya mengeluarkan ponselnya dari tas yang dikenakan Novi dan menuju situs pencarian yang pernah diajarkan Dean padanya saat mencari resep masakan.


Winarsih langsung mengetikkan nama mertuanya pada kolom pencarian. Matanya mencari semua berita teratas yang langsung dibukanya.


Sesaat Winarsih seperti sedang berpikir-pikir. Wanita itu terdiam dan mencermati tiap kata-kata yang dibacanya.


Seorang ajudan wanita sejak tadi berdiri di dekat tirai penutup ranjang.


"Bu Winarsih?" panggil suara seorang wanita dari dalam.


"Ya?" Winarsih segera menyahuti dan terburu-buru masuk ke dalam. Ajudan wanita Bu Amalia dan Novi juga ikut menyeruak ke dalam.


"Ini serangan stroke iskemik. Karna plak yang terlepas dan menyumbat pembuluh darah otak. Penyebabnya hipertensi," ujar Dokter UGD.


"Tekanan darahnya berapa Dok?" tanya Winarsih.


"200/110. Sangat tinggi dan membahayakan. Untungnya pasien dibawa ke rumah sakit secepatnya meski dalam keadaan tidak sadar. Karna pengobatan stroke di atas 4.5 jam setelah serangan, mengurangi efisiensinya. Kita sudah menyuntikkan pengencer darah altiplase untuk melarutkan bekuan darah di otaknya. Selanjutnya kita nanti lakukan CT SCAN dan MRI dan ditangani oleh Dokter Syaraf," terang Dokter seraya mengguntikan plester dan menutupkannya di kasa yang menutupi luka di dahi Bu Amalia.


"Masih bisa sembuh total Dok?" tanya Winarsih dengan raut khawatir. Terbayang di benaknya bagaimana Ayahnya yang harus terbaring bertahun-tahun karena stroke dan berakhir meninggal tanpa pernah mendapat perawatan yang layak.


"Masih Bu, masih. Kemungkinannya besar sekali. Mungkin hipertensi pasien ada kaitannya dengan kondisi psikisnya. Setelah dilakukan CT SCAN dan MRI kita bisa mengetahui kondisi kerusakan otak. Luas dan lokasinya. Tapi semua tetap bergantung pada kondisi tubuh pasien menerima pengobatan serta motivasinya untuk sembuh."


Winarsih memandang iba pada Ibu Mertuanya yang terbaring tak sadarkan diri. Dia tak berani menyentuh wanita yang telah melahirkan suaminya itu.


"Gimana Win?" tanya Dean tiba-tiba dari belakangnya.


"Stroke Pak, tekanan darahnya 200/110. Dahinya luka karna terjatuh di depan kamar mandi kamar," jelas Winarsih masih memandang Bu Amalia.


"Ma, Mama-- Dean udah di sini. Mama bangun dong, anak Dean sebentar lagi lahir. Mama harus liat. Papa bakal baik-baik aja, Dean janji. Dean masih butuh Mama." Dean mengusap pipi dan mencium tangan Bu Amalia dengan tangan kiri, saat tangan kanan Dean masih bertumpu dengan tongkatnya.


Hatinya sangat hancur melihat Ibu yang dirasanya tak pernah menerima kabar buruk selama hidupnya itu terbaring tak berdaya dengan dahi terluka.


Di dalam kamar saat terbaring tak enak badan, Ibunya pasti sedang memegang ponsel dan melihat berita-berita terkini seperti kebiasaannya.


Ibunya, yang berasal dari keluarga terpandang sangat menjunjung tinggi semua hal tentang nama baik. Yang selalu mewanti-wanti soal perilaku Dean dalam pergaulan.


Yang mengatur semua pendidikan, pekerjaan bahkan pasangan hidupnya dengan keras. Meski sebagian besar banyak tak dituruti oleh Dean, meski semua cara itu ditampik dan ditentang sama keras oleh dirinya, tapi Bu Amalia adalah tetap ibu yang tak pernah membenci anaknya.

__ADS_1


Dean yang terlalu sering mengkritik cara ibunya menerapkan aturan pada kehidupan anak-anaknya terkadang lupa. Bahwa semua keberhasilan yang diperolehnya sekarang adalah hasil didikan dari cara yang selalu dikritiknya itu.


Hari ini, Bu Amalia telah sampai pada batas kesanggupan tubuhnya menyimpan semua beban dan kekhawatirannya selama ini.


**********


Dua minggu pasca serangan stroke yang dialami oleh Bu Amalia, wanita itu telah kembali ke rumah dan berbaring di kamarnya.


Tubuh wanita itu lumpuh pada bagian kanan, karena terjadi sumbatan di otak kirinya. Bu Amalia belum bisa bicara, namun pandangannya terlihat masih mengenali orang lain.


Dua orang perawat bergantian merawat wanita itu dari sejak bangun tidur hingga malam. Pak Hartono yang sedang tenggelam dengan pekerjaan dan proses kasusnya, jarang sekali berada di rumah.


Begitu pula Dean. Akhir-akhir ini Winarsih jarang berbicara dengan suaminya itu. Dean yang masih mengenakan tongkatnya, berangkat pagi-pagi sekali dan pulang saat ia sudah tertidur.


Karena raut wajah Dean yang selalu serius dan banyak diam akhir-akhir ini, Winarsih tak berani menanyakan hal apapun pada suaminya itu.


Bahkan Winarsih tak menagih soal Dean yang tak bisa menemani pemeriksaan kandungannya yang sudah memasuki minggu ke 38. Dean hanya meminta maaf saat mengatakan bahwa dia lupa akan janjinya pergi ke Dokter Kandungan.


Malam itu, Winarsih mendengar keributan dari lantai dua. Tempat di mana Bu Amalia berada. Winarsih bergegas ke luar kamar dan membuka pintu kamar mertuanya.


"Ada apa Sus?" tanya Winarsih melihat sebuah piring beserta isinya pecah dan berserakan di lantai.


"Ibu nggak mau makan. Dari pagi nggak mau makan. Tadi saya suapin, tiba-tiba mendorong dengan kibasan tangannya." Perawat tadi membungkuk memunguti pecahan piring di lantai.


"Panggil Mba Tina ke dapur, bawakan makanan Ibu yang baru dan bersihkan pecahan piring ini," perintah Winarsih pada Perawat. Perawat tadi segera bangkit dan keluar kamar.


"Saya tau ibu benci saya melebihi apapun di dunia ini. Bagi Ibu, saya adalah perempuan yang hadir ke dalam keluarga ini dan merusak semuanya," ucap Winarsih mengambil sebuah sisir dari meja rias.


Winarsih memandang pantulan Bu Amalia yang menatapnya tajam melalui kaca.


Perlahan Winarsih menyisir rambut ibu mertuanya yang biasa terjalin rapi. Kulit wajah wanita tua itu, begitu putih bak pualam. Dengan rambut hitam pekat yang dihiasi lembaran rambut putih, penampilan wanita itu masih sangat cantik meski dalam keadaan sakit.


Berat badannya telah susut banyak karena seringnya ia menolak makanan. Semangatnya untuk sembuh seperti menguap karena kurangnya dukungan dari keluarga yang jarang menemuinya.


Mba Anggi, Kakak Dean yang berada di Belanda dan bekerja sebagai seorang Dosen mengatakan tak bisa kembali dalam jangka waktu dekat karena seminar penting yang sedang berlangsung di universitas tempatnya bekerja.


Kakak sulung Dean itu berjanji akan pulang ke Indonesia bulan berikutnya saat seminar itu telah berakhir.


Terdengar ketukan di pintu dan Mba Tina bersama Perawat muncul dengan sebuah nampan berisi makanan baru dan sepasang sapu beserta serokan.


Masih sambil menyisir rambut mertuanya, Winarsih mengawasi pekerjaan Mba Tina hingga selesai.


"Nampan makanannya bisa ditaruh di sini aja Sus," Winarsih menunjuk meja rias dengan dagunya.


"Setelah itu Suster bisa ke ruang makan pegawai aja. Istirahat sebentar, nggak apa-apa. Biar saya yang siapin Ibu." Winarsih merapikan rambut Bu Amalia dan menyisirnya sebagian ke depan bahu.

__ADS_1


"Kalau Ibu nggak suka saya, Ibu harus cepat sehat untuk bisa marah ke saya. Saya nggak suka liat Ibu yang biasanya penuh energi malah jadi begini," ujar Winarsih seraya menjauhkan kursi roda dan menarik kursi rias untuk didudukinya.


Kini Winarsih duduk berhadapan dengan Ibu Mertua yang memandang jijik padanya. Jika saja Bu Amalia bisa berbicara, mungkin wanita tua itu pasti akan memakinya.


"Sekarang Ibu harus makan. Saya tau Ibu nggak suka saya ada di kamar ini. Apalagi saya sampai duduk di sini. Ibu pasti nggak mau liat muka saya. Tapi saya akan terus ada di kamar ini, kalo Ibu nggak mau makan. Kalo perlu saya akan minta izin ke Pak Dean untuk tidur menemani Ibu di sini." Winarsih mengambil piring dan menyendok nasi lembek di piring.


Bu Amalia terlihat mendengus dan memalingkan wajahnya.


"Ayo Bu, semakin cepat Ibu makan, saya semakin cepat pergi dari sini. Ibu nggak perlu lama-lama ngeliat muka saya." Winarsih mengangkat sendoknya ke depan mulut Bu Amalia yang masih memalingkan wajahnya.


"Nggak mau makan? oke. Saya tahan kok duduk di sini," ujar Winarsih menurunkan piringnya ke pangkuan.


"Kandungan saya sudah 38 minggu Bu, sebentar lagi saya lahiran. Bayinya Pak Dean tumbuh sangat sehat sampai perut saya sebesar ini. Belakangan saya jadi mulai cepat capek. Tapi saya nggak mau ganggu Pak Dean yang sedang konsentrasi mengurus kasus Pak Hartono. Meski masih terpincang-pincang dengan tongkatnya, tapi anak Ibu itu sangat bisa diandalkan. Ibu pasti bangga sekali punya anak seperti Pak Dean."


Winarsih membayangkan wajah Dean saat mengatakan hal itu. Winarsih rindu pada suaminya yang belakangan hanya sering bisa dilihatnya dari kejauhan saat bicara serius dengan orang lain.


"Ayo Bu, buka mulutnya. Kalo nggak makan sekarang, Ibu akan mendengar saya ngomong sepanjang malam. Pak Hartono sebentar lagi mungkin pulang dalam keadaan penat. Beliau harus melihat istrinya segar dan cantik tiba di rumah nanti." Winarsih kembali mengangkat sendoknya ke dekat mulut Bu Amalia.


Perlahan Bu Amalia membuka mulutnya.


"Iya Bu, bener. Ibu harus makan. Ibu nyawa keluarga ini. Jadi ibu harus sehat. Ringankan beban pikiran suami saya Bu. Kalau Ibu sehat, Pak Dean pasti lebih mudah menyelesaikan semuanya." Winarsih menunduk karena merasa matanya memanas. Dia tak ingin menangis di depan Ibu Mertuanya itu.


"Sedikit lagi Bu, beberapa sendok lagi dan saya pasti ke luar dari sini."


Perlahan namun pasti Winarsih bisa memaksa Bu Amalia menghabiskan nasi di piringnya. Setelah tersisa sedikit lagi, Winarsih menghampiri telepon dan kembali memanggil perawat untuk datang.


"Sus, Ibu sudah makan dan minum. Segera ganti pakaian dan lap wajahnya ya. Saya ke luar dulu, pinggang saya sakit."


Setelah perawat mengatakan bahwa telah mengerti dengan apa yang disampaikannya, Winarsih ke luar dari kamar. Dan sesaat tubuhnya harus mengerem tiba-tiba menyadari seseorang sedang berada di depan pintu.


Dean menangkap tubuh istrinya.


"Hati-hati," ucap Dean masih memeluk isterinya.


Meski terpincang-pincang, Dean merangkul isterinya berjalan meninggalkan pintu kamar Ibunya.


"Kamu kangen aku ya?" tanya Dean memandang perut isterinya yang sangat besar.


Winarsih mendongak menatap suaminya dan mengangguk.


"Maafin aku ya Win, belakangan terlalu sibuk. Sampai aku nggak sadar anak kita sebentar lagi lahir. Anakku kira-kira kangen Bapaknya nggak ya?" tanya Dean lagi setengah tersenyum.


Winarsih hanya diam mengatupkan bibirnya.


"Ngeliat dari ekspresi Ibunya, kayaknya anakku pasti sedang kangen-kangennya ini," ujar Dean mendorong pintu kamarnya.

__ADS_1


To Be Continued.....


Coba dicek-cek dulu, siapa tau ada tiket votenya yang sisa, bisa vote ke Dean yaa... XD


__ADS_2