CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
76. Tamu di Pagi Buta


__ADS_3

Disty berada di apartemennya sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah Keluarga Hartono untuk menemui nyonya rumah itu.


Tak ada hal lain dipikirannya selain ingin menyakiti pria itu. Bukan karena Disty tak mencintai Dean lagi. Tapi karena rasa cintanya itu kini berubah menjadi suatu hal yang begitu menyakitinya.


Meski dinyatakan positif sebagai pemakai narkoba Golongan I, Disty dengan mudah melenggang ke luar dari pasal-pasal yang hendak dijeratkan padanya.


Kemarin, Dennis Atmaja membereskan hal itu tak sampai dua jam setelah Dean dan isterinya pergi dari Kantor Polisi.


Dan pagi ini, setelah melihat tayangan televisi yang memuat berita simpang siur tentang pesta pernikahannya, Disty langsung bersiap-siap untuk menumpahkan segala amarahnya dalam bentuk caci maki.


Beberapa pesan yang diterima Disty dari teman-temannya semakin membuat darahnya mendidih. Bagaimana mungkin seorang Adisty Wulandari yang tak pernah ditolak oleh pria manapun kini diberitakan sebagai seorang perebut suami orang.


Semua orang kini menghina dirinya dan mencaci maki Dean. Sekarang pria itu sedang bersantai di rumah menjalani kehidupan normalnya tanpa terganggu sama sekali.


Sekali lagi, dia akan melemparkan kartu Asnya untuk membuat Dean tak berkutik.


**********


Di pagi berikutnya, Dean sengaja tak ikut sarapan bersama Bu Amalia karena dia tahu bahwa Pak Hartono sedang berada di rumah dan bisa menemani istrinya bersantap pagi.


Jadi Dean memutuskan untuk sarapan di jam berikutnya bersama Winarsih.


Dia tak sabar ingin makan semeja bersama Winarsih untuk pertama kalinya sebagai suami istri di rumah itu.


DRRRRRRTTT..... DRRRRRRTTT.....


Ponsel Dean di atas meja nakas bergetar.


Dean sedang berdiri dengan merenggangkan kakinya agar mempermudah Winarsih yang sedang menyimpulkan dasinya menoleh ke meja itu.


Selintas dia melihat nama Ryan di layar. Dan setelah Winarsih mengetatkan simpulan di dasinya, Dean langsung meraih ponsel.


"Ya Yan?"


"Barusan dikasi kabar kalo kemarin Disty berhasil lolos"


"Yah sesuai perkiraan kita kan? nggak mungkin dia nggak lolos," sahut Dean.


"Bukti foto kayaknya harus kita duluan deh ngeluarinnya"


"Gua lagi mikir nih. Kalo dikeluarin pasti meledak besar. Masalah gua selesai, tapi Papa pasti kena. Pasti Yan. Gua harus nyiapin berkas perusahaan Papa selengkap-lengkapnya. Lu tau sendiri alasannya apa" Dean melirik isterinya yang terlihat santai menyusun pakaiannya di lemari.


"Tau Pak. Karna nanti, lawan Pak Dean berubah jadi Dennis Atmaja. Ketemu di pengadilan dengan Pak Hartono sebagai pengacaranya. Sorry saya ngomong gitu"


"Ledakan terakhir Yan. Gua juga nggak pernah sekalipun mikir bakal jadi Pengacara Papa," gumam Dean dengan wajah muram.

__ADS_1


"Eh Pak! ini ada pesan baru masuk. Disty baru aja ke luar dari apartemennya menuju Menteng"


"Sebentar lagi gua bakal nerima tamu kayaknya. Ya udah, gua siap-siap dulu. Entar gua langsung ke kantor," ujar Dean mengakhiri pembicaraan.


Dean memandang ponselnya dengan tatapan kosong. Sejenak jemarinya hanya mengusap layar ponsel berkali-kali.


Otaknya sedang memikirkan berbagai kemungkinan dan peluang yang bisa dimanfaatkannya.


Jika semua memang harus terjadi, Dean hanya berharap bahwa orang tuanya bisa bertahan melewati badai yang sedang digiringnya datang.


"Berangkat jam berapa?" tanya Winarsih melihat ke arah Dean yang berjalan mendekatinya.


"Turun ke bawah yuk, hari ini kayaknya aku belum bisa bawa kamu sarapan di meja makan utama. Hari ini bakal ada keributan kecil. Aku nggak mau anakku kelaperan karna keributan itu." Dean mengulurkan tangannya kepada Winarsih.


Mendengar kata keributan, Winarsih hanya diam lalu menyambut uluran tangan suaminya.


"Saya nggak apa-apa makan di mana aja. Di ruang makan pegawai juga nggak apa-apa," ucap Winarsih.


"Aku yang nggak mau Win," jawab Dean.


"Tapi hari ini kayaknya kita memang harus makan di sana, aku bakal temenin kamu" Dean menggandeng isterinya ke luar kamar.


Masih dengan menggenggam tangan Winarsih, Dean berjalan menuju sebuah jendela besar dan melongokkan pandangannya ke halaman.


Rombongan Patwal telah bersiap untuk mengantarkan Papanya pergi ke kantor hari itu. Dean berharap Disty akan tiba di rumah mereka setelah Pak Hartono pergi.


Dari kejauhan Bu Amalia telah menoleh sekilas melihat Dean yang menggandeng isterinya berjalan menuju ke meja makan.


"Makan De?" tanya Pak Hartono pada Dean.


"Dean makan di belakang aja Pa," jawab Dean sembari terus berjalan melewati meja makan.


Winarsih yang bertemu pandang dengan Pak Hartono terlihat menunduk untuk menyapa pria tua itu.


Pak Hartono tersenyum dan membiarkan anak serta menantunya makan di ruangan lain. Dia tak ingin memancing keributan di saat gerombolan Patwal telah menunggunya.


"Winar," sapa Mba Tina saat melihat Winarsih muncul di gawang pintu dapur bersih. Wanita itu kemudian sedikit menunduk kepada Dean.


"Winarsih semakin cantik," ucap Mbah yang baru muncul.


"Pak Dean mau sarapan di sini? biar Mbah siapkan," tanya Mbah pada Dean.


"Iya Mbah, kita berdua kangen masakan Mbah," ujar Dean berjalan menggandeng tangan isterinya ke ruang makan pegawai.


"Duduk sebentar ya, Mbah siapin" Mbah kemudian mengambil sebuah nampan dan menyusun piring-piring kecil di atas nampan itu serta mengisinya dengan lauk.

__ADS_1


Dean telah duduk di kursi dan menyatukan kedua tangannya di depan mulut. Pandangannya menyapu dinding ruangan itu.


Kemudian Mba Tina datang membawa sebuah nampan yang berisi lauk pauk dan meletakkannya di hadapan Dean.


"Ini ruang makan pegawai kan?" tanya Dean pada Mba Tina.


"Iya Pak," jawab Mba Tina singkat. Dia heran dengan pertanyaan Dean yang sepertinya bermaksud lain.


"Pak Lutfi masih sering duduk di sini bergosip?" tanya Dean menyindir Mba Tina yang sekarang terlihat salah tingkah.


"Nggak Pak." Mba Tina terlihat buru-buru mengatur piring lauk.


Winarsih sedikit meremas tangan Dean yang masih menggenggam tangannya.


Menyadari hal yang dilakukan isterinya, Dean mengangkat tangan Winarsih dan menciumnya di depan Mba Tina.


Winarsih meringis dan merona sembari melirik Mba Tina yang kemudian sedikit menunduk dan berlalu dari hadapan mereka.


Dan kemudian samar-samar terdengar suara sirine Patwal menjauh dari rumah. Dean menarik nafas lega, Pak Hartono telah berangkat ke kantornya.


"Mau sarapan apa?" tanya Winarsih menatap suaminya yang sedang mengedarkan pandangan ke hamparan lauk pauk di meja.


"Nasi goreng aja. Kamu makan yang banyak ya," ujar Dean.


Winarsih kemudian mengisi piring kosong di depan suaminya.


"Pak Dean juga makan yang banyak"


Dean menatap kosong tangan Winarsih yang menyendokkan nasi goreng ke piringnya.


"Harusnya ibu bisa mengatur anak Ibu!" suara lantang seorang perempuan yang dikenal Dean terdengar dari arah ruang makan.


Dean segera bangkit dari duduknya tapi tangannya ditahan oleh Winarsih.


"Kamu di sini aja, aku ke depan dulu. Perempuan itu harus segera disingkirkan dari sini secepatnya," pinta Dean pada Winarsih yang sedang menatapnya dengan pandangan memohon.


Dean tahu kalau isterinya itu sedang mencegah keributan yang sesaat lagi akan terjadi.


"Mba Tina! Mba Tina!" panggil Dean.


Mba Tina sedikit tergopoh datang dari arah dapur kotor.


"Ya Pak?"


"Kamu duduk di sini, pastikan Bu Winarsih sarapan yang banyak dan nggak pergi ke ruang depan sampai saya balik ke sini lagi," perintah Dean pada Mba Tina yang langsung menunduk.

__ADS_1


Mendengar perkataan Dean, Winarsih melepaskan pegangan pada tangan suaminya.


To Be Continued...


__ADS_2