
Dean melirik jam di pergelangan tangannya berkali-kali. Langit sudah sepenuhnya gelap. Dean sudah meminta Novi untuk mendaftarkan nama Winarsih sebelumnya agar mereka tak perlu lagi mengantre lama mengingat pasien dr. Azizah di Rumah Sakit P Kebayoran Baru selalu membludak.
Saat tiba di depan teras rumah, mobil yang biasa dikendarai Pak Hartono juga tampak terparkir di sana. Ternyata Papanya juga baru tiba di rumah.
Dean baru saja turun dari mobil untuk menjemput isterinya ke dalam saat dirinya melihat Irman sedang berbicara dengan Winarsih di bawah gawang pintu depan.
Dengan mimik wajah sedikit tak suka, Dean mendekati isterinya. Irman tampak sedikit mundur kemudian mengangguk kepada Dean.
"Sudah selesai kan? yuk langsung berangkat," ajak Dean sembari mengulurkan tangannya kepada Winarsih. Pria itu membalas anggukan Irman dengan wajah datar.
"Saya permisi dulu Mas," ucap Winarsih pada Irman.
"Mari silakan Bu," balas Irman mengangguk.
Dean menggandeng tangan Winarsih dan menuntunnya hingga membukakan pintu mobil.
"Udah lama nunggu aku di situ?" tanya Dean pada Winarsih.
"Baru aja. Biar Pak Dean nggak repot naik lagi ke atas," jawab Winarsih.
"Si Irman udah lama di situ?" tanya Dean.
"Baru juga, Pak Hartono baru tiba." Winarsih menoleh ke arah suaminya. Sedikit heran dengan pertanyaan yang dilontarkan suaminya.
Mobil bergerak menuju daerah Kebayoran Baru. Dan Dean berkendara dalam diam.
"Pak Dean kenapa?" tanya Winarsih yang masih tak mengerti.
"Nggak apa-apa. Emang kenapa?" Dean balik bertanya.
"Pak Dean nggak suka kalau saya ngomong dengan Irman?" tanya Winarsih memegang tangan suaminya yang sedang bertumpu di tongkat persneling.
"Nggak sih, biasa aja. Ada-ada aja deh Bu Winar," jawab Dean tergelak sesaat kemudian kembali diam.
"Oo, saya kira Pak Dean cemburu dengan Irman," ujar Winarsih.
"Cemburu? sama Irman? ya nggak mungkinlah," tukas Dean.
Winarsih kembali menoleh wajah suaminya yang malam itu terlihat sedikit kaku.
Mobil terus merayap membelah kemacetan kota Jakarta di jam-jam padat lalu lintas berakhirnya jam kerja.
Hampir satu jam di perjalanan, Dean kemudian memarkirkan mobilnya di sebuah taman yang terletak di depan gedung poliklinik rumah sakit.
"Yuk," ajak Dean sembari mengantongi ponselnya dan turun dari mobil. Setengah berlari pria itu memutari mobil untuk membantu Winarsih yang perutnya sudah semakin membesar.
Malam itu Winarsih memakai sebuah dress lengan pendek berwarna hitam yang berpotongan A dari bawah lengannya.
Warna Dress itu menutupi ukuran perutnya yang meski usia kehamilannya 7 bulan tapi orang bakal percaya Winarsih sedang menunggu hari saja. Bayi Dean sepertinya tumbuh dengan sangat sehat di kandungannya.
"Bu Winarsih gilirannya setelah dua pasien berikutnya ya Bu," ujar seorang perawat yang langsung menghampiri mereka saat baru tiba di lorong praktek Dokter Spesialis.
"Iya, terimakasih ya Sus," jawab Dean menggandeng isterinya duduk di sebuah sofa yang sejajar dengan pintu masuk ke ruang dr. Azizah.
__ADS_1
Dean yang duduk di sisi kiri memindahkan tangan Winarsih ke genggaman tangan kirinya, dan tangan kanannya sibuk merogoh ponsel di saku.
Pandangannya tertumbuk dengan ponsel di tangannya, dan Winarsih duduk santai melihat pemandangan petugas kesehatan yang lalu lalang di hadapan mereka.
Kemudian pandangan Winarsih tertumbuk dengan sesosok balita perempuan yang berusia lebih kurang 3 tahun yang sedang berlari mengejar seseorang.
"Ayah," panggil balita perempuan itu.
"Eh anak Ayah udah dateng. Mama mana?" tanya pria tinggi yang memakai seragam operasi berwarna biru lengkap dengan topinya.
"Itu Mama--" ujar balita perempuan itu yang menunjuk seorang wanita yang sedang berjalan mendekati mereka.
"Parkir di mana?" tanya pria itu pada sosok wanita yang merupakan isterinya.
"Titip kunci mobil sama Pak Arif aja tadi. Dia yang parkiran," jawab wanita itu.
Pria itu kemudian berjongkok untuk berbicara pada anak perempuannya.
"Alya mau makan di mana malam ini?" tanya Ayah balita itu.
"Makan apa ya--" jawab balita itu mengerlingkan matanya.
Winarsih yang melihat hal itu tersenyum. Itu adalah pemandangan yang sangat indah baginya. Bayangan Pak Padmo yang sering menanyakan hal serupa padanya dulu datang ke ingatan.
"Kalo gitu malam ini kita makan di resto favorit Ayah ya? Alya mau?" tanya Ayah Balita itu.
"Mau--mau," jawab balita itu.
"Mama makan udon lagi dong kalo gitu. Mama nggak suka sushi," jawab wanita di dekat mereka cemberut.
"dr. Firza!! sebelum pulang tandatangani laporan hasil operasi tadi ya. Hari ini kita udah selesai kan Dok?" seru seorang perawat dari kejauhan.
"Udah! jadwalku udah abis. Entar aku ke sana!" jawab Dokter pria itu.
"Yuk Shen, Abang tandatangani laporan dulu sebelum balik. Ayo--ayo, anak Ayah digendong aja." Dokter itu kemudian mengangkat anaknya dalam gendongan dan wanita yang ternyata isterinya mengikuti di sebelah.
Winarsih tersenyum dan melambai pada balita perempuan yang ternyata menoleh padanya melambaikan tangan.
"Kamu ngeliatin apa? Dokter laki-laki itu ya? ganteng ya? laki-laki dengan seragam itu emang lebih ganteng sih. Tapi aku juga ganteng loh Win kalo pake seragam Pengacara di pengadilan." Dean menatap isterinya seolah meyakinkan perkataannya.
Winarsih menoleh geli pada suaminya yang sejak tadi uring-uringan.
"Saya ngeliatin anak perempuannya, lucu Pak. Cantik sekali," jawab Winarsih.
"Ntar lahir Dean sachet yang ini, kita langsung bikin Winar sachet. Kamu juga harus ada anak perempuan dari aku. Biar nggak usah liat-liat anak orang lain," jawab Dean semakin menarik tangan isterinya hingga nyaris berada di pangkal pahanya.
"Iya," jawab Winarsih semakin tersenyum geli.
"Pak Dean nggak pake seragam juga ganteng kok. Saya suka," jawab Winarsih menatap wajah suaminya dari samping.
Rambut Dean yang malam itu turun menyentuh alis hitamnya terlihat sangat pas bersanding dengan kulit wajahnya yang tak bernoda.
Winarsih menyadari bahwa diam-diam dia sudah mengagumi wajah itu sejak tiba di rumah Keluarga Hartono.
__ADS_1
"Lebih ganteng lagi kalo nggak pake apa-apa kan Win?" lirik Dean kemudian meremaskan tangan Winarsih di atas benda kebanggaannya.
Winarsih mendelik dan Dean tergelak bahagia melihat wajah isterinya.
"Bu Winarsih sudah bisa masuk ke dalam," panggil perawat.
Winarsih telah berbaring di ranjang periksa dan dr. Azizah sedang mengarahkan kamera USG mengitari perutnya.
"Bayinya udah cukup besar ini Pak Dean. Hampir 1.3 kilogram. Dilihat dari ukuran tungkai dan lingkar kepala, bayinya termasuk panjang. Sehat sekali ya, semua normal. Hidungnya mancung sekali ini, dari samping sini udah keliatan." Dr. Azizah mengklik layar kemudian mencetak lembaran foto USG.
"Rencana mau lahiran normal kan?" tanya dr. Azizah pada Winarsih.
"Iya Dok, saya maunya lahiran normal," jawab Winarsih.
Dean yang tadi sedang bangga mendengar kondisi bayinya, kemudian menatap bingung kepada dr. Azizah.
"Lahiran yang nggak sakit pokoknya Dok. Yang cepat dan nggak sakit," jawab Dean meringis.
Dokter Azizah tertawa.
"Kondisi Bu Winarsih sangat sehat, saya anjurkan untuk lahiran normal aja," ujar Dokter Azizah kembali duduk ke balik mejanya.
Seorang perawat membantu membersihkan sisa gel USG dan membantu Winarsih turun dari ranjang.
Beberapa saat kemudian, Winarsih telah kembali duduk di sebelah Dean menghadapi dr. Azizah yang sedang menuliskan resep di secarik kertas.
"Ini resep vitaminnya ya, saya beri vitamin E juga agar kulit Bu Winarsih tetap bagus. Lebih kurang dua bulan lagi udah bisa ketemu dengan bayi laki-lakinya." Dokter Azizah merobek kertas dan menyerahkannya pada Dean.
"Dua bulan lagi ya Dok.. harus banyak modal dan persiapan dong saya," tukas Dean. Dokter Azizah tersenyum-senyum mendengar perkataan Dean.
"Win, dua bulan lagi Win," ucap Dean memandang foto USG dan merangkul isterinya di lorong sesaat kemudian.
"Kenapa Pak?" tanya Winarsih.
"Aku nggak sabar nunggu kelahiran Dean sachet ini, dia pasti ganteng nggak ketulungan kayak Bapaknya. Tapi aku juga khawatir dengan nasibku dua bulan sesudahnya." Dean menerawang kembali foto USG itu di depan wajahnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Winarsih yang belum mengerti.
"Kayaknya aku harus lebih banyak membekali kamu ilmu baru Win," ujar Dean.
"Kita makan dulu, terus langsung pulang. Aku lagi kangen. Ya--ya--? perut Bu Winar yang makin gede ini bikin aku makin gemes." Dean yang merangkul pundak Winarsih, kemudian menarik tubuh isterinya dan mencium pipi wanita itu berkali-kali.
Winarsih tertawa karena tingkah suaminya itu.
"Iya--" jawab Winarsih masih sambil tertawa.
"Dua kali ya?" tanya Dean yang kembali mencium pipinya.
"Iya--" jawab Winarsih tertawa.
"Ayo--ayo-- Bu Winar makan yang banyak." Dean merangkul pundak isterinya dan tangannya mengacak rambut wanita itu.
Tak jauh dari tempat Dean dan Winarsih yang sedang tertawa-tawa, Disty yang malam itu langsung diminta Dennis Atmaja untuk menemui salah seorang Dokter Kandungan melihat dan mendengar percakapan suami isteri itu dengan tatapan penuh kebencian.
__ADS_1
To Be Continued.....
PS. Cerita dr. Firza bisa diintip di Stranger From Nowhere (1) ya :p