CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
115. Kebohongan Kecil


__ADS_3

Cuma minta dilike dulu, biar nggak lupa.


Makasi yaa... Happy Reading :*


**********


"Hei pada ngumpul tapi nggak ngabarin aku ya. Cuma Rio yang mau bilang kalian lagi di mana. Yang lainnya pura-pura nggak tau. Sombong banget!" Seru Ara saat sudah berada di sebelah Rio.


"Ah nggak kok, biasa aja. Cuma pas kamu nelfon tadi, aku emang lagi sibuk aja," ujar Tony.


"Iya tuh, bener. Idem. Gua juga gitu," sambung Langit membela diri. Ia tak ingin disalahkan oleh Dean kalau-kalau ikut memberi informasi tempat diana mereka berada.


"Lu nggak ngasih alasan De?" tanya Rio terkekeh.


"Alasan apapun dari gua, tetap aja kedengeran kayak sebuah alasan. Kan lu bilang biasa aja, ya udah gua biasa aja. Duduk Ra, pesan makan-minum." Dean menyodorkan sebuah buku menu pada Ara.


"Ngegas banget sih De," ucap Ara. Mendengar perkataan Ara, Dean hanya meringis.


"Pada sering ke sini ya semuanya?" tanya Ara mengedarkan pandanganmya kepada empat laki-laki yang duduk mengitari meja persegi panjang di dekatnya.


"Ya kalo pas lagi santai dan gak ada kerjaan aja kita ngumpul," jawab Toni.


"Lagi pada ngomongin apa? Dari jauh gua liat seru banget," tukas Ara.


"Oh kita lagi ngomongin proyek Toni yang baru. Kayaknya dia berhasil, jadi kita dengerin aja kesuksesan dia. Ya kan Ton," sindir Langit menepuk-nepuk bahu Toni.


"Biasa aja lu anji**" gumam Toni pelan. Langit terkekeh di belakang tubuh sahabatnya itu.


"Jadi lu ke mana aja selama ini Ra?" tanya langit kemudian pada Ara.


"Gua selama ini tinggal di Kalimantan Lang. Udah 5 tahun di Kalimantan, jarang banget gua ke Jakarta. Almarhum suami gua asli orang sana," jawab Ara.


"Wah jangan-jangan temannya Pak Hartono lagi. Atau sodaranya Bokap lu De? Gimana kalo suami Ara ternyata Om lu? Dan lu harus manggil Ara dengan sebutan Tante?" tanya Toni dengan mimik serius.


Dean melemparkan pandangan jijik ke arah Toni. Dasar Toni bangsat, mesti banget itu disebut-sebut. Rutuk Dean dalam hati.


Sore itu Ara tampil sangat cantik seperti biasa. Cantik, modis dan berkelas. Ara duduk di antara Tony dan Rio, sedangkan di sebelah Rio ada Langit baru kemudian ia sendiri.


Dean tak memandang mata Ara secara langsung saat mereka sedang membicarakan cerita-cerita lama tentang masa SMA.


Main basket, kantin sekolah, jam olahraga bahkan ketika mereka bolos dan pergi ke puncak beramai-ramai. Dean hanya tertawa dan menimpali sekenanya saja.


Sejauh ini Dean tak merasa terganggu. Karena tak ada di antara satu pun kawannya yang ikut mengingatkan soal kisah cinta lama mereka yang bagai sebuah legenda di SMA itu.


"Sejak ke Jakarta, baru ketemu Dean sekali ya? Udah 10 tahun juga ya De nggak ketemu Ara?" tanya Toni mulai penasaran.


"Enggak kok, nggak baru ini ketemu." Ara mengerling ke arah Dean menanti ekspresi pria itu. "Kalo gak salah hampir dua minggu yang lalu atau seminggu yang lalu ya De? Kita ketemu di Kalimantan. Gak sengaja aja gitu nginepnya di satu hotel yang sama."


"Oh iya emang, kemarin waktu gua sidang di Pengadilan Tinggi bareng Papa beserta stafnya, gua sempet ketemu ama dia," jawab Dean memandang Toni. Bukan memandang Ara.


"Satu hotel, kebetulan banget. Terus gak ada nostalgia?" tanya Toni memancing.


"Nostalgia apa? Jangan ngaco. Dean aja udah gak mau lagi inget-inget itu," jawab Ara cepat.


"Dean gak mau inget, berarti lu masih mau inget-inget dong," celetuk Langit tertawa.


"Ya nggaklah, biasa aja. Mau inget gimana juga. Udah 10 tahun yang lalu, ya kan De?" Ara menarik ujung pergelangan kemeja Dean dengan jarinya

__ADS_1


Dean hanya tertawa sumbang kemudian dia mengangkat tangannya yang tadi ditarik Ara untuk melirik jam di pergelangan.


Dean kembali mengaduk minumannya, "Eh udah sore nih, gua balik deh." Dean bangkit dari kursinya.


"Buru-buru banget Pak Dean padahal masih pagi," ujar Rio ikut melirik jam di tangannya.


"Iya nih De, mau ngapain?" tanya Langit.


"Kangen liat anak gua dong," ujar Dean.


"Kangen liat anak lu nyusu?" sindir Toni seraya mencibir.


"Iya dong, abis itu giliran gua yang nyusu. Enak. Lu sih tau apa ya, taunya cuma disep--" jawab Dean terbahak seraya mengantongi ponselnya. Rio dan Langit tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan Dean. Ara hanya diam menunduk seraya tersenyum tipis.


"Kalo Dean balik, gua balik juga ah," ujar Langit.


"Gua juga deh. Ngapain di sini berduaan ama si Toni," tukas Rio.


"Ya udah, sekalian aja keluar semuanya. Gua juga mau balik," ujar Ara.


Kemudian mereka berbondong-bondong menghampiri kasir Beer Garden dan saling menyodorkan sebuah kartu untuk membayar tagihan mereka.


"Hari ini gua yang traktir semuanya," tegas Ara.


"Wih jadi gak enak nih, masa kita ditraktir sama temen yang baru jadi Jan--" Toni melirik reaksi Ara.


"Biasa aja kali Ton," tukas Ara.


Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di lobby dan keluar berdiri di teras menantikan valet parking masing-masing.


Mereka masih terus mengobrol, sesekali Dean menimpali sambil menunggu mobilnya diambil oleh petugas parkir. Dean berdiri dengan kedua tangannya berada di dalam saku celana.


Meski tidak terlalu intens, sentuhan Ara lebih sering tertuju padanya. Ketiga sahabatnya tak ada yang menyadari hal itu. Dean juga tak mau dikatakan terlalu baper atau geer jika menyampaikan hal itu pada mereka.


Langit dan Toni telah pergi lebih dulu dalam satu mobil. Sedangkan Rio sedang merogoh kantongnya untuk memberikan uang tip kepada petugas valet parking.


Saat mobil Dean telah tiba di depan mereka semua, Ara sedang tertawa terbahak-bahak dengan tangan kirinya yang memegang lengan Dean. Wanita itu baru saja mendengar hal lucu dari Rio sesaat yang lalu, sebelum pria itu pergi masuk ke mobilnya dan meninggalkan Dean dan Ara yang masih berdiri di teras gedung.


Saat petugas valet parking menghampiri Dean dengan sebuah kunci mobil, ia segera berpamitan dengan melambai sekilas ke arah Ara dan pergi masuk ke mobil sedan hitamnya.


Meski sejenak, Ara sempat bergelayut dan mendongak menatap wajah mantan pacarnya itu.


**********


"Gimana kakinya? Mama sudah merasa lebih enakan?" tanya Winarsih pada Bu Amalia saat mereka baru masuk ke dalam mobil.


"Udah. Tadi kamu mompa ASI-nya Dirja banyak gak?" tanya Bu Amalia.


"Banyak kok Ma, kenapa?" tanya Winarsih saat Pak Noto menutup pintu belakang mobil untuk memasukkan kursi roda Bu Amalia.


"Mama pengen makan di restoran favorit Mama. Dean pulang jam berapa? Ada ngasi kabar?" tanya Bu Amalia lagi.


Bagaimanapun Bu Amalia adalah seorang isteri dan ibu yang baik. Yang sejak dulu selalu mengurus segala keperluan suami dan anak-anaknya dengan teliti.


Dia tak mau kalau saat Dean pulang, tapi isterinya belum tiba di rumah. Meskipun urusan Winarsih keluar memang untuk menemaninya terapi di rumah sakit.


"Bisa kok, Pak Dean sudah tau kalau hari ini memang jadwal Mama terapi ke rumah sakit. Tadi sebelum pergi saya juga udah ngabarin. Mama mau makan di mana?"

__ADS_1


Kemudian Bu Amalia menyebutkan satu nama restoran yang langsung dimengerti oleh Pak Noto. Supir Keluarga Hartono itu, memang sering membawa majikannya untuk pergi makan ke restoran yang baru disebut oleh Bu Amalia tadi.


Sore itu, meski lebih banyak diam duduk berhadapan dengan ibu mertuanya. Winarsih menikmati waktu bersantai mereka berdua dengan penuh hikmat sembari menikmati hidangan yang lezat.


Menjelang malam, mereka keluar dari restoran dan naik ke mobil. Dari parkiran basement, mobil yang dikemudikan Pak Noto melintasi teras gedung tempat di mana Dean sedang menunggu mobilnya.


Jarak mereka memang cukup jauh, tapi pandangan Bu Amalia dan Winarsih sedang menatap sosok yang sama.


Dean yang sedang berdiri dengan kedua tangannya berada di saku, dan seorang wanita yang sedang tertawa ceria seraya melambai pada seorang pria yang tengah masuk ke dalam mobil.


Winarsih dan Ibu Mertuanya hanya diam seribu bahasa hingga mereka tiba di rumah. Pikiran Winarsih melayang terasa tak menjejak bumi. Yang barusan dilihatnya itu adalah suaminya yang tadi mengatakan akan bertemu dengan sahabat-sahabat prianya.


Dean tak berbohong, yang baru saja masuk ke mobil tadi adalah Rio. Dan ia mengetahui pasti siapa wanita yang sedang bergelayut ruang di lengan suaminya tadi.


Mantan pacar suaminya itu sangat cantik. Rasa minder menyelusup diam-diam ke dalam hatinya. Dean tak pernah berbohong padanya. Sejak menikah, Dean tak pernah sekalipun berbohong.


Sebentar lagi, mereka akan tiba di rumah. Dia akan menanyakan hal itu langsung pada Dean. Sekilas ia melirik Ibu Mertuanya yang mengatupkan rahang dan mengeraskan pandangannya. Winarsih tak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh ibu suaminya itu.


Winarsih baru saja mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah memastikan Ibu Mertuanya juga telah mapan di ranjangnya, ia mengambil Dirja dari gendongan babysitter-nya untuk membawa bayi laki-laki itu ke kamar dan menyusuinya.


"Hari ini nggak kelamaan kan nungguin Ibu?" tanya Winarsih saat mulai berbaring miring dan memandang bayinya yang sedang mengecap-ngecapkan mulutnya menanti ASI langsung dari tempatnya.


Manik mata Dirja yang bening memandangnya seolah mengerti apa yang baru saja disampaikan oleh ibunya.


"Tadi Ibu nemenin Uti makan di restoran, kayaknya Uti seneng bisa jalan dan duduk di luar sekali-sekali. Kasian Uti ya nak, udah lama nggak ke mana-mana." Winarsih meletakkan puncak payudaranya ke mulut Dirja. Dalam sekejab saja bayi itu sudah mengecap berdecak-decak dengan berisiknya.


Winarsih gemas sekali melihat pipi Dirja yang menyemburat merah seperti disapukan blush on. Mata Dirja sedikit sipit dengan bola mata bulat dan besar berkedip-kedip sedang melakukan kontak mata padanya.


Tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka. Dean muncul di pintu dengan senyum lebar.


"Anak Bapak lagi minum susu. Kayaknya Bapak pulang di saat yang tepat."


Dean melepaskan dasinya kemudian ikut berbaring di sebelah Dirja. Satu tangannya menumpu kepala dan tangan lainnya memeluk isterinya dan mengurung bayi mereka.


"Gimana terapi Mama? Udah banyak kemajuan?" tanya Dean.


"Udah, ngomongnya juga udah mulai normal. Meski kakinya belum kuat jalan lebih dari dua langkah. Tapi kata Dokter kemajuannya pesat," jelas Winarsih pada suaminya.


"Bagus. Seneng dengernya." Dean menarik kepala Winarsih dan mencium dahi isterinya.


"Tadi jadi ketemuan bareng temen-temen?" tanya Winarsih pada Dean yang masih menghirup aroma kepalanya.


"Jadi."


"Siapa aja yang dateng?"


"Yang biasa aja. Rio, Langit ama Toni. Berempat kayak biasa." Tak mungkin sekali rasanya Dean menyebutkan ada nama seorang wanita di antara mereka. Terlebih lagi itu adalah mantan pacarnya.


"Cuma itu aja?" tanya Winarsih lagi.


"Iya. Emang kenapa?" tanya Dean sedikit gelisah.


"Yakin?" ulang Winarsih lagi.


"Iya. Emang kenapa Win? Kamu kok kayak gak percaya?" tanya Dean semakin was-was seraya mengingat-ingat apa yang dilakukannya selama bertemu dengan teman-temannya tadi.


"Enggak apa-apa Pak, saya cuma nanya aja." Winarsih kemudian memejamkan matanya menepuk-nepuk pelan paha Dirja seraya bersendanung lagu Jawa.

__ADS_1


Dean menatap wajah isterinya dengan perasaan sedikit tak enak. Winarsih tak seperti biasanya. Tak ada kehangatan dalam suaranya malam ini.


To Be Continued.....


__ADS_2