CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
38. Pulang


__ADS_3

"Jak, kamu punya nomor telepon lain nggak di rumahnya Pak Hartono itu? Aku mau nyoba menghubungi Winarsih pakai nomer di bagian rumah selain dapur," ucap Utomo saat menghampiri Jaka ke meja kerjanya.


"Memangnya kenapa nomor yang biasa kamu hubungi? Emang nggak bisa?" Jaka menghentikan pekerjaan dan berpaling pada sahabatnya.


"Yang jawab telepon, orangnya itu-itu aja. Sepertinya salah satu perempuan yang juga bekerja di dapur. Kalau dia yang jawab, Winarsih enggak pernah ada. Katanya ke pasar lah, pergi lah, lagi ada kerjanya lah. Nggak bisa dihubungi Jak. Padahal aku cuma mau tau kabarnya aja." Wajah Utomo terlihat begitu serius saat berbicara.


"Lah kan katanya udah putus. Bisa jadi itu artinya dia memang nggak mau dihubungi Ut. Ya udahlah ikhlasin, cari yang lain aja. Itu Mery, anak umum sering aku liat ngelirik-ngelirik kamu. Coba deketin dia aja kalo kamu nggak sanggup menyandang status jomblo." Jaka terlihat sebal dengan curhatan sahabatnya yang terlihat sangat susah berpindah ke lain hati.


"Mungkin kamu belum pernah aja ngerasain perasaan kayak aku ini," ujar Utomo kesal pada Jaka.


"Belum ngerasain gimana maksud kamu? Lah wong anakku udah tiga. Piye toh kamu. Kamu kira, anak 3 itu hasil aku bercocok tanam?" sembur Jaka.


"Kalau dalam beberapa hari ke depan Winarsih masih belum bisa kuhubungi, sepertinya aku harus dateng ke rumah Pak Hartono itu lagi," sungut Utomo.


"Nggak takut dimarahi anaknya Pak Hartono lagi?" tanya Jaka mulai melanjutkan pekerjaannya.


"Enggak, biasa aja. Sama-sama makan nasi," ucap Utomo.


"Iya, sama-sama makan nasi. Tapi berasnya beda. Beras dia bukan beras subsidi," balas Jaka kalem.


Utomo yang terlihat semakin kesal pergi berlalu dari meja kerja Jaka yang berjarak hanya beberapa meter darinya.


Dia benar-benar penasaran dengan kabar Winarsih yang sudah hampir dua Minggu tak bisa dihubunginya.


*******


Sejak kedatangan Dean terakhir kali ke kamar Winarsih, laki-laki itu tak pernah sekalipun dilihatnya berada di rumah meski hanya selintasan.


Setiap malam setelah selesai membantu Pak Hartono di ruang kerjanya, Winarsih kembali ke kamar dan mematikan seluruh lampu. Meski sesekali dia mengintip dari jendela ke arah parkiran mobil, dia tak pernah melihat mobil yang selalu digunakan pria itu sehari-hari.


Meski hatinya terasa sakit dan rindu, tapi sebagian besar diri Winarsih lega. Sekarang dirinya adalah seorang wanita yang bebas menentukan jalan hidupnya. Dean juga tak perlu bimbang dan bingung karena dirinya.

__ADS_1


Malam itu, adalah malam kedua di bulan baru. Winarsih baru saja menerima gajinya. Kandungannya telah memasuki 4 bulan dan sudah semakin susah baginya untuk terus-menerus menutupi. Apalagi dia tak terlalu banyak memiliki pakaian yang bisa digunakan.


Pak Hartono sudah beberapa hari terakhir ini berada di luar kota untuk kembali menjalankan rutinitasnya sebagai menteri.


Dan Winarsih berada di ruang kerja Pak Hartono sendirian untuk menyelesaikan hal yang diminta majikannya itu terakhir kali.


Dan hari ini, Mbah mengatakan kalau Pak Hartono akan kembali dari luar kota. Winarsih telah menyelesaikan semua pekerjaannya di ruang kerja itu.


Tanpa diminta, dia juga telah membersihkan dan membereskan ruangan itu. Sekarang Winarsih tengah mengaduk sepanci gulai tepek ikan yang akan disajikan untuk Pak Hartono yang akan pulang dari luar kota.


"Mbah, itu gulainya sudah selesai Winar masak. Nanti malam bisa dipanaskan lagi kalau Pak Hartono mau makan." Pesan Winarsih pada Mbah.


"Nanti sebelum jam makan malam, kamu kan bisa memanaskannya Win" ucap Mbah yang sedang duduk di tepi ranjangnya.


"Mbah, Winar mau pamit. Nanti sore mau pulang ke Jambi." Winarsih duduk bersimpuh di dekat kaki wanita tua yang masih mengenakan kain panjang dan pakaian kuthubaru.


Mbah menunduk menatap wajah Winarsih. "Ada apa Win? Kenapa buru-buru? Apa karena sudah waktunya?" tanya Mbah lembut.


Air mata Winarsih mengalir dan Mbah menarik kepalanya ke pangkuan.


"Siapa Win? Apa pacarmu itu yang melakukannya?" tanya Mbah.


"Enggak Mbah, bukan salah Mas Utomo. Jangan tanya Winar lagi. Winar nggak mau bohong. Mbah izinkan aja Winar pulang. Winar nggak bisa di sini terus. Mbah juga pasti sudah tau." Winarsih yang sesegukan mengangkat kepalanya menatap Mbah.


"Jangan mengira semua keputusan yang kamu ambil ini, semuanya untuk dirimu sendiri Win. Sekarang kamu menanggung nasib seseorang yang sedang kamu bawa ke mana-mana itu," ujar Mbah menatapnya.


"Sing wis lunga lalekno, sing durung teko entenono, sing wis ono syukurono." Mbah berkata sambil menggenggam kedua tangannya dan tersenyum.


(Arti Bahasa Jawa : yang sudah pergi lupakanlah, yang belum datang tunggulah dan yang sudah ada syukurilah)


Wanita tua yang dikiranya tak mengetahui tentang keadaannya itu ternyata mungkin sudah lama mengetahuinya. Sebenarnya Winarsih yang merasa bodoh karena mengira Mbah yang selalu diam itu tak mengerti apa yang sedang terjadi dengan dirinya.

__ADS_1


Bagaimanapun, Mbah sudah banyak makan asam-garam kehidupan ini dibanding dengan dirinya.


Siang itu Winarsih meninggalkan kamar Mbah menuju kamarnya dengan wajah sedih sekaligus lega.


Dia bisa mulai membereskan pakaiannya yang sedikit itu dan memasukkannya ke dalam tas batik kain percanya.


Tak perlu waktu lama bagi Winarsih untuk membereskan barang-barangnya karena dia hanya memiliki beberapa pasang pakaian dan 4 buah daster yang dibawanya dari kampung.


Karena hal itu, tak sampai dua jam kemudian, dia telah selesai memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas.


Saat ini, Winarsih memegang dua bungkusan yang dia sendiri bingung harus diapakan.


Satu bungkusan paper bag yang merupakan pemberian dari Dean. Dan satunya lagi adalah sebuah bungkusan plastik kresek yang berisi mainan bayi.


Pakaian dalam yang diberikan Dean, baru dipakainya dua pasang. Selebihnya, masih tersimpan rapi di dalam paperbag itu karena Winarsih merasa ukurannya sudah sangat ketat dan membuat sesak di tubuhnya.


Setelah menimbang beberapa lama, Winarsih memutuskan untuk meninggalkan semua benda yang diperolehnya dari Dean di kamar itu.


Dia akan pergi dari rumah itu tanpa membawa sesuatu apapun kecuali itu haknya.


Winarsih mengenakan atasan kuning muda dengan rok kembang bermotif bunga yang panjangnya semata kaki.


Sebelum melangkahkan kaki meninggalkan kamarnya, Winarsih berbalik untuk menatap pintu kamar itu beberapa saat.


Pintu itu menjadi saksi bagaimana Dean yang selalu datang menemuinya dengan wajah ceria dan bungkusan makanan untuknya.


"Pak Dean, Winar pamit. Jangan terlalu sering marah-marah. Jangan minum alkohol lagi," gumam Winarsih ke arah pintu.


Kemudian langkahnya mantap menuju pagar rumah tinggi di mana Pak Lutfi Satpam sedang menatapnya tersenyum.


"Mau ke mana Win? Mau kawin lari dengan pacarmu itu? Gitu dong, jangan mau di enak-enakin aja," ujar Pak Lutfi seraya membuka gerbang untuknya.

__ADS_1


Winarsih hanya tersenyum mendengar ucapan pria itu.


To Be Continued......


__ADS_2