CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
148. Raja dan Ratu Sehari


__ADS_3

Sebuah panggung besar terletak di ujung sebuah lapangan. Separuh lapangan itu kini tertutup oleh kain putih yang terjulur dari tenda tinggi hingga menyentuh tanah.


Jambi itu melekat dengan berbagai macam adat yang mewarnainya. Percampuran antara Minang, Sumatera Selatan dan Melayu. Bahkan Jambi memiliki 7 bahasa daerah yang sering digunakan di sana.


Winarsih adalah seorang wanita asli bersuku Jawa yang lahir dan besar di salah satu kabupaten Jambi.


Seperti permintaannya dari awal, ia ingin mengikuti adat istiadat daerah tempatnya tinggal itu. Bagai kata pepatah yang mengatakan, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Winarsih ingin menggunakan adat Jambi Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebagai tema resepsinya.


Winarsih pagi itu duduk anggun bak seorang putri raja mengenakan pakaian adat baju kurung tanggung dengan songket dan selendang berwarna merah yang bersulam benang emas. Motif songketnya adalah bunga berangkai clan beranting.


Hiasan melati, pucuk rebung dan kembang tagapo mempercantik penutup kepala Winarsih yang bernama pesangkon. Sedangkan Dean mengenakan penutup kepala atau lacak yang dibuat dari beledru warna merah.


Pagi itu Dean lebih dulu selesai berpakaian dan dirias. Saat sedang di-makeup di dalam 'kamar pengantin' mereka, Winarsih sempat melirik Dean yang menolak saat juru rias akan mengoleskan pewarna bibir padanya.


Dean kemudian mengambil sebuah pouch tempat di mana pria itu menyimpan perlengkapan berdandannya. Juru rias yang merupakan seorang ibu paruh baya tak bisa menahan senyumnya saat melihat Dean dengan cekatan mengoles sebuah lipgloss berwarna natural ke bibirnya.


Dari sudut matanya Winarsih juga melihat Dean yang menawarkan diri untuk mengikat dan mengenakan pakaian adat itu ke tubuhnya sendiri.


Itulah suaminya. Dengan ketampanan yang selalu dirawatnya dengan paripurna.


Suara kompangan bergema, bunyi-bunyian itu menandakan bahwa resepsi pernikahan hari itu menggunakan adat Kabupaten Tanjung Jabung Barat.


Rombongan pengantin berjalan perlahan di barisan, menggambarkan kunjungan balasan pengantin perempuan ke pihak keluarga laki-laki. Dalam tradisi Kuala Tungkal, kedua mempelai diperlakukan tak ubahnya raja dan permaisuri sehari. Winarsih dan Dean diarak di atas kereta perahu lancang kuning.


Di depan mereka, pasangan tepak sirih beriringan. Barisan ini menandakan harapan akan perdamaian dan persamaan dalam keluarga.


Ada juga payung kuning sebagai perlambang keinginan akan hadirnya kebesaran, keteduhan, dan perlindungan saat menjalani rumah tangga.


Sejumlah pengawal berjalan tegap melindungi Winarsih dan Dean yang tampak menawan dalam hiasan keemasan. Para pengawal melambangkan harapan agar selalu dijaga dalam menghadapi godaan dan mara bahaya.

__ADS_1


Simbol-simbol kemakmuran dan kesejahteraan juga terlukis melalui anggota rombongan yang membawa panji-panji.


Pak Hartono telah berdiri gagah di atas panggung menanti kedatangan anak dan menantunya didampingi bu Amalia. Di kursi seberang pelaminan berdiri bu Sumi dan Yanto yang juga mengenakan pakaian adat. Tak jauh dari pelaminan besar itu berjajar kursi tempat di mana sanak saudara ikut duduk.


Gank Duda Akut; Toni, Rio dan Jennifer istrinya, Langit dan Jingga berdiri menanti Dean dan Winarsih yang sedang berjalan perlahan menuju pelaminan.


Mbak Anggi dan mas Vino beserta kedua orang putri mereka duduk tak jauh dari orangtuanya.


Saat Dean melewati mereka, Toni sempat berbisik, "Ciee...entar malem, malem pertama ya De." Rio dan Langit menunduk terkekeh-kekeh khawatir kalau-kalau pak Hartono mendengar perkataan Toni barusan.


Tak lama kemudian sebuah tari persembahan tampil di atas panggung. Dean berkali-kali melirik Winarsih untuk melihat reaksi istrinya itu. Dean bahagia sekaligus merasa geli. Winarsih hari itu adalah seorang pengantin wanita, tapi ia beberapa kali harus mengambil Dita yang baru hampir 7 bulan karena rewel. Sedangkan Dirja berjalan tertatih-tatih memegang lutut bapak dan ibunya yang sedang bersanding.


Suasana resepsi pernikahan yang akan berlangsung selama 6 jam itu terlihat meriah dan riuh. Winarsih mengatakan ia takkan sanggup jika harus duduk lebih lama dari itu karena pinggangnya sudah sangat pegal dan tak tega melihat Dita yang rewel karena ingin digendong ibunya.


Lewat jam makan siang, Dean yang baru saja memberikan sebuah piring kosong pada tim event setelah menyuapi istrinya melihat dua sosok yang tak asing lagi naik ke atas panggung.


"Win, mantan pacar kamu." Dean menyenggol pelan bahu istrinya yang masih sibuk menepuk-nepuk paha Dita yang sedang mencoba tidur dalam gendongan babysitter-nya.


Winarsih menoleh untuk melihat apa yang dimaksud suaminya. Utomo dan Dewi kemudian berjalan mendekati mereka. Dean lebih dulu berdiri menyambut tamu mereka.


"Selamat sekali lagi Pak Dean," ucap Dewi tersenyum menjabat tangan salah satu pemilik perusahaan tempatnya bekerja itu.


"Selamat Pak," ucap Utomo pelan sekali. Dean nyaris tak dapat mendengar ucapan mantan pacar isterinya itu.


"Ya? Apa? Saya nggak denger," ucap Dean.


"Selamat untuk Pak Dean dan keluarga," ulang Utomo.


"Oh iya.... Makasih. Win, berdiri dulu Sayang. Ini teman lama kamu dateng," ujar Dean kemudian menggendong Dirja yang sedang memegang kakinya.

__ADS_1


Winarsih kemudian berdiri pelan memegang perutnya dan menyambut uluran tangan Dewi dan Utomo padanya.


"Makasi ya Ut udah dateng, makasi Mbak..." ucap Winarsih pada Dewi seraya tersenyum.


Utomo tersenyum memandang mantan pacarnya selama 6 tahun yang semakin hari kian cantik saat telah menjadi istri orang lain.


Jika bukan karena Dewi yang memaksanya untuk ikut ke resepsi itu, mungkin Utomo sudah jelas tak akan datang. Dewi mendapat undangan langsung dari jajaran direksi hingga tak mungkin tak ikut hadir.


Wanita itu sepertinya sekarang sudah mengetahui sedikit banyak tentang hubungan Utomo dan menantu pak Hartono dulunya. Tapi seperti halnya dengan Utomo, Dewi juga terlihat menghindari topik pembicaraan itu.


Pukul dua siang, Winarsih dan Dean telah turun dari panggung untuk kembali menuju ke rumah beristirahat. Para tamu undangan dari kota pergi menuju kediaman keluarga Hartono yang berada di sebelah rumah bu Sumi.


Malam nanti mereka akan pergi mengunjungi pesta rakyat dengan puluhan gerobak pedagang kaki lima yang disajikan gratis dan hiburan bak pasar malam.


Wahana ombak banyu, bianglala, komedi putar, rumah hantu, berbagai arena ketangkasan dan tak lupa arena tong setan telah berdiri tegak sejak kemarin.


Harusnya ada satu lagi tambahan hiburan yang disarankan oleh salah satu pemuka desa untuk memeriahkan acara Sabtu malam itu, tapi bu Sumi menolaknya.


Hiburan itu adalah layar tancap. Bu Sumi mengatakan pada Dean kalau Winarsih tak suka dengan hiburan itu karena merasa kalau uangnya terlalu banyak habis untuk membeli kacang berisi undian ketimbang waktu yang bisa dihabiskannya menonton potongan film yang ditayangkan.


Dean sempat tak paham dengan hal yang dimaksudkan oleh ibu mertuanya saat berada di Jambi beberapa waktu yang lalu. Tapi setelah bu Sumi menjelaskan, akhirnya Dean mengerti. Dengan senyum kecut Dean mengangguk mengerti.


To Be Continued.....


Hubungan layar tancap dan kacang adalah :


Di beberapa daerah dulunya, hiburan layar tancap selalu diselingi dengan penjualan kacang yang dikemas mini dan diisi undian berhadiah peralatan dapur dan barang-barang murah seperti gayung, ember, sabun dan lain-lain.


Jika pihak penyelenggara tidak mencapai target pembeli, biasanya mereka akan terus berjualan kacang undian itu. Alhasil, waktu menayangkan film sangat pendek dan nyaris tak pernah selesai.

__ADS_1


__ADS_2