CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
68. You Are My Home


__ADS_3

"Sawah seluas ini dulunya dikerjakan sekeluarga aja Win?" tanya Dean dengan wajah tak percaya.


"Tidak harus sekeluarga saja yang mengerjakannya Pak, saat membutuhkan tenaga, pemilik sawah biasanya membayar tenaga tetangga atau saudara yang bisa turut membantu dengan upah harian,"


"Pekerjaan buruh laki-laki dan perempuan juga beda. Biasanya pekerjaan yang mudah seperti mengarit dan menanam bibit, itu diberi kepada perempuan upahnya sehari 35 ribu dan diberi makan siang dari pemilik sawah. Kalau makan siang ditanggung oleh pemilik sawah, biasanya upah memang lebih kecil. Dan pekerjaannya juga musiman. Setelah menjual sawah kami, saya dan ibu bekerja dengan Pak Harto yang membeli sawah ini" tutur Winarsih yang duduk di sebuah pondok buatan Ayahnya memandang lepas ke hamparan sawah.


"Masa-masa panen sawah itu adalah masa paling indah dalam hidup saya. Melihat bagaimana kedua orang tua saya tersenyum dan berbahagia melihat bibit bertunas hingga menjadi padi yang merunduk dan menguning. Semua adalah hasil olahan tangan sendiri. Meski harga jual kepada tengkulak menurut saya sangat tak masuk akal," Winarsih menoleh kepada Dean yang duduk bersandar di tiang pondok.


"Itu karena petani memang sangat bergantung dengan mereka Win," jawab Dean.


"Iya, petani terkadang menganggap tengkulak adalah penyelamat hidup mereka. Para tengkulak itu sigap. Mereka bisa dihubungi untuk diminta membeli hasil pertanian para petani jika dibutuhkan. Saat para petani membutuhkan dana segar secepatnya untuk keperluan berobat, tengkulak menjadi jawaban atas kegelisahan hati para petani. Termasuk kami Pak. Saat hutang kami membubung tinggi, tengkulak dengan mudah mengambil sawah sebagai bayarannya," Winarsih menarik nafas dalam dan menghembuskannya.


"Tengkulak sudah sejak dulu menjadi momok yang mengatur aliran jual beli hasil tani. Para petani pun tidak mampu untuk berbuat lebih, apalagi untuk mengolahnya atau menjualnya sendiri. Terlalu nyaman dengan belaian manja dari tengkulak membuat petani tidak mampu untuk bangun lebih cepat" terang Dean pada Winarsih yang tampaknya sedang mengenang hamparan sawah yang pernah menjadi milik orang tuanya.


"Ada berapa orang tengkulak di sini?" tanya Dean lagi menatap Winarsih.


"Berapa ya-- Mungkin ada 4 orang yang terkenal hingga ke beberapa desa. Termasuk Ayahnya Utomo. memangnya kenapa?"


"Uuuu... ternyata Bu Winar dulu pacarnya anak penguasa hasil tani. Pantes hubungannya jadi kayak legenda di sini--" Dean mencolek lengan isterinya meniru gerakan Bu Sutri.


"Sudah mulai termakan omongannya Bu Sutri juga ternyata," ujar Winarsih cemberut.


Melihat reaksi Winarsih yang sepertinya tak suka saat dia menyebut nama Utomo, Dean menggeser duduknya hingga menempeli sang istri.


"Jangan ngambek--jangan ngambek. Nanti anaknya di dalem tau. Aku nggak mau dimusuhi anak-isteriku. Terutama di malam hari," Dean melingkari kedua tangannya ke tubuh Winarsih dan mencium pipi dan telinga wanita itu dengan gemas.


Winarsih tertawa geli karena ulah Dean.


Masih duduk dengan posisi bersebelahan dan kedua tangannya yang masih melingkari tubuh Winarsih, Dean menarik kepala isterinya untuk bersandar di dada.


"Kamu nggak pengen beli sawahmu lagi Win?" tanya Dean tiba-tiba dengan wajah serius.


"Saya berangkat ke Jakarta dengan janji itu pada Ibu. Mungkin suatu hari nanti, saya pasti bisa mengambilnya lagi dari Pak Harto," ujar Winarsih sementara menghirup aroma parfum yang menguar dari kemeja Dean.


"Bagaimana kalo suatu hari itu adalah hari ini?" Dean menunduk menatap puncak kepala isterinya.

__ADS_1


Winarsih melepaskan pelukannya dan mendongak menatap Dean.


"Saya belum punya uang sebanyak itu Pak," ucap Winarsih polos.


"Kamu punya Bu Winar, tapi kamu belum menyadarinya. Kamu juga membayar operasi Yanto dengan uangmu sendiri. Aku memindahkan semua harta yang kumiliki menjadi milikmu. Harta yang kucari dengan tanganku sendiri dan harta yang diberikan orang tuaku, semuanya kuberikan untukmu Winarsih. Aku tak ingin wanita itu mengambil sesen pun dariku. Jadi, jangan pernah tinggalkan aku Bu Winar. Aku tak punya apa-apa lagi selain kamu dan hasil kerjaku yang sedang berada di perutmu. Sekarang kamu memiliki semua yang paling berharga dalam hidupku. Termasuk seorang calon bayi laki-laki yang di tubuhnya mengalir darah keluargaku. Siang ini, kita akan mendatangi rumah tengkulak itu. Dan aku janjikan surat kepemilikan sawah ini akan langsung berada di tangan kamu lagi,"


Winarsih yang tadinya mendongak, sekarang perlahan menunduk karena mendengar apa yang dikatakan suaminya.


Dadanya begitu sesak dengan kebahagiaan. Bukan karena limpahan harta yang diberikan Dean untuknya.


Tidak. Dia terbiasa hidup sederhana dan selalu mensyukuri apa yang dimilikinya hingga dia tak sempat untuk menginginkan apa yang bukan menjadi miliknya.


Winarsih merasa begitu bahagia mengetahui bahwa Dean, menganggapnya begitu berharga dan memiliki arti penting dalam hidup suaminya.


Apa yang barusan di katakan Dean adalah hal paling indah yang pernah didengar Winarsih selama hidupnya.


Rasa sayang terhadap Dean, kini semakin penuh berdesakan didalam hatinya. Winarsih semakin mendambakan pria yang sedang memeluknya saat ini.


Dean adalah suaminya dan Winarsih tak akan membiarkan seorang wanita manapun melukai atau mengambil pria itu darinya.


Mata mereka saling menatap penuh arti satu sama lain. Winarsih bisa merasakan pandangan sayang yang begitu dalam terpancar dari sorot mata Dean saat itu.


"Ya--" sahut Dean dengan pandangan yang belum teralih dari wajah cantik istrinya.


Kedua tangan Winarsih kemudian meraih perlahan kemeja suaminya untuk menarik wajah pria itu agar lebih mendekat.


Dan untuk pertama kalinya, Winarsih mencium suaminya lebih dulu.


Ciuman itu menjadi sangat lama. Sambutan dari Dean yang hatinya juga sedang dipenuhi kebahagiaan, membuat mereka larut bermenit-menit dalam sapuan bibir satu sama lain.


Saat ciuman itu berakhir, Dean kembali merengkuh istrinya di dalam pelukan.


Sepasang suami istri itu duduk saling bersandar menghadap hamparan sawah. Dua pasang kaki mereka terjulur dan terlihat berayun karena kebahagiaan yang sedang menyesaki hati mereka.


"I want you to know that I'm never leaving

__ADS_1


'Cause I'm Mr. Snow, 'til death we'll be freezing


Yeah, you are my home, my home for all seasons


So come on, let's go"


"Let's go below zero and hide from the sun


I love you forever where we'll have some fun


Yes, let's hit the North Pole and live happily


Please don't cry no tears now, it's Christmas, baby"


(Snowman - Sia)


Dean menyanyikan potongan lagu yang menggambarkan isi hatinya saat itu dengan mengubah sedikit lirik.


Saat selesai bernyanyi, Dean kembali mengulang sebaris kata-kata kepada isterinya.


"You are my home---" lirih Dean.


"Itu artinya kamu adalah rumah bagiku, Win" usai mengucapkan itu, Dean kembali menunduk dan mencium dahi isterinya.


"Saya akan pelajari lagu itu Pak--" ucap Winarsih polos.


Dean tersenyum geli.


Dari kejauhan, Ryan melambai-lambaikan tangan ke arah mereka. Sekretaris Dean itu tampak berjingkat-jingkat memegangi tangan Novi agar tak terpeleset berjalan di pematang sawah yang licin.


To Be Continued....


Di teras belakang kamar, dengan secangkir kopi dan diiringi tetes hujan membuat aku terlarut dalam keromantisan.


Sesuai janji, satu bab susulan untuk fansnya Dean.

__ADS_1


Tapi jangan lupa, tinggalkan jejak kalian :*


__ADS_2