CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
123. PDKT


__ADS_3

Aku minta dilike dulu boleh ya... :*


Happy Reading XD


************


"Yan, coba lihat gua, udah ganteng belum? Gua udah rapi?" tanya Dean saat berdiri melihat pantulannya di kaca mobilnya saat baru turun.


"Ya ampun Pak, itu yang mau Pak Dean temui istri Bapak. Entar malem juga tidur bareng." Ryan menyipitkan matanya karena sengatan sinar matahari siang itu. Ryan heran melihat atasannya mirip


"Udah deh, lu tenang aja. Gua kan nggak pernah begini. Gua nggak pernah pacaran ama bini gua. Jadi lu nggak usah banyak nanya. Ini aja gua deg-degan mau datengin dia ke salon itu. Kalo dia pura-pura gak kenal ama gua gimana? Bakal malu. Gua nggak pernah ditolak sama cewek. Masa bini gua sendiri yang nolak."


Dean membuka pintu belakang mobil dan mengambil bunga buket yang tadi dibelinya sebelum tiba di salon.


Salon itu terletak di pertokoan eksklusif sebuah luar gedung mall, tempat di mana wanita-wanita kaya menghabiskan uang mereka hanya untuk sekedar mencuci rambut atau memencet komedo yang sebesar kuman.


Selain deretan salon dan klinik kecantikan, jajaran ruko itu terdapat barbershop pria, mini market, dan deretan kafe-kafe kecil yang mengeluarkan beberapa kursi dan mejanya hingga ke teras luar.


Beberapa pria terlihat duduk mengisi beberapa kursi di depan salah satu kafe di jajaran pertokoan itu.


Dean menyadari bahwa di sanalah biasa ibunya menghabiskan waktu.


"Saya ikut ke dalem apa tunggu di mobil aja?" tanya Ryan.


"Lu tunggu di mobil aja deh, ntar kalo gua butuh sesuatu gua telfon." Mendengar jawaban Dean, Ryan mengangguk dan kembali menekan handle pintu mobil.


Dean menuju salon yang tadi sekilas dilihatnya cukup ramai dengan pengunjung. Novi mengatakan bahwa isterinya telah sampai di sana hampir satu jam yang lalu.


Sebelum masuk, pandangan Dean berkeliling mencari di mana mobil van yang biasa digunakan Winarsih bila bepergian. Dia ingin mengecek apa Irman mengikuti isterinya sampai ke dalam salon atau hanya menunggu di mobil.


Entah treatment apa yang diambil oleh Winarsih siang itu, tapi dengan dada sedikit berdebar, Dean melangkahkan kakinya mendorong pintu masuk salon.


Pandangannya seketika berkeliling mencari rupa Irman lebih dulu, dia benar-benar penasaran di mana ajudan ayahnya itu berada.


Saat masuk pandangannya langsung tertuju pada wanita cantik dengan make-up tipis, memakai dress pink terang bermodel kemeja berkancing hingga ke bawah lutut. Kakinya dibalut dengan sepasang flat shoes krem bertabur swarovski cantik berharga sebuah motor yang pernah dibelikannya untuk ibu anaknya itu.


Kepala Winarsih sedang dipijat oleh seorang pegawai wanita. Mata wanita itu sedang terpejam menikmati pijatan pada kepalanya. Dan ketika Dean melihat sebuah kursi kosong di sebelah isterinya, Dean segera duduk menghadap kaca.


Beberapa pasang mata langsung menatapnya heran. Bagaimana tidak, seorang pria berpakaian jas lengkap datang membawa sebuket bunga mawar ke sebuah salon di siang bolong.


Seorang pegawai salon yang melihat kedatangan Dean langsung menghampiri, "Treatment apa hari ini Mas?" tanya pegawai itu pada Dean.


"Saya cuma nemenin Mba Cantik pake baju pink ini, boleh kan?" tanya Dean pada pegawai salon itu.


Winarsih yang matanya tadi terpejam menikmati pijatan, kini membelalak karena mendengar suara yang dikenalinya. Dia langsung menoleh ke sebelah kirinya.


"Hai..." sapa Dean. Winarsih hanya terbelalak kaget dan memandang suaminya melalui pantulan kaca.


"Mbak itu pacarnya ya?" bisik pegawai salon itu di telinga Winarsih. "Kayaknya lagi ribut ya Mbak sama pacarnya?"


Winarsih hanya tersenyum menanggapi perkataan pegawai salon yang selalu kental dengan ciri khas basa-basi sok akrab.


Dean duduk menyilangkan kaki dengan memangku buket bunga seraya tersenyum tipis memandang tajam ke mata isterinya melalui pantulan kaca.

__ADS_1


"Ganteng ya mbak," bisik pegawai salon itu lagi di telinga Winarsih.


Hampir separuh perempuan yang berada di salon itu menoleh ke arah Dean yang duduk rapi menyilangkan kakinya dengan elegan.


Winarsih melirik ke arah kaca tempat di mana mata Dean tak lepas memandangnya. Dia mulai risih karena merasa terus-terusan ditatap.


Meski telah mengalihkan pandangan dan melirik sekilas suaminya lagi, Dean masih terus memandangnya.


Sedikit kesal Winarsih bertanya, "Nggak ngantor apa? jam segini udah di sini."


Dean menjawab, "aku kangen sama kamu. Jadi aku langsung ke sini."


Pegawai salon yang sedang memijat kepala Winarsih spontan berkata, "uuuu... romantis banget Mbak. Susah lo cari cowok begitu sekarang."


Mendengar bisikan pegawai salon itu ke telinga isterinya, Dean langsung berencana akan memberikan uang tip lumayan untuk pegawai itu.


Kaca salon yang memanjang di depan kursi setiap tamu, memantulkan seluruh tubuh tamu salon yang duduk di kursi.


Hal itu membuat Dean bisa melihat penampilan istrinya dari mulai ujung kaki hingga ujung rambut. Dia tak suka melihat betis putih yang semakin terlihat bagus karena dipadukan warna pink terang itu berjalan-jalan sendirian saja siang ini.


Dean menikmati siangnya dengan memandangi isterinya sambil sesekali membalas email yang masuk ke ponselnya. Dia sedikit terkekeh saat membaca pesan dari Ryan yang baru saja masuk.


'Bisa-bisanya Bapak duduk di salon sementara kerjaan numpuk.'


"Irman mana?" tanya Dean.


"Cuma nganter aja."


"Mau ke toko baju."


"Aku temenin yuk," ajak Dean pada isterinya yang sekarang rambutnya sudah sangat bagus di-blow dengan ujung yang sedikit tergulung.


Winarsih belum menjawab, wanita itu hanya memandang suaminya sebentar kemudian bangkit dari duduknya menuju kasir.


"Udah nggak usah, percuma pacar kamu jemput ke sini kalo bayar pake uang sendiri," ucap Dean tersenyum saat menahan lengan isterinya merogoh tas.


Melihat Dean sedang membayar tagihan treatment ya, Winarsih melangkah menuju pintu keluar salon. Langkahnya perlahan berbelok ke kanan tempat di mana jajaran toko dan cafe-cafe berada.


Setelah buru-buru menyelesaikan tagihan salon itu, Dean cepat-cepat menarik pintu dan menoleh ke mana isterinya pergi.


Saat melihat istrinya berbelok menuju ke arah pertokoan di sebelah kanan, ia pun melangkahkan kaki mengikuti isterinya.


Tapi tiba-tiba, lengannya ditahan oleh seseorang.


"De! Ngapain di sini? Baru dari salon juga?" Ara yang baru tiba di salon itu kembali menyapa dengan memegang lengannya.


"Jangan gini Ra! Gua risih! Udah, gua buru-buru." Dean menepis tangan Ara dan pergi.


"Kok pake gua ngomongnya? Kenapa sekarang gini?" tanya Ara lagi menahan lengan Dean.


"Apa sih lu? Iya. Gua, elu. Terus harusnya apa?" sergah Dean. Matanya menoleh ke arah Winarsih yang kini berbalik menoleh ke belakang karena mendengar seruannya pada Ara barusan.


"Pssst.... Mba... Sendirian aja? Seksi banget sih."

__ADS_1


"Diem aja. Mampir sini yuk temenin kita. Kalo malem pasti gak sombong gini--- Cantik Bro! Gede!"


Sapaan dua orang pria yang duduk di teras cafe saat Winarsih melintas membuat darah Dean serasa mendidih.


"Lepas Ra! Itu bini gua di depan. Lu apa-apaan sih dari kemarin nggak kelar-kelar. Kita perlu ngomong kayaknya. Tapi nggak sekarang. Sekarang gua lagi sibuk!" Dean menyentak tangan Ara dan berlari kecil menyusul Winarsih.


"Dari belakang seksi banget Bro...." ujar laki-laki itu lagi kemudian bersiul panjang.


Tak tahan melihat isterinya diperlakukan seperti itu, Dean menghampiri pria yang masih bersiul ke meja cafe itu dan meletakkan buket bunganya.


Tangannya meraih kerah pria itu dan,


BUGG!! BUGG!!


Dua tinjunya menghantam mulut laki-laki itu. Winarsih yang mendengar suara kursi terhempas ke lantai langsung berbalik dan melihat suaminya menunduk untuk kembali menarik kerah laki-laki yang baru tersungkur.


Teman pria itu ternyata tak tinggal diam. Tangannya langsung menarik kerah jas Dean dan menghujamkan satu pukulan ke arah dagunya. Dean mundur terjajar satu langkah.


"Pak!!" pekik Winarsih.


Dean mengusap bibirnya dengan ibu jari dan melihat sedikit noda darah di sana. Dengan cepat ia mengambil sebuah kursi dan melemparkannya pada pria itu. Pria yang baru bangkit karena pukulan pertamanya tadi pun langsung mendapat satu tendangan dengan kaki panjangnya.


Ryan yang baru menyadari keributan berlari keluar mobil untuk menghampiri atasannya.


"Anjin* lu!! Seenaknya tiba-tiba mukulin orang nggak ada sebab!! Gua laporin lu ke polisi sekarang. Biar lu dipenjara!" Pria itu meludahkan darah darah dari mulutnya ke lantai teras.


Beberapa tamu dan pelayan telah keluar cafe untuk melerai pertengkaran itu.


"Telfon polisi sekarang!" pinta seorang pria yang terkena lemparan kursi dari Dean. Teman pria itu buru-buru mengeluarkan ponselnya.


Winarsih berlari kecil untuk menarik lengan suaminya sedikit menjauhi tempat itu. Tapi Dean yang merasa belum selesai, kembali mendekati pria itu dan merogoh saku celananya untuk meraih dompet.


Winarsih masih memegangi bagian belakang jas suaminya, takut kalau-kalau Dean kembali menerkam dua orang pria itu. Dulu sekali, Winarsih merasa pernah melihat sorot mata penuh emosi itu. Dia takut.


Sekilas membuka dompetnya, Dean mengeluarkan sebuah kartu nama dan mencampakkannya ke wajah pria yang memegang ponsel.


"Pasal 315 KUHP. Pasal 281, 289 sampai 296 Kitab Undang-undang pidana. Baca itu semua. Pelecehan verbal! Itu kartu nama gua. Gua tunggu tuntutan lu bedua ke kantor Danawira's Law Firm." Dean kembali memasukkan dompet ke sakunya.


Kemudian Dean meraih buket bunga mawar yang masih terletak rapi di atas meja.


"Ayo Bu, kita makan siang dulu. Aku udah laper. Perempuan di belakang tadi juga cuma kebetulan ketemu. Jangan bahas itu dulu." Dean merangkul isterinya dan pergi dari tempat itu.


Ryan yang masih terperangah melihat Dean melemparkan sebuah kursi besi ke tubuh seseorang buru-buru mengikuti atasannya.


"Kenapa nggak dikasi peringatan aja Pak?" tanya Ryan masih menoleh kepada dua pria yang sedang memijat-mijat kepala dan memegang mulutnya.


"Untuk apa kedua tangan diciptakan kalo nggak untuk baku hantam?" Dean balik bertanya pada sekretarisnya.


"Ini bunga untuk kamu. Berat banget lo perjuangan ngasi bunga ini ke kamu Bu. Bibirku sampe berdarah gini. Besok-besok kayaknya aku bakal sering gebuk-gebukan ama orang karena kamu pergi sendirian." Dean menarik kepala Winarsih dan mengecup puncak kepala isterinya. Winarsih berjalan diam dengan sebuket bunga mawar dalam pelukannya.


Ryan masih menoleh ke belakang sesekali untuk memastikan keramaian di depan cafe itu telah berakhir. Tak jauh dari tempat itu, mata Ryan menangkap sesosok wanita yang sejak tadi tak lepas memandang Dean yang sedang mengusap-usap lengan isterinya.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2