
Minta di-like dulu, baca kemudian.
Bab akhir aman dibaca menjelang imsak XD.
************
"Semua warga kalo masak-masak gitu mau saling bantu ya Win," ucap Dean saat mereka berdua berjalan beriringan menuju ke sawah Bu Sumi siang menjelang sore itu.
"Ya mau Mas, kan gantian. Kalau tetangga ada keperluan dulu aku juga ikut bantu masak. Enaknya tinggal di desa ya gitu Mas, kanan-kiri masih peduli. Meski kadang terlalu peduli juga untuk urusan pribadi rumah lain." Winarsih tertawa membayangkan tetangganya dulu yang selalu bergosip tiap ia dan Utomo berjalan bersama.
"Kalo mau bikin paguyuban, kamu harus punya tanahnya Win. Itu ladang kangkung yang di sebelah rumah punya siapa? Letaknya paling dekat dengan rumah kamu. Coba nanti minta Pak De hubungi pemiliknya. Tanya mau dijual apa enggak, kalo kamu serius, beli ladang kangkung itu. Nggak apa-apa rawa, nanti bisa kita timbun. Kalo bisa, itu juga mengurangi nyamuk ke rumah kalian." Dean menggandeng tangan isterinya selama dalam perjalanan iring-iringan itu.
"Aku dulu sering nyari ikan di sawah Mas," ujar Winarsih saat sedikit melongok ke parit yang mengalirkan air cukup deras di sebelah kirinya. "Sering bawa pulang ikan sepat. Ayahku sampe marah karena aku anak perempuan tapi terus-terusan main di sawah. Ayah khawatir kalau kakiku bakal kudisan."
Dean melongok kaki dan betis isterinya yang kuning langsat mulus tanpa bekas kudis.
"Aku mau ngucapin makasih sama Ayah kamu, udah jagain anak perempuannya sampe tiba di pelukanku dalam keadaan mulus tanpa cacat," jawab Dean menunduk memandang lesung pipi isterinya yang langsung merekah.
Jalan menuju sawah Bu Sumi melalui sebuah jalan selebar 3 meter yang kanan kirinya terdapat rumah dengan halaman luas.
Kanan kiri jalan itu ditumbuhi pohon kelapa, pinang, melinjo, alpukat dan barisan pohon jengkol yang awalnya tumbuh liar namun kemudian dibudidayakan.
Setelah barisan pohon itu semakin lama semakin jarang, mereka tiba di sebuah kolam yang berfungsi untuk menampung air dan mengaliri sawah di musim panas.
Beberapa orang warga desa yang hari itu nderep (buruh bantu panen) di sawah Bu Sumi sudah terlihat turun mengerjakan bagiannya masing-masing.
Nderep biasanya dilakukan oleh ibu-ibu dengan perlengkapan tempayan bambu yang digendong sebagai wadah batang padi yang telah dipotong.
Seorang dua orang terlihat sekalian matun (membersihkan rumput) agar pada saat tandur (menanam kembali) sawah sudah tak perlu lagi dibersihkan.
Padi yang telah siap panen biasanya bernas atau berubah warna dari kuning hingga kuning keemasan. Dalam memanen warga Desa Beringin masih menggunakan ani-ani dan sabit.
Beberapa orang terlihat sedang nyabet atau dikenal dengan nama lain digedik; memukul-mukulkan batang padi ke ani-ani agar butiran padi rontok dan jatuh.
Tak jauh dari hamparan terpal berisi bukit-bukit padi yang terhampar, Winarsih melihat piring bekas makan warga yang ikut nderep telah terkumpul di sebuah ember beras berwarna hitam.
Saat mereka tiba di sawah, Winarsih berjalan lebih dulu menggandeng Dean melalui pematang yang kecil menuju sebuah gubuk tempat mereka pernah menghabiskan siang dengan bersandar satu sama lain.
"Nak Dean!" Suara seorang wanita tiba-tina menghentikan langkak kaki mereka. Winarsih menolek ke belakang. Ternyata itu Bu Sutri. Wanita itu memanggil Dean lebih dulu, bukan ia yang merupakan penduduk Desa Beringin.
"Eh, Bu Sutri. Apa kabar?" sapa Dean.
Sejenak Winarsih kagum suaminya yang tak lupa dengan nama orang yang baru sekali ditemuinya itu. Bak seperti sedang reuni dengan teman lamanya, Dean terlihat sumringah menjabat ukuran tangan Bu Sutri.
"Makin ganteng aja suamimu Win," ujar Bu Sutri tertawa-tawa senang di bawah sinar matahari sore.
__ADS_1
"Panen juga Bu?" tanya Winarsih.
"Iya, punya kami yang sebelah sana. Tadi saya lihat dari jauh kok kayak orang luar dateng ke sawah. Winar juga sekarang sudah beda. Rambutnya nggak warna item lagi. Udah bener-bener kayak orang kota."
Winarsih tertawa, "Bisa aja Bu Sutri."
"Ke sana dulu yuk Win. Nak Dean nggak mau ke gubuk sebelah sana?" Bu Sutri menunjuk sisi timur hamparan sawah. "Tempat keluarga saya ngumpul. Bisa kenalanlah sama anak-anak saya," tukas Bu Sutri.
"Ada Sari juga Bu?" Winarsih menanyakan soal puteri bungsu Bu Sutri yang juga bekerja di kota.
"Iya, ada Sari."
"Saya dan Mas Dean buru-buru mau ketemu ibu. Itu ibu sedang duduk di pondok," ujar Winarsih menunjuk Bu Sumi yang tengah mengipaskan topi anyamannya.
"Oh ya sudah, nanti lain kali saja ya Nak Dean." Bu Sutri melambaikan tangannya saat melihat Winarsih mulai menarik Dean menuju pondok tempat di mana Bu Sumi sedang duduk.
"Emang kenapa kalo ada si Sari?" bisik Dean.
"Susah."
"Iya, kenapa emangnya?"
"Dari dulu dia suka nempelin laki-laki yang aku kenalin ke dia. Cukup si Utomo aja yang dipegang-pegang si Sari. Aku nggak mau liat Mas digelayuti perempuan lain."
"Mas-ku cuma satu aja, susah jaganya. Apalagi kalo udah mulai benerin rambut dan basahin bibir."
" Hah?!"
"Ayo kita duduk di pondok aja sama ibu. Mas jangan ke mana-mana. Duduk aja yang rapi di sini." Winarsih menepuk lantai bambu pondok.
Bu Sumi yang melihat tingkah Winarsih seketika mengernyit namun tak bertanya. Ia hanya menatap anak dan menantunya itu sambil mencoba memahami topik yang kelihatannya sedang panas dibicarakan Winarsih.
"Tadi aku diajak Pak De ngeliat hasil panen yang sebelah sana," ujar Dean menunjuk hamparan sawah di sebelah kanan mereka. Ia ingin melihat reaksi isterinya.
"Nggak percaya aku, nggak ada kepentingannya Mas ngeliat sawah bagian itu."
Dean tertawa melihat wajah Winarsih yang kini berdiri dan menempelinya mesra di pondok itu. Istrinya itu seakan lupa baru saja menunjukkan kecemburuan di depan ibunya.
Bu Sumi yang menyadari Winarsih sedang menggelayuti suaminya dan merengek manja sedikit mencibir kemudian bangkit meninggalkan anaknya.
Winarsih kini tengah berdiri di antara kedua kaki Dean yang sedang duduk santai di pondok tengah sawah. Dean memeluk pinggang istrinya seraya melemparkan pandangan pada beberapa buruh yang masih bekerja. Pandangan yang mereka tuju sama.
"Tiba-tiba manja gini kamu," ujar Dean mencium lengan kiri Winarsih yang masih berdiri memunggunginya.
"Nggak tiba-tiba kok. Biasa aja." Winarsih memegang lengan kanan Dean yang melingkari perutnya.
__ADS_1
"Khawatir bener aku ditempeli si Sari?"
"Nggak juga," sahut Winarsih.
"Trus kok jadi gini?" tanya Dean kembali mencium lengan Winarsih.
"Mas 'kan suamiku, masa aku kayak gini mesti pake alasan." Winarsih berdiri bagai sebuah benteng di depan suaminya.
"Ya nggak, ya udah...." Dean harus mengambil jarak pembicaraan aman pada istrinya yang terlihat agak sensitif.
Berkali-kali Dean mengingatkan dirinya sendiri bahwa sekarang istrinya itu tengah mengandung anak kedua mereka. Mungkin kondisi hormon dan situasi yang dialami istrinya itu bisa menjadi alasan mood wanita itu mudah berubah.
Saat mereka tiba kembali di rumah hampir magrib tadi, Winarsih terlihat kembali seperti biasa. Ia menyusui dan mengeloni anaknya di ranjang berjam-jam hingga bayi itu kembali tidur.
Tubuhnya terasa sangat lelah dan tak sengaja ia pun jatuh tertidur di sebelah Dirja yang belum dipindahkan ke boxnya. Winarsih hanyut dalam mimpinya di malam kedua mereka berada di Jambi.
Dean mengusap-usap punggung Winarsih dan berkali-kali mengecup kepala isterinya sebelum ia juga ikut terlelap dengan sebuah boxer longgar dan sebuah kaos oblong.
Sudah hampir subuh, Dean kemudian terbangun saat merasakan tubuhnya dijalari sesuatu. Tak pernah ia merasakan hal itu sebelumnya. Selama menikah, dialah yang selalu menyentuh isterinya lebih dulu.
Dean membuka matanya dan samar-samar melihat Winarsih dengan rambut tergerai ke sisi kiri seluruhnya sedang mencium lehernya.
"Win?" lirih Dean masih dalam kantuknya.
"Mas..."
"Apa Sayang? Udah bangun kamu..."
"Aku kepingin."
"He?"
"Mau," ucap Winarsih.
"Mau ap--Mau itu?"
Winarsih mengangguk, tangan kanannya telah mencari celah menyusup ke dalam boxer suaminya.
"O, tumben kamu--" Perkataan Dean terhenti karena menyadari bahwa bisa saja Winarsih akan ngambek dengan reaksinya.
Dean mulai terhanyut karena sentuhan tangan istrinya. "Ayo Win," ujarnya kemudian.
To Be Continued.....
__ADS_1