
Sudah lama Dean tak melihat Winarsih atau berusaha untuk berpapasan dengan wanita itu. Jika boleh jujur Dean merasa sedikit sakit hati akan sikap wanita itu terakhir kali kepadanya.
Sejak dia mengenal cinta, Dean juga selalu berusaha untuk tak pernah menyakiti hati wanita yang mana pun.
Permintaan Winarsih untuk tak menemuinya lagi pun ia kabulkannya karena rasa sayangnya terhadap wanita itu.
Perkataan Winarsih ada benarnya. Jika dia terus-terusan mendatangi wanita itu dengan keadaan keluarganya yang sedang gonjang-ganjing, Winarsih pasti akan menjadi subjek untuk disalahkan.
Dia juga tak ingin Winarsih menjadi pergunjingan di antara sesama pegawai di rumahnya.
Belakangan ini Dean memang selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang lewat tengah malam.
Urusan klien kantornya sekaligus persoalan papanya yang harus cepat-cepat diselesaikan membuat waktunya benar-benar tersita.
Meski begitu, saat tiba di rumah lewat tengah malam, Dean sering berjalan mengitari kamar Winarsih.
Dia sengaja memarkirkan mobilnya ke belakang sendiri, meski sebelum-sebelumnya jika pulang terlalu larut dia akan meninggalkan mobil di depan lobby rumah begitu saja.
Pintu kamar Winarsih tak akan diketuknya lagi. Dan pintu itu juga tak akan membuka untuknya lagi. Tapi, mengetahui wanita itu masih berada di dalamnya, sudah membuat perasaan Dean sedikit lebih baik.
"Yan?" panggil Dean pada sekretaris yang sedang duduk di hadapannya.
"Ya Pak?" sahut Ryan mendongak.
"Berkasnya cuma ini? Mana bisa kita ngajuin tuntutan kalo modalnya ini doang. Gua nggak bisa buat delik aduan kalo modalnya cuma ini. Belom ada pencemaran nama baik, belom ada kerugian. Ancaman juga nggak ada bukti. Transaksi hotel juga cuma dapet selembar doang." Dean menghempaskan kertas-kertas yang ada di hadapannya.
"Agen yang disewa baru bisa kasi itu aja Pak," lapor Ryan.
"Pecat aja deh! Ganti yang lain. Tambahin sekalian untuk ngebuntutin. Dia ke mana, ketemu siapa. Kalo masuk hotel, pemesannya atas nama siapa. Elu urus deh. Sekalian elu cek, semua aset atas nama gua apa-apa aja. Apa aja yang udah dihibahkan papa dan balik nama. Perasaan gua nggak enak soalnya. Keluarga gua jadi kayak tawanan." Dean menunduk memijat-mijat dahinya.
"Gua harus punya kartu as Yan, kartu as. Dia punya satu, gua punya satu," sambung Dean.
"Oke, ini agennya saya ganti lagi ya" ucap Ryan sambil mencatatkan sesuatu di agendanya.
"Gua balik dulu." Dean berdiri menyambar jasnya.
"Belom malem Pak.... Itu berkas-berkas Hartono Coil belum Bapak periksa," ujar Ryan menyebutkan nama perusahaan papanya.
"Entar aja ah...." Dean berjalan meninggalkan Ryan yang masih berkutat di meja kerja miliknya.
__ADS_1
"Mau ketemuan dengan Genk Duda Akut?" tanya Ryan setengah berteriak pada atasannya yang sudah menghilang di balik pintu.
"Enggak...." Jawab Dean kemudian masuk lift.
Malam itu, dia kembali ke rumah lebih cepat dari biasanya. Sepanjang perjalanan tadi dia melihat deretan cafe dan restoran yang pernah didatanginya bersama Winarsih.
Setengah tersenyum dia mengingat wajah terkagum-kagum Winarsih tiap diajak ke satu tempat baru.
Celotehan polos dan jujur wanita itu terkadang membuat Dean bahkan sampai tergelak.
Winarsih yang tak pernah banyak permintaan. Yang selalu memakan apapun yang disajikan di hadapannya dengan tatapan mata penuh syukur. Pantas saja membuat pacarnya yang pelit itu keenakan.
Tiba-tiba Dean merasa sebal saat mengingat pertama kali memergoki Utomo yang hendak menempeli Winarsih di depan pintu kamarnya.
Mobilnya tiba di depan gerbang dan Pak Lutfi langsung berlari untuk membukakan pagar.
Dean terus melajukan mobil hingga ke halaman sayap kiri rumah dan memarkirkannya di tempat biasa.
Saat turun dari mobil, matanya langsung melihat ke arah kamar Winarsih.
"Baru jam 9 malem, tapi kok udah gelap? Apa sekarang jam tidurnya berubah?" gumam Dean sendirian.
Terlihat Tina sedang mencuci piring dan langsung setengah menunduk saat melihat kedatangannya.
Mbah sedang duduk di sebuah kursi kayu menghadapi sebaskom bawang merah yang sedang dikupasnya.
"Ada apa Pak Dean? Sudah makan?" tanya Mbah yang langsung mendongak ke arahnya.
"Belum Mbah, lagi nggak pengen makan nasi. Winarsihnya mana? Saya pengen dimasakin mi instan kayak yang pernah dia masakin untuk saya," ucap Dean memasang wajah pura-pura sibuk dengan mengeluarkan ponselnya.
"Winarsih sudah nggak kerja lagi Pak, tadi siang sudah pamit ke saya. Sore tadi sudah berangkat pulang ke kampungnya," jawab Mbah memandang lurus kepada Dean.
Pandangan wanita tua itu seperti sedang menunggu apa jawabannya.
"Nggak kerja lagi Mbah? Kenapa? Maksud saya, apa ada masalah di sini? Naik apa dari sini?" pertanyaan-pertanyaan di kepala Dean berdesakan membutuhkan jawaban yang segera.
"Enggak ada masalah Pak, Winarsih memang mau pulang saja katanya--" perkataan Mbah hanya menggantung dan tak lagi didengar oleh Dean yang segera pergi terburu-buru menuju kamar Winarsih.
Perlahan dia membuka pintu kamar yang sudah ditebaknya pasti dalam keadaan tak terkunci jika wanita itu telah meninggalkannya.
__ADS_1
Dean meraih saklar lampu untuk melihat isi kamar itu. Memastikan jika perkataan Mbah tidak benar dan Winarsih hanya pergi ke luar untuk membeli jajanan.
Tapi saat melihat seluruh seprai dan sarung bantal sudah dilepas dan dalam keadaan terlipat di sudut ranjang, hati Dean terasa mulai berdenyut.
Dean membuka laci-laci kosong meja rias hitam tempat di mana mereka sering makan menggunakan piring dan cangkir plastik yang sekarang hanya teronggok di atasnya.
Kemudian pandangan Dean tertumbuk pada sesuatu yang sangat dikenalinya. Sebuah paperbag dari outlet pakaian dalam mahal pemberiannya kepada Winarsih.
Dean meraih paperbag itu dan melongok isinya. Jumlahnya masih lengkap, bahkan Winarsih mengembalikan yang sudah dipakainya. Hati Dean terasa sakit sekali. Pemberiannya seolah tak berharga untuk wanita itu.
Kemudian tangannya membuka bungkusan plastik kresek hitam yang ternyata berisi mainan bayi yang tak sengaja di belinya di pasar malam Kota Tua.
Dean mengambil semua bungkusan itu dan menaruhnya kembali ke dalam lemari.
Itu milik Winarsih. Pakaian dalam itu adalah pemberian pertamanya pada wanita itu. Benda yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya untuk diberikan kepada wanita manapun sebelumnya.
Dean bangkit dari ranjang menuju pintu, hatinya terasa semakin kosong. Saat hendak menutup pintu, pandangannya terarah kepada sebuah tong sampah yang berada di dekat kaki meja rias.
Kemudian dia menunduk untuk memungut kemasan kosong hand body lotion yang terlihat murahan dari tong sampah. Hatinya diliputi perasaan sedih yang terasa berbeda. Dean tak pernah merasakan perasaan itu sebelumnya.
Dengan menggenggam botol kosong itu, Dean meninggalkan kamar Winarsih berjalan memutar untuk menemui satpam di pagar depan.
"Saya kan sudah bilang, Winarsih sudah nggak kerja di sini lagi. Masak kamu pacarnya nggak tau," ucap Pak Lutfi pada seseorang yang sedang berada di luar pagar.
Dean belum bisa melihat jelas siapa lawan bicara Pak Lutfi, tapi dari apa yang diucapkan pria itu, Dean bisa mengambil kesimpulan bahwa itu adalah Utomo.
"Iya, saya memang pacarnya. Tapi dia belum ada bilang mau pulang kampung. Karena setiap dihubungi Winarsih nggak pernah ada," terang Utomo.
"Ada apa?" tanya Dean datar pada satpamnya saat langkahnya sudah mendekati pagar.
"Ini Pak, pacarnya Winarsih. Nggak percaya saya bilang Winarsih sudah nggak kerja di sini lagi. Tadi sore sudah pergi naik bajaj bawa tas besar. Masak dia pacarnya nggak tau. Mau enak-enaknya aja sih," ujar Pak Lutfi dengan tampang sedikit mengejek ke arah Utomo.
"Saya cuma bertanya Pak, karena memang Winarsih tidak bisa dihubungi dua minggu terakhir ini. Saya cuma khawatir, makanya saya kemari" terang Utomo dengan pandangan ke arah Pak Lutfi.
"Saya kira Winarsih pergi kawin lari sama kamu. Kalau kamu juga nyari dia ke sini, artinya bukan kamu dong pelakunya." Pak Lutfi tergelak.
"Maksudnya?" tanya Utomo yang saat itu benar-benar bingung.
Dean hanya diam mendengarkan percakapan dua orang di hadapannya. Kepalanya terasa sakit. Hal yang ingin dilakukannya pertama kali saat itu adalah memecat Pak Lutfi.
__ADS_1
To Be Continued.....