
"Kayaknya hari ini aku nggak sempat sarapan di rumah Win. Ada hal penting yang harus kuselesaikan bareng Ryan. Kamu nggak papa kan?."
Seperti biasa Dean sedang berdiri di hadapan istrinya dengan kaki yang direnggangkan dengan jarak hampir 1 meter untuk menyamakan tingginya dengan Winarsih.
Selama hampir satu bulan melakukannya setiap pagi, semakin hari, Winarsih semakin mahir dan cepat memakaikannya dasi.
Meski bisa melakukannya sendiri, Dean sangat menikmati saat-saat menatap wajah isterinya yang sangat serius membuat simpulan di atas lehernya.
"Enggak apa-apa. Kerjakan apa yang perlu Pak Dean kerjakan," jawab Winarsih seraya menaikkan simpulkan yang telah selesai dibuatnya.
"Sudah selesai. Makin ganteng," ucap Winarsih dengan kedua telapak tangan yang mengusap dada suaminya seolah sedang menyeterika kemeja itu agar menjadi lebih licin.
"Artinya kamu juga makin cinta sama aku," ujar Dean menarik wajah isterinya dan menyeruput bibir wanita itu dengan cepat hingga berdecak.
"Ntar malem jadi ke Dokternya?" tanya Dean yang mengingat jadwal periksa kandungan isterinya.
"Jadi kalo Pak Dean nggak sibuk,." Winarsih mengangguk dan memandang pakaian Dean dengan ekspresi puas.
"Untuk Bu Winar aku nggak pernah sibuk. Sekarang juga bisa." Dean kembali menarik wajah isterinya dan memberikan ciuman.
Setelah ciuman mereka terlepas, Winarsih menggeret lengan suaminya ke arah pintu kamar.
"Katanya ada hal penting yang harus diselesaikan dengan Ryan. Ya sudah, nanti kesiangan," ujar Winarsih membuka pintu kamar dan mendorong tubuh suaminya ke luar.
"Gitu ya kamu sekarang. Padahal aku cuma gemes liat perut kamu makin besar kayak gitu," tukas Dean cemberut.
"Cuma-nya Pak Dean itu nggak mungkin sebentar. Nanti Ryan kelamaan nunggu. Kasihan. Lagipula Novi sudah saya minta naik ke sini," Winarsih meringis memandang wajah suaminya yang pagi itu sangat tampan.
"Hmmm-- ya udah. Aku pergi ya. Ntar sore pulang ngantor langsung aku jemput."
Kemudian terdengar langkah kaki Dean menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
DRRRRRRTTT.... DRRRRRRTTT....
Dean merogoh saku celananya dan meraih ponsel.
"Ya Yan? oke ini gua langsung ke kantor kok." Dean langsung mengakhiri pembicaraan dan berlari keluar menuju Range Rover putih yang telah disiapkan oleh Rojak untuknya.
Ryan yang meneleponnya barusan mengatakan bahwa agen yang mereka sewa telah membuat kepastian berita.
Dengan sedikit tergesa Dean melajukan mobilnya menuju daerah Sudirman. Dean harus segera mendiskusikan hal yang baru mereka peroleh bersama Ryan karena siang ini dia ada janji makan siang bareng Genk Duda Akut yang sudah lama tidak kongkow.
"Pagi Pak--"
"Pagi Pak Dean"
Dean hanya mengangguk mendengar sapaan karyawan dan berjalan tergesa-gesa menuju pintu ruangannya yang terletak paling pojok.
__ADS_1
"Masuk Yan," perintah Dean pada sekretarisnya saat membuka pintu ruangan agar Ryan langsung mengikutinya.
Ryan langsung bangkit dari duduknya dan menyambar sebuah map dari atas meja kemudian mengikuti Dean.
"Ini Pak," Ryan membuka map dan mengeluarkan lebaran kertas dan menyusunnya di atas meja.
Dean berdiri menyilangkan tangannya di depan dada dengan mimik serius matanya mengawasi tiap hal yang tertulis di kertas-kertas itu.
"Sebenarnya ini masih sekedar mengarah ke dugaan kita Yan," ujar Dean.
"Iya Pak. Belum bisa dipastikan sampai pihak lawan membuat tindakan." Ryan ikut menunduk menatap kertas-kertas yang dipandang Dean.
"Sampai ada suatu hal yang bisa memicu. Tapi gua udah siap Yan. Gua belum ada ngomong ke Papa. Tapi gua yakin Papa udah punya pikiran yang sama. Gua mau lu simpan baik-baik ini semua sampai gua minta," ujar Dean.
Ryan mengangguk kemudian mengumpulkan kembali berkas yang terhampar di atas meja.
***********
"Mana Rio?" tanya Dean pada Toni dan Langit saat tiba di Beer Garden SCBD Sudirman.
"Rio mampir ke Mall sebelah nganter bininya dulu. Ntar langsung ke sini," jawab Toni.
"Ah Rio! Cemen banget. Semenjak nikah takut banget ama bininya," ujar Dean menarik sebuah kursi dan duduk.
"Tau tuh. Padahal jarang-jarang banget kita ketemuan gini," balas Langit melirik Toni yang sedang menatap Dean dan dirinya bergantian.
"Lu ama Dean kalo ngomong suka jauh ama kenyataan. Gaya bener ngata-ngatain Rio takut ama bini. Lu bedua aja kalo diajak ke luar sekarang susahnya minta ampun," sergah Toni.
"Ya wajar dong! gua pengantin baru. Dean pengantin baru juga meski DP duluan. Kita bedua sedang berada dalam fase enak-enaknya. Sirik aja lu. Makanya cari bini baru" Langit tertawa kecil mengejek Toni.
"Iya. Gua juga lagi enak-enaknya. Bawaannya pengen mulu. Tapi suka kasian ama bini gua kalo dimacem-macemin banget. Hamilnya udah gede," ujar Dean sembari melambai ke arah waiter yang melintas.
"Dan nggak semua yang pernah lu tonton itu harus segera lu praktekkan Pak Pengacara," ledek Toni pada Dean yang duduk dengan bersandar memegang sebuah buku menu.
"Tapi emang kalo lagi hamil gede tuh, bini emang keliatan sedang seksi-seksinya!" seru Rio yang baru tiba di belakang mereka.
"Eh De! Nikahan lu ama Disty beritanya udah ke mana-mana beritanya. Lu sekarang dihujat jadi laki nggak tanggungjawab. Rame banget beritanya. Bini lu nggak apa-apa?" tanya Langit pada Dean yang baru saja selesai membacakan pesanannya pada waiter yang berdiri mencatat.
"Nggak. nggak apa-apa. Malah bini gua yang jemput di Kantor Polisi kemarin." Dean bersandar dan menaikkan alisnya menyombongkan diri.
"Pesona Pak Pengacara emang tak tertandingi," ujar Toni menyeruput minumannya.
"Siapa sih yang bisa nolak Pak Dean? Apalagi kalo udah masang tampang memelasnya itu!" Langit tertawa melihat Dean yang sedang meremas kertas hendak melemparnya.
"Ngapain gua memelas? nggak mungkinlah seorang Dean memelas ama bininya." Dean menggeser tangannya karena waiter datang dengan nampan berisi pesanannya.
"Laper gua! tadi nggak sempat sarapan," ujar Dean langsung mengambil sepasang garpu dan pisau untuk steaknya.
__ADS_1
"Nggak dimasakin ama bini lu?" tanya Toni.
"Mana mungkin gua nggak dimasakin, isteri gua paket lengkap dari semua hal yang didambakan semua pria di dunia ini," ujar Dean menyendokkan sepotong daging ke mulutnya.
"Udah puas lu puja-puja bini lu yang bekas pembantu itu?" tiba-tiba suara Disty yang telah berdiri di belakang meja mereka membuat hening seketika.
"Wooo...Wooo... ada apa nih? jaga omongannya dong Neng! cewe itu ngomongnya yang baik-baik aja," pungkas Toni yang menggeser kursinya untuk melihat Disty yang berdiri menyilangkan tangan di depan dadanya.
"Lu nggak usah ikut-ikutan," seru Disty dengan suara tinggi.
"Eh Dis! ini tempat umum, ga enak lu ngomong teriak-teriak gitu," sergah langit.
Dean masih melanjutkan makannya dengan wajah santai. Setelah memakan setengah steaknya dan meneguk air mineral langsung dari botol Dean menegakkan duduknya.
"Ya, ada apa lagi?" tanya Dean.
Prakkk!!!
Disty mencampakkan beberapa lembar kertas dan selembar foto ke tubuh Dean.
Rio dan Langit menunduk untuk memungut kertas dan foto yang jatuh ke lantai.
"Gua hamil. Dua bulan," tukas Disty menatap Dean.
Dean membersihkan penjuru mulutnya dengan lidah kemudian mengambil sapu tangan di saku celana dan mengelap mulutnya.
"Trus lu mau apa? mau bilang itu anak gua? gua harus tanggungjawab? ini kartu as yang lu mau mainkan?" tanya Dean santai bersandar ke kursinya.
Rio dan Langit melihat-lihat kertas dan foto hasil USG yang dilemparkan Disty dengan wajah serius seperti mahasiswa kedokteran yang sedang belajar.
Melihat kedua sahabat Dean yang begitu tertarik melihat foto USG yang dibawanya ketimbang Dean sendiri, Disty merampas kembali foto itu dari tangan dua pria yang sedang menatapnya kecewa. Toni tergelak dan Dean ikut terkekeh.
"Dean!! aku serius!" teriak Disty yang membuat beberapa penghuni meja lain menatap ke arah mereka.
BRAKKK!!
Dean membanting botol air mineral ke meja.
"Lu mau tanggungjawab? Ayo!!" Dean bangkit menuju Disty.
"Ayo!! lu ikut gua sekarang!!" emosi Dean mencengkeram tangan Disty dan menyeret perempuan itu ke luar dari cafe.
Toni, Langit dan Rio menatap kepergian Dean yang berjalan cepat menyeret Disty yang tersandung-sandung di belakangnya.
To Be Continued.....
Jejak-jejaknya Bebs :*
__ADS_1