
Dengan berhimpitan di bawah satu payung yang diberikan Rojak kepada mereka, Winarsih dan Bu Sumi menghampiri Pak Hartono yang berdiri di teras menunggu mereka.
Wajah pria tua itu terlihat lelah namun matanya masih memancarkan keramahan.
"Katanya kamu sudah nggak kerja lagi Win? Ini siapa? Ibu kamu? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Hartono di depan Irman dan Fika yang masih berdiri di sisinya. Pak Noto telah membawa mobil kembali ke sayap kiri rumah untuk diparkir.
Winarsih melirik gelisah ke arah Fika dan Irman yang sepertinya juga menunggu apa yang akan disampaikannya kepada atasan mereka.
"Saya ibu Winarsih Pak, ada yang mau saya sampaikan. Boleh saya bicara dengan Bapak? Maaf kalau kami kondisinya basah kuyup begini." Bu Sumi mengutarakan maksudnya sambil melihat ke arah Fika dan Irman.
"Oh, bisa--bisa. Kamu ke belakang dulu Win. Ambil handuk sama Mbah. Kemudian temui saya di ruang kerja. Fika dan Irman bisa tinggalkan saya, nggak apa-apa"
"Saya tunggu di ruang kerja ya." Pak Hartono melangkah masuk menuju tangga lingkar.
Winarsih menuntun ibunya ke arah dapur dan menuju ke kamar Mbah.
Setelah tiga kali ketukan, Mbah muncul di pintu dengan wajah mengantuk dan rambut putihnya yang terurai.
"Win! Dari mana kamu? Kamu basah begitu bisa masuk angin." Mbah pergi ke kamarnya dan membuka lemari untuk mencari handuk.
"Maaf kalau saya ganggu tidur Mbah, saya baru sampai dari Jambi. Ini ibu saya Mbah." Winarsih merentang handuk yang diberikan Mbah ke sekeliling bahu ibunya.
Mbah mengangguk pada ibu Winarsih kemudian menuntun kedua wanita itu untuk duduk.
"Mau berganti pakaian dulu Win? Kamu datang mau bekerja di sini lagi kan?" tanya Mbah pada Winarsih.
"Ibu saya mau bertemu Pak Hartono Mbah, kami buru-buru. Jadi kayaknya nggak usah ganti baju," ucap Winarsih takut-takut sambil melirik ibunya.
Mbah melihat ke arah Winarsih dan ibunya bergantian.
"Ya sudah, temui Pak Hartono segera. Ini sudah malam. Kasihan beliau juga pasti lelah. Kalian juga harus beristirahat," ucap Mbah kemudian mengambil handuk dari tangan Winarsih dan membantu mengeringkan rambutnya.
Tak berapa lama kemudian, kedua wanita itu beriringan menaiki tangga lingkar menuju ruang kerja Pak Hartono.
"Rumah ini besar sekali Win, terlalu mewah dan bagus. Ibu juga nggak kepingin kamu berada di sini kalau nggak diperlakukan dengan baik. Ibu cuma mau ketemu dan mendengar langsung apa kata laki-laki itu. Kalau mereka menolak kamu, kita pulang malam ini juga." Perkataan Bu Sumi lamat-lamat didengar Winarsih saat mereka mencapai anak tangga paling atas.
Sekilas mata Winarsih melihat ke sudut kanan. Tempat di mana kamar Dean berada. Kamar yang memiliki balkon dengan pemandangan langsung ke pagar rumah.
Ketika mereka tiba tadi, Winarsih sempat melihat kamar Dean yang dari luar terlihat gelap. Kemungkinan besar pria itu belum pulang ke rumah, atau malah sudah tidur.
Winarsih hanya bisa menebak-nebak. Meski rasanya kemarin-kemarin Winarsih banyak menghabiskan waktu bersama Dean dan hafal kebiasaannya, namun beberapa hari saja tak bertemu, Dean terasa kembali asing.
Karena, jarak dan waktu selalu menjadi alasan kuat bagi seseorang untuk berubah.
Winarsih menarik nafas panjang kemudian mengetuk pintu ruang kerja Pak Hartono.
"Masuk," terdengar suara Pak Hartono dari dalam.
__ADS_1
Winarsih menggandeng lengan ibunya ke dalam, langsung menuju ke sebuah meja kerja besar tempat biasa Pak Hartono bekerja selama berjam-jam.
"Maaf Pak," ucap Winarsih langsung.
"Ah iya, Win. Persilakan orangtuamu duduk dulu. Matikan saja AC-nya. Makin kedinginan nanti kamu," perintah Pak Hartono pada Winarsih yang masih berdiri di dekat pintu tempat di mana remote AC berada.
"Ada apa itu? Apa ada masalah di desa?" tebak Hartono memandang Winarsih dan Bu Sumi yang sudah duduk di seberangnya.
Winarsih berdiri menunduk di belakang Ibunya. Posisi meja kerja yang melintang di sebelah kanan, membuat Winarsih berdiri membelakangi pintu masuk.
"Pak, saya ibu Winarsih. Saya datang jauh-jauh dari Desa Beringin di Jambi hanya untuk memastikan sesuatu," ucap Bu Sumi kepada Pak Hartono yang kini telah mencurahkan semua perhatiannya pada wanita itu.
"Apa itu Bu?" tanya Pak Hartono sambil memajukan letak duduknya.
"Winarsih kemarin pulang ke kampung tiba-tiba--" Bu Sumi menarik nafas. "Dia pulang dalam keadaan hamil 4 bulan. Susah payah saya meminta pengakuannya soal siapa ayah dari bayi yang dikandungnya." Bu Sumi menghela nafas dan mengalihkan pandangannya sesaat ke arah rak buku.
Winarsih mulai menangis di belakang Bu Sumi. Pak Hartono kini meletakkan kedua tangannya tergenggam di atas meja.
"Teruskan Bu," ucap Pak Hartono.
"Menurut pengakuan anak saya, bayi yang dikandungnya adalah anak dari Dean. Anak Bapak." Bu Sumi memandang lurus kepada Pak Hartono.
Pria tua itu terlihat menarik nafas dalam-dalam.
"Saya hanya ingin memastikannya sendiri. Kalau Dean tidak mengakui seperti yang dikatakan Winarsih, saya akan membawa anak saya pulang malam ini juga. Maaf kalau saya lancang. Tapi saya begini karena saya percaya dengan anak saya." Bu Sumi berhenti berbicara seolah menunggu reaksi dari Pak Hartono yang sekarang bersandar ke kursinya dan mengatupkan kedua tangannya di atas perut.
Wajahnya terus menunduk menatap kakinya yang terbungkus flatshoes kulit yang lepek karena melewati genangan air di terminal tadi.
"Win," panggil Pak Hartono.
Winarsih menelan ludahnya kemudian menjawab,
"Ya Paaak... maafkan sayaaa...." Air matanya kembali turun tak henti-henti.
Winarsih tak pernah membayangkan berada di rumah itu seperti seseorang yang sedang mengemis tanggungjawab.
"Benar yang dikatakan ibumu barusan?" tanya Pak Hartono menatap Winarsih.
Pria itu memandang tubuh Winarsih lekat-lekat. Pakaiannya yang basah kuyup malam itu tak bisa menyembunyikan perutnya yang sudah kian membesar.
Dengan kedua tangan Winarsih yang tersimpul di depan tubuh justru membuat tonjolan di perutnya semakin kelihatan.
"Benar P-Pak." Winarsih tercekat.
Pak Hartono menghela nafas panjang kemudian bersandar pada kursinya masih dengan mata yang tak lepas dari Winarsih.
Kemudian pria itu mengambil ponsel yang terletak tak jauh darinya. Sedetik kemudian Pak Hartono sedang menunggu panggilan telepon nya dijawab.
__ADS_1
"Ya--ini Papa. Di mana kamu De? Ayo, bangun dulu. Temui papa di ruang kerja, sekarang. Ada yang ingin papa tanyakan pada kamu. Penting. Sekarang ya Dean." Pak Hartono lalu menutup teleponnya.
"Saya sedang panggil Dean ke sini, nanti kita tanya sama-sama ke dia."
Mendengar nama Dean disebutkan, seluruh tulang-tulang Winarsih terasa tak berguna bagi tubuhnya. Kakinya langsung lemas dan dadanya berdebar hebat.
Seperti tahu apa yang sedang dirasakan oleh anaknya, Bu Sumi meraih tangan Winarsih yang gemetar di atas bahunya.
Winarsih sudah pergi dari pria itu. Harusnya dia tak kembali dalam keadaan seperti ini. Tak lama kemudian Winarsih mendengar pintu di belakangnya terbuka, dan suara langkah kaki terseret masuk ke ruangan dan menutup pintu.
"Ya Pa?" tanya Dean langsung saat menuju meja kerja Pak Hartono.
Dan sedetik kemudian saat Dean yang tiba dengan sepasang piyama dan wajah mengantuk menoleh ke arah kanan, "Win? Kamu--"
Winarsih diam tak berani memandang Dean. Kepalanya hanya tertunduk dengan kedua tangannya yang berada di atas bahu Bu Sumi yang sedang duduk.
"Papa, mau tanya langsung ke kamu. Ini ibunya Winarsih jauh-jauh datang dari Jambi untuk nemuin papa. Ibunya sudah interogasi dia, dan menurut pengakuannya, sekarang dia sedang hamil anak kamu. Sudah 4 bulan. Bener begitu Dean?" tanya Pak Hartono dengan tatapan tajam kepada Dean. Kursi yang diduduki pria tua itu kini mengarah kepada anaknya yang berdiri masih dengan setengah sadar.
"Hah? Kamu bener--jadi--Win? Kamu kok nggak bilang--Win? Aku kan udah--" Dean kini sudah benar-benar terbangun dari tidurnya.
"Papa tanya kamu yang bener Dean!! Iya atau enggak? Kamu ngerasa udah ada--haduh--sakit kepala papa! Itu anak kamu atau bukan?" Pak Hartono memekik tertahan. Rasanya dia ingin meneriaki Dean dan menampar anaknya itu.
Tapi mengingat Winarsih dan Bu Sumi yang sedang berada di depannya, Pak Hartono cukup bisa meredam emosi.
"Win? Itu--" Dean kembali mencoba memanggil Winarsih.
"Anak kamu atau bukan?" tanya Pak Hartono lagi.
"Iya Pa--iya. Kalo Winarsih hamil itu udah pasti anak Dean," jawab Dean cepat masih dengan melirik Winarsih yang belum menoleh kepadanya sedikit pun.
Pak Hartono kini memijat-mijat dahinya.
"Nikahi dia!! Itu cucu papa! Anak kamu! Bisa-bisanya kamu santai-santai ke sana kemari sementara calon anakmu sudah 4 bulan. Laki-laki macam apa kamu? Bikin malu dan sakit kepala orang tua aja. Sampai ibu Winarsih yang datengin papa ke sini. Apa nggak ngerasa kamu udah berbuat seperti itu?! Nikahi dia! Denger nggak apa yang papa bilang?" cecar Pak Hartono pada anaknya.
"Denger Pa," jawab Dean.
"Mau kamu nikahi dia?" tanya Pak Hartono lagi.
"Mau Pa," jawab Dean kepada papanya.
Dean melirik ke arah Winarsih yang belum mau menatap kearahnya sejak tadi. Pandangannya turun ke arah perut yang sejak tadi didekap wanita itu erat.
Dia begitu kagum dengan cara Tuhan. Tadi siang dia meminta agar Winarsih dikirimkan kembali padanya. Dan lewat tengah malam ini, Dean dikirimkan satu paket sekaligus. Winarsih dan calon anaknya.
To Be Continued.....
Likes dan commentsnya dooong...
__ADS_1