
"Tapi aku tidak bisa Ra. Aku tidak bisa menutup mata ku dengan semua itu. Aku tidak bisa pura-pura tidak tahu jika kamu tidak bahagia selama ini!"
Rara memejamkan mata, frustasi dia di buatnya. Jujur dia sendiri merasa berat jika tiba-tiba harus pisah jauh dari Rangga mengingat selama ini pria itu yang selalu ada untuknya, tapi Rara juga sadar jika dia wanita bersuami dan harus mengikuti segala perintah suami, apalagi sekarang hubungan dia dan Adam menunjukkan kemajuan pesat di banding tahun-tahun sebelumnya dan Rara tidak ingin menyia-nyiakan semua itu. Namun kenapa saat dia dan Adam membaik Rangga harus jadi penghalang diantara mereka? Tidak bisa kan adik iparnya itu bersikap seperti kemarin-kemarin tanpa menuntut apapun terhadap Rara prihal kedekatan mereka berdua.
"Aku tidak bisa membiarkan kamu pergi dengan Adam disaat dia tidak mencintai mu? Disaat hatinya masih ada wanita lain."
"Stop bang, hentikan!" Rara tidak ingin mendengar apapun dari Rangga.
"Jangan bersikap seperti ini? Hubungan kita sudah berakhir lama bang. Dan aku mohon jangan halangi langkah ku untuk memperoleh kebahagiaan ku sendiri."
"Aku tidak menghalangi kebahagiaan mu Ra, tidak pernah."
"Lalu sekarang apa yang Abang lakukan. Bagus Abang menjalin hubungan dengan prempuan lain supaya tidak terfokus hanya pada aku dan Ali. Menikahlah bang, agar Abang bisa melupakan aku!"
Rangga mengeleng, "Aku gak bisa Ra," lirih Rangga.
Air mata Rara jatuh saat mendengar itu.
"Aku mohon bang, carilah wanita yang lebih baik dari aku, yang lebih segala-galanya dari aku, Hem!"
Rara mengegam jemari Rangga yang ada di atas paha pria itu. Memohon pada pria itu agar mau menuruti permintaannya.
Namun lagi-lagi Rangga mengeleng, "Aku gak butuh prempuan yang lebih segala-galanya dari kamu Ra. Yang aku butuhkan kamu, yang aku mau kamu dan yang aku cintai juga kamu dan hanya kamu."
Tangis Rara pun pecah seketika, dia melepaskan tangannya itu dari genggamannya, ganti menutup wajahnya. Tak sanggup dia menanggung semua ini. Untuk orang lain mungkin ini berkah saat di cintai dua orang lelaki bersamaan, tapi sayangnya Rara bukan prempuan seperti itu.
Melihat Rara menagis Rangga pun bingung, ingin memeluk tapi tidak berani, mencoba menenangkan tapi tidak tahu harus berbuat apa? Dia hanya berusaha untuk jujur, tidak ingin berbohong lagi dengan perasaannya. Lebih dari cukup dia bersabar selama ini dan sekarang dia tidak ingin menjadi pria bodoh yang hanya melihat kekasihnya di sia-siakan oleh orang lain.
Rara mengusap pipinya yang basah, menarik nafas berlahan, mencoba untuk tidak melow.
__ADS_1
"Bukankah Abang sadar, semua ini salah siapa?" Tanya Rara sambil menatap tajam Rangga yang duduk mematung di sebelahnya.
"Semua ini salah Abang! Coba jika saat itu Abang mau membawaku pergi, pernikahan konyol ini pasti semua ini tidak akan terjadi. Pasti aku bisa bahagia dan Abang juga bahagia dan mas Adam juga bahagia dengan kekasihnya. Kita semua pasti bahagia.
Tapi semua ini hancur gara-gara sikap pengecut Abang. Abang yang chicken dan tidak berani mengambil resiko. Sekarang setelah aku bahagia dengan pernikahan ku? Abang ingin menghancurkan semuanya? Jangan mimpi bang, aku gak akan biarkan itu terjadi."
Rara menunjuk-nunjuk dada Rangga dengan jarinya. Mengunakan semua rasa kecewa yang dia pendam pada sang cinta pertama.
"Sekarang, gak usah temui aku dan Ali lagi. Aku gak mau ketemu sama Abang!" Ucap Rara.
Ibunya Ali bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang kerja Rangga.
****
Sepeninggalan Rara, Rangga mengadakan kepalanya pada punggung sofa, menutup matanya dengan sebelah lengan. Bingung itu yang dia rasakan. Kata-kata Rara begitu menohok ginjalnya membuat dia tak bisa berkata-kata karena semua itu adalah benar.
"Hallo!"
Terdengar suara perempuan yang menyapanya setelah bunyi Tut beberapa kali.
"Hallo," jawab Rangga.
Kemudian adik ipar Rara berbicara pada orang yang dia telpon menggunakan bahasa Inggris yang fasih dan lancar.
"Baiklah, kabari aku jika kamu datang."
"Ok. Thanks your information," jawab prempuan itu.
Rangga mengakhiri pembicaraan itu dengan menekan tombol merah di handphonenya dan meletakkan benda sejuta umat itu kembali ke meja. Sebaris senyum terbit di bibirnya membuat wajah tampannya kembali cerah lagi.
__ADS_1
****
"Mama menangis? Mama bertengkar dengan ayah?"
Tanya Ali saat melihat mata Rara memerah.
Rara yang sedang mengemudi mobilnya mengeleng, kemudian menatap Ali yang duduk di sebelah sekilas.
"Terus kenapa mama menangis? Apa ayah menyakiti mama?" Tanya bocah itu sambil menyentuh lengan sang mama.
Rara mengelus kepala Ali pelan. Tidak apa-apa sayang. Tadi mama kelilipan jadi matanya berair dan merah," bohong Rara.
"Ali!" Panggil Rara.
"Ya ma!" Ali menoleh.
"Mulai sekarang jangan panggilan ayah lagi pada om Rangga, karena ayah Ali itu papa Adam. Om Rangga bukan ayah buat kamu."
"Kenapa tidak boleh ma? Padahal om Rangga yang bilang kalau manggil dia itu ayah bukan Om. Dan mama juga gak pernah protes, jadi kenapa sekarang gak boleh manggil om Rangga ayah?"
Ingin rasanya Rara berteriak dan berkata jangan tanya alasannya dan turutin saja, namun Rara sadar jika dirinya tidak bisa bersikap egois pada Ali yang sangat kritis. Maka Rara harus menjelaskan secara berlahan agar anaknya paham kenapa tidak boleh.
Rara merasa lega saat Ali mengangguk mengerti. Kemudian ibu satu anak itu memeluk putranya dan mencium puncak kepala Ali beberapa kali, sebelum mereka turun dari mobil.
Mungkin memang ini akhir dari segalanya, batin Rara.
*****
Jangan lupa vote dan hadiah buat Rara.
__ADS_1