
Selesai belajar, Ali yang sudah ngantuk langsung pergi ke tempat tidur tanpa memasukkan buku-bukunya ke dalam tas terlebih dahulu.
Melihat putranya yang langsung rebahan Rara pun kembali bersuara,
"Sayang, gosok gigi dulu baru tidur!" Teriak sang mama mengingatkan.
Ali yang masih mode ngambek gara-gara sang papa pura-pura tidak mendengar perintah Rara, bukannya bangun bocah itu malah membenamkan wajahnya ke guling yang sudah di peluknya erat.
Adam yang duduk di sofa sambil membaca buku menghentikan aktifitasnya. pria itu mengelengkan kepala saat melihat kesibukan sang istri membereskan buku-buku Ali juga putranya yang ngambek dan tidak nurut pada sang mama. Pemandangan ibu dan anak itu membuat naluri ke bapaknya keluar, sehingga dia pun ikut bereaksi.
Meletakan buku yang sedang dia pegang ke nakas, Adam dekatinya sang anak yang sudah pura-pura tidur.
"Sayang, gosok gigi sama papa yuk?" Ajak Adam sambil mengelus kepala putranya.
Ali hanya diam.
"Sayang, gosok gigi dulu biar gak sakit gigi! dan suapaya mama tidak marah!"
Ali masih bergeming, meski begitu Adam tidak menyerah.
"Papa gendong mau?"
Ali membalik tubuhnya menatap Adam.
"Yuk papa gendong," ulang Adam sambil membangunkan tubuh anaknya yang malas.
"Anak papa sayang, sekarang sudah besar. Ayok Kita gosok gigi dulu, ok!"
Pinta Adam sambil melingkarkan tangan Ali di lehernya dan mengendong Ali di belakang punggungnya, untuk dibawa ke kamar mandi.
Layaknya iklan Pepsodent, Adam dan Ali bersama-sama gosok gigi, kemudian sama-sama buang air kecil, supaya Ali tidak ngompol dan kembali ke kamar lagi dengan mengendong Ali.
Rara yang melihat keakraban suami dan anaknya tersenyum bahagian. Tidak tahu kapan terakhir kali dia melihat Adam memanjakan anaknya seperti saat ini.
Mungkin memang benar jika Adam mau berubah, ingin memulai semua dari awal, mulai mendekatkan diri pada mereka berdua.
****
Saat Ali sudah tidur Adam mulai bereaksi.Adam yang memiliki minat pada sang istri pun berpindah dari sebelah kiri Ali menjadi ke sebelah Rara.
Niat yang sudah bulat tidak mengendurkan semangatnya meski di lihat Rara telah tertidur pulas.
Setelah puas menatap wajah sang istri yang kelihatan makin cantik saat tertidur, apa lagi saat dia lagi pengen gini, bagi Adam kecantikan Rara semakin meningkat berkali-kali lipat dibandingkan bisanya.
Dengan berlahan, Adam mengangkat tubuh Rara dari kasur, memindahkan tubuh sang istri ke kamar sebelah. Sarang penyamun tempat dimana mereka biasa mencetak bayi cebong untuk di teteskan. Dengan langkah pelan Adam berjalan supaya tidak membangunkan Rara yang masih terlelap dalam gendongannya.
__ADS_1
Saat Adam hendak meletakkan tubuh Rara secara perlahan di kasur Ali, seketika istrinya membuka mata,
"Aaaww...!!!"
Rara yang kaget saat mendapati wajah Adam yang begitu dekat dengannya saat membuka mata seketika menjerit. Sedangkan Adam yang mendengar jerit Rara secara tiba-tiba seketika terlonjak kaget. Refleks dia melemparkan tubuh Rara begitu saja ke atas kasur dengan kasar.
"Aaww...Mas!"
Pekik Rara saat merasakan tubuhnya terbanting.
"Sakit!"
Rengek Rara yang langsung duduk sambil mengusap-usap kepalanya yang membentur tepi tempat tidur.
"Maaf, maaf Ra, aku gak sengaja," jujur Adam dengan wajah penuh penyesalan sambil mendekati sang istri kemudian melihat kepala Rara apakah berdarah atau tidak?
"Habis kamu jerit tiba-tiba sih, bikin mas kaget," ujar Adam sambil mengusap-usap kepala Rara dengan ujung rambutnya agar tidak memar.
"Aku juga kaget mas. Karena begitu buka mata tiba-tiba langsung lihat wajah mas," Ucap Rara membela diri.
"Iya maaf. Aku emang salah gak bangunkan kamu dulu. Aku cuma gak tega buat bangunkan kamu. Tidur mu nampak pules banget. Lagi pula niatnya aku juga mau kasih surprise sama kamu. Tapi malah gagal. Bukan kasih kamu kejutan malah bikin kamu celaka," sesal Adam ketika menyadari kalau kepala Rara benjol sedikit akibat ulahnya.
Melihat kejujuran Adam, Rara tak kuasa untuk marah pada sang suami. Karena dia pun sadar jika kejadian barusan itu kecelakaan.
Rara terseyum, "gak apa-apa mas, aku tahu itu tadi bukan salah mas Adam, tapi kecelakaan dan aku juga ikut adil dalam kecelakaan itu," Rara mengusap tangan Adam guna menegakkan.
Membuat Adam ikut tertawa juga karena membenarkan ucapan sang istri, dan merasa lucu akan menjadi yang menimpa mereka beberapa waktu lalu.
"Apa masih sakit?" Tanya Adam penasaran.
"Udah gak kok. Tadi sedikit pusing tapi sekarang udah baikan, kan udah di usap sama mas Adam," Rara mengerlingkan matanya genit, untuk mengoda.
Adam yang mendapati sikap centil sang istri mencubit gemes hidung mancung Rara. Membuat Rara memukul tangan suaminya, lalu cemberut Rara mengelus-elus hidungnya yang sakit.
"Sakit tahu!" Omel Rara.
"Syukur deh kalau gitu," jawab Adam dengan mengulum senyum.
Kemudian Adam bangun dari duduknya, pergi ke lemari baju Ali untuk mengambil sebuah paper bag yang tersimpan di sana dan memberikan pada Rara.
"Nih, Hadiah dari mas buat kamu!"
"Makasih mas!" Jawab Rara antusias.
Tangannya beralih mengambil tas kertas itu dari sang suami, kemudian melihat isi di dalamnya.
__ADS_1
"Dalam rangka apa nih mas kasih aku hadiah?" Tanya Rara sambil menoleh pada Adam yang duduk di sebelahnya.
"Dalam rangka mencetak adik baru buat Ali," bisik Adam di telinga Rara, sambil melingkarkan tangannya pada bahu sang istri membuat wajah Rara merona seketika, malu-malu ngarep.
"Dasar mesum!" Rara mencubit perut Adam yang terus mengodanya, membuat pria itu tertawa renyah.
Rara menutup mulutnya, terkejut saat mendapati hadiah apa yang suaminya berikan.
Sebuah lingerie warna hitam dari bahan sutra yang sangat lembut dan tipis. Saking tipisnya sampai tembus pandang.
"Ini beneran untuk ku mas?" Tanya mama Ali tidak percaya. Karena seumur-umur baru sekarang suaminya memberikan baju minimalis yang kekurang bahan begini.
Begitu banyak pertanyaan seketika muncul di otaknya tatkala matanya lingerie dengan tali kecil di bagian pundaknya dan pinggul Pantiesnya.
Sungguh, benarkah suaminya meminta dia memakai pakaian itu? Pikir Rara lagi.
Bahkan panties pun hanya terbuat dari secarik kain sutra bertali kecil yang hanya dapat menutupi bagian depan lembah rawanya saja.
Meski begitu, Rara tidak dapat menolak saat Adam memintanya untuk memakai baju tidur kurang bahan itu. Mengingat sang suami yang menginginkannya maka Rara pun menuruti meski itu tidak sesuai dengan ekspektasi dirinya.
Rara memakai lingerie yang terasa kekecilan untuknya, karena terasa begitu sempit dan sesak di tubuhnya, membuat ibunya Ali kembali berfikir, benarkah baju ini untuk ku? Atau untuk orang lain yang di berikan mas Adam pada ku? Jika untuk ku kenapa kekecilan gini? Tapi jika untuk orang lain siapa dia? Kenapa mas Adam membelikan baju beginian untuk nya? Apakah baju ini untuk Monica? Apakah mas Adam masih menghubungi wanita itu?
Rara bertanya-tanya dalam hati, yang tak satupun dari pertanyaan itu dia temukan Jawabannya.
Rara mengelengkan kepalanya mencoba menghilangkan pikiran negatif tentang Adam dari benaknya. Supaya otaknya fresh lagi Rara mencuci wajahnya, lalu mengambil sikat gigi baru untuk gosok gigi. Meski kamar mandi di kamar Ali jarang di pakai, tetap saja Rara menyimpan perlengkapan mandi baru disana, sebagai cadangan jika sewaktu-waktu mertua dan adik ipar nginap di rumah mereka.
Rara melihat penampilannya dari pantulan cermin di depannya. Sambil memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan memamerkan lekuk tubuhnya.
Bukanya sombong dan sok narsis, tapi dia mengakui jika dirinya memang sangat cantik.
Kulitnya yang seputih susu, dipadu dengan wajah berbentuk oval, alis hitam yang rapi bagai semut berbaris, hidung mancung yang kecil, bibir mungil dan penuh, dengan pipi yang sedikit chubby, efek berat badan yang bertambah.
Rambut hitam panjang agak bergelombang memberikan kesan eksotis bagi Rara. Belum lagi, tubuhnya yang tinggi semampai dengan bodinya yang seksi. Tidak mau sombong, karena dia sadar segala kesempurnaan hanya milik Allah semata.
Tapi jika Rara boleh jujur, dia yakin saat dirinya mengunakan baju model karet yang pas body pasti banyak lelaki yang tidak berkedip saat melihatnya.
Rara keluar dari kamar mandi setelah gosok gigi, kumur-kumur dan cuci muka. Dia menghampiri Adam yang duduk di tepi ranjang.
"Mas!" panggil Rara.
****
Maaf kemarin-kemarin gak sempet update, karena athor sibuk bantu-bantu acara pesta di tetangga, sampai gak sempet nulis...
Huh, pokoknya seminggu jadwalnya padat sampai rumah saja berubah jadi hotel, buat nginep kalau malam doang.
__ADS_1
Jadi maaf buat yang kangen sama Rara harap sabar menunggu ok!.