
Sekarang Adam benar-benar kecewa dengan Rara yang kembali mencari gara-gara dengan Monica hingga membuat prempuan itu mempermalukan dirinya di depan umum seperti itu.
Membuat semua orang berfikir jika Adam tidak bisa mendidik istrinya, padahal jelas sebelum mereka pergi tadi Adam sudah memberitahu pada sang istri jika Monica pasti datang karena pak Dani memberi undangan pada perempuan itu dan dia meminta Rara untuk menjauhi Monica sejauh-jauhnya, karena dia sendiri tidak akan tahu apa yang akan dilakukan perempuan gila yang suka cari perhatian itu.
Tapi nyatanya Rara tidak mengerti apa yang Adam inginkan, bisa-bisa dia malah masuk dalam jebakan Monica dan menyiram prempuan itu dengan minuman yang dia pegang. Membuat mereka menjadi trending topik di acar itu. Adam sungguh malu jika memikirkan itu semua.
Adam menyengkram setir dengan kencang, hingga otot-otot tangannya tampak menonjol.
Emosi, tentu saja. Kenapa istrinya bisa seceroboh itu, tidak memikirkan nama baiknya sama sekali. Kenapa Rara tidak bisa bersikap seperti Maelin, yang anggun dan mempesona. Sikap dan tingkah lakunya juga tidak pernah membuat malu.
Maelin tahu kapan dia harus mengalah dan kapan dia harus melawan, dalam situasi dan keadaan yang bagaimana di harus menjadi sosok yang tegas dan kuat.
Maelin tidak pernah mempermalukan Adam, merusak nama baiknya meskipun dia berkali-kali mengajak wanita itu pergi ke acara-acara perusahaan dulu. Maelin tidak pernah bersikap bar-bar seperti Rara begitu.
Ah... memikirkan itu semua membuat Adam menyesal, kenapa dia mengajak Rara untuk menghadiri acar perusahaan? Kenapa menunjukkan ke semua orang jika Rara itu istrinya? Jika hanya akan mempermalukan dia begitu?
Dan lagi kenapa yang menjadi istri harus Rara? Kenapa bukan Maelin Prempuan, yang bisa tahu kemauan Adam.
__ADS_1
Adam memijit pangkal hidungnya mengharapkan bisa mengurasi pusing dan stres yang Rara berikan.
****
Rara menghapus air matanya dengan cepat, kemudian menoleh ke samping, menatap ke arah Adam yang tampan jelas kecewa pada dirinya. Dia tidak menyangka, suaminya akan berkata seperti itu.
Perkataan yang benar-benar membuatnya sakit hati karena pengakuan Adam barusan. Bisa-bisanya laki-laki itu lebih percaya orang lain ketimbang dirinya, yang bersetatus istri.
Oh...nasib buruk apa yang sebenarnya menimpa dirinya, sehingga harus mencintai pria seperti Adam itu, batin Rara dalam hati.
Rara meremas kedua tangannya yang terkepal diatas paha, hingga kukunya menancap ke tangan. Sebagai ekspresi jika dia mati-matian menahan amarahnya agar tidak meledak.
"Apakah selama ini hubungan kita berdua itu tidak pernah menyentuh hati mu, sampai bisa berkata kalau kamu kecewa sama aku, mas?"
Mereka suami istri, tidur bersama bukan hanya sekali dua kali tapi sudah berpuluh-puluh kali. Bukankah hubungan suami istri yang sudah menyatu itu akan sedikit banyak paham karakter dan sifat masingmasing pasangan? Namun kenapa Adam tidak tahu tentang Rara sama sekali. Jika harus kecewa, seharusnya Rara yang kecewa bukan Adam.
"Harusnya kamu sebagai suami itu lebih percaya sama aku ketimbang orang lain. Menjadi perisai pelindung buat ku saat orang lain mulai menghujam dan menyakitiku, bukan malah menjadi orang nomor satu yang menyakiti ku seperti ini."
__ADS_1
Air mata Rara kembali turun saat mengatakannya kalimat terakhir yang menurut dia begitu sangat menyakitikan.
"Bukan aku tidak percaya. Tapi karena aku tahu kamu dan sifat kamu makanya aku ngomong begini. Kamu tidak pernah mau kalah dari orang lain, apalagi sampai ngalah," balas Adam yang merasa sok benar.
Rara tersenyum sini, "terserah kamu mau ngomong apa. Ternyata gak ada gunanya juga aku jelaskan semuanya sama kamu. Mata kamu sudah di butakan oleh sosok Monica yang cantik itu, sehingga gak bisa melihat mana yang benar dan yang salah. Aku hanya bisa bilang, semoga kamu menyesuaikan sudah menyakiti aku seperti ini, mas!"
Rara kembali menghapus air matanya yang merembes mili membasahi pipi, mewakili hatinya yang teramat sakit.
Dia mengigit bibir bawahnya, mencoba menahan Isak tangisnya, agar tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Rara tidak mau terlihat menyedihkan di depan Adam sialan itu.
Beberapa kali mama Ali mendongakkan kepalanya ke atas, berharap air matanya dapat berhati dan tidak keluar lagi, meski itu sangat sulit.
Rara mendiamkan Adam selama sisa perjalanan mereka berdua. Bahkan saat mereka sudah sampai basment apartemen, Rara langsung melompat turun meski mobil belum berhenti sempurna. Yang ada di otaknya hanya ingin cepat-cepat pergi dari sisih Adam. Rasanya muak melihat wajah suami sendiri. Mungkin dosa jika Rara mengatakan itu, tapi itu memang kenyataannya. Mama Ali berjalan cepat meninggalkan Adam sendirian.
Ingin rasanya dia pulang ke rumah malam ini juga, namun semua itu tidak mungkin. Dia datang mengunakan mobil Rangga dan adik iparnya itu belum pulang. Masih asik berdua dengan pacar barunya dan Rara juga tidak mau menjadi orang yang tidak tahu diri dengan menelpon Rangga mengajaknya pulang ke rumah lantaran masalah pribadi dia dengan Adam.
Terlebih lagi, saat sampai di rumah Ali sudah tidur karena hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
__ADS_1
Rara masuk ke kamar dan menguncinya, membiarkan Adam sendiri di ruang tamu.
****