Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 38. Panggil Aku Ayah


__ADS_3

Maaf ya reader update nya malam. Karena hari ini beneran sibuk banget.


Athor harus siapkan ultah anak aku yang ke 4 dulu, dan Alhamdulillah acaranya lancar dari awal sampai akhir.


Dan akhirnya bisa nulis cerita Rara sampai bisa update meski harus malam.


Terimakasih kalian yang sudah sabar menunggu Rara datang.


*****


Rara melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, sekarang sudah menunjukkan pukul 9.45 berarti lima belas menit lagi Ali pulang sekolah.


Sedangkan para siswa yang sedang duduk mengerjapkan soal ujian belum ada tanda-tanda hendak keluar kelas, membuat Rara menjadi gelisah.


Ibunya Ali mengigit bibir bawah bagian dalamnya, sedang tangganya memegang handphone, otaknya sibuk bekerja mencari cara untuk keluar dari masalah yang dia hadapi.


Ali yang tadi pagi ngambek dan gak mau pergi sekolah, baru mau berangkat setelah Rara janji bakal menjemputnya ketika pulang. Tapi ternyata nasib keberuntungan dia sedang tidak baik. Guru yang mengawas ujian tengah semester kali itu sedang sakit sehingga Rara harus mengantikannya.


Tidak ada yang di mintai tolong, semua orang sibuk membuat mama Ali harus mengingkari janji pada anaknya demi tangung jawab.


Rara mengirim pesan pada mbok, meminta asisten rumah tangga nya itu untuk menjemput Ali di sekolah, namun setelah di tunggu beberapa menit pesanan belum juga di buka, membuat jemari Rara akhirnya memilih menelpon perempuan paruh baya itu.


Tetap sama, panggilan Rara tidak di angkat. Setelah bunyi tut beberapa kali yang ada hanya suara ocehan operator. Mungkin mbok Atun sedang pergi atau belanja di warung sehingga lupa bawa handphone.


Karena Rara Memeng tidak terbiasa menggunakan handphone saat sedang bekerja, maka dia memilih pergi menuju pintu, untuk menelpon di luar agar tidak menganggu para siswa yang sedang ujian, juga agar tetep bisa mengawasi anak-anak mengerjakan soal, sehingga tidak ada yang nyontek.


Karena biasanya gitu. Kalau pengawasan mereka lengah sedikit, muridnya langsung kasak kusuk di belakang bisik-bisik minta contekan pada yang lain.


Rara bangkit dari duduknya, menuju depan pintu, untuk menelpon seseorang dan meminta bantuan.


"Assalamu'alaikum mama!" Sapa Rara pada Eka saat telpon di sebrang telah diangkat.


"Walaikumsalam Ra," jawab Eka.


"Mama sibuk tidak sekarang?" Tanya Rara.


"Tidak Ra, mama cuma bantuin papa jaga toko, tidak sibuk. Kenapa memang?"


Karena mertua Rara memang mempunyai toko grosir barang harian dia pasar, dan kalau tidak sibuk dia biasanya dia bergantian dengan sang sang suami menjaga toko itu guna mengawasi karyawan yang sedang bekerja berinteraksi dengan para pembeli.


"Rara mau minta tolong jemputkan Ali di sekolah bisa ma. Tadi pagi Rara janji mau jemput dia, tapi ternyata sekarang Rara harus ngawas ujian dan gak bisa pergi," Rara menjelaskan alasan kenapa dia meminta tolong pada mama mertua.


"Bisa, bisa. Nanti biar mama yang jemput dia, kamu tenang saja," ucap Eka di sebrang sana dengan nada ringan. Seolah permintaan Rara adalah hal yang membahagiakan untuknya.


"Bukan nanti ma, tapi sekarang. Karena sekarang sudah jam sepuluh dan Ali mungkin sudah keluar kelas."


Jelas Rara pada sang mertua untuk mengganti kata nanti menjadi sekarang yang artinya harus berangkat.


Terdengar Eka tertawa di sebrang sana, "iya Ra, sekarang. Mama berangkat nih!" Jawab Eka memberi tahu sang mantu kesayangan.


Setelah mendengar Jawaban Eka, Rara bisa tersenyum lega sekarang.


"Makasih ya ma," ucap Rara tulus.


"Sama-sama," jawab Eka. Kemudian mematikan sambungan telponnya.


Begitu obrolan terhenti, Eka langsun mengambil kunci motornya dari laci kasir, setelah meminta izin pada sang suami, ibu dua anak itu berjalan keluar toko menuju dimana motornya parkir.


"Mama mau kemana?" Tanya Rangga yang baru keluar dari CR-V putih miliknya.


Eka yang hendak memasukan kontak ke lubang kunci motornya menoleh, menatap Rangga yang sudah berdiri di sebelahnya.


"Mau jemput Ali di sekolah," Eka memberi tahu.


"Lha memang si mbok gak ada?"


Eka pun menjelaskan pada putranya kenapa dia yang menjemput Ali.

__ADS_1


"Oh," Rangga paham, "kalau gitu biar Rangga saja yang jemput mah. Dari pada aku cuma nganggur gak ada kerjaan," ucap anak kedua Syaputra.


"Boleh. Nih!" Eka menyerah kan kunci motornya pada Rangga.


"Gak usah ma, aku pakai mobil saja," tolak pria itu.


Rangga memang sedang libur sekarang. Selain karena week end.


Dia juga sedang free, tidak ada laporan ataupun penelitian yang sedang dia kerjakan. Tugas-tugas dari dosen juga sudah selesai dan sudah dia kirim via email tadi malam.


Sekarang rumah sepi, tidak ada orang. Karena papa mama pergi ke toko. Rangga yang di rumah sendiri merasa bosan sehingga memilih menyusul Syaputra dan Eka ke toko ketimbang nonton TV atau main HP di rumah.


Siapa tahu di toko nanti dia bisa ketemu pelanggan atau pengunjung cantik yang bisa dia godain.


Lumayan kan buat cuci mata, pikir cowok ganteng yang gagal move on.


Apalagi Eka kemarin bilang kalau kasirnya pak haji, toko sebelah milik sang papa itu cewek cantik.


Membuat Rangga penasaran lantaran sang mama tiap hari ngomongin Hanny si kasir cantik itu.


****


Rangga membawa mobil menuju dimana sekolah Ali berada.


Setelah menempuh perjalanan lima belas menit tanpa macet dan lampu merah, mobil putih itu berhenti pada sebuah TK, tempat dimana keponakannya menuntut ilmu.


Tapi ada yang aneh, gedung bercat warna warni itu tampak sepi, tidak rame seperti biasanya.


Meski begitu Rangga tetep saja melangkah mendekati gerbang sekolah walau dengan persamaan ragu.


Melihat Rangga datang, Ali langsung berlari menghampiri dirinya di susul dua perempuan berseragam oleh raga di belakang mereka.


"Ayahnya Ali ya?" Tanya perempuan yang bersetatus wali kelas Ali.


Belum sempat Rangga bersuara, Ali sudah menjawab pertanyaan sang guru.


Seketika perempuan itu menutup mulutnya, "oh maaf, saya pikir bapak ayahnya Ali. Karena wajah kalian hampir mirip," ucap perempuan itu sambil menoleh pada rekannya yang berbaju biru.


"Iya sama-sama ganteng," ucap kepala sekolah Ali.


Rangga terseyum bijak. Meski dalam hati mengutuk ke jujuran Ali yang tidak mau mengakui jika dia ayahnya.


"Maaf ya mas, kita gak tahu. Karena biasanya yang jemput Ali Bu Rara kalau gak Bu Atun," sang guru meminta maaf.


"Iya Bu, tidak apa-apa."


Sekolah memang sudah pulang sedari jam sepuluh tadi. Tapi karena Ali belum ada yang jemput maka wali kelas dan kepala sekolah masih tinggal di sekolah menemani anak Rara sampai ada pihak keluarga yang menjemputnya.


Setelah mengucap trimakasih kepada sang guru karena sudah menjaga ponakannya mereka berdua pun pamit pulang.


****


"Om, kita main ke game Zone dulunya!" Pinta Ali saat mereka sudah di dalam mobil, perjalanan pulang ke rumah.


"Nanti mama marah kalau kamu langsung main saja."


"Gak apa loh om. Boleh kok kata mama," ujar Ali berbohong pada Rangga.


"Om telpon mama dulu lah minta izin? Kalau boleh kita main, tapi kalau gak boleh kita pulang dulu."


Ali mengaguk setuju.


Seketika senyum licik Rangga terbit.


"Om mau ngajak kamu main game zone asal Ali janji satu hal sama om Rangga!" Pinta Rangga.


"Janji apa om?" Tanya anak Rara sambil mendogak.

__ADS_1


"Nanti kalau di mall kamu manggil om dengan sebutan ayah!"


"Maksud om?"


"Ya, panggil aku ayah, ok!"


Rangga menautkan jari telunjuk dan jempol nya menjadi huruf O yang artinya ok.


Ali mengangguk setuju, "ok!" Jawaban sambil membentak huruf O dengan jari kecilnya.


Setelah melakukan perjanjian dengan Ali barulah Rangga menelpon Rara guna minta izin.


"Boleh kan om?" Tanya Ali saat melihat Rangga mengakhiri percakapan dengan sang mama sambil menyetir mobil.


"Boleh."


"Asik!"


Ali berteriak ke girangan.


Begitu Rara mengizin Rangga membawa putranya main di game Zone, pria yang bersetatus adik kandung Adam itu pun membawa mobilnya ke sebuah mall di kota mereka.


Mereka masuk kedalam mall, Ali yang semula bilang hendak main game Zone bukanya naik ke lantai tiga, tapi malah pergi ke bagian Swalayan.


"Ali mau beli apa?" Tanya Rangga yang mengikuti sang ponakan dari belakang.


"Beli susu om, aku haus," ujar bocah Lima tahun itu.


Saat mereka berdua sedang sibuk memilih susu dan cemilan yang hendak di beli terdengar seseorang menyapa Ali dari belakang.


"Kamu kesini juga Ali?" Tanya anak berusia lima tahunan sambil menepuk bahu sang ponakan.


Ali menoleh, "eh Akmal," ujar ponakan Rangga nyengir.


"Kamu ke sini sama siapa?" Tanya Akmal.


"Kamu sama siapa?" Ali bertanya balik.


"Sama ibu ku, itu dia lagi belanja," Akmal menunjuk seorang perempuan yang sedang memasukkan belanjaan. kedalam keranjang.


"Kalau kamu. Mana ibu mu?"


"Aku gak pergi sama mama ku. Tapi sama dia."


Ali menunjuk ke arah Rangga.


"Siapa dia?"


"Dia Om, eh ayah ku," jawab anak Rara.


"Oh jadi dia ayah kamu."


Ali mengangguk.


Rangga yang mengamati interaksi dua anak itu tersenyum bahagia karena niatnya tercapai.


Begitu Ali selesai belanja, Rangga membawa keranjang makanan sang ponakan ke kasir.


Dan lagi-lagi seorang ibu-ibu menyapa Ali.


"Lho Ali kesini sama siapa?" Tanya seorang ibu sambil menggandeng tangan kecil putri nya.


"Sama ayah aku Tante, itu dia lagi bayar susu di kasir," jujur anak Rara Sambil menunjuk Rangga yang ada di dekat mereka.


"Oh..... ganteng ya, Ayah kamu, sama kayak Ali yang gemesin," ucap wanita yang Ali pernah cerita kalau itu ibunda Mecca teman sekelasnya.


"Iya ganteng," jawab ibunda Akmal ikut berkomentar.

__ADS_1


Rangga yang mendengar obrolan mereka tersenyum bahagia sambil menunggu kasir memindai semua belanjaan di komputer.


__ADS_2