
Sepulang dari menjemput pulang sekolah, Rara membelok mobilnya di kantor UPTD tempat Rangga bekerja.
"Mau ketemu ayah ma?" Tanya Ali yang kini terbiasa memanggil Rangga dengan sebutan ayah.
Ali langsung turun dari mobil begitu Rara melepas seatbeltnya. Anak Adam berlari masuk ke kantor, tempat dimana dia biasa main. Sedangkan Rara mengekori dari belakang.
"Ali!" Panggil Ulfa teman sekelas Ali menyambut kedatangan mereka di depan pintu.
"Kamu mau ketemu ayah kamu ya?" Tanya gadis yang merupakan anak TU kantor UPTD.
"Iya, kamu bawa apa?" Tanya Ali sambil menujuk bingkisan yang di bawa Ulfa.
"Kentucky. Kamu mau?"
Ali mengangguk.
"Ayok!" Ucap Ulfa sambil menggandeng tangan Ali untuk masuk ke dalam kantor. Duduk di sofa yang ada di ruang TU kedua berbagai makanan.
****
Setelah memastikannya anaknya aman. Rara menyampaikannya niatnya untuk menemui Rangga pada Anis pegawai yang bertugas di meja resepsionis.
"Masuk aja Bu! Pak Rangga nya ada di dalam kok, di ketuk aja pintunya!" Anis memberi tahu.
Bangunan itu memang tidak besar. Didalamnya juga hanya terdapat beberapa ruangan. Bagian luar, ada meja resepsionis dan sofa untuk para tamu menunggu, ruang TU yang di isi dua orang, ruang pengawas, ruang ketua, dan ruang rapat yang lumayan besar, tempat biasa seluruh kepala sekolah satu kecamatan berkumpul.
Rara berjalan menuju dimana ruang kerja Rangga berada. Sebuah ruangan yang bertuliskan ketua UPTD di bagian pintunya, bersebelahan dengan ruang rapat.
Tok tok tok
Rara mengetuk pintu beberapa kali seperti perintah Anis tadi sebelum membukanya.
Sedangkan di dalam ruangan, Rangga tengah berdiri di depan jendela memandang keluar dengan sebelah tangannya masuk ke kantor celana dan sebelah lagi memegang cangkir teh yang barusan di buatkan oleh Anis beberapa menit lalu, ketika pintu ruangannya di ketuk dari luar.
"Masuk!" Perintah Rangga.
Pria itu membalikkan tubuhnya guna melihat siapa yang datang. Rangga terkejut saat melihat kepala Rara nongol dari balik pintu, wajahnya yang semula mendung kini kembali cerah, sebaris senyum tipis menghias bibir pink alami pria tampan itu.
"Assalamu'alaikum bang!" Sapa Rara.
"Walaikumsalam," jawab Rangga.
__ADS_1
"Ada apa Ra? Mau traktir Abang sekarang?" Tanya Rangga mengoda, sesuai ucapan Rara tadi pagi yang akan mentraktir makan.
Rara nyengir, "Kan belum gajian bang. Masih tanggal tua."
Mengingat sekarang memang tanggal dua lima dan m-banking juga belum berbunyi.
"Rupanya istri CEO mengenal tanggal tua juga ya?"
Rara terkekeh, begitu juga Rangga.
Rangga berjalan menghampiri Rara yang sudah duduk di sofa tamu dengan anggun, hingga membuat Rara terpesona.
Gadis itu tak berkedip saat menatap Rangga yang berjarak tidak lebih dari lima langkah dari tempat dia duduk. Meski jantung nya tidak berdegup kencang seperti dulu lagi, tapi penampilan Rangga selalu membuat Rara terhipnotis.
Rangga memakai kemeja putih lengan panjang yang tampak pas di tubuh kekarnya, menampilkan dada bidang peluk able yang begitu nyaman untuk di singgahi, di padukan celana kain warna hitam dengan garis lurus bekas setrikaan yang masih kentara. Rangga mengulang lengan bajunya hingga batas siku, membuat otot lengannya terlihat. Jam tangan mewah melingkar di tangan kirinya yang memegang cangkir teh berwarna putih, sedangkan tangan satunya masuk ke dalam saku celana.
Meskipun tidak memakai jas maupun dasi layaknya pejabat-pejabat tinggi ataupun pengusaha muda namun penampilan Rangga tidak dapat menyembunyikan kewibawaannya. Kesederhanaan itu membuat sosok adik Adam terlihat keren di mata Rara.
Rangga yang di perhatikan oleh Rara sedemikian rupa hanya dapat tersenyum. Meletakan cangkir yang dia pegang ke atas meja, kemudian pria itu menjentikkan jarinya di depan kakak ipar. Membuat Rara tersadar seketika.
"Awas encesnya netes," goda Rangga.
"Ada apa nyari aku, kangen?" Goda Rangga kembali.
"Ish, Ngarep! Aku kesini mau minta tolong sama Abang."
"Gak salah minta tolong sama aku? Minta tolong tuh ke kantor polisi sono, bukan ke kantor UPTD."
Rara mencebik bibirnya kesal, sedang Rangga kembali terkekeh.
"Mau minta tolong apa?" Tanya pria itu diakhiri tawanya.
Rara pun mengungkapkan maksud hatinya meminta tolong Rangga untuk mencarikan sekolah baru yang ada di kota sekaligus membantu mengurus mutasinya ke sekolah baru.
"Kalau bisa sekolahnya yang dekat tempat mas Adam ya bang?" Pinta Rara.
Alih-alih menjawab pertanyaan Rara, Rangga malah balik bertanya.
"Apa kamu sudah bilang sama kepala sekolah mu kalau mau pindah?"
Rara mengeleng, "belum. Aku baru ngomong sama Abang. Minta tolong Abang dulu. Rencananya aku akan bilang sama mereka kalau udah dapat sekolah yang cocok dan mengurus mutasinya."
__ADS_1
Rangga terdiam, begitu pun Rara. Setelah saling diam akhirnya Rangga kembali bertanya, "apa kepala sekolah mu setuju kamu pindah?"
"Aku juga tidak tahu."
"Kenapa harus pindah sih Ra? Bukanya disini baik-baik saja?" Tanya Rangga dengan raut wajah sedih. Rangga tidak suka dengan apa yang Rara minta.
"Mas Adam minta aku pindah ke kota bang. Biar kita bisa tinggal bersama."
"Memang kenapa kalau kalian LDR? Bukankah selama ini juga baik-baik saja, gak ada masalah yang serius dalam rumah tangga kalian."
"Itukan menurut penglihatan kalian yang orang luar. Tapi buat kami yang menjalani LDR itu terasa berat dan sulit. Kami takut itu tidak baik untuk masa depan pernikahan kita berdua."
"Jika memang tidak baik ya sudah. Kalian pisah saja!"
"Bang!" Pekik Rara kaget.
Refleks Rara menutup mulutnya, Gadis itu tidak menyangka jika Rangga akan berkata seperti itu.
"Emang ada yang salah?" Tanya Rangga tanpa dosa.
"Bagaimana Abang bisa berkata seperti itu. Menyuruh aku dan mas Adam pisah. Abang tahukah pernikahan tuh bukan pacaran yang bisa putus nyambung cantik. Tapi ada janji yang harus di pertanggung jawabkan di hadapan Allah."
Rangga tersenyum sinis, "Tidak usah menggurui ku tentang pernikahan Ra, aku sudah tahu. Aku hanya tidak tega melihat kamu di perlukan semena-mena oleh mas Adam," ujar Rangga.
Sebenarnya bukan itu ucapan yang ingin Rangga sampaikan dia hanya ingin Rara tidak pergi darinya. Rangga ingin kakak iparnya itu diam di tempat tidak menjauh, meski tanpa seratus, tapi Rangga sudah puas dengan hidupnya yang selalu mendampingi Rara dan Ali seperti ini setiap hari. Selalu bersama mereka, bertemu setiap saat, setiap waktu yang dia mau. Bercanda, tertawa dan bahagia seperti pasangan keluarga yang lain, meski mereka tidak pernah tidur bersama.
Namun Rangga merasa puas saat dia bisa mengurangi seluruh perhatiannya pada Rara dan Ali. Rasa takut kehilangan mulai menggerogoti saat Rara bilang ingin tinggal bersama Adam.
Rangga takut dia tidak bisa seleluasa sekarang ini jika Adam dan Rara tinggal bersama. Dia takut Adam akan curiga dengan hubungan mereka berdua jika Rangga sering berkumpul menemui Rara maupun Ali yang berujung melarang dia untuk menemui kedua. Selain itu Rangga juga tidak mau pengorbanan dia selama ini menjadi sia-sia.
Rangga melepaskan karirnya dan bekerja di UPTD ini selain demi menjaga kedua orang tuanya yang sudah berumur juga karena ingin selalu dekat dengan Rara dan Ali. Selalu ada saat kedua orang itu membutuhkan bantuan. Membutuhkan dirinya. Jadi jika Rara pergi maka semua akan menjadi sia-sia bagi Rangga dan tentu dia juga akan sang kesepian.
Rangga ingin memberitahu itu semua pada Rara, tapi lidahnya kelu, tak mau berucap, entah malah apa yang dia sampaikan sangat jauh berbanding terbalik dengan apa yang dia rasakan.
Frustasi, itu yang Rangga rasakan. Sebisa mungkin dia berusaha mencegah Rara pergi. Cukup sekali kebodohan yang dia lakukan dulu, menolak permintaan gadis itu untuk membawanya kabur dari altar pernikahan.
"Dekat saja kamu sama kami Adam sering KDRT sama kamu bagaimana saat kamu jauh nanti. Aku gak bisa bayangkan apa yang akan terjadi sama kamu."
Rara meminta Rangga untuk tidak ikut campur dalam masalah rumah tangganya dengan Adam. Karena apapun yang terjadi diantara keduanya itu urusan mereka dan tidak ada sangkut pautnya dengan Rangga.
"Tapi aku tidak bisa Ra. Aku tidak bisa menutup mata ku dengan semua itu. Aku tidak bisa pura-pura tidak tahu jika kamu tidak bahagia selama ini!"
__ADS_1