
Dengan perasaan enggan, Adam keluar kamar, menuju ruang tamu.
Adam menghampiri lelaki berusia tiga puluh tahun yang sedang menunggunya. Melihat Adam datang pria berkemeja hitam itu berdiri dari duduknya sebagai bentuk sopan santun.
Suami Rara mempersilahkan anak buahnya setelah dia menjatuhkan tubuhnya di sofa single depan Alex, seorang dektetif swasta yang Adam perintah untuk mencari keberadaan Rara.
"Apa yang kamu dapatkan?" Tanya suami Rara terus terang.
Pria berkulit sawo matang itu mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam tas ranselnya dan menyerahkan pada Adam.
Adam membuka amplop itu dan mengambil isi di dalamnya, yang ternyata beberapa buah foto, beberapa lembar berkas dan secarik kertas yang berisi alamat rumah.
"Apa ini?" Tanya Adam sambil meletakkan berkas yang dia pegang ke atas meja.
Jawaban Alex tertunda oleh suara salam seseorang dari menandakan jika ada tamu yang datang. Adam bersamaan dengan Alex menatap ke arah pintu dimana Rangga yang berjalan masuk rumah. Rupanya adik Adam baru pulang kerja.
Melihat Alex yang datang Rangga langsung ikut bergabung dengan mereka berdua. Adik Adam duduk di sebelah sang kakak.
"Apa ini?" Tanya Rangga. Tangannya terulur mengambil HVS yang ada di atas meja.
Merasa dibutuhkan Alex pun menjelaskan maksudnya semua berkas yang dia bawa tanpa di minta.
"Berdasarkan penyelidikan saya selama dua hari ini. Diketahui jika Bu Rara pergi ke kompleks perumahan INDAH PERMAI. Hal itu di konfirmasi dengan mobil pak Rangga yang tertangkap oleh cctv sepanjang perjalanan menuju kompleks itu bahkan tertangkap juga oleh cctv yang ada di pos satpam perum situ. Tapi saya tidak bisa mengkonfirmasi ke tempat siapa Bu Rara pergi karena sang satpam tidak berkenan memberikan informasi lebih lanjut tentang warga komplek. Selain itu mobil Bu Rara juga menghilang begitu saja. Mungkin tersimpan di garasi salah satu rumah."
Adam dan Rangga mengamati beberapa lembar foto mobil Rangga yang diambil dari kamera cctv yang dilewati kijang Rush warna putih itu. Mulai dari mobil itu keluar dari wilayah apartemen Adam, sampai balik arah kejalan menuju kabupaten tempat tinggal mereka menuju ke perumahan elit yang ada di tengah kota Pekanbaru.
Perum Indah Permai adalah salah satu perumahan elit di kota itu yang pemilik adalah para bos besar dan pengusaha kaya raya. Karena harga rumah di komplek itu mencapai ratusan milyar. Adam yang sebagian seorang CEO saja merasa belum cukup mampu untuk membeli rumah di komplek Indah Permai, tapi istrinya kini bersembunyi disana? Di rumah siapa? Tanda tanya besar memenuhi otak Adam.
"Itu adalah informasi pribadi pemilik rumah yang saya selidiki sebagai tempat terakhir hilangnya sinyal handphone Bu Rara." Alex menunjuk pada kertas yang Rangga pegang.
Rangga membuka lembaran demi lembaran yang berisi data pribadi pasangan suami-istri yang dia sendiri tidak tahu siapa. Kemudian pria tampan itu memberikan memberikan kertas di tangannya pada sang kakak.
"Kamu kenal mereka?" Tanya Rangga.
Adam mengeleng, "aku tidak kenal," jawab Adam, "Bahkan dikalangan pengusaha pun aku baru sekali ini aku melihat namanya," jujur Adam. "Kamu sendiri bagaimana? Bukankah kamu dulu sekampus sama Rara saat kuliah?"
"Aku juga tidak kenal. Setahuku teman Rara tidak ada yang menjadi dokter," jawab Rangga. "Terus apa kata pemilik rumah itu? Kamu ada bertanya pada pemiliknya prihal Rara tidak?" Rangga mendongak menatap Alex, menunggu jawaban dektetif swasta yang Adam sewa. Yang ternyata hasilnya lebih efektif ketimbang kerja polisi yang hingga detik ini belum memberi kabar apa pun tentang Rara selain informasi jika tidak ada kecelakaan lalulintas dan perampok pada Minggu kemarin dan Minggu ini yang menandakan jika Rara masih hidup.
Alex menelan salivanya sebelum menjawab, "kami tidak menemukan apa-apa disana. Rumah itu sepi tidak berpenghuni.
"Bagaimana bisa? Lalu istri ku ngapain disana jika tidak berpenghuni dan ini data milik siapa?" Cerca Adam, mengacuhkan HVS yang dia pegang pada Alex menuntun penjelasan lebih lanjut.
Alex pun menjelaskan pada Adam jika rumah itu benar di beli atas nama pak Anderson seorang pengacara sekaligus pengusaha berlian dari Roma, Italia. Tapi beliau dan istrinya sedang tidak ada di rumah. Menurut pengakuan tetangga kiri-kanannya rumah, pak Anderson baru pindah ke indah permata dua Minggu yang lalu dan Minggu lalu mereka pergi tidak tahu kemana dan hingga saat ini belum pulang.
Bukan hanya itu saja. Bahkan pak Anderson juga belum punya pembantu dan satpam penjaga rumah yang bisa mereka tanyai. Jika benar Rara kenal dengan keduanya kemungkinan mobil Rangga ada di rumah itu DNA Rara ikut mereka pergi mereka dengan mengunakan taksi karena hingga detik ini tidak di temukan mobil Rangga di jalan manapun juga.
Adam dan Rangga setuju dengan penjelasan Alex. Meski mereka masih bingung kemana perginya pengusaha berlian itu.
"Sudah ditanya supir taksi yang mereka pesan mengantarkan kemana?" Tanya Adam.
__ADS_1
"Sudah pak. Katanya mereka minta di antara ke bandara."
Adam dan Rangga menoleh satu sama lain, berpandangan, "berarti Rara pergi liburan?" Ujar kedua kakak beradik bersama.
"Kemungkinan begitu." Alex mengangguk.
"Bisa kamu mencari nomor pak Anderson atau istrinya?"
"Saya sudah mencobanya tapi tidak berhasil. Pak Anderson sudah ganti nomor semenjak dia datang ke Indonesia dan nomor handphone pribadinya tidak ada yang tahu kecuali istri dan neneknya. Dan sayangnya keduanya orang itu tidak bisa di temui."
Adam memijat pangkalan hidungnya. Pusing. Penyelidikannya menunjukkan jalan buntu. Rangga yang melihat betapa frustrasinya Adam merasa kasihan.
Dia memang semula kesal dengan sang kakak. Karena perbuatan dan kecerobohan Adam Rara jadi marah dan pergi, tapi kini melihat bagaimana usaha Adam menemukan Rara dan tersiksa lelaki itu terlebih dengan kondisi Ali yang sekarang sedang sakit membuat Rangga tidak sampai hati untuk menghajar Adam.
"Bagaimana dengan nomor kantornya?" Tanya Rangga.
Alex memberitahu jika dia sudah menelpon di kantor Anderson dan meniti pesan pada sekertaris namun nyatanya hingga detik ini belum ada pihak Anderson yang menghubungi dirinya.
"Mungkin Rara sudah bercerita apa yang sebenarnya terjadi pada mereka sehingga membuat orang itu tidak memberikan respon." Adam memberi jawaban tentang diamnya pihak Anderson.
"Bisa jadi." Rangga menimpali.
Merasa tidak ada lagi yang perlu di sampaikan, maka Alex pun pamit pada Adam.
****
Beberapa saat setelah kepergian Adam, Ali yang semula tidur jadi terbangun. Bocah kecil itu hendak menagis begitu mengingat sang mama tidak ada bersamanya.
Namun Ali mengurungkan tangisnya saat matanya melihat handphone Adam tergeletak di kasur. Tangan kecil itu meriah benda sejuta umat milik sang papa. Mencari nomor Rara dari panggil masuk lalu menekannya.
Setelah bunyi Tut beberapa kali barulah terdengar suara yang sangat dia rindukan.
"Mama!" Panggil Ali.
"Ali," balas Rara.
Rasa rindu membuat keduanya lupa dengan salam pembuka diawal pembicaraan mereka.
"Mama Ali kangen. Kenapa mama pergi ninggalin Ali? Kenapa mama gak pulang-pulang?" Tangis bocah itu pun pecah saat mendengar suara Rara. Ali mengaduk semua rasa rindunya lewat tangisan hingga membuat Rara yang jauh disana ikut menitikkan air mata.
Selama ini mereka tidak pernah berpisah. Jikapun Rara ada seminar atau pelatihan dia pergi tidak lebih dari tiga hari dan saat itu Ali pasti mengunjunginya bersama dengan Eka dan Syaputra ataupun bersama Rangga. Tapi kali ini mereka berpisah sudah hampir lima hari dan itu tentu berat bagi keduanya.
"Ali sakit?" Tanya Rara saat mendengar Putranya batuk.
"Hem," Ali mengnaguk. Bocah itu lupa jika sang mama tidak melihat anggukannya.
"Iya sayang, kamu sakit?" Ulang Rara lagi.
"Iya makanya mama cepet pulang. Hik hik hik. Ali gak mau makan kalau gak ada mama."
__ADS_1
"Sabar sayang mama pasti pulang."
Rara menenangkan putranya supaya tidak menangis dan mengatakan jika dia akan lekas pulang begitu pekerjaannya selesai dan mereka akan bertemu lagi. Rara juga meminta Ali berjanji untuk minum obat dari dokter agar lekas sembuh dan mereka bisa bermain bersama seperti hari-hari kemarin.
"Mama janji kan?" Tanya Ali lagi.
"Ali....!"
Ali memutar kepalanya, menatap sosok yang sedang menatapnya.
"Papa!" Bocha itu menunduk takut saat melihat Adam menatapnya. Pelan Ali meletakan handphone yang sedang dia pegang ke kasur kembali.
Dia takut Adam marah saat melihatnya memainkan handphone sang papa.
"Siapa yang telpon?" Tanya Adam lembut sembari mengusap kepala putranya.
Ali mendongak menatap adam yang sudah duduk di sebelahnya.
"Mama," jawabnya pelan.
"Mama?"
Ali mengnaguk.
Adam mengambil benda pipih itu melihat panggil masuknya dan nama Rara berada di bagian atas panggilan keluar miliknya. Mungkin Ali yang menelpon. Cepat Adam balik menelpon Rara lagi namun hanya suara operator yang terdengar disana. Menandakan jika nomor Rara tidak aktif.
"Ali benar ngobrol sama mama?" Tanya Adam curiga, takut putranya hanya berhalusinasi saja.
Ali mengnaguk.
"Mama bilang apa?" Selidik Adam. Suami Rara mengamati wajah putra dengan seksama, mencari kebenaran informasi itu guna memastikan jika apa yang terjadi tidak khayalan Ali semata.
"Mama bilang lagi ada kerjaan dan belum selesai. Kalau sudah selesai pasti bakal langsung pulang."
"Mama bilang dia ada dimana sekarang?"
Ali mengeleng, "mama tidak bilang, cuma mama pesan Ali harus makan dan minum obat biar cepet sembuh."
Air mata Ali kembali turun saat dia mengatakan itu, Adam menghapus air mata itu dengan jarinya, lalu memeluk putranya erat.
Kamu benar-benar tega Ra, ninggal aku dan Ali begini. Aku bisa terima jika kamu marah dan benci pada ku, namun tidak rindukan kamu pada Ali? Pada anak mu sendiri? Hingga kamu bisa pergi berhari-hari tanpa memikirkan dia? Sejahat itu kah kamu Ra? Guman hati Adam.
Untuk mengecek apakah yang dikatakan Ali benar atau cuma khayalan putranya yang begitu rindu pada sang mama. Adam mengirim pesan pada Alex.
Selidiki kapan terakhir nomor istriku aktif dan dimana lokasinya?
*****
Ketemu gak nih? 🤔🤔🤔
__ADS_1