
Rara menyadarkan punggungnya pada kursi tunggu bandara, mencoba memejamkan mata, di sisihnya ada Ali yang sedang bermain game di HP.
Mereka berdua belum pulang karena sedang menunggu suami Bu Lina yang makan di kantin sehingga mereka lebih memilih menunggu di ruang tunggu ketimbang menunggu di mobil atau ikut ke kantin.
Pikiran Rara kembali pada kejadian malam itu, saat Rangga menelponnya kemarin. Rara teringat tentang pertanyaan Rangga padanya kala itu.
Apakah ini Jawabannya, jawaban dari pertanyaan bang Rangga kemarin? Jika mas Adam memang ingin menceraikan aku. Pikir Rara.
Flashback on.
Rara baru saja hendak mengakhiri obrolan nya dengan Rangga ketika sang adik ipar memanggil namanya, membuat dia menghentikan aksinya untuk menutup telpon.
"Ra, bagaimana seandainya Adam mencerminkan kamu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Rangga tiba-tiba membuat Rara tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan itu.
selain hati nya yang terasa di remas tiba-tiba. Meski begitu dia mencoba kuat.
"Kenapa Abang tanya seperti itu? Apa mas Adam bilang pada Abang akan menceraikan Rara? Atau mas yang meminta Abang untuk menyampaikan berita itu?" Rara balik bertanya
Ini kah alasan mas Adam selalu cuek padanya, karena dia pengen cerai? Pengen pernikahan ini berakhir, batin Rara.
Tiba-tiba saja air matanya mengalir lagi. Mengingat bagaimana egoisnya Adam pada dia selama ini, selama pernikahan mereka berlangsung karena dia ingin berpisah dari Rara dan Ali. Namun kenapa? Apa salahnya sehingga mereka harus cerai? Apakah karena kemarahan Rara tadi, sehingga mas Adam ingin pisah darinya.
"Tidak Ra, aku malah belum telpon mas Adam semenjak pergi ke Singapura. Sudah seminggu yang lalu aku tidak tukar kabar dengan nya."
__ADS_1
"Lalu kenapa Abang bertanya tentang perceraian?"
"Abang hanya bertanya saja, seandainya hal itu terjadi akan kah kita bisa kembali seperti dulu lagi? Kamu aku dan Ali untuk bersama? Memulai segalanya dari awal?" Tanya Rangga.
Rara menggelengkan kepala nya, tidak tahu harus menjawab apa pertanyan Rangga. Hatinya terasa penuh dan sakit. Hingga dia hanya dapat menangis.
"Kamu menangis Ra?" Tanya Rangga ketika terdengar olehnya suara Isak tangis Rara.
"Tidak bang, Rara hanya flu saja," bohong Rara kala itu.
Mungkin memang hatinya belum sepenuhnya milik Adam, mengingat hubungan mereka LDR dan miskomunikasi, tapi bukan berarti Rara tidak punya rasa terhadap suaminya.
Bagaimana pun juga Rara tidak bisa melupakan Adam begitu saja dari hidupnya. Mungkin ini yang dinamakan kutukan malam pertama oleh para orang tua. Bahwa anak perawan akan mulai jatuh cinta pada suaminya saat mereka sudah melewati malam pertama.
Para gadis cenderung tidak bisa melupakan begitu saja laki-laki yang pertama kali menyentuh tubuhnya, memberi rasa enak dalam hidupnya. Membawanya terbang ke langit ke tujuh.
Kutukan itu kah yang sekarang Rara rasakan? Yang membuat dia selalu bertahan disisih Adam. Rasa nyaman yang tubuh suami berikan karena mereka sudah pernah menyatu, sudah pernah melewati malam pertama dan saling memberi rasa enak. Meskipun hubungan komunikasi mereka buruk? Karena rasa itukah Rara setia selama ini?
Rara juga tidak tahu, bagaimana perasaan terhadap Adam, cinta atau karena menerima takdir sebagai pasangan suami istri. Karena perasaan dia dengan Adam dan perasaan Rara dengan Rangga dulu jauh berbeda.
Dengan Rangga, Rara merasa malu-malu kucing saat bertemu, tapi nyaman saat sudah ngobrol bareng, hati terasa damai, rasanya seperti ada petasan-petasan kecil di hatinya saat mata mereka bertemu.
tapi dengan Adam sangat lah berbeda. Rara sering merasa tidak nyaman dan salting, takut-takut apa yang dia kenakan tidak sesuai dengan selera Adam yang berujung suaminya akan malu dengan dirinya, dan saat mata mereka bertemu Rara merasa seperti mengalir serangan jantung seketika, dadanya berdegup kencang membuat dia susah nafas.
__ADS_1
Apalagi ketika tangan mereka bersentuhan atau Adam yang menyentuh kulitnya, Rara merasa seperti orang kesetrum yang membuat dia selalu hilang kendali. Sungguh sial memang, dia sendiri tidak tahu kenapa semua itu bisa terjadi.
"Bang? Kenapa Abang diam saja? Kenapa tidak di jawab?" Tanya Rara ketika Rangga tidak memberi jawaban yang dia minta.
"Aku tidak tahu. Mas Adam tidak pernah bilang apa-apa pada ku, ini semua hanya pendapat ku saja. Tidak usah di pikirkan ok.
Lebih baik sekarang kita tidur. Hari sudah malam, takut besok aku kesiangan jadinya.
Kamu juga tidur ya Ra! Assalamualaikum."
Rangga mengakhiri panggilan telpon nya setelah menjatuhkan bom atom pada hati Rara yang mendadak menjadi melow lagi.
Flashback off.
Dan sekarang Rara tahu alasan kenapa Rangga bertanya seperti itu, karena Adam ingin mengakhiri pernikahan mereka. Mungkin suaminya sudah menemukan wanita lain yang menurut nya lebih menarik ketimbang Rara, dia juga tidak tahu.
Tapi jika itu memang keningnya Adam, biarlah Rara yang meminta cerai duluan ketimbang dia harus terus dikecewakan seperti ini.
Air mata Rara kembali turun, cepat-cepat dia menghapusnya, karena dia tidak ingin Ali melihatnya menangis lagi.
****
Kira-kira ada yang tahu tidak kenapa Rangga bertanya begitu?
__ADS_1