Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 55. Curiga


__ADS_3

Adam mengambil handphone itu dan mengaktifkannya kembali.


Ada beberapa panggil tak terjawab dan pesan masuk di WhatsApp, lagi-lagi semua itu dari Monica. Entah apa mau perempuan satu itu yang selalu mengusik hari-harinya semenjak malam mereka terciduk oleh Eka.


Seolah Monica menutut keadilan pada Adam karena kejadian itu. Meskipun Adam sudah mengacuhkannya tapi Monica selalu saja mengejarnya, mencoba menjerat dengan kata-kata mesra yang eks*tis.


Jika tidak ingin Monica pacar Marcell dia pasti sudah berkencan dengan perempuan cantik itu. Sayang bukan ada cewek cantik yang ngejar-ngejar tapi di sia-siakan.


Tapi lagi-lagi sisi kemanusiaan Adam berjalan. Dia tidak mau menyakiti Marcell, karena Marcell adalah sahabat baiknya. Teman saat dia susah dan senang. Adam tidak mau hanya gara-gara seorang perempuan hubungan pertemanan mereka hancur berantakan.


Anggap saja kejadian dengan Monica di apartemen kala itu suatu kesalahan, karena Adam yang khilaf lantaran terbawa suasana tidak lebih, dia juga tidak mau mengulangi hal itu lagi.


Apalagi gara-gara kejadian sialan itu sampai sekarang Eka masih mendiamkannya, tidak mau ngomong sama Adam dan masih bersikap acuh.


Mengingat kejadian bersama Monica membuat Adam kembali menoleh pada Rara. Istrinya memang benar-benar hebat, dia selalu bisa membuat Adam puas dan senang. Tampangnya saja yang lugu, tapi jika sudah di ranjang Rara berubah jadi patner yang hebat.


Senyuman terbit di bibir Adam tatkala mengingat permainan mereka tadi sore hingga membuat bagian tubuh sensitifnya menjadi lebih sensitif lagi.


Adam meletakkan handphonenya ke atas nakas nakas kemudian minum air putih di gelas yang ada di tempat itu juga untuk menghilangkan rasa haus.


"Ra, bangun!" Adam mengelus pipi mulus sang istri dengan pelan. Mengusik tidur sang istri dengan sentuhannya, hingga membuat Rara membalik tubuh menghadap Adam yang jongkok disisih ranjang.


"Bagun yok!" Ujarnya lagi ketika Rara hanya mengubah posisi dan kembali tidur.


Tidak mau menyerahkan begitu saja, Adam m*ncium bibir Rara itu dan m*nyesap, membuat Rara mengerjakan mata lucu karena tidurnya terganggu.


Dengan sigap Adam membawa tubuh istrinya dalam gendongan ala bridal style untuk keluar kamar, berpindah ke kamar Ali yang ada tepat di sebelah kamar Rara.


Adam m*ncumbui sang istri di kamar anaknya supaya tidur Ali tidak terganggu dengan aktivitas dua orang dewasa yang tengah mabuk kebayang.


"Mas..." Panggil Rara mengeluarkan d*sahan ketika Adam sukses menikmati rawa miliknya.


Panggil itu merupakan perintah terselubung bagi Adam dari sang istri yang membuat dia semakin semangat dalam melancarkan aksinya hingga kamar tidur dengan ranjang berbetuk bulat itu hancur berantakan terkena tsunami akibat aksi gulat keduanya.


Tempat tidur yang semua tertata rapi kini sudah tak berbentuk lagi, bersama dengan batal dan guling juga baju-baju mereka yang bertebaran di mana-mana.


Suara-suara l*cknat memenuhi ruang bernuansa putih biru itu, membuat peluh dan keringat bercucuran membasahi seprei bergambar Spiderman milik Ali. Bahkan AC yang terpasang di kamar anak Adam juga tidak dapat bekerja dengan maksimal untuk mengeringkan keringat di tubuh mereka.


Kedua berhenti berperang saat sudah tiga ronde pertarungan yang mengurus tenaga.

__ADS_1


Adam berbaring lemah diatas tempat tidur sambil memeluk tubuh mungil Rara yang sudah tertutup selimut bergambar jaring laba-laba.


"Nice dream sweet girl," ucap Adam sambil mencium pucuk kepala Rara beberapa kali sambil memeluk tubuh sang istri yang sudah lebih dulu terlelap dalam mimpi. Tubuhnya lelah tapi hatinya bahagia hingga senyuman tercetak jelas di wajahnya.


****


Berlahan Rara memperoleh kesadarannya. Mengerjakan matanya yang masih terasa berat karena kantuk. Sayup-sayup Rara mendengar suara tangisan seseorang, membuat dia menajamkan telinganya guna menebak suara siapa itu.


Setelah memastikan itu suara Ali, Rara turun dari ranjang, mengenakan pakaiannya asal-asalan lalu pergi dimana Ali berada.


Di atas ranjang besar itu, anaknya sudah terduduk sendirian sambil menangis dan menengok kiri-kanan. Mungkin dia kaget menyadari di kamar sendirian, tidak ada lagi papa mamanya di kasur.


Rara memeluk tubuh putranya, membawanya berbaring kembali sambil mendekap dalam pelukan hangatnya.


"Cup, cup, cup sayang mama ada disini," ujar Rara menenangkan, diusap punggung Ali penuh sayang.


"Mama dari mana?" Tanya bocah itu sambil memeluk tubuh Rara.


"Mama dari luar ambil minum," bohong Rara.


"Papa?"


"Papa juga."


"Papa tadi temenin mama minum, bentar lagi juga kesini. Ali bobok lagi, ok!" Pinta Rara.


Ali mengangguk dalam pelukannya, kemudian bocah kecil itu kembali memejamkan matanya, yang tak seberapa lama nafasnya mulai teratur.


Rasa mengurungkan niatnya untuk tidur, rasa haus membuat dia kembali terjaga. Rara mengambil air yang ada di nakas untuk menuntaskan rasa dahaganya, namun gerakan mengambil gelas terhenti saat mendapati handphone Adam kembali berbunyi.


Sebaris nomor tak di kenal melakukan panggilan disana. Membuat Rara penasaran siapa yang tengah malam begini menelpon suaminya.


"Hallo!" Sapa Rara pada sang penelpon,


"Siapa ini?" Tanya Rara pada orang di seberang sana.


Tidak mendapatkan Jawaban dari sang penelepon, tapi Sambung itu di putus begitu saja, membuat istri Adam mengernyitkan dahinya heran.


Rara menatap HP hitam itu penuh tanya.

__ADS_1


Nomor siapa itu? Kenapa menelpon mas Adam jam segini? Ada hubungan apa dia dengan suaminya.


Secara sekarang jam dua pagi, tidak mungkin ada orang yang iseng menelpon saat semua orang terlelap jika bukan karena ada sesuatu yang spesial diantara keduanya. Dan setahu Rara, nomor itu selalu menelpon Adam semenjak suaminya pulang ke rumah beberapa hari ini.


Rasa curiga Rara semakin besar. Hingga dia menghabiskan air dalam gelas hanya dengan sekali teguk saja. Kemudian dia membawa handphone itu keluar kamar. Menuju dimana Adam berada.


Pelan-pelan Rara mengambil jemari telunjuk Adam untuk membuka layar kunci pada handphone sang suami. Beruntung Adam tidur seperti orang mati sehingga dia tidak merasa saat Rara memanfaatkan anggota tubuhnya.


Setelah apa yang Rara perolehan tercapai, cepat dia pergi dari kamar Ali dan beralih ke ruang kerjanya.


Melakukan panggilan pada nomor yang tadi sempat menelpon Adam, tapi sayang nomor itu sudah tidak aktif lagi. Mungkin karena tadi mendengar suara Rara sehingga nomornya langsung dimatikan, membuat rasa penasaran Rara semakin besar.


Hingga dia membuka pesan WA Adam. Dan ternyata nomor itu juga mengirimkan pesan ada suaminya.


Rara membaca satu persatu pesan yang tidak seberapa banyak, mungkin sudah di hapus Adam atau bagaimana dia juga tidak tahu. Dan disana juga hanya ada pesan dari nomor itu tanpa ada balasan dari suaminya.


Entah kenapa Rara curiga jika suaminya punya hubungan dengan pemilik nomor itu, tapi untuk memuduh juga dia tidak punya bukti.


Dengan perasaan sedih, cemburu dan curiga Rara membuka galeri HP Adam, tapi lagi-lagi tak menemukan apa-apa disana. Galeri Adam masih sama dengan beberapa bulan lalu saat dia pulang, masih foto Rara dan Ali yang memenuhi aplikasi itu, hanya bertambah beberapa tambahan foto Adam di apartemen, dan foto itu juga di kirim ke HP Rara saat terkahir mereka chatingan, ketika Ali bertanya papa sedang apa sekarang.


Aplikasi sosial media Adam juga tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada sesuatu yang menunjukkan jika suaminya itu mendua atau memiliki wanita lain di luaran sana.


Benar-benar tidak ada jejak yang mencurigakan jika suaminya selingkuh namun kenapa hati Rara menjadi begitu cemas.


Rara mencoba untuk percaya pada suaminya, tapi rasanya sulit. Apalagi jika teringat sosok Adam adalah pria yang tidak bisa menahan n*fsu, mengingat setiap pertemuan mereka selalu dihabisi diatas ranjang membuat Rara semakin curiga jika suami punya wanita lain di luaran sana.


Bagaimana bisa Adam menahan hasrat sekian bulan lamanya? Jika setiap bertemu saja dia tidak pernah membiarkan Rara nganggur, itu yang terlintas di benak Rara kali ini.


Maka untuk mencari bukti dia harus mengawasi pergerakan Adam yang jauh dari rumah. Rara memindai akun WhatsApp Adam pada komputer di ruang kerjanya.


Mungkin dengan ini dia bisa sedikit memantau komunikasi suaminya dengan orang lain. Meski itu sangat tidak sopan, tapi Rara melakukan semua demi kebaikan bersama. Demi keutuhan rumah tangga mereka.


"Maaf mas, aku harus bertindak diluar batasan mu," lirih Rara.


Rara mengembalikan handphone ke atas nakas seperti semula, lalu naik keatas ranjang, untuk kembali tidur sambil memeluk Ali.


****


Ada yang seng nih, karena mau ribut?

__ADS_1


Kira-kira Adam jujur gak ya sama Rara?


Maaf kemarin rencana mau ngasih up dobel tapi ternyata gak lolos review jadi gak bisa up deh.


__ADS_2