
Rain memberitahu Adam yang masih setia di ruang kerjanya jika dirinya sudah ditunggu di aula oleh semua orang.
Adam yang sedang bekerja pun mengangguk meng-iya-kan ucapan Rain, kemudian mereka berdua pergi kemana peserta kompetisi menunggunya.
Menjelang ulang tahun KAN PETRA yang ke sepuluh, perusahaan dimana Adam bekerja itu membuat sayembara untuk para arsitek muda dikota kecil ini.
Perusahaan arsitektur terbesar di kota kelahiran Adam itu bekerja sama dengan pemerintah dalam menciptakan generasi muda yang berkualitas dan kuantitas bagu kota tempat tinggal mereka.
Atas dukungan pak walikota kini Kan Petra mengadakan lomba bagi drafter untuk membuat susunan letak kota dalam konsep Green city yang rencananya akan di bangun tahun depan.
Peserta lomba yang terdiri dari 3-5 orang setiap kelompok itu boleh di ikuti oleh semua orang dengan batas usia 20-35 tahun terkecuali karyawan kan Petra. Dan masing-masing kelompok menyerahkan konsep dan mempresentasikan gambar mereka.
Kini sudah ada tiga puluh kelompok yang mengikuti sayembara itu. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa jurusan arsitektur yang memang ingin bekerja di Kan Petra, karena salah satu hadiah dari lomba itu adalah selain gambarnya akan gunakan untuk membangun kota juga akan diangkat menjadi karyawan di Kan Petra. Yang merupakan salah satu dari lima perusahaan arsitektur terbesar dan terbaik di Indonesia.
Adam masuk ke aula ketika ketua tim personalia sedang memberi sambutan kegiatan hari itu pada seluruh peserta yang hadir.
"Silahkan pak Adam," ujar ketua HRD mempersilahkan Adam duduk.
"Terimakasih pak Yudi," jawab Adam pada ketua HRD yang hari itu juga menjadi juri seperti dirinya.
Adam yang juga mendaki dewan juri hari ini mendapatkan posisi duduk di samping wali kota yang tampak duduk di kursi sebelah pak wali kota.
Dalam penilaian kali ini ada lima orang juri yang bertanggung jawab memberi nilai pada peserta. Tiga dari perusahaan yang salah satunya adalah Adam sebagai CEO kan Petra dan dua dari pemerintah, yaitu gubernur dan wakil kota yang rupanya ingin melihat langsung bagaimana kreativitas dan antusias putra daerah dalam membangun kota tempat tinggal mereka ini.
Dari tiga puluh kelompok akan diambil enam sebagai pemenang. Tentu di mulai dari juara satu, dua, tiga sampai harapan satu, dua dan tiga. Untuk juara satu jelas desain akan di gunakan membangun kota Madinah ibu kota propinsi Riau yaitu Pekanbaru. Sedangkan lima yang lain akan di gunakan untuk membangun empat kabupaten di sekeliling ibukota ini.
Namun yang menjadi karyawan kan Petra hanya mereka yang menjadi juara satu saja, selain juara satu mereka dapat hadiah berupa uang tunai dan juga diikut sertakan dalam pembangunan saat drafter yang mereka desain digunakan, sehingga mereka bisa mendapatkan honor tambahan dan tidak merasa hanya dimanfaatkan idenya saja.
Dan menurut Adam, ide yang di keluarkan Kan Petra ini sangatlah luar biasa karena setiap tahun selalu banyak peserta yang ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang perusahaan Adam kembangkan.
Setelah seharian duduk di aula, menjelang menjelang magrib acara itupun akhirnya selesai juga.
Mengingat waktu sudah malam, baik peserta dan dewan juri juga sudah lelah, maka mereka sepakat jika pengumuman pemenang akan di umumkan besok pagi dan semua orang yang hadir hari itu bisa pulang untuk istirahat, begitu juga dengan Adam.
****
"Capek mas?" Tanya Rara yang menyambut kedatangan suami tercinta di depan pintu.
Tak lupa, Rara mengambil tas kerja dan jas dari tangan Adam lalu mencium tangan suaminya.
__ADS_1
"Jangan di tanya Ra, capek banget aku hari ini," ucap Adam, seraya mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu untuk istirahat.
Rara yang melihat wajah lelah Adam pun menghampiri suaminya, melepaskan dasi dari leher Adam dan membuka beberapa kancing kemeja atas sang suami agar pria yang dia cintai itu merasa sedikit rileks.
Rara membiarkan Adam yang menutup matanya dengan sebelah lengannya, memejamkan mata saat dia melakukan aksinya pada sang suami.
"Aku siapkan air hangat untuk mas mandi. Nanti baru makan dan istirahat!"
Rara mengecup pipi Adam sekilas sebelum pergi ke dalam untuk menaruh tas dan menyiapkan air mandi.
"Jangan di cium, mas masih bau acem!" Tolak Adam.
"Gak apa. Bauknya mas kan karena nyari nafkah buat aku dan Ali. Jadi meskipun acem aku tetep mau," Rara mencolek dagu Adam untuk menggoda sang suami, sedangkan Adam yang melihat tingkah centil istrinya gelang-geleng kepala sambil terseyum lebar.
*
"Pak, untuk acara besok saya minta maaf kalau tidak bisa mendampingi bapak, karena saya akan pergi dengan pacar saya. Jadi bapak bisa ajak Bu Rara untuk menjadi pasangan bapak kali ini."
Rain yang datang untuk menyerahkan undangan ulang tahun perusahaan pada Adam pun mengutarakan maksud hatinya pada sang bos.
Karena biasanya memang Rain yang selalu mendampingi Adam di setiap makan malam ataupun jamuan-jamuan perusahaan. Selain karena Rara jauh, karena Rain juga selalu jomblo. Jadi daripada Adam melihat sekertarisnya yang cuma bengong merenungi nasibnya mending diajak keluar.
"Sudah. Baru jadian beberapa Minggu yang lalu."
"Oh....ya sudah kalau gitu semoga langgeng!"
"Amin..."
"Hati-hati jangan sampai tertipu lagi! Apalagi di PHP kayak kemarin! Aku gak mau kamu izin gak masuk kerja gara-gara patah hati. Apalagi sampai nangis di kantor kayak waktu itu. Pokoknya dilarang keras!"
Adam yang selalu tahu tabiat sekretarisnya memperingati sebelum bencana itu terulang.
"Tenang saja pak! Pokoknya saya sudah menjaga hati saya baik-baik biar gak di PHP lagi!" Rain tersenyum.
"Baguslah kalau begitu. Saya doakan kamu bahagia. Lancar sampai ke jenjang pernikahan!" Doa Adam setulus hati.
"Amin...." Jawab Rain dengan binar kebahagiaan yang begitu kentara.
Bagaimanapun juga Adam menganggap Rain seperti adik sendiri, dan rasanya sedih banget saat melihat gadis itu menangis sesenggukan karena patah hati. Pria yang dia cintai pergi meninggalkan dirinya begitu saja.
__ADS_1
Rain tipe perempuan yang gampang jatuh cinta, karena itu dia selalu tidak meneliti dulu latar belakang pria yang bersamanya, karena sedikit gombalan saja dia sudah meleleh bagaikan keju yang dipanaskan.
*
Adam sudah memberitahu Rara jika akhir Minggu ini dia mengajaknya untuk datang di ulang tahun perusahaan, sesuai yang Rain sarankan kemarin.
Adam meminta Rara datang dengan Rangga karena adiknya juga mendapat undangan itu, atas rekomendasi pak Dani pemilik perusahaan yang berencana untuk mengenalkan Rangga pada keponakan bos-nya Adam.
Padahal rencana Adam dan Rara, mereka berdua mau mengenalkan Rangga dengan Rain, tapi ternyata Rain keburu punya pacar duluan, mungkin emang mereka tidak jodoh. Adam tersenyum tatkala teringat bagaimana antusiasnya Rara saat membicarakan perjodohan adiknya dengan Rain.
Sepulang kerja Adam mampir ke sebuah butik langananya untuk membeli jas guna acara esok hari, tak lupa Adam membelikan sebuah gaun untuk Rara. Gaun warna hitam dengan hiasan mutiara Hitam dibagian dada dan sebelah lengannya menjadi pilihan Adam, yang dia rasa sangat cocok jika di pakai oleh istrinya.
Baju Rara memang banyak, tas dan sepatu istrinya juga banyak dengan berbagai model yang ada, tapi semua itu hasil toko pasar lokal yang harganya sangat terjangkau, tidak menguras kantong.
Ya, istri Adam bukan prempuan pemburu barang branded seperti prempuan pada umumnya, istri Adam merupakan bendahara yang baik saat membelanjakan uang.
Kata Rara, "Mau barang branded atau tidak juga sama saja manfaatnya. Lagipula aku tinggal di desa mau pakai yang branded atau tidak orang juga tidak tahu dan tidak tanya. Jadi ngapain aku buang-buang uang buat beli barang-barang kayak gitu. Mending uang nya aku tabung untuk masa depan aku nanti."
Tentu saja Adam tidak memaksa jika Rara tidak mau. Toh itu juga untung buat dia kalau istrinya bisa berhemat. Meski uang Adam sendiri juga banyak.
Tapi itu semua tidak berlaku bagi Adam, dia yang biasa hidup dengan lingkungannya high sosiality tentu mengikuti gaya hidup mereka berdasarkan tuntutan profesinya. Karena tidak mungkin Adam yang kedudukannya sebagai CEO dengan gaji ratusan juta mengunakan jas harga lima ratus ribu saat pergi ke kantor? Tentu saja Adam tidak mau menjatuhkan harga dirinya di depan karyawan juga para rekan bisnisnya. Karena itu apa yang Adam kenakan selalu banding terbalik dengan yang Rara pakai. Meski keduanya sama-sama modis, namun beda kualitas.
Nah sekarang, Adam harus mengenalkan istrinya pada banyak orang, tentu dia ingin Rara jadi prempuan paling cantik pada malam itu. Karena bagaimanapun jugs penampilan Rara itu merupakan tanggung jawab Adam sebagai suami. Mampu tidaknya dia dalam menghidupi anak istri.
"Berapa semuanya?" Tanya Adam saat sudah berdiri di depan meja kasir.
"450 juta pak."
Adam menyerah kartu debit yang dia miliki pada perempuan cantik di depannya.
"Baju sudah, sepatu sudah, tas dan hijab juga sudah, apa lagi ya yang belum?" Tanya suami Rara sambil berfikir apa lagi yang harus dia beli untuk istri tercintanya.
"Oh iya!" Adam tersenyum senang saat sebuah ide melintas di otak cerdasnya.
Kemudian papa Ali, menjalankan mobilnya menuju toko yang sedang dia pikirkan sekarang.
*****
Hayo Adam mau kemana itu ya?
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen juga bunga untuk Rara.