Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 140. Promil ke 2


__ADS_3

Waktu pun berlalu, setelah kejadian Rara pergi dari rumah hubungan Adam dan Rara semakin membaik, tentu saja semua itu tidak lepas dari peran orang-orang di sekeliling mereka yang turut membantu keduanya.


Bagi Adam yang banyak membatu untuknya adalah Elisa. Malam itu saat di Bali Adam sempat ngobrol banyak dengan Elisa hingga bertukar nomor handphone. Dari sana Elisa memberitahu Adam tentang sosok Rara yang membuat dia akhirnya mengerti bagaimana karakter istrinya. Apa makanan kesukaan Rara, apa yang tidak di sukai oleh sang istri dan segala sesuatu yang berhubungan dengan sang istri.


Elisa memberi tahu semua yang dia tahu pada Adam dan meminta sang pria untuk tidak sungkan bertanya jika memang ada yang ingin di tanyakan. Hal itu yang membuat hubungan keduanya semakin hari semakin baik dan komunikasi keduanya makin berjalan lancar.


Dan entah kenapa setelah mengenal sosok Rara rasa cinta Adam kepada sang istri semakin besar. Bisa di katakan lebih besar ketimbang cintanya kepada Maelin dulu.


Sekarang Adam tidak merasa sungkan jika dirinya ingin bermanja-manja di pangkuan Rara dan begitu pun Rara tidak sungkan saat ingin bermanja-manja pada Adam asalkan situasi memungkinkan keduanya untuk mengungkapkan rasa sayang kedua. Bahkan sekarang Adam lebih memanjakan Rara.


Rasa cinta memang membuat hubungan mereka yang semula hampar menjadi lebih banyak rasa. Tentu saja selain rasa cinta ada rasa rindu dan cemburu juga.


Sehari tidak berjumpa dengan Rara saja Adam merasa sudah sangat rindu. Padahal mereka bisa telpon dan video call juga tiap hari tapi semua itu tidak membuat Adam merasa puas hingga papa Ali selalu pulang ke rumah setiap dua hari sekali karena tidak ingin jauh dengan istri dan anaknya, sampai kadang Rara merasa kasihan saat melihat sang suami yang lelah di perjalanan.


Kini setelah menempuh perjalanan panjang beberapa bulan, sampai pada masanya Rara libur kenaikan kelas. Sesuai paket bulan madu dari mama Eka dan papa putra mereka bisa bulan madu bersama.


Namun Adam tidak menguntungkan paket liburan itu karena gratisan dari mama dan papa hanya bisa di gunakan untuk di tanah air. Jadi paket liburan di berikan pada Rangga supaya liburan dengan Ali, sedangkan Adam membawa Rara untuk liburan ke luar negeri. Di mulai dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan akan berakhir di Australia. Dan Adam sudah mempersiapkan ini jauh-jauh hari bahkan jika seandainya Ali dan Rangga ikut menyusul mereka nantinya.


****


Rara bersandar pada dada Adam dengan tubuh terbungkus selimut putih sebatas dada, sedangkan sang pria duduk bersandar pada kepala ranjang dengan tangan memeluk sang istri. Mereka sedang menikmati waktu istirahat setelah aktivitas panas yang mereka berdua lakukan. Keduanya menatap indahnya pemandangan malam kota Singapura dari jendela kaca kamar hotel mereka. Sesekali bibir Adam mengecup puncak kepala dan pundak Rara.


Adam dan Rara memang sedang liburan bersama.


"Mas punya banyak uang?" Tanya Rara sambil mendogak menatap wajah Adam.


Adam yang mendengar itu menghentikan aktivitasnya mencium puncak kepala Rara, kemudian menatap sang istri lalu berkata, "Ada. Kamu mau shoping? Butuh uang berapa?"


Adam sadar jika dirinya tidak pernah memberikan uang bulanan lebih pada Rara selama ini. Selama ini dia tidak pernah memberi uang untuk shopping kepada sang istri, seperti halnya suami-istri pengusaha lainnya.


Meskipun Rara punya penghasilan sendiri tentu kebutuhan anak istri dan kebahagiaan mereka juga tanggung jawab Adam.


Sebagai seorang istri CEO yang gajinya ratusan juta perbulan, Rara merupakan seorang istri yang penurut dan tidak pernah menuntut pada Adam layaknya istri CEO-CEO yang lain. Dan tentu saja Adam pantas bersyukur mempunyai istri seperti Rara.


Rara mengeleng, "Bukan, hanya saja dulu pas aku di Bali aku shipping sampai habis 400 juta dan semua itu elis yang bayar. Memang dia tidak minta aku ganti karena dia bilang anggap saja traktiran pertemuan kita, cuma aku merasa sungkan saja karena 400 juta bukan uang yang sedikit. Selama ini aku pikir bisa menerima begitu saja tapi setiap aku bertemu Elisa selalu menjadi beban perasaan tersendiri buat ku. Karena aku tahu susahnya mencari uang dan aku juga sadar 400 juta bukan uang yang sedikit. Dan aku ingin mengembalikan uang itu. Jika mas ada uang bisa kah mas membayarnya untuk ku?" Jelas dan pinta Rara.

__ADS_1


"Kenapa baru bilang sekarang? Setelah beberapa bulan berlalu. Kenapa tidak bilang dari dulu sayang?"


Rara mengeleng, "Aku tidak berani ngomong terus terang sama mas. Aku takut mas Adam marah dan menganggap aku boros karena shopping sampai habis sebanyak itu," ucap Rara sambil menunduk.


Meskipun beberapa bulan ini perlakuan Adam baik padanya dan sang suami juga sangat memanjakan dirinya membuat Rara merasa benar-benar di cinta namun untuk meminta uang sebanyak itu Rara masih takut juga hingga dia menunggu momen yang benar-benar pas agar suaminya tidak marah. Kini setelah dia mengungkapkan permintaannya dan respon Adam sangat positif hati Rara terasa begitu lega.


Adam mengangkat dagu sang istri, membuat tatapan mereka kembali bertemu, "gak apa-apa. Uang mas juga uang kamu juga jadi jangan sungkan minta apa-apa sama mas. Kalau memang aku ada pasti aku kasih apa pun yang kamu minta."


"Aku gak minta apa-apa hanya bayarnya itu saja."


"Ok sayang. Pasti mas bayar kamu tenang saja."


"Makasih mas."


Rara terseyum tulus, memeluk Adam dengan erat dan mesra.


"Gak usah bilang terima kasih, kita suami istri sudah sepantasnya saling memberi dan membantu," ucap Adam seraya menunduk, menatap wajah sang istri kemudian mengecup bibir Rara seraya berkata, "satu ronde lagi masih kuat kan? Kita bikin adik buat Ali."


Rara hanya dapat mengedipkan matanya lucu membuat Adam menjadi gemes hingga tidak mampu menahan gejolak dalam dirinya dan seketika pria kekar itu sudah mengurung tubuh kecil Rara di bawah tubuhnya.


****


Setelah sarapan bersama di restoran hotel, Adam membawa Rara ke klinik milik Niken untuk program hamil. Sebenarnya Rara belum ingin punya anak lagi mengingat hubungan dia dengan Adam masih pasang surut seperti air laut tapi mengingat usia Adam yang tidak muda lagi maka Rara pun tidak bisa menolak untuk mengikuti permintaan sang suami.


Bagaimana pun juga Adam yang bertugas mencari nafkah untuk keluarga jadi meski terpaksa Rara tetep mengikuti permintaan Adam. Lagipula lepas KB sekarang juga belum tentu hari ini juga dia bisa hamil, kadang harus menunggu setahun atau dua tahun baru bisa hamil lagi, makanya demi menghindari pertengkaran Rara lebih memilih mengikuti permintaan sang suami.


Adam membelokkan mobilnya di halaman parkir rumah sakit, kemudian membuka pintu untuk Rara. Mereka berdua masuk rumah sakit dengan Adam memeluk bahu sang istri.


"Mas sudah daftar?" Tanya Rara sambil mendongak menatap wajah Adam.


"Sudah, tadi mas daftar lewat telpon, langsung sama Niken," jawab Adam dengan wajah datar tanpa ekspresi sombong ataupun bangga, seolah hal itu bukan masalah kecil.


"Cie....yang sama manatan bisa langsung menghubungi," goda Rara.


Adam tersenyum, "kan biar mudah urusannya jadi kalau ada jalan belakang kenapa tidak di manfaatkan. Lagipula semua ini aku lakukan demi kamu.

__ADS_1


"Meski begitu tetep saja tapi aku gak mau kamu dekat-dekat sama Niken. Aku bisa cemburu."


"Iya sayang aku tahu. Aku gak dekat dengan perempuan manapun selain kamu, aku menghubungi Niken juga baru kemarin, karena aku berencana buat ikutan Promil. Jadi kamu gak usah kwatir, gak ada perempuan lain di sisiku kecuali kamu istriku." Adam membelai kepala Rara dengan penuh sayang.


Adam memberitahu resepsionis kalau dia sudah mendaftar lewat telfon tadi pagi dan petugas resepsionis langsung tahu begitu dia menyebutkan namanya Adam dan mereka berdua langsung diantar di ruangan praktek Niken.


"Tunggu di sini sebentar pak, Bu Niken sedang memeriksa pasien. Setelah ini nanti bapak dan ibu yang masuk."


Perawat memberitahu kepada Adam dan Rara. Mempersilahkan mereka berdua duduk di ruang tunggu. Meski di luar banyak pasien yang mengantri tapi Rara tidak harus mengantri seperti mereka, itu semua karena Adam pintar merayu sang dokter yang membuat mereka di perlakukan sepesial.


Baru Lima belas menit mereka duduk, mereka sudah di panggil perawat untuk masuk ke dalam guna menjalani pemeriksaan selanjutnya.


"Mau Promil anak ke dua?" Tanya Niken pada Adam dan Rara ketika mereka sudah duduk di dalam ruangan Niken.


"Iya."


"Sudah berapa lama menghentikan mengkonsumsi obat pencegah kehamilan?"


"Belum lama, baru satu bulan yang lalu."


"Biasanya apa yang di pakai untuk pencegahan kehamilan?"


"Saya mengkonsumsi Pil KB Yasmine."


Niken mengangguk. Setelah bertanya ini dan itu prihal tentang prosedur pencegahan kehamilan yang di lakukan oleh Rara, Niken meminta Rara untuk berbaring ke ranjang guna melakukan pemeriksaan.


Perawat membantu Rara mengoleskan gel di perut Rara untuk dilakukan USG pada kandungan Rara untuk melihat posisi kandungan, kesuburan dan masalah lain yang berhubungan dengan Promil.


"Semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu di kawatirkan. Tapi karena Rara baru lepas dari KB jadi untuk sementara saya kasih vitamin dan penyubur kandungan dulu," jelas Niken pada mereka berdua.


Setelah itu baru Niken meminta Rara untuk membantu Adam untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk jumlah hormon testosteron dalam tubuh juga kualitas ****** milik Adam.


Setelah menunggu selama lebih dari dua jam baru semua hasil pemeriksaan Adam keluar, dan bersyukur semua hasilnya baik. Jadi Rara dan Adam dalam kategori subur sehingga masalah kehamilan hanya menunggu Rahmat dari tahun saja.


Meski Rara tahu jika Niken melakukan melakukan semua pemeriksaan dan bersikap baik pada dia karena ingin mencari muka di depan Adam.

__ADS_1


Tetep saja Rara merasa bersyukur karena Niken tetap bersikap profesional ketika menjadi dokter dan melakukan pemeriksaan. Bahkan Niken juga memberi beberapa saran agar Rara bisa cepat hamil.


****


__ADS_2