Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 50. Tak Tega


__ADS_3

Rara kembali ke kamar dengan membawa nampan yang sepiring nasi dan minum.


Setelah membantu Adam duduk dan bersandar di kepala ranjang dengan punggung di lapisi oleh batal biar terasa lebih nyaman dia menyuapi sang suami.


Untung tadi mbok membuat sup ayam, sehingga memudahkan Adam saat menelan.


"Kenapa mas gak turun ke bawah buat makan siang. Mbok nyariin mas, katanya mas pergi," tutur Rara dengan tangan masih aktif menyendok nasi ke mulut sang suami, "Memang mas kemana tadi?" Tanya Rara menyelidiki.


"Mas gak kemana-mana, begitu datang langsung tidur di kamar. Kepala mas pusing banget jadi gak bisa kemana-mana."


"Tapi tadi mbok ke kamar mas gak ada?"


"Mungkin pas ke kamar mandi. Jadi mbok gak tahu," jawab Adam.


Mungkin juga sih, kan mbok paling cuma melongok kamarnya lewat pintu doang, gak sampai meriksa kamar mandi segala, pikir Rara.


Karena mbok gak berani masuk kamar Rara kalau dia gak ada di rumah, apalagi mas Adam sekarang ada di rumah tambah segan aja si mbok.


"Udah Ra, aku udah kenyang!" Tolak Adam pada suapan ke limanya.


Rara pun menghentikan kegiatannya itu. Kemudian dia memberikan gelas minum pada Adam.


"Ali mana Ra?" Tanya Adam yang menyadari jika anaknya tidak ada. Padahal biasanya Ali udah beberapa kali nongol aja kalau pas Adam pulang, Pengan ngajak main bersama.


Rara yang sedang mengambil baju ganti di lemari pun berbalik badan menatap Adam yang masih bersandar di kasur.


"Masih sama bang Rangga, tadi aku ajak pulang gak mau, dia masih asik mainan sama Zulfa. Soalnya tadi yang jemput sekolah bang Rangga jadi Ali ikut sama dia ke kantor," tutur Rara menjelaskan.


"Memang Rangga gak kerja?" Tanya Adam heran.


Karena setahu dia kantor Rangga ada di wilayah kabupaten kota sana. Malah satu tahun yang lalu Rangga masih numpang di apartemen Adam saat dia menjabat sebagai wakil ketua dinas pendidikan provinsi setempat. Dan sekarang udah pindah kerja lagi.


Emang tuh anak gak jelas, kerja pindah-pindah melulu kayak manusia purba saja, pikir Adam.


Karena ini bukan week end, jadi kemungkinan Rangga ada di rumah itu kecil.


"Kerja. Mas Adam belum tahu ya kali sekarang bang Rangga jadi kepala UPTD disini?"


Adam tambahan kaget mendengar penuturan sang istri, "sejak kapan?"


"Sudah hampir delapan Bulan yang lalu," jawab Rara setelah keluar.


"Dia jadi ketua dianas baru dua tahun, sekarang udah pindah kerja lagi. Emang boleh gitu? Bukanya masa jabatan orang itu lima tahun?"


Asam begitu penasaran dengan pekerjaan sang adik yang suka pindah seenak ud*l sendiri.

__ADS_1


"Iya, tapi bang Rangga bilang kalau dia itu pengecualian. Kemarin setelah mama sakit dia mau ngundurkan diri dari pekerjaannya. Karena bang Rangga pengen buka usaha aja, biar bisa selalu jagain mama di rumah. Tapi surat pengunduran dirinya malah di tolak, terus sebagai gantinya dia supaya gak berhenti bang Rangga di jadikan ketua UPTD kecamatan sini yang kebetulan masa jabatannya udah habis," Rara menjelaskan.


Adam mencibir, "Paling itu surat pengunduran diri cuma buat nge-prank atasan dia doang."


Karena Adam memang sangat tahu bagaimana sifat sang adik. Yaitu sangat licik.


Rara mengangkat bahunya, "nyatakan atasan dia begitu sangat mencintainya, sampai mau mundur aja di tahan. Coba kalau itu aku, ngasih surat pengunduran diri ke kepala sekolah pasti langsung diterima dengan senang hati tanpa pikir dua kali."


"Mungkin kamu orangnya kurang, kompeten makanya gak dia pertahankan."


Kata Adam yang langsung menohok jantung Rara begitu kencang.


"Mungkin," jawab Rara pendek.


"Mas pergi ke dokter ya? Biar aku suruh bang Rangga buat nganterin."


Adam mengangguk, "kamu gak ikut?" Tanya sang suami.


"Menurut mas gimana?"


"Ikut aja, aku males kalau cuma berdua saja sama dia," pinta Adam


Rara mengaguk setuju, "kalau gitu Rara mandi dulu," ujar Rara sambil masuk kamar mandi.


Setelah dua puluh menit Rara mandi, dia kembali lagi dengan baju yang sudah lengkap. Yaitu sebuah tunik warna peach dengan gambar bunga matahari.


"Ya udah tunggu di luar aja yok, sambil mas nonton TV gitu biar gak tiduran terus. Aku juga mau telpon bang Rangga dulu buat minta tolong."


"Iya," jawab Adam.


Saat bicara masalah telpon baru Rara teringat akan Adam yang tidak menjawab teleponnya.


Saat mereka berada di tangan Rara kembali bertanya kepada Adam prihal sang suami yang tidak mengangkat telponnya sedari tadi dan juga membalas WA-nya.


"HP mas ketinggalan di tas Ra, jadi mas gak tahu kalau kamu telpon. Tolong ambilkan ya! Tas kerja mas ada di meja kerja kamu."


Rara mengaguk setuju.


Setelah meletakkan piring kotor di tempat cuci piring, Rara langsung ke ruang kerjanya mengambil handphone Adam di sana. Benda hitam itu terkunci dengan sidik jari yang membuat Rara tidak bisa mengotak-atiknya.


Tapi sekilas memang ada banyak panggil tak terjawab dari beberapa nomor yang salah satu nomornya adalah milik Rara dan mbok Atun.


"Nih mas," Mama Ali menyerahkan handphone itu pada Adam yang sedang duduk menonton TV di ruang keluarga.


"Makasih," jawab Adam.

__ADS_1


Kemudian rara duduk di sebelah Adam untuk menelpon Rangga meminta tolong adik ipar mengantarkan suaminya ke dokter.


Sedangkan Adam mengernyitkan dahi ketika melihat begitu banyak panggilan tak terjawab di HP-nya. Ada telpon dari Rara, mama, mbok Atun, Rain, Pak Dani dan yang paling banyak adalah panggilan dari Monica. Lebih dari 20 kali janda anak satu itu menelponya.


Adam memang sengaja tidak pernah menghubungi Monica lagi sejak kejadian malam hari itu.


Cerita sang papa membuat dia kembali berfikir saat hendak bermain api, meski dalam hati Adam ada rasa tertarik pada Monica namun sebisa mungkin Adam menekan perasaanya sebelum menjadi bumerang lebih lanjut bagi ke hidupnya. Masalah Maelin dan Rara saja dia belum bisa mengatur hatinya bagaimana bisa dia menambah dengan adanya Monica lagi, hal itu yang membuat alasan Adam menjauhi perempuan cantik nan seksi itu.


Adam membuka aplikasi WA, dan seperti panggilan telpon tadi chat dari Monica yang paling banyak di sana.


Setelah Adam membaca satu persatu pesan dari Monic yang rata-rata bertanya tentang keberadaan dirinya yang tidak masuk kantor juga apa yang sedang dia lakukan sekarang. Selesai Adam membaca dia langsung menghapus pesan itu karena tidak mau Rara tahu dan curiga.


Adam menatap Rara yang duduk di ujung sofa, tengah sibuk menelpo Rangga. Wajah Rara yang tampak bahagia dengan senyum mengembang di bibirnya membuat Adam semakin tak tega menyakiti hati sang istri.


Sehingga Adam memilih menghapus nomor Monica dari kontak handphonenya, mengakhiri hubungannya dengan Monica dan membunuh perasaan terhadap wanita itu saat itu juga.


"Ra pijitin kaki mas mas capek banget rasanya!" Pinta Adam saat melihat istrinya sedang bermain handphone.


Rara yang sedang membalas chat di WA pun menoleh pada Adam.


"Pijitin!" Adam mengulang kayaknya.


Rara meletakan Handphone nya di sofa lalu mengambil kaki Adam yang terjulur di lantai ke pangkuan untuk di pijitin. Sedangkan Adam menyandarkan lengan sofa.


"Pelan-pelan Ra, sakit," protes Adam saat di rasa tekanan tangan Rara terlalu kuat.


Tidak menjadi perkataan Adam tapi Rara melembutkan pijatan pada sang suami.


Saat keduanya tengah bercengkrama satu sama lain, terdengar seseorang mengucapkan salam dari luar.


"Assalamu'alaikum!"


Menandakan jika ada tamu yang datang.


****


Hayo....Siapa itu yang datang ya?


a. Rangga


b. Ali


c. Eka


d. Marcell

__ADS_1


e. Monica


hayo pilih yang mana?


__ADS_2