
"Mbok Rara dimana?" Tanya Adam begitu turun dari mobil pada mbok Atun yang sedang menyapu halaman rumah.
Belum sempat prempuan paruh baya itu memberi jawaban Adam sudah lebih dulu melangkah masuk mencari sang istri di dalam rumah mengacuhkan Ali yang masih mengekori dirinya di belakang.
Begitu tidak menemukan Rara di dapur dan halaman belakang, Adam langsung naik ke lantai dua mencari keberadaan sang istri di dalam kamar.
"Mbok Rara pergi kemana?" Tanya Adam yang berdiri di ujung tangga lantai dua pada mbok Atun yang baru masuk ruang keluarga sambil menggandeng Ali.
Prempuan itu mendongak, menatap Adam yang berjalan turun, "bukanya mbak Rara nyusul ke apartemen mas Adam beberapa hari yang lalu, bareng Ali dan mas Rangga?" Mbok Atun dengan wajah bingungnya balik bertanya saat Adam sudah berdiri di depannya.
"Dia sudah pulang mbok. Hari Sabtu pagi kemarin Rara sudah pulang ke rumah."
"Tapi mbak Rara tidak sampai rumah mas. Dari kemarin saya di rumah sendiri."
"Trus dimana Rara sekarang? Dia pulang dengan mobil Rangga, apa mungkin dia pulang ke rumah mama?" Guman Adam.
Tidak menunggu jawaban dari mbok Adam mengajak Ali pergi ke rumah Eka dengan alasan mengantarkan oleh-oleh buat sang mama. Padahal dia hendak mencari sang istri disana.
*****
"Nenek!" Teriak Ali begitu keluar dari mobil Lamborghini hitam yang Adam bawa di susul oleh Adam yang keluar dari kursi kemudi. Bocah itu langsung berlari menghampiri Eka ketengah kebun bunga.
Eka yang semula menyabut rumput di kebun depan rumah langsung berdiri saat Ali menghampirinya. Melepas kaos tangan.
"Cucu kesayangan nenek." Eka balas memeluk Ali yang sedang memeluk pinggangnya, mengusap kepala bocah kecil itu dengan tangan kanannya.
"Ali kangen." Ali mendongak menatap wajah Eka.
"Nenek juga kangen. Gimana liburannya Suka?"
Ali mengangguk, "iya. Aku di ajak mainan sama papa. Main di game zone sampai puas. Main di ice skating juga. Ada kok videonya di HP papa, nenek mau lihat?" Tanya Ali antusias.
"Boleh."
Eka mendengarkan cucunya yang bercerita dengan semangat, membuat wajah perempuan separuh baya itu berbinar bahagia.
"Aku juga beli oleh-oleh banyak buat nenek sama kakek dan buat mbok sama mas Yuda juga." Celoteh Ali tangannya menarik tangan Eka mengajak sang nenek pergi menuju Adam yang sudah berdiri di teras depan menunggu mereka berdua.
"Lihat nek. Aku beli banyak oleh-oleh kan?" Tunjuk Ali para beberapa kantong kresek yang Adam letakkan di atas meja teras. "Aku juga beli mainan buat mas Yuda."
Eka hanya tersenyum melihat cucu semata wayangnya yang suka pamer barang baru.
"Mama apa kabar?" Tanya Adam setelah mencium tangan Eka.
"Baik."
"Kalau papa?"
"Semua baik-baik saja. Kondisi mama juga makin hari makin baik. Sepertinya mama cocok priksa sama dokter Budi soalnya belakang ini jantung mama jadi tidak pernah kambuh."
"Alhamdulillah kalau gitu."
Adam mengikuti Eka dan Ali memasuk ke dalam rumah dengan membawa kantong belanja yang berisi oleh-oleh keatas meja maka. Ali mengambil kotak mainan yang berisi bus tingkat dari dalam plastik untuk di berikan pada Yuda anak dari mbak yang bekerja di rumah Rara.
Begitu mendapat apa yang dia mau, anak Rara langsung lari ke belakang mencari Yuda, teman mainnya.
__ADS_1
"Kok kalian cuma berdua. Rara gak ikut?" Tanya Eka. Kini prempuan itu mengeluarkan aneka makanan yang Adam bawa dari kantong plastik. Untuk disimpan dalam toples dan kulkas.
"Baru Adam mau tanya."
"Tanya apa?" Eka mengalihkan tatapannya dari atas meja kearah Adam.
"Rara ada disini tidak? Soalnya dia gak ada di rumah?"
"Bukanya Rara pergi sama Rangga dan Ali nyusul kamu?" Eka balik bertanya, "memang Rara gak sampai apartemen kamu? Tapi Ali ada sama kamu?" Eka heran.
"Sampai, tapi Rara sudah pulang Sabtu pagi."
Eka terkejut mendengar penuturan Adam. Bagaimana bisa? Jika sudah pulang kenapa Rara tidak ada di rumah? Pikir Eka.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Rara tahu perselingkuhan mu dengan prempuan itu?" Wajah Eka berubah jadi tengang.
"Tidak, bukan begitu. Aku gak ada hubungan apa-apa dengan Monica."
"Terus kenapa Rara bisa pergi?"
Adam pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Rara begitu pun dengan kesalahpahaman diantara keduanya.
"Itulah kamu, kenapa Main tuduh saja seperti itu. Harusnya suami istri itu saling memahami bukan malah menyudutkan dan menghakimi tanpa bukti."
Eka mengomeli Adam, dia menyesalkan perbuatan putranya yang ceroboh.
Beberapa kali Adam meminta maaf dengan wajah penuh penyesalan.
"Kalau mau minta maaf bukan sama mama, tapi sama Rara."
Adam menyerah plastik berisi kacang almond madu yang sudah dia buka pada sang mama untuk dituang isinya kedalam toples.
"Tapi kan Rara gak ada ma. Ma, kira-kira Rara pergi kemana ya?" Adam mengalihkan tatapannya dari gunting yang dia pegang ke arah Eka.
"Mana mama tahu," jawab Eka ketus. Dia menatap Adam kesal.
"Coba mama telpon ibu Ratna. Tanya sama beliau Rara ada di sana atau tidak? Siapa tahu Rara pulang ke rumah ibunya. Ya ma? Please?!" Adam menangkupkan tangganya penuh harapan.
Sebagai orang tua, sebesar apapun kesalahan anaknya pasti tidak tega melihat mereka menderita. Begitupun dengan Eka. Sekesal apapun dia pada Adam saat ini tetep saja Eka menuruti permintaan putranya untuk menelpon besannya guna bertanya tentang Rara.
Adam dan Eka duduk di sofa ruang keluarga saat Eka mengeluarkan handphone untuk menelpon Ratna. Tidak terus terang bertanya tentang Rara pada sang ibu, Eka memulai obrolan mereka dengan bertanya kabar dan aktivitas besannya saat ini.
"Kemarin Rara bilang mau pulang kampung. Apa dia jadi pulang atau tidak karena sudah dua Minggu dia tidak ada main ke rumah jadi saya tidak bisa tanya langsung," ujar Eka berbosa-basi.
"Dia belum ada pulang kesini. Terakhir datang bareng suaminya beberapa Minggu lalu dan sampai sekarang belum ada datang lagi. Entah apa kabar itu anak karena beberapa hari ini nomornya tidak aktif, saya hubungi tidak bisa," jawab suara dari sebrang yang membuat Eka dan Adam tahu jika Rara tidak pulang ke rumah orang tuanya.
Kemana perginya Rara? Guman hati Adam.
Ada dimana Rara sekarang? Pikir Ratna.
****
Hingga hari Senin tiba Rara belum juga pulang ke rumah. Membuat anggota keluarga Syaputra menjadi panik atas hilangnya Rara.
Apalagi ketika Adam menelpon kepala sekolah Rara dan pak Burhan mengatakan jika Rara sudah minta izin tidak masuk selama satu Minggu karena ada urusan yang harus di selesaikan membuat Adam semakin pusing di buatnya.
__ADS_1
Adam takut terjadi apa-apa pada Rara, misal perampok atau pembunuhan pada istrinya. Tidak bisa di bayangkan jika hal itu sampai terjadi.
Bahkan Adam dan Rangga sudah melaporkan Rara ke kepolisian sebagai orang hilang namun hingga tiga hari mereka belum menerima informasi apapun.
Adam juga sudah meminta orang suruhan untuk mencari keberadaan Rara dan mobil Rangga dan hasilnya sama saja nihil.
Kepergian Rara benar-benar pelajaran berharga buat Adam terlebih Ali yang mulai rewel karena merindukan sang mama. Bocah enam tahun itu tidak mau ke sekolah atau makan jika tidak ada Rara, membuat Eka dan Rangga harus kerja keras membujuknya terlebih dahulu.
Sedangkan Adam yang sedari awal tidak dekat dengan Ali sudah tidak kuasa untuk merayu anaknya karena segala bujuk rayu yang Adam berikan tidak mempan sama sekali.
"Ali maunya ke sekolah sama mama, bukan sama papa."
Tangis Ali di pagi hari saat tahu Adam yang akan mengantarkan dia ke sekolah.
"Iya sayang berangkat sama papa nanti pulangnya baru mama yang jemput."
Adam menghapus air mata putranya yang sudah dua hari ini selalu melow layaknya cewek.
"Papa bohong. Nanti seperti kemarin yang jemput sekolah nenek bukan mama." Tangis bocah itu semakin kencang saat mengingat bahwa beberapa hari ini dia kerap dibohongi oleh orang-orang dewasa yang dia sayang.
"papa janji, papa akan bawa mama buat jemput kamu di sekolah nanti. Karena itu Ali sekolah dulu sekarang, ok! Kalau Ali gak pergi ke sekolah nanti mama marah sama papa, nenek, kakek dan om Rangga. Ali tidak mau kan lihat mama marah gara-gara Ali tidak pergi ke sekolah?"
Ali terdiam. Meski begitu bocah kecil itu berfikir juga.
"Papa janji nanti pulang sekolah mama sudah ada di rumah, bareng dengan kita lagi," ucap Adam menyajikan.
Dengan bibir cemberut dan wajah kusut dan mata merah Ali berjalan naik ke motor Eka, bocah untuk pergi ke sekolah.
****
Sudah hampir seminggu Adam tidak masuk kerja dia meminta Rain untuk mengirimkan semua berkas dan pekerjaannya lewat email. Sedangkan untuk pertemuan dan rapat Adam tunda jika memang bisa di tunda namun jika sangat penting maka Adam meminta Rain dan wakilnya untuk mengantikan dirinya di rapat itu.
Adam tidak bisa meninggalkan Ali sendiri di rumah saat tidak ada Rara, meski itu di rumah Eka orang tuanya sendiri. Ada perasaan tidak nyaman saat dia harus meninggalkan putranya pada orang lain.
Mungkin selama ini dia bersikap cuek dan tidak perduli pada Ali karena dia merasa putranya aman bersama Rara, tapi kini saat Rara tidak ada barulah Adam merasa tidak tenang, sehingga dia memilih bekerja di rumah sambil mengawasi Ali ketimbang menitipkan anaknya pada papa, mama dan Rangga. Walaupun Adam yakni seratus persen jika mereka bertiga bisa menjaga putranya dengan baik, namun tetap saja naluri melindungi seorang bapak tidak mengizinkan Adam bersikap egois.
Adam bersandar pada kepala ranjang, memijat pangkalan hidungnya, kepalanya pusing. Di disampingnya Ali berbaring lemah. Bocah kecil itu tidur setelah diperiksa dan diberi obat oleh dokter Nanda.
Setelah tiga hari dibohongi terus menerus oleh anggota keluarga, Ali beneran ngambek, bocah kecil itu tidak mau makan sama sekali yang berujung demam. Ali yang sudah lima hari tidak bertemu dengan sang mama itu benar-benar memendam rindu.
"Kamu sebenarnya dimana sih Ra, kenapa tega pada aku dan Ali. Kenapa kamu tega meninggalkan Ali hingga sakit seperti ini?" Guman Adam sedih.
Adam membuka matanya saat mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar.
"Dam ada yang mencari mu di luar." Suara Eka terdengar bersama munculnya sosok Prempuan mengenakan daster batik.
"Siapa?" Tanya Adam malas.
"Tidak tahu. Laki-laki. Katanya ada urusan penting sama kamu." Eka memberitahu, "mama suruh nunggu di ruang tamu," ucapnya kemudian berbalik pergi meninggalkan kamar Adam.
****
Hayooo....siapa itu yang mencari Adam?
Kira-kira Rara kemana ya? 🤔🤔🤔
__ADS_1