
"Kapan kamu liburan sekolah?" Tanya Adam.
Pria itu memeluk tubuh Rara dari belakang, dengan menyusupkan wajahnya di curuk leher sang istri, mereka baru saja selesai melakukan olahraga malam.
"Masih lama. Minggu depan saja baru ujian mid semester."
"Aku ingin mengajak mu pergi ke rumah ibu."
"Tumben?" Tanya Rara, karena biasanya Adam paling males kalau diajak main ke rumah orang tuanya, selalu saja ada alasan yang membuat dia menolak permintaan itu.
"Iya, kemarin ibu telpon. Katanya ibu kangen sama kamu dan Ali. Jadi dia minta kita datang kesana," Adam memberitahu.
Seketika rasa bahagia yang semula sempat masuk ke hati Rara menguap seketika begitu mendengar alasan yang keluar dari mulut Adam. Ternyata suaminya datang bukan karena kemauan dia sendiri melainkan karena ibunya yang minta.
Entah kapan Adam berkunjung ke rumah orang tuanya dengan keinginan sendiri tanpa paksaan dari pihak mana pun. Karena rasanya kesal saat kita menyayangi dan mencintai keluarga Adam dengan setulus hati. Memperhatikan orang tuanya seperti orang tua sendiri tapi Adam sendiri selalu bersikap cuek pada keluarganya
Bukankah Adam sekarang sudah menjadi anak ibunya juga tapi kenapa pria itu tidak pernah sedikitpun memberikan perhatian pada sang ibu. Tidak seperti Rara pada mama Eka dan papa putra.
Adam hanya datang ke rumah orang tua Rara saat lebaran doang. Itupun di rumah paling lama dua hari, tidak pernah lebih. Tak jarang cuma sehari saja Adam sudah minta balik.
Bahkan saat ada kegiatan atau pengajian di rumah juga Adam cuma mengantarkan Rara untuk pulang saja tanpa ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.
Tak terasah air mata Rara mengalir turun, mengingat itu semua membuat hatinya melow.
"Ra!" Panggil Adam.
"Aku gak pengen main ke rumah ibu. Aku kesana besok saja kalau libur sekolah!" Tolak Rara.
"Kenapa? Bukanya kamu senang kalau main kesana?"
Rara diam, tidak menjawab.
"Kamu tidak suka main ke rumah ibu? Kamu tidak kangen sama beliau?"
Bagaimana aku tidak kangen dengan ibu ku. Tentu saja aku kangen banget. Tapi kenapa kamu baru ngajak aku main saat mereka sudah menelepon mu begitu. Tidak bisakah kamu berinisiatif sendiri mengajakku main kesana untuk melihat keadaan orang tuaku tanpa mereka yang meminta dulu, guman Rara dalam hati.
Lagipula jika dia pergi sekarang tentu ibu juga akan tahu masalah rumah tangga Rara, dan dia tidak mau melihat ibu bersedih karena tahu kalau rumah tangga Rara dan Adam selama ini tidak baik-baik saja.
"Ra?"
Tidak mendapatkan jawaban dari sang istri, Adam memutar tubuh Rara menghadap kearahnya.
Betapa terkejutnya Adam saat melihat Rara menangis. Lekas jemari pria itu menghapus butiran kristal yang meleleh dari mata Rara.
__ADS_1
"Kenapa menangis?"
Rara menatap Adam dengan sendu.
"Kenapa kamu baru ngantarkan aku ke rumah ibuku saat mereka meminta. Tidak pernah kamu berinisiatif sendiri mengajakku main ke rumah ibu, sebelum beliau bilang kangen sama aku dan Ali.
Seolah di mata mu, ibu ku tidak penting sama sekali. Sehingga tidak pernah kamu prioritaskan. Bahkan saat aku kangen dan minta izin buat main kesana juga kamu gak kasih aku izin. Saat aku minta kamu mengantarkan aku kesana juga kamu gak mau. Apa keluargaku tidak berharga buat mu? Apa ibu ku juga bukan ibu mu?" Tanya Rara diantara Isak tangisnya.
"Padahal aku tidak pernah membeda-bedakan antara mama mu dan ibu ku. Aku menyayangi mama sebagaimana aku menyayangi ibu, tapi kenapa kamu tidak bisa memperlakukan orang tuaku sebagaimana aku memperlakukan orang tau mu mas?"
Masih jelas di ingat Rara saat mama Eka sakit di rumah sakit, dia dan papa berganti menjaga dan merawatnya, tapi apa balasan Adam? Saat ibu sakit, jangankan bantu merawat atau menjaganya. Adam nongol saja tidak.
Memang Rara ikhlas melakukan itu semua, tapi tetep saja rasa sedih itu ada saat orang yang kita sayangi dibeda-bedakan.
Adam membawa Rara dalam pelukannya. Menenangkan hati sang istri yang sedih karenanya.
"Maaf Ra. Maaf jika selama ini aku tidak perduli pada mu," kata Adam dengan penuh penyesalan.
Menghembuskan nafas berat. Adam memang marasa dirinya sangat kelewat selama ini. Sikap masa bodohnya pada Rara merembet kemana-mana hingga membuat nya tidak perduli pada mertuanya juga.
Bukan sekali dua kali Rara meminta untuk di antara ke rumah ibunya. Ingin mengunjungi orang tuanya, melihat keadaan sang ibu. Tapi Adam tidak menghiraukan itu semua.
Jika Ratna yang menelepon Adam meminta dia mengantarkan Ali dan Rara ke rumah sang ibj. Adam akan mengantarkan anak istrinya itu tanpa ikut mampir di rumah mertuanya. Sungguh kelewat menang.
Mengingat sang mama kalau Rara dan Ali dua Minggu tidak main ke rumah saja sudah bolak-balik telpon dan bilang kangen. Tapi Adam yang hanya berjarak tiga jam perjalanan saja mengunjungi mertua setahun sekali.
Adam mengelus kepala sang istri. Menyematkan anak rambutnya di belakang telinga Rara.
"Maaf aku yang selalu mengecewakan dirimu dengan sikap ketidak pedulian ku. Bantu aku menjadi menantu yang baik untuk ibu, sebagaimana kamu bisa menjadi menantu yang baik untuk mama dan papa.
Aku akan mencoba perduli dengan kalian semua. Menjadi suami yang baik untuk mu dan ayah yang baik untuk Ali. Meskipun itu butuh waktu. Aku minta kamu sabar menunggu ku berubah menjadi lebih baik untuk kalian semua."
Rara mendogak, menatap wajah Adam.
"Aku tidak ingin kamu berubah menjadi baik karena aku ataupun Ali, mas. Jika kamu ingin berubah, maka berubah lah demi dirimu sendiri. Demi rasa cinta dan sayang mu pada kita semua, terutama aku dan Ali. Karena aku tidak ingin kamu salahkan jika suatu saat terjadi sesuatu pada mu karena perum sikap mu ini," jujur Rara.
Adam mengaguk paham.
"Aku tidak akan menyalakan kamu tentang apa yang akan terjadi kedepannya Ra. Mungkin dulu aku pernah seperti itu, tapi sekarang tidak lagi. Aku tidak mau melakukannya kesalahan yang sama," jujur hati Adam.
"Sekarang sudah malam, kita tidur dulu. Besok mas harus kembali kerja. Takut kesiangan."
"Ya udah tidur. Aku mau pindah kamar. Takut Ali nangis kalau gak ada aku," tutur Rara seraya turun dari ranjang.
__ADS_1
"Kalau gitu ngikutin deh Ra. Gak enak kalau mas tidur disini sendirian. Gak ada yang bisa di peluk," aku Adam sambil tersenyum mesum.
Setelah memakai kembali bajunya yang tercecer di lantai, mereka berdua kembali ke kamar utama dimana Ali terlelap tidur.
****
"Mas pergi kerja dulu ya! Kamu hati-hati di rumah. Jangan diri baik-baik, jangan ketemu sama mantan kamu itu, apalagi sampai selingkuhan sama dia," pesan Adam sambil mencium kening Rara saat sang istri mengantikan kepergian Adam di teras depan.
"Kamu juga hati-hati di jalan, dan jangan selingkuh!" Pesan Rara sambil mencium punggung tangan sang suami.
"Aku akan pulang lagi besok week end. Kalau kangen di tahan dulu," tutur pria itu percaya diri.
Rara terseyum sambil mengangguk.
"Papa kerja dulu ya sayang. Kamu baik-baik sama mama di rumah. Jangan nakal, Jangan bikin Mama marah-marah ok!" Pesan Adam pada Ali yang berdiri di sebelah Rara.
"Baik pa. Papa hati-hati kalau kerja. Nanti kalau pulang bawa mainan ya pa!"
"Ok sayang."
Adam mencium kening, pipi kanan kiri anaknya sebagai salam perpisahan.
Begitu pun dengan Rara. Adam mengecup sekilas bibir sang istri sebagai salam perpisahan, membuat Rara memukul lengan sang suami karena aksinya di lihat oleh Ali.
Adam terkekeh karenanya.
"Nitip Rara sama Ali ya mbok?" Pinta Adam pada mbok yang juga ikut mengantar kepergiannya.
"Iya mas. Hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan."
"Makasih mbok."
Setelah pamit pada semua orang Adam berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah.
Kepergian dia kali ini diiringi perasaan hangat di hatinya. Lega juga bahagia, berbeda dengan perpisahan dirinya dan Rara beberapa waktu lalu, yang terasa monoton dan tidak berkesan sama sekali.
Sehingga mobil Adam menghilang dari pandangannya barulah Rara dan Ali juga si mbok masuk ke dalam rumah.
Rara dan Ali mengambil tas masing-masing yang sudah mereka taruh di ruang tamu sebelumnya, kemudian keluar lagi untuk pergi ke sekolah masing-masing.
Seperti hari-hari biasanya, Rara mengantarkan Ali ke TK dulu baru dia pergi ke SMA untuk bekerja.
*****
__ADS_1
Akhirnya mereka berpisah juga.
Yang Minggu ini belum kasih vote, masih di tunggu ya!!