Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 22. Alasan


__ADS_3

"Ayo Bu kita pulang!" Bang Haikal menghampiri Rara begitu dia dia selesai makan.


Mereka bertiga menuju tempat parkir dimana mobil suami Bu Lina itu terparkir.


"Duduk di depan saja, biar kesannya saya gak seperti supir!" Pinta lelaki berkaos merah itu saat melihat Rara membuka pintu penumpang.


"Iya bang, ini Rara mau naruh koper Ali di belakang," Rara menjelaskan.


Sebenarnya Rara ragu naik mobil berdua saja dengan Haikal takut jadi gosip seperti dia dan Kamal dulu, tapi jika tidak dengan Haikal bagaimana Rara bisa pulang ke rumah.


Semua memang salah Adam sialan, maki hati Rara pada sang suami.


Setelah memasukkan koper Ali, ke kursi penumpang, Rara beralih ke depan.


"Kalian mau kemana?" Tanya seseorang saat melihat Rara membuka pintu depan mobil Inova silver itu.


"Mau pulang," jawab Rara jutek pada sang penanya.


"Lho bukanya kamu mau liburan?"


Sumpah itu pertanyaan terbodoh yang pernah Adam tanyakan.


Rara tidak perduli dia tetap melanjutkan aksinya membuka pintu depan mobil bang Haikal.


"Ra, dengarkan aku dulu!" Pinta Adam sambil menarik tangan Rara menahannya untuk tidak pergi.


"Apa lagi yang harus aku dengarkan dari kamu mas?" Tanya Rara dengan nada tinggi membuat orang-orang di parkiran menatap kearah mereka, termasuk pemilik mobil yang sudah duduk di balik kemudi.


"Paling tidak dengarkan alasan kenapa aku datang terlambat!" Pinta Adam pada istrinya.


"Aku tidak butuh alasan apapun dari mu," Ujar Rara dingin, "Ali masuk mobil, kita pulang sekarang!" perintah sang ibu pada Ali.


Sambil membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan Ali masuk duluan.

__ADS_1


Karena Rara memang berencana memangku Ali saja saat dia duduk, biar anaknya bisa menjadi tameng pelindung diri dari laki-laki.


"Rara!" bentak Adam yang membuat Rara menghentikan aksinya.


"Ali tunggu di sini ya! Papa ada urusan sebentar sama mama." Ujar Adam pada putranya.


"Bang, nitip anak saya sebentar ya!" Pinta Adam sambil menoleh pada Haikal.


Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang beda usia itu cepat Adam menarik tangan Rara membawanya pergi dari sana dan menuju dimana mobilnya terparkir.


"Lepas!"


Rara menghentak tangannya hingga cengkeraman Adam terlepas.


"Aku gak mau pergi sama kamu!"


Tidak mau kalah begitu saja, Adam kembali menggenggam lengan Rara dengan lebih kencang lagi. Setengah menyerat pria itu menarik paksa sang istri mengikuti langkahnya.


"Masuk!"


Adam mengunci semua pintu setelah Rara duduk di sebelahnya, agar perempuan itu tidak bisa pergi sebelum salah paham diantara mereka terselesaikan.


"Kenapa kamu harus mengurung ku disini? Aku tidak mau di sini, aku mau pulang?" Rara menarik hendle pintu mencoba membukanya dan mengendor- gedor jendela mobil agar Adam membiarkan nya pergi.


"Rara, dengarkan penjelasan ku dulu!" Pinta Adam sambil memutar balik tubuh Rara menghadap ke arahnya.


"Apa lagi yang harus aku dengarkan dari kamu mas? Dari awal kamu memang tidak mau menjaga Ali untuk ku dan sekarang kamu memintaku mendengarkan alasan kamu kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja, iya? Untuk apa? Untuk apa? Untuk apa aku mendengarkan itu semua sekarang?" Marah Rara, meluapkan emosinya.


"Kamu jangan egois begitu dong? Paling tidak dengarkan dulu alasan kenapa aku bisa terlambat datang kesini!"


Adam mencoba bersikap sabar


"Kamu bilang aku egois, sebenarnya siapa yang selama ini selalu egois? Aku atau kamu mas?" Tanya Rara sambil menunjuk dada suaminya.

__ADS_1


Adam yang semula bersikap sabar menjadi ikutan emosi karena kemarahan Rara, "Makanya, biarkan aku bicara dulu. Dengarkan penjelasan ku! Jangan asal motong ucapan orang lain yang belum selesai ngomong. Tidak sopan tahu!"


Bentak Adam pada Rara sambil melotot marah kearah istrinya. Dia sangat tidak suka dengan sikap istrinya yang sangat begitu tidak sopan pada dirinya.


Bagaimana pun juga statusnya Adam adalah suami Rara dan Rara harus menghormati dia.


Dibentak sedemikian rupa, Rara langsung diam tak bersuara, tapi diamnya bukan karena takut namun karena bertambah dongkol pada suaminya.


"Aku tahu aku salah, karena terlambat datang ke bandara untuk menjemput Ali. Tapi semua itu bukan faktor kesengajaan, ketika aku dalam perjalanan kesini tiba-tiba pak Wahyu telpon kalau ada rapat dadakan dengan investor dari Hongkong dan aku harus ke kantor saat itu juga.


Rapat itu sangat penting bagi kemajuan perusahaan ku, juga penting bagi karir ku," Adam menjelaskan.


"Jika kamu tidak bisa datang, paling tidak beri tahu aku agar aku dan Ali tidak menunggu mu. Agar aku tidak kecewa."


"Aku sangat buru-buru Rara sampai handphone ku tertinggal di mobil, makanya aku tidak bisa memberi tahu kamu."


"Bohong, kamu sengaja meninggalkan HP mu biar aku tidak mengganggu mu saat kami sedang bekerja kan? Karena biasanya kamu juga selalu begitu. Kamu egois mas, kamu memang egois, kamu selalu meninggalkan ku dengan alasan pekerjaan. Bagi kamu pekerjaan lebih penting ketimbang aku dan Ali, iya kan?"


"Itu tidak benar Ra, semuanya penting buat aku. Kamu, Ali dan pekerjaan itu semua penting buat ku."


"Bohong. Pekerjaan mu memang selalu nomor satu di banding semua hal yang ada di dunia ini mas, karena bukan hanya kali ini kamu menghianati ku, mengecewakan ku,meninggalkan ku demi pekerjaan mu itu," Rara menangis, dia sangat dongkol.


Rara tidak mau tertipu lagi, karena nyatanya bukan sekali dua kali Adam berbohong dengan alasan pekerjaan. Dan kali Rara sama sekali tidak percaya dengan alasan suaminya.


"Memang kenapa? Memang kenapa jika pekerjaan ku lebih penting dari pada kamu?" Tanya Adam dengan nada tinggi, "Kamu ini ya, ketinggalan pesawat saja marah-marah gak karuan.


Jujur saja aku lebih memilih ikut rapat kali ini ketimbang menjemput Ali di bandara, karena rapat ini bernilai miliaran dolar. Dengan uang sebanyak itu bukan hanya liburan saja yang bisa aku kasih ke kamu tapi aku juga bisa membelikan mu jet pribadi, biar kamu puas jalan-jalan nya," Jawab Adam marah.


"Lagipula pesawat dari sini ke Yogjakarta bukan cuma satu. Nanti dua jam lagi juga masih ada penerbangan kesana. Kenapa kamu harus lebay begitu? Cengeng banget, dikit-dikit nangis, dikit-dikit nangis kayak bocah aja. Padahal sudah tua juga masih cengeng. Kamu kapan sih dewasanya? Biar bisa menyelasaikan masalah dengan kepala dingin, bukan pakai acara nangis seperti ini. Umur sudah hampir tiga puluh tahu tapi kelakuan masih kayak anak-anak."


"Mas itu datang kesini cuma buat marah-marah sama ngolok-olok aku doang? Kalau cuma buat bikin aku tambah dongkol bagus mas gak usah datang saja.


Rara juga gak butuh uang mas Adam yang banyak itu. Rara tidak butuh jet pribadi, kalau nyatanya dengan itu semua Rara harus hidup layaknya seorang janda, tidak pernah diayomi sama suami," Balas Rara sengit.

__ADS_1


Muak rasanya dengan sikap Adam yang selalu merasa paling benar dan suka menyalah-nyalahkan dirinya.


*****


__ADS_2