Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 95. Saling Mengerti


__ADS_3

"Mama....!"


Ali menangis sambil berjalan mencari-cari sang mama, memasuki ruang demi ruangan Dalam rumahnya berharap menemukan Rara di sana.


Lantai satu nihil, tidak ada sosok Rara di sana, bocah yang memiliki semangat seperti Adam itu tidak menyerah begitu saja. Ali kembali mencari Rara di lantai dua.


Sambil terus menangis dan memanggil sang mama. Pencarian Ali berakhir sampai dia membuka kamar tidur miliknya. Matanya langsung melihat Adam dan Rara tatkala dia membuka pintu coklat itu.


"Mama!"


Ali langsung lari dan berhamburan di pelukan Rara, memeluk erat tubuh wanita yang telah melahirkan dan merawatnya, membuat Rara yang masih terbuai mimpi seketika terbangun.


"Sayang kenapa?" Tanya Rara panik saat melihat putranya menangis sambil memeluk dirinya.


"Aku cariin mama dari tadi. Aku pikir mama ilang. Mama ninggalin Ali sendirian," adu bocah itu sesegukan.


Rara memeluk anaknya erat, mengusap kepala putranya penuh sayang, mencoba menenangkan hati anaknya yang gundah.


"Cup cup cup sayang. Mama gak kemana-mana, mama cuma pindah tidur disini saja. Nemenin papa," aku Rara.


"Tapi kenapa aku di tinggal sendiri, gak di ajak?" Tanya polos Ali.


"Maaf. Mulanya mama mau bangunkan Ali, tapi mama capek dan ketiduran. Maaf ya!" Ucap Rara dengan wajah menyesal.


Di halusnya air mata yang masih mengalir di pipi Ali dengan tangannya, "jangan menangis lagi. Anak cowok gak boleh cengeng."


"Aku gak cengeng ma, aku cuma takut mama hilang!" kesal Ali.


"Iya maaf, anak mama tersayang. Sekarang mama sudah ketemu jadi jangan menangis lagi. Ok!"


Ali mengangguk, menghapus air matanya. Kemudian bocah itu memberi tahu jika hari sudah siang, dan mereka harus ke sekolah.


Rara yang mendengar penuturan anaknya seketika melihat jam yang tergantung di dinding, yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Tambah panik saja ibu satu anak itu. Apalagi saat mengingat dirinya belum sholat subuh.


Menyadari posisi tubuhnya yang masih polos di balik selimut membuat Rara tidak bisa langsung lari ke kamar mandi saat di depan Ali. Pergi dengan selimut juga tidak mungkin, karena di sebelahnya tubuh Adam juga sama polosnya, tentu tidak baik jika sampai terlihat oleh Ali.


"Sayang kamu mandi dulu ya! Nanti mama nyusul kesana! Mama mau bangunin papa dulu!"


"Tapi gak ada air hangatnya ma? Kan mama belum rebus air."


"Iyaa nanti mama rebuskan. Ali tunggu mama di kamar mandi, ok!"

__ADS_1


Ali mengangguk setuju, lalu bocah itu beranjak pergi dari kamarnya, menuju ke kamar Rara, untuk mandi disana.


Sepeninggalan Ali, cepat Rara memakai bajunya yang berserak di lantai, gerakan Rara yang menimbulkan ke gaduhan membuat Adam terbangun.


"Kenapa Ra? Ada apa?" Tanya pria itu sambil menguap lebar-lebar, kemudian Adam merentangkan tangannya untuk ngulet merileksasi otot-otot tubuhnya yang kaku semua.


Rara memberitahu jika dirinya kesiangan dan barusan Ali membangunkan Rara untuk mandi.


Setelah itu lekas Rara turun ke bawah untuk merebut air hangat guna Ali mandi. Adam yang melihat kesibukkan istrinya jadi tidak tega, pria tampan itu kembali mengenakan celana Chino pendek dan kaos putih polos yang berserak di lantai yang dia gunakan tadi malam, lalu menyusul Rara ke dapur.


"Masak apa?" Tanya Adam pada istrinya.


"Gak masak mas, aku cuma rebus air buat Ali mandi saja. Kalau mau sarapan nanti beli di depan saja."


"Gak usah rebus air hangat, lama. Ali mandi pakai air galon saja, kan itu udah hangat."


Adam menujuk dispenser yang ada di ruang makan. Dengan galon berisi separo air di dalamnya. Yang mereka yakini juga percaya jika air di galon itu panas karena dispensernya tersambung dengan listrik.


Seketika otak Rara membenarkan perkataan Adam saat itu. Karena buru-buru kenapa tidak memanfaatkan yang ada saja dulu.


"Kalau gitu ambil yang di kamar Rara saja mas. Kan ada juga dispenser disana. Malah gak usah ngotong-ngotong dari bawah," usul Rara.


"Boleh, mana bagusnya saja. Udah sana kamu sama Ali mandi sekalian siap-siap, biar mas yang siapkan sarapan buat kalian. Mas jamin begitu kalian turun masakan mas udah siap!" Ucap Adam Seraya mendorongnya tubuh Rara agar pergi dari dapur.


****


Sepeninggalan Rara Adam kelakukan aksinya, ujuk kebolehan di dapur bersih Rara, menyiapkan bekal makan untuk anak istrinya. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama menjadi suami Rara selama ini. Karena bagaimanapun juga Rara terlambat bangun juga karena ulah Adam sehingga dia harus ikut tangung jawab atas kejadian pagi ini.


Adam membuat nasi ruwet (nasi goreng dengan campuran mie, telur dan sayuran). Sebagai lauk pendamping Adam membuat telur gulung sosis ala Korea juga rica-rica ayam.


Kemudian menyusun makanan yang dia bikin ke dalam dua buah kotak bekal. Untuk Ali Adam tambahkan sosis goreng kedalam kotak, sedangkan untuk Rara Adam menambahkan potong tomat dan timun sebagai lalapan.


Selesai menyusun bekal Adam kembali membuat tiga gelas susu hangat dan juga mengoleksi roti bakar dengan Nutella.


Empat puluh menit Rara dan Ali turun ke bawah dengan penampilan mereka yang sudah rapi dan wangi siap untuk melakukan aktivitas mereka di luar rumah.


Adam membawa nampan berisi dua gelas susu dan sepiring roti bakal yang telah siap. Menghampiri Rara yang sedang memakai kaos kaki di sofa. Begitu juga Ali, melakukan hal sama seperti yang Rara lakukan.


Meski anak Adam sudah berusia enam tahun tapi bocah itu masih kesulitan saat memakai kaos kaki, sehingga membuat Rara beralih memakaikan supaya mereka tidak terlambat.


Sedangkan Adam yang pagi itu tidak buru-buru, bertugas, menyuapkan sepotong roti dari piring ke mulut istri dan anaknya secara gantian. Karena melihat kesibukan mereka berdua tidak mungkin jika tangan mereka bisa mengapit makanan, maka Adam berinisiatif melakukan itu.

__ADS_1


Perbuatan Adam mengingatkan dia pada kejadian saat dia kecil dulu, dimana mama Eka yang selalu sibuk menguapi dia dan Rangga secara bergantian saat kedua anaknya tengah memakai sepatu. Demi suapaya sang buah hati ke sekolah sarapan dulu namun tangan tak sempat memegang sendok, sedangkan waktu terus memburu karena mereka kesiangan.


Kini Adam melakukan hal itu pada anak dan istrinya. Membantu mereka saat keduanya sibuk dan merasa jadi orang penting untuk keduanya.


Setelah semua kegiatan selesai, Rara dan Ali meminum susu yang sudah Adam siapkan di atas meja.


Lalu keduanya keluar rumah dengan bekal dan tas masing-masing.


"Ali berangkat dulu ya, pa!" Pamit Ali sambil mencium tangan sang papa.


"Hati-hati nak, belajar yang printer!"


Adam mengelus kepala putranya.


Adam mengantarkan anak dan istrinya sampai teras depan, sebagaimana biasa Rara mengantarkan kepergiaan.


"Rara pergi dulu ya mas!" Pamit Rara sambil mencium punggung tangan suaminya, sebagaimana yang Ali lakukan tadi.


"Hati-hati di jalan, jangan ngebut!" Pesan Adam sang istri.


"Iya, mas juga hati-hati nanti kalau balik ke kantor!"


Adam mengangguk. Saat Rara hendak pergi menuju motor maticnya yang sudah Adam keluarkan di halaman, tangannya di tahan oleh Adam.


"Apa lagi mas?"


Tidak menjawab pertanyaan sang istri, Adam kembali menarik tangan Rara hingga prempuan itu kembali merapat ke arahnya.


"Kamu dandan cantik begini untuk ku bukan? Karena itu biarkan aku merasakan kecantikan mu pagi ini!"


Ucap Adam yang membuat Rara terperangah tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


Tidak menunggu lama, Adam pun melakukannya aksinya.


'Cup'


Adam mengecup sekilas bibir Rara.


"Manis sekali," lanjutkan yang membuat wajah Rara memerah seketika.


Adam melepaskan kepergian Rara dan Ali dengan sebaris senyum bahagia.

__ADS_1


****


Dombel Up nih!!


__ADS_2