
Rara termagu di depan meja rias, dia bingung dengan hatinya sendiri.
Haruskah dia memaafkan Adam? Memberi kesempatan ke dua pada suaminya, pria yang sudah menyakitinya selama ini. Haruskah dia luluh dengan rayuan gombal Adam dan perhatian yang pria itu berikan padanya.
Jujur saya Rara menyukai semua perhatian pria itu padanya, karena menurut Rara itu suatu yang tidak pernah di perolehannya selama ini, namun ada yang mengganjal pada hatinya.
Apakah Adam melakukan itu semua tulus atau hanya modus? Apakah pria itu sudah mencintainya? Melupakan Maelin? Atau hanya menjadikan Rara sebagai serep saja?
Rara sadar tidak semudah itu membuang orang yang sudah ada di hatinya bertahun-tahun dengan nama yang baru dan pasti juga di hati Adam saat ini masih ada nama Maelin, tapi jika Rara terus menjauh dari suaminya tentu nama Maelin tidak akan pernah pergi dari hati Adam, sedangkan menerima semua perlakuan Adam juga membuat dia takut kembali jatuh dalam pesona pria itu.
Rara dilema dengan situasi ini. Maju kena, mundur juga kena, membuat dia frustasi saja.
"Aaagggg...." Rara mengacak-acak rambut saking frustasi karena tidak dapat jalan keluar dari masalnya.
Bersamaan dengan Adam yang keluar dari kamar mandi. Pria itu mengernyitkan dahinya heran, melihat kelakuan sang istri. Rara yang melihat suaminya dari pantulan cermin di depannya pun merasa malu, wajahnya memerah. Menghindari rasa canggung yang membuat dirinya salah tingkah, Rara memilih beranjak dari duduknya untuk keluar kamar.
"Mau kemana?" Tanya Adam ketika melihat Rara berjalan buru-buru.
"Nyari Ali," jawabnya acuh, tanpa memandang wajah tampan itu.
Namun gerakan Rara terhenti karena Adam menangkap tangan Rara lalu menariknya kuat sehingga tubuh Rara menabrak dalam bidang Adam yang masih polos.
"Baju mas belum di siapkan kok udah mau pergi," ujar pria itu sambil merangkul pinggang Rara, memeluknya secara posesif dengan sebelah tangannya.
"Mas punya tangan bisa ambil baju sendiri."
Rara melepaskan tangan Adam dari pinggangnya agar dirinya bisa pergi.
Namun Adam kembali menariknya, dengan sedikit memutar tubuhnya sehingga tubuh Rara terhimpit oleh dinding. Adam mengukung Rara dengan dua tangannya.
"Tapi aku maunya kamu yang siapkan baju mas, seperti hari-hari kemarin."
"Tapi sekarang sudah tidak sama dengan kemarin. Aku gak akan nyiapin apa-apa lagi buat kamu."
Dorong Rara pada dada bidang di depannya agar sedikit mudur, meski tidak berhasil karena tubuh Adam sudah nancap bagaikan paku.
"Aku gak akan melepaskan mu sebelum kamu turuti apa kemauan ku!" Tegas Adam.
"Aku gak akan menuruti kemauan mu lagi. Terserah apa yang akan kamu lakukan," Tegas Rara, sambil menatap mata Adam.
Rara tidak perduli dengan apa yang Adam pikiran tentang dia sekarang. Dia tidak perduli jika dibilang istri yang tidak nurut pada suami, atau istri durhaka sekalipun, bahkan jika Adam menceraikan dirinya juga Rara tidak perduli. Yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana menjaga hati dan perasaannya supaya tidak terluka lagi. Cukup sekali saja dia disakiti, dihianati dan dianggap tidak penting dalam kehidupan suaminya. Rara tidak mau jadi perempuan bodoh untuk yang kedua kalinya.
Beda Rara beda pula isi otak Adam. Menurut sang suami, terserah apa mau Adam itu ya terserah apa yang akan dia lakukan. Bahkan jika saat ini dia mengiring Rara keatas ranjang untuk mencetak adik Ali juga Rara bakal nurut sama dia. Karena itu Adam tetap tersenyum meski wajah jutek terpasang jelas pada perempuan di depannya.
Kata-kata terserah kembali membuat Adam berani. Jiwa lelakinya yang nganggur lantaran Rara sakit membuat pria itu memegang dagu sang istri yang terhimpit oleh dinding dan tubuhnya.
Perlawanan yang Rara berikan juga tidak berarti apa-apa karena tenaganya jelas kalah dengan Adam yang seorang pria.
Adam mengangkat dagu Rara, membuat wajah putih itu mendongak menghadap wajahnya yang menunduk, membuat mata mereka saling beradu dan mengunci satu sama lain.
Rara memalingkan wajahnya ke samping untuk memutuskan kontak mata itu, sebelum hatinya melemah lantaran mata elang Adam.
Namun sekali lagi, Adam membuat wajah Rara menghadap ke wajahnya. Kali ini dengan cengkraman yang lebih kuat dari sebelumnya, sehingga Rara tidak bisa menghindari.
__ADS_1
"Kamu bilang terserah aku bukan? Lalu kenapa kamu berpaling, hm?" Tanya Adam sambil tersenyum. Senang rasanya mengoda sang istri yang wajahnya kini semakin memerah karena malu.
Duh Rara, kenapa aku baru sadar kalau ternyata kamu imut dan lucu begini. Bikin aku gemes aja, batin Adam dengan menahan senyum di bibirnya, karena dia takut Rara tersingkir jika Adam terseyum.
Rara tidak menjawab, tangannya meremas kiri-kanan gamis batik yang dia pakai, menahan kesal. Karena dalam otak Rara malah berfikir hal yang tidak senonoh.
Dia gak bakal merk*sa aku gara-gara aku gak ngasih jatah dia kan? Dasar pria br*ngsek! Bisa-bisanya saat aku kesal malah dia minta jatah, batin Rara.
Mama Ali, cepat memejamkan matanya rapat-rapat saat dilihatnya Adam mulai mendekati wajahnya. Di tahannya debar Jantungnya kuat-kuat agar tidak maraton karena ulah manis sang suami.
Rara merasakan hangatnya nafas pria itu mendekati wajahnya, bahkan aroma mint akibat pasta gigi juga tercium oleh hidupnya. Posisi mereka sangat dekat hingga Rara merasakan benda hangat nan lembut menempel pada bibirnya.
Namun gerakan Adam untuk mel*mat bibir Rara terhenti saat mendengar suara seseorang memanggil Rara.
"Mama peci ku mana? Aku mau ngaji!" Teriak Ali di depan pintu kamar sang mama yang membuat Rara seketika mendorong tubuh Adam dari hadapannya.
"Oh iya, pencintanya ada di jog motor sayang yuk, mama anterin ngaji. Kebetulan mama mau Adam perlu sama Bude Sri," ujar Rara sambil berlalu dari hadapan Adam. Tapi baru satu langkah Adam sudah menarik tangannya.
"Bentar ya sayang. Mama mau ambilkan baju ganti buat papa dulu," tukas Adam seraya menarik Rara membawanya kedepan lemari pakaian.
Adanya Ali didepan mereka juga himpitan tubuh Adam yang memaksanya membuat Rara tidak bisa menolak permintaan pria itu sehingga dia memilih ngalah dan mengambil baju ganti untuk suaminya dari dalam lemari.
Adam terseyum lebar karenanya. Merasa niatnya berhasil.
Meski dia biasa mengambil pakaian sendiri saat di apartemen, tapi kebiasaan Rara yang selalu melayaninya membuat Adam merasa tidak puas jika bukan Rara yang mengambilkan baju ganti untuknya saat mereka bersama. Kadang membuat dia merasa sudah pas belum sih? Cocok dengan selera Rara gak sih? Lebay banget.
"Tungguin papa ya, Ali! Papa ganti baju dulu?" Pinta Adam, sebelum masuk ke kamar mandi buat ganti baju.
"Papa gak usah ikut. Di rumah saja," cegah Rara.
Meski sebenarnya dia kalau beli pulsa lewat aplikasi mobile banking, tapi demi bisa berdua dengan sang istri apapun dia jalanin.
Ali yang melihat interaksi mama dan papanya hanya bengong. Menggelengkan kepalanya karena merasa aksi kedua orang tuanya terasa aneh.
****
Adam yang sedang tidur memeluk Ali di tempat tidur bersebrangan dengan Rara, mendadak pindah saat dirasa sang anak sudah terlelap.
"Ngapain sih kesini, sempit tahu!"
Protes Rara tak suka saat Adam pindah tidur di belakang dia dan memeluk tubuhnya.
"Mas maunya tidur kayak gini, sambil peluk kamu. Kan kamu bisanya suka kalau mas peluk," jawab Adam sambil cengengesan, "geser dikit dong sayang! Mas mau jatuh nih, belakang sempit banget."
Adam mengeser tubuhnya lebih rapat ke Rara agar sang istri ke tengah dikit.
"Itukan dulu, sekarang aku gak suka kamu peluk-peluk. Mending kamu pindah sana ke tempat mu semula."
Protes Rara sambil melepaskan tangan Adam yang sudah melingkar di pinggangnya.
"Jangan gitu dong Ra. Kan jarang mas pulang ke rumah. Masak giliran dekat kita ribut gini."
"Bodoh amat, aku gak perduli."
__ADS_1
Rara menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
"Ish, jangan judes gitu dong Ra!"
Rara diam.
"Besok mas harus balik kerja lagi. Emang kamu gak ngasih servis dulu nih?" Tanya Adam lagi.
Tangan Adam menarik selimut yang menutupi wajah Rara.
"Apaan sih mas. Kalau mau balik ya balik aja sana, gak usah rese jadi orang. Biasanya juga kamu gak perduli," judes Rara.
"Tapikan sekarang mas perduli sama kamu."
"Itu terserah kamu, aku gak minta."
"Tapi mas mau minta sama kamu," paksa Adam. Karena kalau pulang gak dapat jatah tuh rasanya kayak makan sayur tanpa garam. Hambar gak karuan.
"Gak usah macam-macam deh mas. Aku lagi datang bulan." Tolak Rara, dengan alasan jitu.
"Alah bohong. Aku gak percaya."
"Terserah. Aku juga gak minta kamu percaya."
"Kalau datang bulan kok gak ada roti Jepangnya?" Tanya Adam saat tidak menemukan ganjalan pada bagian terlarang Rara.
"Mas, apa-apa sih kamu!"
Rara memukul tangan Adam yang meraba lubang buaya miliknya. Membuat Adam terbahak.
"Dasar tukang bohong. Yok lah, sekali juga gak apa-apa kok, mas mau daripada gak dapat," paksa Adam sambil mencium Curuk leher Rara dari belakang. Sedangkan sebelah tangannya sudah menguap di balik piyama tidur Rara.
Membuat mama Ali kesal hingga menarik paksa tangan Adam dari balik bajunya dan mengigit jemari pria itu kuat-kuat sampai Adam berteriak sakit.
"Makanya sih jangan rese jadi orang," omel Rara saat melihat Adam mengibaskan tangannya karena sakit.
"Mending kamu tidur di kamar Ali sana, dari pada gangguin aku melulu!" Usir sang istri.
Adam yang merasa tidak dapat apa yang di mau pun memilih mengikuti permintaan Rara.
"Ya udah kalau mau kamu gitu mas pergi ke kamar Ali," ucap pria tampan itu sambil turun dari ranjang. Adam ngambek.
Adam pun berjalan ke arah pintu untuk keluar kamar dengan wajah cemberut, sedang kan Rara tidak perduli sama sekali.
Tapi baru membuka pintu suami Rara berbalik arah, masuk ke kamar lagi.
"Kita tidur di kamar Ali sama-sama."
Adam mengangkat tubuh Rara dalam gendongan dengan sekali gerak. Membuat Rara yang terkejut pun berteriak.
"Mas!" Pekik prempuan itu kaget. Cepat Rara mengalungkan lengannya pada leher Adam supaya tidak jatuh. Sedang Adam sendiri tertawa melihat ketakutan sang istri.
Semua masalah memang tidak bisa di selesaikan diatas ranjang. Tapi ranjang adalah salah satu tempat yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
__ADS_1
****
Yang belum kasi vote, yuk kasih vote yang banyak buat Rara. Biar nulisnya makin semangat.