
"Apa yang kamu lakukan?" Teriak Rara saat melihat Monica menyiram tubuhnya sendiri dengan minuman dari gelas yang Rara pegangan hingga gaun kuning gading yang prempuan itu kenakan basah.
Tidak membalas ucapan Rara, Monica malah tersenyum, kelicikan terlihat di matanya.
"Gaun mu?"
Tunjuk Rara pada gaun Monica yang berubah jadi merah di bagian dada hingga ke perut.
Wajah Monica langsung berubah seketika saat melihat baju yang dia kenakan berubah warna.
"Gaun ku?" Ucapnya dengan ekspresi kaget.
"Apa yang kau lakukan pada ku? Kau sudah mengotori gaun ku!" Histeria Monica sambil mengguncangkan bahu Rara. Mengundang semua mata yang ada di sekeliling menatap kearah mereka.
Kesedihan nampak begitu jelas di wajah Monica, bulir-bulir bening pun mengalir turun dari ujung mata Monica membasahi pipi mulus seputih kapas itu.
Seketika Rara membeku, otaknya mendadak kosong tidak dapat berfikir, dia mencoba mencerna apa yang telah terjadi padanya. Kenapa Monica histeris begitu?
Sepersekian detik baru Rara tersadar dari lamunannya, menyadari akal bulus Monica untuk menjebak.
"Kenapa kamu lakukan ini pada ku? Aku tahu kamu benci pada ku, tapi tidak harus seperti ini? Mempermalukan aku di tempat umum," racau Monica dengan air mata yang sudah mengajak sungai.
"Hentikan Monica! Semua itu tidak benar, aku...."
Rara belum sempat menjelaskan ketika Marcell datang menghampiri mereka berdua. Melepaskan jas putih yang dia kenakan lalu menyampaikan di bahu Monica.
Rara yang melihat perlakuan Marcell pada Monica menjadi merasa sangat bersalah, "Pak Marcell, aku..."
Ucapan Rara terhenti saat dia menyadari tangannya di genggaman oleh seseorang, membuat dia menoleh ke samping dan Rara mendapatinya Adam sudah berdiri di sebelahnya dengan mantap tajam ke arah Marcell dan Rara bergantian.
"Mas...."
"Tidak usah di jelaskan Ra, aku tahu apa yang terjadi," bisik Adam, lalu menarik tangannya Rara untuk pergi dari sana.
Begitu pun Marcell yang langsung menuntut Monica untuk pergi.
****
Adam yang semula mengegam tangan Rara dengan begitu mesra langsung melepaskan genggaman itu begitu tidak ada lagi yang melihat mereka berdua.
Pria itu berjalan dengan langkah panjang dan lebar, membuat Rara terseok-seok kesulitan mengimbangi langkahnya, meski begitu Adam sama sekali tidak perduli. Bahkan menoleh ataupun menunggu Rara juga tidak. Beruntung saat di depan lift Adam harus menunggu lemari besi itu terbuka sehingga mereka bisa pergi bersama.
"Mas aku bisa jelaskan itu semua. Semua tidak seperti yang kamu pikirkan?"
__ADS_1
Rara menyentuh lengan jas suaminya, berharap Adam mau mengerti.
"Diam!" Bentak Adam menoleh pada Rara, membuat wajah Rara pias seketika.
"Aku tahu siapa kamu? Kamu adalah prempuan yang tidak pernah mau ngalah. Mata dia balas mata, gigi di balas gigi dan itu lah kamu. Kamu mengecewakan. Aku benar-benar kecewa sama mu."
Cecar Adam tanpa memberikan kesempatan pada Rara untuk berbicara apa lagi menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Adam mengepalkan tinjunya, dia begitu kecewa pada sikap bar-bar Rara yang membuatnya malu. Berhijab tapi tidak bisa menahan emosi itulah yang Adam lihat dari sang istri.
Begitupun Rara, dia meremas clutch yang dia pegang, seolah ingin menghacurkan benda itu. Dia begitu kecewa pada Adam bisa-bisa suaminya lebih percaya dengan omongan Monica ketimbang dirinya dan lebih gilanya lagi pria di sampingnya kini tidak memberi kesempatan untuk menjelaskan apa-apa.
"Ting"
Bunyi jika lift sudah sampai pada lantai yang mereka tuju dan tak lama pintu besi itu pun terbuka. Rara yang posisi berdiri di belakang Adam, buru-buru melangkah keluar mendahului sang suami.
"Bruk"
Bahu Rara menyenggol bahu Adam membuat tubuh pria itu bergeser ke samping beberapa senti, meski begitu Rara tidak perduli. Dia tetap melangkah dengan pasti menuju ke luar.
"Lihatlah sikap kamu yang tidak tahu sopan itu!" Cerca Adam lagi dengan suara yang hanya dapat di dengar oleh dia dan Rara.
Rara hanya diam meski dalam hati dia ingin menguliti Adam saat itu juga. Dia tidak ingin meledak-ledak di depan umum yang membuat dirinya harus menjadi pusat perhatian orang lain.
****
Suara gesekan ban dan aspal terdengar di udara, bersama dengan melesatnya mobil range Rover meninggalkan halaman hotel.
Rara menatap jalanan yang malam itu tampak lenggang, memperhatikan toko-toko yang tampak yang tampak berlari dari kiri kanan jalan.
Setelah keheningan yang hanya menemani mereka berdua akhirnya Adam pun buka suara.
"Kenapa sih kamu harus bersikap begitu pada Monica Ra?" Tanya Adam sambil sekilas melihat ke arah Rara yang duduk di sebelahnya.
"Kamu kan tahu, itu di pesta. Banyak orang disana. Kenapa kamu mempermalukan diriku disana? Menjaga harga diriku di depan karyawan dan rekan-rekan ku yang lain. Aku malu Ra, aku malu! Aku benar-benar kecewa sama kamu tahu gak?
Rasanya sekarang aku tuh gak punya muka laki di hadapan mereka dan semua itu gara-gara sikap bar-bar kamu itu. Gak bisa apa kamu itu bersikap anggun layaknya istri-istri pengusaha atau pejabat yang lain? Gak norak dan deso kayak gitu. Sekarang, rasanya aku nyesel tahu gak ngajak kamu ke ulang tahun perusahaan."
Adam memang sempat marah besar dan kecewa sama Monica. Bahkan sampai berencana menjebloskan prempuan itu kepenjara. Tapi itu dulu, satu Minggu setelah hubungan rumah tangga dia dan Rara hampir saja berakhir. Setelah pertengkarannya hebat diantara mereka berdua.
Flashback on.
Satu Minggu setelah Rara sakit. Adam kembali ke apartemen. Namun tiba-tiba teror berdatangan ke nomor handphone Adam. Setiap hari puluhan nomor baru masuk ke kontaknya sekedar untuk menyapa dan mengajak berkenalan.
__ADS_1
Adam yang memang sibuk dengan pekerjaan tidak terlalu perduli dengan itu semua. Dia hanya memblokir nomor-nomor itu dari kontaknya dan menganggap mereka hanya spam.
Namun semakin hari, nomor baru yang masuk semakin banyak, kata-kata mereka juga semakin berinovatif. Dari sekedar kenalan berujung mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh, membuat Adam geram.
Nyatanya hal itu tidak hanya terjadi pada Adam, tapi Rara juga mendapat teror yang sama. Nomor baru masuk di kontak sang istri hingga puluhan setiap hari.
Hal itu membuat Adam meminta orang untuk menyelidikinya, kenapa nomor dia dan Rara bisa tiba-tiba terkena virus, dan ternyata anak buahnya melaporkan jika nomor Adam dan Rara di lemparkan Monica ke suatu situs online. Suatu situs dimana para lelaki hidung belang dan tante-tante girang mencari kesenangan yang membuat Adam dan Rara sepakat untuk ganti nomor.
Adam yang merasa sangat dirugikan karena kejadian itu mendatangi apartemen yang Monica sewa.
"Apa yang kamu lakukan pada nomor ku dan nomor Rara?" Tanya Adam.
Begitu dia tiba di ruang tamu apartemen Monica.
"Hahaha....kenapa?" Tanya balik Monica.
"Bukan kah mau lelaki penggoda, jadi aku berikan saja nomormu pada wanita-wanita yang ingin di goda," jawabnya tanpa dosa, di iringi tawa di akhir kalimatnya.
"Dasar prempuan Brengsek! sinting! gila!" marah Adam sambil mendorong dan mencekik leher Monica.
"Mati saja kamu sekarang daripada selalu mengacau dalam hidup ku," ucap Adam penuh emosi.
Tak perduli dengan Monica yang wajahnya sudah seputih kapas agak membiru karena hampir kehabisan nafas.
Rain yang melihat bosnya marah mendadak panik, hingga dia memukul-mukul tangan Adam dan menariknya.
"Lepaskan pak! Lepaskan Bu Monica, nanti dia bisa mati."
"Biarin aja Rain, dia pantas untuk mati."
"Tapi saya tidak mau bapak masuk penjara. Anak dan istrinya bapak juga tidak mau bapak jadi pembunuh, karena itu lepaskan Bu Monica pak, saya mohon!" Pinta Rain.
Benar kata gadis itu, Ali dan Rara pasti kecewa jika dia membunuh Monica. Pasti dia juga bakal sedih kalau Adam masuk penjara. Apalagi label seorang pembunuh akan selalu ada di belakang namanya dan Adam tidak mau Ali malu karena punya papa seorang pembunuh.
Seketika Adam melepas tangannya dari leher Monica. Membuat prempuan itu terbatuk-batuk saat udara kembali memenuhi paru-parunya.
"Kali ini aku maafkan kamu. Tapi lain kali saat kamu mencari gara-gara lagi, aku gak bakal lepaskan kamu, ingat itu!" Ancaman Adam sebelum meninggal kediaman Monica.
Adam memang sangat emosi, karena perbuatan Monica dia harus ganti nomor dan kembali menghubungi rekan bisnisnya.
Bagi seorang pembisnis seperti dirinya nomor telepon adalah suatu hal yang penting. Ganti nomor itu sama saja dengan kehilangan uang ratusan juta hingga puluhan milyar karena para rekan bisnisnya tentu akan kesulitan jika menghubungi untuk menjalin kerjasama, tapi Monica si perempuan br*ngsek mana tahu akan hal itu.
Dan sekarang mau tidak mau dia dan Rara memang harus ganti kartu, karena nomor mereka sudah masuk ke situs online begitu yang sama artinya dengan kena virus lantaran tidak mungkin dia menghapus nomornya dari ribuan kontak manusia di dunia ini.
__ADS_1
Flashback off