Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 29. Dia itu Seperti Apa?


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Rangga yang terdengar memaksa membuat Adam menatap curiga pada sang adik.


Seolah mengerti apa yang Adam pikir kan Rangga pun kembali bicara, "gak usah curiga gitu, aku melakukan semua itu demi mas, supaya mas Adam cepat bahagia. Bisa hidup dengan orang yang mas sayang dan cintai, tidak tertekan seperti selama ini. Jadi cepat ambil keputusan, semakin cepat semakin baik."


"Entah lah, aku gak tahu," Adam menyerah karena pusing.


Maelin saja belum kasih kabar, Rangga sudah memaksanya untuk cerai.


Melihat Adam yang diam, Rangga pun kesal.


"Hais, dasar laki-laki gak jelas. Sama hati sendiri pun masih bingung. Tinggal datangi dia, lamar, nikah, selesai sudah. Apa lagi yang harus jadi masalah."


"Kamu gak tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Ya sudah deh kalau gak tahu, terserah mas Adam saja. Yang penting jangan lama-lama, buruan cerai," Rangga mengingatkan lagi.


Membuat Adam menendang kaki adiknya, sedang Rangga yang melihat wajah kesal sang kakak malah tertawa senang.


"Kalau Kamu kapan bakal ngelamar pacar kamu yang jadi istri orang itu?" Adam berbalik bertanya pada Rangga untuk mengimindasi ganti.


"Nunggu dia cerai sama suaminya."


"Kalau gak di ceraikan."


"Pasti bakal cerai, karena aku tahu suaminya punya selingkuhan," jawab Rangga yakin.


"Kenapa kamu gak kasih tahu dia saja kalau suaminya selingkuh biar dia cepat cerai."


"Gak lah, kalau kayak gitu aku takut dia mikir aku sengaja nunjukin itu suapaya mereka berantem dan rumah tangganya pisah. Yang ada dia malah gak mau nanti sama aku. Aku kan maunya main cantik, jadi biar dia tahu dari orang lain dan aku jadi penolong saat dia terpuruk dan jatuh, mencoba memberi semangat dan membangkitkan dia."


"Jadi kamu pantau dia setiap hari dong?"


"Gak juga, cuma sesekali saja."


Adam manggut-manggut ngerti.


Ngerti bahwa adiknya ada bakat jadi pembinor akut.


"Aku jadi penasaran, dia itu seperti apa?"


"Siapa?" Rangga menoleh pada Adam.


"Manatan pacar mu itu? Yang masih kamu cintai hingga melajang sampai detik ini?" Adam penasaran.

__ADS_1


"Yang jelas dia jauh lebih baik ketimbang mantan mu."


"Sotoy loh, kayak kamu tahu mantan ku saja," Adam menonjok lengan Rangga dan begitu juga sebaliknya, membuat kakak adik itu saling serang, baik tangan maupun kaki layaknya anak kecil yang ribut main perang-perangan.


"Tahu, tahu jelas tahu lah. Aku kan cenayang," Jawab Rangga.


"Kenapa gak sekalian jadi jin Tomang saja kamu," usul Adam.


"Biar seru malah jadi jin di jarum coklat itu," jawab Rangga.


Kemudian adik Adam menirukan dialog jin yang ada di iklan rokok itu.


"Jin tolongin jin."


"Ku beri satu permintaan."


"Tolong bikin mas Adam cerai dengan Rara."


"Laksanakan," kata Rangga menjawab permintaan dan ucapannya sendiri.


Permainan konyol pria berprofesi sebagai PNS itu di balas oleh lemparan Sepatu bertubi-tubi dari Adam, yang kesal karena sedari tadi sang adik menyuruhnya cerai dengan Rara melulu.


"Kalau kamu jomblo dan karatan, udah sendirian saja gak usah ngajak-ngajak yang lain. Dasar adik gak ada akhlak."


Aksi keduanya terhenti saat mereka melihat Rara berlari ke arah mereka sambil tertawa cekikikan dengan teman-teman yang lain mengejar perempuan itu dari belakang.


Adam yang melihat istrinya tertawa sedemikian rupa sampai nupeng di buatnya, karena baru kali ini dia melihat Rara begitu bahagia hingga tertawa lepas.


Membuat mata Adam tak berkedip karena terhipnotis akan kecantikan Rara.


Rangga yang melihat reaksi kakak menjadi tidak suka dengan kelakuan Adam, ada rasa cemburu menyusun dadanya saat melihat Adam menatap Rara sedemikian rupa. Sehingga pria berparas tampan itu menyenggol lengan Adam.


"Kedip woy, mingkem tuh mulut, awas encernya ngalir," canda Rangga tapi serius.


Seketika Adam tersadar dari rasa kagum sesaatnya.


Untuk menghilangkan salah tingkah yang di deritanya karena merasa telah ke-gep lantaran terpesona pada Rara, Adam pun beralih bertanya pada Rangga.


"Menurut mu, dia itu seperti apa?"


"Dia siapa?" Tanya Rangga sambil menoleh pada Adam karena gak ngerti.


"Dia Rara, menurut mu Rara itu perempuan seperti apa?" Tanya Adam serius, karena sejauh ini sepertinya dia tidak tahu apa-apa tentang istrinya itu.

__ADS_1


"Menurut ku, Rara itu perempuan yang sempurna. Cantik, mengagumkan, dan luar biasa.


Anaknya baik, humoris dan penyayang. Cerdas, enak di ajak ngobrol, debat, dan tukar pendapat pun nyambung. Kalau ngomong gak pernah bersikap sok menggurui ataupun merendahkan meskipun dia tahu dan pintar.


Rara itu perempuan yang tangguh, pekerjaan keras dan tidak mudah menyerah. Apa yang menjadi tanggung jawabnya akan di selesaikan sebagai mana mestinya meskipun itu sulit.


Tidak suka melihat ketidak adilan, karena itu jika di tindas dia akan melawan. Jika dia suka maka akan bilang suka tapi jika tidak suka ya dia akan jujur.


Ucapnya bisa di Pengan dan di andalkan. Tidak bermulut ember dan suka membuka aib orang. Jadi jika diajak bercerita maka rahasia mu akan aman bersamanya.


Dia juga teman yang baik. Jika sekiranya dia tidak bisa memberi saran untuk mu maka dia akan menjadi pendengar terbaik mu, hingga kamu bisa merasa lega karenanya.


Orangnya tidak suka berkhianat dan menghianati. Dia tipe orang yang setiakawan dan tidak mudah berpaling, walau di depannya ada yang lebih dari segala-gala nya yang dia miliki tapi kalau sudah satu ya sudah.


Dia juga perempuan yang modis dan fashionable, gaya berpakaiannya tidak norak dan ketinggalan jaman. Selalu bisa mencocokan suasana dalam berbusana sehingga sangat jarang melihat dia salah kostum.


Apa yang dia pakai selalu tampak bagus yang berujung jadi tren diantara teman-temannya untuk mengikuti gaya dia.


Seperti halnya sekarang. Tahu akan ke pantai dia mengunakan tunik dari pada gamis. Sehingga tidak menggangu aktifitas dia bermain air. Celana yang di gunakan juga model celana karet yang tebal, sehingga bisa menyamarkan kaki jenjangnya, sedangkan jika sekali tarik ke atas tidak akan turun lagi dan tidak akan menganggu aktivitas bermain. Hijab yang dia kenakan juga begitu sangat pas. Saat yang lain mengunakan hijab yang besar, dia akan mengunakan hijab lilitan dan memasukkannya kedalam baju, agar tidak berkibar-kibar terbawa angin.


Meskipun dia itu cantik tapi Rara tidak sombong atau songong dan dia juga suka memaafkan.


Perempuan seperti itu sangat jarang. Jika pun ada lagi akan sulit di temukan. Belum lagi peminatnya lebih banyak ketimbang stok yang ada.


Karena dia sosok wanita yang paling sempurna yang pernah aku kenal. Karena itu bersyukur lah mas Adam bisa memiliki Rara, wanita paling sepesial diantara yang sepesial."


Adam menatap ke arah sang adik yang sedang bercerita dengan pandangan terpesona pada Rara ditambah Kata-kata Rangga yang seolah begitu sangat mengenal Rara membuat Adam curiga, takut terjadi apa-apa terhadap adik dan istrinya.


Tapi, buru-buru Adam menepis perasaan itu, mengingat Rara dan Rangga dulu kuliah di kampus yang sama tentu saja mereka bisa kenal dan akrab. Karena Rangga adalah kakak tingkat Rara kala itu, ditambah mereka berdua pernah beberapa kali bergabung dalam UKM yang sama, jadi wajar bagi Adam jika Rangga mengenali Rara sedemikian rupa, dengan begitu sangat baik.


Lalu untuk apa dia cemburu, karena nyatanya orang satu rumah juga tahu kalau Rangga masih menyimpan perasaan pada sang mantan pacar, sama halnya ada yang masih mencintai Maelin.


Obrolan mereka terhenti saat teman-teman Rara kembali menghampiri Adam untuk mengambil titipannya. Berhubung hari mulai sore maka mereka hendak mandi dan berganti baju setelan basah-basahan bermain ombak.


Begitu pun Rara dan Ali. Rara memandikan Ali terlebih dahulu sambil menunggu Adam pergi membeli baju ganti untuk putranya.


Setelah semua selesai mandi dan tapi kembali, rombongan team SMA Nusantara di tambah Adam dan Rangga, duduk lesehan di tepi pantai, menyaksikan sunrise sambil minum dan makan cemilan bersama-sama. Rombongan kembali ke hotel saat sudah makan malam di Parangtritis.


****


Karena sekarang hari Senin tolong beri vote untuk Rara ya!


Biar demam updatenya!

__ADS_1


__ADS_2