Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 131. Rencana Menghilangkan


__ADS_3

"Kapan datang ke Indonesia? Kenapa gak kasih kabar?" Tanya Rara sambil menatap Elisa yang duduk sebelahnya.


"Belum lama, baru dua bulan yang lalu. Aku gak ngasih kabar karena masih bingung mau tinggal dimana? Di Jakarta atau di Riau."


"Terus sekarang? Udah yakin mau tinggal di Riau?"


"Hem, paling gak di Riau ada kamu sahabatku. Ada nenek sama kakek juga. Lagi pula untuk aku yang baru mulai berhijab bukankah Riau pilihan yang baik. Karena kampung Melayu, jadi sebagai besar penduduknya berjilbab, jadi bisa memotivasi aku untuk tidak melepaskannya. Kulihat dimana-mana prempuan Riau berhijab."


Rara mengangguk, "Memang hijab jadi budaya di Riau. Meski begitu semoga hijab kita bukan karena budaya semata melainkan karena amanah dan ibadah tulus dari hati."


"Amin."


"Memang kapan kamu mulai berjilbab?"


"Baru dua bulan lalu. Sebenarnya keinginan untuk berjilbab sudah lama, tapi saat di Roma aku merasa tidak leluasa jika tinggal disana dan memakai hijab. Jadi pas aku sampaikan niatku pada bang Anders dia setuju, mendukung banget kalau aku berhijab. Makanya kita pulang ke Indonesia," jelas Lisa.


"Aku cantik tidak kalau pakai hijab?" Tanya Lisa sambil merapikan hijabnya yang sudah rapi.


Rara mengacungkan dua jempol tangannya, "mantap deh. Jadi lebih cantik dan anggun. Aku saja sampai pangling sama kamu, aku pikir bintang model," puji Rara.


"Berlebihan deh," Elisa memukul lengan sahabatnya, meski begitu pipinya merah, tersipu mulu.


"Aku berhijab karena kamu loh," jujur Elisa.


"Ah masa?" Rara tidak percaya.


"Hem, karena aku lihat foto-foto kamu yang tampak cantik saat berjilbab ketimbang dulu waktu SMA jadi aku ingin ngikutin jejak kamu."


Rara tertawa mendengar penuturan Elisa yang berhijab gara-gara dirinya. Sedangkan Elisa yang tidak terima di tertawakan balas menggelitiki pinggang Rara sampai tertawa terpingkal-pingkal.


Obrolan mereka berlanjut hingga ke suami, anak dan rumah tangga masing-masing yang berujung pada masalah rumah tangga Rara dan pertengkarannya dengan Adam.


"Egois sekali suami mu Ra," komentar Eli, "kalau gitu sementara kamu tinggal disini saja, gak usah pulang. Kita lihat gimana reaksi dia saat melihat kamu gak ada di rumah. Pusing gak dia?"


"Terus anak ku gimana? Aku gak pernah pisah lama dari dia?" Tanya Rara dengan wajah sedih.


"Kalau dia perduli sama kamu dan anak mu, dia pasti akan mencari mu dan membujuk mu untuk pulang apa pun yang terjadi. Tapi kalau dia memang tidak perduli dengan Ali, terlebih dengan kamu kita ambil Ali, kita culik dia biar Ali bersama kamu. Untuk sekarang kita tunggu saja bagaimana reaksi suami mu."


Rara setuju dengan usul Elisa. Mungkin memang dia harus menghilang beberapa saat untuk mengetahui apakah suaminya perduli atau tidak.


Obrolan mereka terhenti saat asisten rumah tangga mengabarkan jika makan siang telah disiapkan.


"Kita makan dulu yok Ra! Kamu cobain masakan mbak Dina, kepala koki milik ku, enak atau tidak?"


Pinta Elisa sambil meraih tangan sahabatnya membantunya untuk berdiri.


"Suami mu? Apa dia tidak ikut makan bersama? Apa kita tidak menunggunya?" Tanya Rara saat sudah berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Dia tadi telpon katanya tidak bisa makan siang di rumah. Jadi kita makan berdua."


Keduanya berjalan menuju ruang makan beriringan.


Rara menarik kursi tepat di hadapan Lisa. Di atas meja sudah tersaji berbagai macam Nemu khas Indonesia. Mungkin sang tuan rumah rindu dengan masakan Nusantara yang kaya akan rempah-rempah. Keduanya sibuk mengambil nasi dan lauk berganti, meski begitu mulut mereka tak berhenti ngobrol, bahkan saling menggoda satu sama lain.


Saat keduanya hendak memasukkan sendok ke mulut masing-masing, terdengar suara seseorang mengucapkan salam dari pintu depan yang tak seberapa lama di susul oleh pria bule masuk ruang makan.


Elisa menghentikan supaya, meletakkan sendoknya kembali, kemudian berdiri, berjalan menghampiri sang suami. Mengambil tas dan jas kerja dari tangan Andres lalu mencium tangan pria itu, sebagai balasannya Andres mencium kening dan mengecup bibir istrinya.


Rara yang melihat merasa malu juga pengen melihat kemesraan pasangan suami istri di depannya. Malu karena harus melihat adegan mesum, pengen karena Adam tidak pernah memperlakukan seperti itu.


Keduanya kembali ke meja makan. Anderson menarik kursi di sebelah istrinya, sedang Elisa menaruh tas dan jas kerja suaminya di kursi satunya lagi yang akan di simpan ke kamar nanti setelah selesai makan.


Sedangkan tangan nya mulai sibuk mengambil nasi dan lauk-pauk untuk suami, sebelum menyodorkan piring penuh makanan pada Andres.


"Bang kenalkan ini Rara, sahabat aku." Lisa menunjuk Rara mengenalkan pada Andres.


"Hallo, salam kenal. Saya Anderson Paulsen, suami Elisa." Andres mengulurkan tangannya pada Rara, menyebrangi meja makan.


"Rara, Safira Zahra Putri. Tapi biasa di panggil Rara." Rara menjabat tangan besar dan hangat itu, "salam kenal juga."


Kemudian ketiganya kembali duduk ke kursi masing-masing dan lanjut makan.


"Bang, Rara mau tinggal di sini selama Abang ke Roma. Tidak apa-apa kan? Biar bisa jadi teman aku selama Abang pergi?"


Kemudian Eli menjelaskan masalah Rara dengan Adam pada Anders, serta niat mereka berdua untuk memberi pelajaran pada Adam.


"Sebenarnya saya kurang setuju dengan prempuan yang kalau berantem suami istri dia pergi dari rumah. Biaknya prempuan tetap stay in home selama pertengkaran itu bukan KDRT, biarlah laki-laki yang pergi dari rumah itu. Karena perempuan pasti malu kalau dia setelah pergi dan balik lagi ke rumah suaminya dengan sendirinya, tanpa dicari atau di jemput dulu.


Itu kalau suaminya pengertian, bagaimana kalau suaminya cuek dan tidak peka, mungkin cenderung brengsek. Saat tahu istrinya pergi dari rumah bukan dicari malah nikah lagi. Saat hal itu terjadi tentu wanita tidak bisa menuntut atau menyalahkan sang suami, Karena itu semua kesalahan dia sendiri yang pergi meninggalkan rumah, anak dan suami, sehingga suami berfikir istri tidak mau lagi bersamanya," ucap Anders.


"Lagi pula jika tinggal disini tanpa izin suami, bisa saya yang di tuntut, di tuduh menyembunyikan istri orang. Saya bisa di penjara," lanjut Anders lagi.


Mendengar nasehat Anderson yang sepenuhnya benar, Rara terdiam, tertunduk malu, merasa apa yang di lakukan memang salah, harusnya dia tidak minggat dari rumah. Bahkan Ratna sendiri juga kerap menasehatinya seperti itu, semarah dan sedongkol apa pun Rara sama Adam jangan sampai dia pergi dari rumah karena nanti jadi tuman, kebiasaan setiap berantem selalu minggat dan itu tidak baik.


Selama Adam tidak main tangan maka Rara tidak boleh kabur, selesaikan masalah yang ada dengan baik-baik bukan dengan pergi dari rumah.


Rara kembali menutup mulutnya yang suka terbuka saat mendengar suara Elisa, niatnya untuk memberitahu sahabatnya bahwa dia tidak jadi menginap diurungkan.


"Lalu bagaimana bang? Rara gak boleh tinggal disini?" Elisa memasang wajah cemberut, membuat Anders mengelengkan kepalanya pelan, melihat tingkah istrinya yang tukang paksa kalau sudah ada mau. Apalagi Lisa dan Rara suatu lama tidak bertemu, tentu keduanya ingin menghabiskan waktu bersama untuk mengenang masa-masa indah mereka berdua.


"Boleh. Abang tidak mungkin melarang kalian berdua bersenang-senang," Anders menatap Elisa dan Rara bergantian, "terlebih abang juga mau pergi." Pria itu mengelus kepala istrinya penuh sayang.


Elisa tersenyum lebar, "makasih sayang," ucap sahabat Rara sambil mencium pipi suaminya. Kemudian nyengir, menatap Rara, membuat Rara berdecak kesal pada Elisa.


Dasar Eli, pamer kemesraan di depan orang lain, omel Rara dalam hati.

__ADS_1


Meski begitu Rara bersyukur kehidupan rumah tangga sahabatnya bahagia dan baik-baik saja. Rara bersyukur karena Eli punya suami yang baik dan mencintai dia setulus hati, tidak seperti suami-istri dalam novel yang biasa Rara baca, para suami yang menikah lagi saat pernikahannya dengan istri pertama belum Memperoleh keturunan. Pernah Elisa dan Anderson sudah hampir sepuluh tahun, karena Eli menikah dua tahun lebih dulu ketimbang Rara, dan hingga detik ini juga mereka belum punya momongan. Beberapa kali Eli mengalami ke gugurnya akibat kandungannya yang lemah. Dan dua kali program bayi tabung juga gagal. Sekarang mereka pulang ke Indonesia, selain karena hijab, mereka berdua juga ingin program bayi dengan cara menggabungkan antara alternatif dan kedokteran, siapa tahu berhasil.


Selesai makan siang, Elisa mengantarkan Rara ke kamar tamu yang sudah di siapkan oleh PRT Elisa supaya Rara bisa istirahat tidur siang, sedangkan Elisa dan suaminya naik ke lantai dua dimana kamar mereka berada.


Berhubung Rara tidak biasa tidur siang, maka dia memilih jalan-jalan di halaman belakang rumah yang penuh dengan pepohonan juga aneka bung, mencari angin disana.


Tidak disangka ternyata aksi Rara duduk di gazebo terlihat dari kamar Elisa, membuat sahabatnya itu kembali turun dan menyusul Rara di belakang rumah.


"Tidak tidur?" Tanya prempuan berhijab peace itu sambil membawa nampan berisi es teh dan setoples kecil cemilan.


"Aku tidak biasa tidur siang. Jadi tidak ngantuk. Kamu tidak tidur?" Rara balik bertanya.


"Aku juga tidak biasa tidur siang. Maklum pekerjaan keras. Jadi waktu istirahat cuma bentar," jawab Elisa, disambung tawa di akhir kalimatnya.


Rara mengangguk setuju dengan Elisa. Mereka berdua memang para wanita karir. Rara pulang kerja jam 3 sampai rumah sudah sore, tak sempat lagi tidur siang. Sedangkan Elisa kerja di rumah sakit, dari pagi sampai sore, tidak sempat juga tidur siang.


"Ya udah deh, kita ngobrol aja. Bahas mau kemana aja kita seminggu besok," tutur Elisa.


"Bagaimana jika kalian berdua liburan saja? Bukankah kalian belum Pernah liburan berdua?" Kata seorang pria yang berjalan santai ke arah mereka. Keduanya tangannya tersimpan dikantong celana, membuat penampilannya semakin terlihat menawan di mata Rara. Astaghfirullah kenapa kamu kagum sama suami orang Ra, inget ada laki di rumah.


"Aku setuju," jawab Elisa cepat.


Rara menatap Anders dan Elisa berganti.


"Gimana Ra? Kamu setuju gak kalau kita liburan bareng."


"Tapi aku harus kerja."


"Izin aja sama kepala sekolah dulu. Masa gak boleh? Ayo lah Ra?" Elisa merengek-rengek di bahu Rara sambil menggoyang-goyang lengan sahabatnya supaya setuju.


"Kalau selama seminggu ini kita jalan-jalan disini saja kan bisa ketahuan sama suami mu, mending kita jalan-jalan di luar saja, biar bebas."


Rara terdiam, dia ragu.


Melihat keraguan Dimata Rara, Elisa semakin semangat untuk menyakinkan sahabatnya dengan berbagai macam kata manis juga kelicikan agar istri ada mau pergi. Salah satunya adalah cara supaya Adam tidak mudah menemukan Rara.


"Memang kita mau liburan kemana?" Tanya Rara akhirnya luluh juga.


"Ke Bali," Jawab Elisa mantap, "keluarga suamiku punya vila di Bali, jadi kita bisa tinggal disana selama liburan."


Sesuai rencana Elisa tadi, Rara menyimpan mobilnya di rumah Eli selama mereka pergi. Elisa juga memerintahkan seluruh asisten rumah tangga, tukang kebun, supir dan satpam di rumahnya untuk libur selama seminggu, tanpa harus kuatir potong gaji bahkan tuan rumah memberi amplop berisi uang transpor dan untuk saku kepada para pekerja, supaya saat Adam datang ke rumah menemukan orang dan menganggap jika rumah Mereka kosong tak berpenghuni.


Setelah mempersiapkan semua keperluan Anderson untuk ke Italia. Mereka bertiga pergi ke Bandara bersama-sama dengan taksi, karena penerbangan mereka dari Pekanbaru ke Jakarta masih satu pesawat, mereka berpisah nanti saat sudah transit di Jakarta. Rara dan Elisa lanjut ke Bali, sedang Anderson menuju penerbangan internasional ke Italia.


****


Jangan lupa kasih bunga dan vote ya

__ADS_1


__ADS_2