Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 76. Tetap Sabar


__ADS_3

Adam merawat Rara dengan sangat baik, sebagian saat Rara merawatnya setiap kali Adam sakit. Menyuapi, menyilangkan obat, mengelap tubuhnya dengan air hangat, mengantikan baju, malah sedikit lebay karena Adam mengendongnya ketika Rara hendak pergi ke kamar mandi.


Meski Rara selalu menolak dan bersikap dingin dengan semua kebaikan yang Adam lakukan, tapi pria itu tidak perduli. Tekatnya sudah bulat untuk memulai semuanya dari awal.


Karena saat mendengar pengakuan Rara malam itu, dia sadar jika membuka hati untuk mencintai orang lain saat di hati kita masih ada orang yang kita cintai itu sulit, namun melihat Rara yang berhasil menyingkirkan sang mantan dan mencintai Adam membuat dia akan melakukan hal yang sama.


Adam ingin membuka hatinya untuk Rara. Menyingkirkan nama Maelin dan mengusirnya dengan Rara, meski dia tahu entah berhasil atau tidak namun Adam perlu mencoba dulu, dengan cara melakukan pendekatan pada Rara untuk menumbuhkan rasa cinta di hatinya pada sang istri.


Adam memang merasa hidupnya terasa hambar. Bagai sayur tanpa garam, karena tidak lagi ada sentuhan mesra dari seorang Rara. Istri nya itu seolah mogok ngomong sama Adam. Kalau gak di tanya dulu bakal bicara. Kalaupun ngomong juga gak jauh dari iya dan tidak saja. Tidak ada yang lebih panjang dari itu.


Namun sikap dingin Rara akan berubah jadi hangat ketika Ali bersama mereka, karena tampilan Rara tidak ingin menunjukkan pertengkarannya di depan Ali. Hal itu yang membuat Adam sayang bersyukur dengan adanya Ali di antara mereka. Seenggaknya putranya itu bisa menjadi jembatan penghubung antara dia dan Rara. Sehingga membuat ada berfikir licik untuk melakukan sesuatu hal yang berhubungan dengan Rara setiap di depan Ali supaya istrinya tidak menolak.


Seperti halnya malam ini saat Adam menyuapi Rara makan malam.


Sebelumnya tadi sehabis sholat magrib Adam hendak menyuapi Rara makan malam, tapi istri menolak tidak mau. Akhirnya Adam memilih menunggu Ali pulang ngaji baru menyuapi Rara.


Sebelum melaksanakan tugasnya sebagai siaga tak lupa Adam meminta Ali yang hendak belajar mewarnai duduk di ruang keluarga, menemani Rara makan malam. Tentu saja permintaan Adam di sambut bahagia oleh sang anak.


Rara tambahan cemberut saat tangannya yang hendak mengambil piring dari tangan Adam di tepuk pelan oleh pria itu.


"Biar aku saja," tolak Adam.


"Kenapa sih kamu harus lebai seperti ini, aku kan bisa makan sendiri!" Omel Rara yang tidak suka dengan perbuatannya sok manis Adam.


"Jangan kamu pikir dengan berbuat manis seperti ini aku akan memaafkan semua kesalahanmu pada ku."


Tidak menanggapi omongan Rara, Adam memilih menyendok nasi dari piring.


"Aaagggg....!"


Adam menyodok sendok ke mulut Rara. Membuat wanita yang merucutkan bibir itu terlihat kesal setengah mati, tapi tidak bisa protes karena ada Ali di dekat mereka.


Setelah selesai makan dengan menghabiskan satu piring nasi, Adam menyiapkan obat untuk Rara, seperti biasa.


****


Setelah demam selama beberapa hari kini keadaan Rara sudah jauh lebih baik ketimbang beberapa hari lalu. Dan hari ini Rara berencana untuk pergi ke sekolah ketimbang di rumah suntuk melihat wajah Adam terus-menerus.


Dulu dia senang bukan kepalang kalau Adam pulang ke rumah dan berharap suaminya bisa berlama-lama tinggal bersama mereka, tapi kini tidak lagi. Empat hari berturut-turut memiliki wajah ganteng Adam membuat Rara mual hingga memilih cepat sehat supaya bisa lekas beraktivitas keluar rumah sehingga tidak melihat wajah Adam.


Rara juga bingung, kenapa Adam bisa libur selama ini. Padahal biasanya di rumah sehari saja sudah sibuk mau balik ke apartemen dengan berbagai alasan, yang membuat Rara muak dengan pria itu.


"Kamu mau kemana?" Tanya Adam saat melihat memakai jilbab di depan cermin meja riasnya.


Rara diam tak menjawab.


"Ra!" Panggil Adam lagi.


"Ck," mencebikkan bibir.


"Di tanya suami kok jawabnya gitu."


"Gak lihat aku pakai baju apa? Masih juga tanya," judes Rara, sambil menyematkan jarum pentul di ujung kepalanya.


"Kamu kan masih sakit? Jangan kerja dulu! Lagipula aku sudah minta izin pada pak Burhan untuk kamu liburan beberapa hari kok. Dia juga setuju."


Rara memutar bola matanya malas mendengar ocehan Adam yang membuat paginya jadi bad mood.


Sebelum suaminya ngoceh lagi, buru-buru Rara keluar dari kamar menghapiri Ali yang sudah menunggunya.


Tapi saat Rara berbalik pergi, cepat Adam menahan tangan prempuan itu hingga langka Rara terhenti.


"Apaan sih!" Ketua Rara sambil menghentakkan tangganya hingga genggaman Adam terlepas.


"Jangan pergi!"


"Apaan sih kamu? Kalau kamu gak kerja ya udah terserah itu urusan kamu, tapi jangan larangan aku untuk memulai aktivitas aku sendiri."


"Tapi kan aku suami kamu Ra?"


"Udah ah, bawel. Daripada kamu cerewet dan nyinyir gitu mending sana balik ke apartemen kamu sana. Gak usah pulang ke rumah. Aku muak lihat wajah kamu itu.


Jujur Rara, langsung keluar kamar meninggalkan Adam yang mematung karena ucapan Rara.


Meski semenjak pertengkaran mereka sikap Rara tidak pernah manis, tapi istrinya tidak pernah mengusirnya dari rumah ini, apalagi sampai mengatakan muak melihat Adam segala. Membuat pria itu sakit hati bukan kepalang.


Belum sepuluh menit Rara keluar kamar, mama Ali sudah kembali lagi ke hadapan Adam.

__ADS_1


"Ada apa? Apa ada yang ketinggalan?" Tanya pria yang belum pindah dari posisi dia berdiri.


Rara cuma melirik Adam sekilas. Lalu mengambil kunci motor dari meja rias dan kembali lagi melewati Adam seolah tidak melihat. Membuat pria itu semakin geram karena merasa tak di butuhkan lagi.


Adam menyusul langka Rara yang sedang menuruni tangga.


"Aku anter kamu," ujarnya sambil merebut kunci motor dari tangan Rara lalu berjalan mendahului prempuan itu.


****


Adam sudah lama tidak naik motor. Rasanya tangannya kaku sekali, kagok dan gak nyaman. Meski begitu dia memadai diri mengunakan kendaraan roda dua itu demi Rara dan Ali.


Entah sudah seberapa lama dia tidak pergi bersama dengan sepeda motor gini, Adam juga sudah lupa kapan terakhir kali Rara memeluknya dari belakang. Karena sejauh ini jika mereka pergi selalu menggunakan mobil.


Rasanya asik juga berkendara seperti ini, dimana ada Rara sang istri duduk di belakang dan Ali putranya di depan. Bermandikan cahaya matahari pagi dipadu dengan semilirnya angin saat motor Mereke berjalan pelan menuju sekolah Ali berada.


"Papa! Papa tahu, di alun-alun depan kantor camat sana kalau malam rame loh. Banyak anak-anak main sepatu roda," Ali yang berdiri di bagian depan motor Vario Rara menolehkan kepalanya ke belakang guna menatap wajah Adam.


"Kita kapan main kesana pa? Main sepatu roda. Seperti Azmi dan ayahnya, kalau malam suka main sepatu roda disana. Kan sekarang mama sudah tidak sakit lagi?"


"Nanti malam kita main ke sana. Kita main sepatu roda sampai puas."


"Mama juga kan pa? Kita main sepatu roda bertiga?"


"Tentu saja dong sayang. Kita nanti main bertiga dengan mama. Iyakan ma?" Tanya Adam pada Rara yang sedari tadi hanya diam saja.


"Iya sayang nanti malam kita main bersama," jawab Rara sambil tangannya mengelus kepala Ali yang ada di depan dada Adam.


Adam terseyum bahagia mendengar jawaban sang istri.


"Memang papa bisa main sepatu roda?" Tanya Ali lagi.


"Bisa dong. Papa kan serba bisa," sombong Adam.


Rara yang ada di belakang mencibir sifat arogan sang suami, sedang Ali yang ada di depan terseyum seraya mengacungkan jempol tangannya.


"Wah papa hebat. Nanti Ali ajarin ya pa?"


"Ok sayang. Nanti papa ajarin biar anak papa bisa hebat."


Ali anaknya memang muda bergaul dan akrab dengan siapa saja, hal itu juga yang memusuhi Adam untuk mendekatkan anak. Dengan menurut semua kemauan Ali sekarang bocah itu sudah luluh dengan pesona Adam.


"Tapi aku belum punya sepatu roda loh pa."


"Gak masalah sayang. Nanti pulang sekolah kita bisa beli sepatu roda buat kamu dan mama biar kita bisa main bareng."


"Jadi nanti yang jemput aku pun sekolah papa lagi?"


Tanya Ali antusias.


"Tentu dong. Selama papa di rumah yang antar jemput Ali dan mama ke sekolah adalah papa."


"Asik....!"


Girang Ali dengan senyum bahagia tercetak jelas di wajah Ali, begitu pun dengan wajah Adam yang ikut tersenyum bahagia.


Sifat manusia memang serakah. Saat sudah mendapatkan apa yang dia mau tetap saja merasa kurang dan ingin lebih.


Sambil mendengarkan celotehan Ali selama perjalanan menuju ke sekolah. Tangan sebelah Adam merayap ke belakang, mencari tangan Rara yang bertumbuh pada pangkuan.


Mengambil jemari lentik itu dan menarik melingkar pinggangnya. Adam ingin Rara memeluknya dari belakang seperti halnya pasangan-pasangan yang lain. Namun sayang bukan pelukan yang dia dapat tapi malah pukulan dan cubitan pada tangan Adam. Membuat pria itu meringis karena sakit.


Dasar istri gak peka. Di ajak romantis malah nyubit, protes Adam dalam hati.


"Dasar tangan gratil. Nyetir aja yang bener. Gak usah aneh-aneh," omel Rara pelan, tapi dapat di dengar jelas oleh Adam karena posisi mulut Rara yang tepat di belakang telinga Adam. Apalagi pagi itu dia memang sengaja tidak menguntungkan helm, karena mereka lewat jalan kampung, bukan jalur lintas.


Sengaja Adam memilih jalur memutar yang agak jauh supaya lebih lama saat duduk bersampingan dengan Rara begini. Hahaha modus Adam lagi.


Setelah mengantar Ali ke sekolah barulah Adam mengatur Rara ke tempat kerja sang istri.


"Pegang ya Ra, mas mau ngebut biar kamu gak telat!" Pinta Adam.


No respon dari Rara.


Merasa tak ada tanggapan dari sang istri, Adam pun menarik kedua tangan Rara untuk melingkari pinggangnya. Memeluk dirinya dari belakang.


Tapi saat kedua tangan Rara sudah bertemu di depan perut Adam, cepat Rara menarik tangannya, seolah gak Sudi menyentuhnya tubuh Adam.

__ADS_1


Tapi pria tinggi atletis dan tanpa itu tidak kehilangan akal untuk melancarkan aksinya.


Adam memutar gas motor secara tiba-tiba, yang membuat Rara terlonjak kaget.


"Mas!"


Pekik prempuan itu. Refleks Rara memeluk pinggang Adam dari belakang, karena dia hampir jatuh. Adam tergelak mendengarnya, membuat Rara yang sadar di kerjain Adam mencubit pinggang Adam hingga pria itu mengaduh sakit.


Adam kembali menarik tangan Rara, kedepan perutnya dan mengunci jemari lentik itu dengan sebelah tangan yang nganggur. Menguap punggung tangan Rara, sesekali tangannya Adam menggegam jemari lentik itu dan mengecupnya.


"Kamu tahu Ra, kalau kita bonceng kayak gini tuh rasanya romantis banget. Aku jadi pengen muter-muter kabupaten pakai motor sambil kamu peluk aku dari belakang gini ketimbang mengatakan kamu kerja," jujur Adam yang entah kapan merasa apa yang dia lakukan sekarang adalah suatu hal yang sangat membahagiakan bagi hati.


"Bisa bersama berdua sama kamu, pelukan sama kamu. Itu membuat aku benar-benar bahagia. Meski sadar aku terlambat menyadarinya. Kamu mau kan memulai semuanya dari awal lagi?"


Rara menarik nafas berat.


"Aku janji akan selalu bahagiakan kamu dan mencintai mu."


"Mas!"


"Beri aku sedikit waktu untuk membuktikan semua itu."


Entah kenapa Rara merasa apa yang di ucapkan oleh Adam bukan suatu kebohongan. Tapi melupakan semua itu begitu saja juga terlalu sulit untuk Rara.


"Beri aku waktu."


Adam terseyum, "aku akan memberikan waktu bersama dengan kebersamaan kita. Jangan menghindari ku. Berdiri saja kamu di tempat mu sekarang dan biarkan aku yang menghampiri mu lebih dulu. Ok sayang?"


Rara mengaguk setuju.


Adam yang melihat gerakan Rara dari kaca spion pun tersedia lega.


"Tapi aku gak janji," jawab Rara tiba-tiba, membuat senyum di wajah Adam hilang seketika, membuat Adam memutar gasnya kencang.


Hingga Rara menjerit ketakutan, hingga refleks dia memejamkan mata dan memeluk Adam erat.


"Mas jangan gila, aku belum mau mati!" teriaknya


"Makanya jangan main-main."


"Iya-iya."


"Janji?"


"Iya."


"Janji mau kasih aku waktu?""


"Iya."


"Gak bohong."


"Iya-iya."


Kemudian


'Ciiiitttt.'


"Mas!"


Teriak Rara sekali lagi.


"Udah sampai sayang. Kita udah di sekolah mu," Jawab Adam.


Rara membuka matanya, dan ternyata bener dia sudah berada di depan gerbang sekolah.


Rara pamit sama Adam dengan mencium punggung tangan sang suami, begitu pun Adam yang balas mencium kening Rara.


Saking asiknya kedua orang dewasa itu sampai tidak memperhatikan sekitar. Hingga,


"Cie...ibu, di cium sama suami," goda beberapa murid Rara yang melihat adegan tak senonoh sang guru.


Membuat Rara berjalan cepat menuju kantor dengan menuduhkan wajah karena malu.


*****


Berhubungan sekarang hari Senin, tolong kasih vote yang banyak untuk Rara.

__ADS_1


__ADS_2