
Waktu pun terus berlalu, setelah malam itu, hubungan Rara dan Adam kembali membaik. Tampaknya Adam benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki semua kesalahannya di masa lalu dengan menjadi lebih baik dan lebih perhatian terhadap Rara juga Ali.
Malah menurut Rara, suaminya sekarang jadi over protective. Bentar-bentar telpon sekedar untuk bertanya
kamu dimana?
Dengan siapa?
Sekarang berbuat apa?
Bagaikan lagu Wali saja, Adam bertanya ini dan itu setiap jam. Bahkan dalam sehari suaminya bisa menelpon Rara lebih dari lima kali, sekedar untuk menanyakan posisi dan aktivitas terbaru Rara.
Sampai mama Ali menyarankan suaminya untuk memasang GPS di HPnya supaya Adam tidak terus-menerus bertanya posisi dia sekarang.
Jika Rara sudah mengeluarkan mode jengkel begitu, Adam dengan tanpa bersalah akan menjawab aku kan hanya ingin lebih perhatian sama kamu, lebih perduli dan gak cuek lagi.
Ya ampun, ingin rasanya Rara membongkar isi kepala Adam guna melihat otak suaminya itu apakah letaknya geser atau tidak karena perilaku Adam yang perhatian itu terasa sangat menyebalkan bagi Rara yang sudah terbiasa bebas selama ini.
Bagaimana tidak, jika saat dia sedang istirahat dan hendak makan siang bersama teman-teman itu Adam pasti minta VC pada Rara dan sang suami akan menentukan tempat duduk untuk Rara yang sudah pasti paling pojok belakang supaya tidak ada yang melihat, yang menganggu dan tidak ada yang mendekati.
Rara hanya boleh duduk di dekat sesama perempuan, tidak boleh dekat dengan laki-laki meski itu sudah tua sekalipun, dan semenjak kejadian malam itu juga Rara tidak di izinkan menjadi panitia di setiap kegiatan sekolah jika patner kerjasama adalah laki-laki.
Satu-satunya makhluk cowok yang di izinkan dekat dengan Rara cuma Ali, papa Putra dan Rangga. Selebihnya tidak boleh. Bahkan memanggil tukang listrik atau tukang air saja mesti menunggu Adam pulang ke rumah dulu, padahal jika tidak ada Adam juga ada mbok yang bakal mengawasi Rara berinteraksi sama mereka tapi tetap saja Adam tidak percaya sama mbok jika tidak melihat dengan mata kepala sendiri.
Selain prilakunya Adam yang berubah, sikap suaminya juga berubah pada Rara. Adam menjadi lebih romantis dan lebih pengertian, tidak egois seperti kemarin.
Adam menuruti apa permintaan Rara dan Ali jika memang hal itu bisa di penuhinya. Seperti halnya saat liburan semester kemarin. Saat Rara bilang ingin menghabiskan waktu liburan sekolah dan tahun baru di rumah Ratna Adam juga tidak melarang. Dengan senang hati papa Ali mengantarkan mereka berdua ke Siak. Begitu pun dengan Adam yang pulang pergi dari rumah mertua.
Jarak Siak dan kantor Adam cuma satu jam, hal itu yang membuat papa Ali lebih memilih pulang ke rumah Ratna buat kumpul bareng anak istri ketimbang tinggal di apartemen sendirian. Bahakan saat rapat dengan klien hingga larut malam pun Adam tetap menyempatkan diri pulang ke rumah Ratna.
Dan tinggal bersama memang solusi terbaik untuk membangun hubungan rumah tangga Rara. Seperti kata Ratna, jika masalah dalam rumah tangga putrinya itu terjadi karena minus komunikasi antar dia dan Adam. Saat komunikasi berjalan lancar hubungan pun akan membaik dengan sendirinya seperti sekarang ini. Yang membuat Rara semakin senang adalah karena Adam sekarang rutin pulang ke rumah setiap week end sehingga mereka selalu menghabiskan waktu bersama.
****
"Lagi dimana Ra?"
Tanya Adam lewat telepon saat Rara baru saja keluar dari kantor. Seperti biasa jika pukul sepuluh pagi saat Rara jam istirahat pertama memang ada telpon, karena biasanya saat istirahat begini Rara tengah kumpulan bersama teman-teman guna sarapan bersama.
Tapi kali ini Rara tidak sarapan bersama para rekan gurunya, melainkan mama Ali akan menjemput putranya di TK.
"Lagi mau keluar. Aku pergi sebentar ya nanti kalau sudah sampai di tujuan aku telpon lagi."
__ADS_1
Pinta Rara kemudian menekan tombol merah pada handphonenya sebelum Adam kembali ngomel. Kemudian Rara memasukkan handphone ke dalam saku baju Pemda yang dia kenakan.
Selama dalam perjalanan dari SMA ke TK tempat Ali belajar, handphone di saku Rara tak henti-hentinya berbunyi, Adam terus saja menelpon sang istri.
Begitu motor Rara terparkir di halaman depan TK tempat di mana para ibu-ibu menjemput putra-putri mereka lekas Rara menjawab telpon dari Adam.
"Emang kamu pergi kemana?Ngapain? di luar sama siapa?" Suara Adam langsung terdengar begitu Rara mengeser tombol hijau di HP nya dan menyuarakan hallo.
Rara yang masih dengan posisi duduk di atas motor, tersenyum tatkala mendengar suara Adam yang begitu emosi.
"ini, aku sedang menunggu ke kasih hati ku keluar."
Jawab Rara enteng, tidak salah bukan jika di bilang begitu pada adam, karena sekarang dia memang sedang menunggu Ali keluar dari kelas.
Dengan sebelah tangannya memainkan anak kunci dan sebelah lagi menempelkan handphone di telinga, mata menatap ke arah gerbang sekolah Ali, mengawasi jika anaknya keluar.
"Jangan macam-macam Ra! Siapa kekasih hati yang sedang kamu tunggu sekarang? Beritahu aku?!" tanya dan perintah Adam dengan suara tegas.
"Rahasialah mas. Kalau aku kasih tahu nanti mas marah lagi sama dia,"Goda Rara lagi.
Prempuan itu menutup mulutnya dengan tangan supaya tertawa tidak terdengar oleh Adam, karena Rara yakin seratus persen saat ini wajah suaminya pasti sedang merah padam menahan amarah.
"Agak izinkan kamu ketemu sama siapa pun jika itu pria ya Ra. Kamh gak boleh ketemuan sama pria, apalagi dia kekasih hati kamu, aku gak ikhlas."
"Gimana ya mas, untuk yang satu ini aku minta maaf karena gak bisa nurut sama kamu, dan aku bersedia jadi istri durhaka untuk sekali ini."
Senyum Rara senakin lebar ketika mengucapkan itu. Kapan lagi bisa mengoda Adam yang maunya menang sendiri jika bukan sekarang.
"Kamu bener-bener deh!" Suara kesal Adam terlihat sangat jelas, "Aku jadi penasaran siapa sih kekasih hati mu yang sudah bikin kamu jadi istri pembangkang seperti itu."
"Ada deh, mas gak perlu tahu, takutnya kalau tahu nanti mas jantungan karena kelewat cemburu."
Goda Rara sambil cekikikan. Tak di perdulikan para ibu-ibu di sekelilingnya yang menatapnya aneh.
Ada yang menatap kepo, ada juga yang menatapnya sinis dan curiga. Mungkin sebentar lagi bakal timbul gosip jika Rara tengah berselingkuh dan menelponya selingkuhannya di TK saat menjemput Ali.
Karena sangat jarang pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun akan menelpon pasangan halalnya sambil tersenyum dan tertawa cekikikan dengan wajah berbinar bahagia seperti Rara sekarang.
Yang biasa terjadi adalah saat pria ataupun wanita yang sudah menikah, tapi tetep semangat dalam mengangkat telpon, apa lagi sampai tersenyum, tertawa dan bahagia itu maka telpon yang masuk bukan dari suami atau istri pasangan halal mereka melainkan dari pasang lain ataupun selingkuhan mereka. Itulah yang biasa terjadi dalam kehidupan sekeliling Rara.
Tidak puas dengan jawaban Rara yang selalu menggodanya maka Adam mematikan sambungan telpon dia dan Rara. Bukanya berhenti tapi Adam Menganti komunikasi mereka dengan video call.
__ADS_1
Rara yang melihat Ali keluar kelas tidak langsung mengangkat panggilan itu, tapi lebih memilih melambaikan tangan guna menyapa sang anak. Begitu pun juga Ali yang melihat mamanya di tempat parkir, bocah tanpa itu langsung lari menghampiri Rara dengan ke dua tangannya memegang tali tas punggung bagian depan.
Ali langsung Salim dan mencium tangan Rara begitu sampai di tempat sang ibu. Kemudian bocah itu naik di bagian depan motor matic mereka.
"Ma ada telpon tuh!" Ali memberi tahu jika handphone di kantong motor Rara berkelap-kelip menyala.
"Ambil sayang itu papa yang telpon."
Rara memberitahu, kemudian tangan bocah kecil itu terjulur mengambil HP sang mama.
"Assalamu'alaikum pa!" Sapa Ali saat melihat wajah sang papa di depannya.
"Walaikumsalam sayang. Ali ada dimana?" Tanya Adam terus terang.
"Di sekolah pa. Ali baru keluar dari kelas, sekarang mau pulang."
"Ali sama mama sekarang?"
"Iya, nih mama."
Ali sedikit mendongak layar HP-nya sehingga camera depan handphone tersebut dapat menangkap wajah Rara.
"Ada apa mas?" Tanya Rara pada sang suami dengan wajah tak berdosa.
"Kamu pergi ke sekolah Ali?"
"Iya. Mas masih penasaran dengan ke kasih hati ku?" Tanya Rara.
Kemudian Rara berbisnis pada anaknya dan Ali mengaguk menyetujui permintaan sang mama.
"Hallo papa, aku kekasih hati mama Safira Zahra Putri, apakah papa Adam pemasaran pada ku?"
Tanya Ali sambil melambaikan tangan pada Adam.
"Papa kena prank!"
Kata kedua orang itu serempak, kemudian keduanya terbahak sambil TOS merasa memang sudah dapat ngerjain Adam.
"Awas ya, pasti bakal papa balas!" Jawab Adam dengan wajah sekesal mungkin meski hatinya lega karena ternyata sang istri tidak seperti yang tadi dia pikirkan.
****
__ADS_1
Jangan lupa kasih hadiah dan Vote ya