Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 117. Karma Untuk Monica


__ADS_3

"Astaga Monica, kamu tahu kan semua itu demi kebaikan kamu sendiri. Kenapa kamu tidak dapat buat kontrol tiap saat sesuai hari yang sudah di jadwalkan."


Marcell menyugar rambutnya dengan kedua tangan. Rasanya frustrasi memikirkan apa yang terjadi pada Monica saat ini. Mendadak dia teringat dengan kejadian beberapa mint yang lalu. Kejadian antara Rara dan Monica. Dan semoga kejadian tadi tidak seperti yang Marcell pikirkan sekarang.


"Kenapa mas?" Tanya Monica yang mendadak ikut panik saat melihat wajah panik Marcell.


"Tidak apa-apa. Besok pagi mas jemput kamu oke. Kita pulang ke Yogyakarta bersamaan."


"Mas gak pulang ke Jakarta."


"Gak," Marcell mengeleng, "mas mau pulang ke Yogyakarta. Ketemu orang tua kamu."


Mendadak Monica jadi semprong, bahagia terpancar jelas dari wajahnya, "hm, aku bakal siap-siap besok. Biar mas gak kelamaan menunggu ku."


Obrolan mereka terhenti saat supir taksi memberi tahu jika mereka sudah sampai.


Marcell turun terlebih dahulu, kemudian mengulurkan tangannya membantu Monica turun dengan hati-hati. Perlakuan Marcell yang remeh temeh begini membuat Monica berbunga-bunga, tangis yang semula melanda kini berubah jadi senyum bahagia. Bagi Monica memang hanya Marcell yang bisa memerlukannya dengan baik, membuat nya seolah menjadi wanita paling sepesial di dunia ini. Bak seorang ratu yang selalu di puja. Menghujani dengan berbagai perhatian yang membuat hati Monica selalu berbunga-bunga meski lelaki itu tidak pernah mengatakan hendak menikahinya tapi perbuatan Marcell membuat Monic tenang.


Sepanjang perjalanan menuju lantai lima. Dimana kamar Monica berada, Marcell menggenggam jemari lentik gadis itu dengan erat, seoalah takut kehilangan sosoknya, membuat Monica semakin ceria saja.


"Ganti baju dan istirahatlah. Aku akan menunggu mu sampai tertidur."


Monica mengangguk setuju.


Dia mengambil satu set piayama dan membawanya ke kamar mandi untuk ganti baju sekaligus menghapus makeup nya.


Sedangkan Marcell mengamati seluruh wilayah kamar Monica. Kamar kelas standar hotel bintang empat.


Semiskin apakah Monica sekarang? Sampai menyewa kamar saja harus yang murah begini? Pikir Marcell saat memindahkan seluruh kamar Monica yang hanya ada kamar tidur ukuran king size, TV, nakas, telpon dan sebuah lemari baju kecil. Bahkan sofa pun tidak ada. Padahal selama bersama dirinya Monica selalu mendapatkan apapun dengan kualitas terbaik. Tapi kenapa putus dengannya beberapa bulan saja sudah hancur begini.


Berbagai pertanyaan muncul di benak Marcell membuat pria itu penasaran kemana larinya semua uang Monica yang dia berikan selama ini.


Marcell harus menyelidiki itu semua. Menyelidiki kenapa Monica bisa semiskin ini padahal mereka putus baru dia bulan yang lalu. Sedangkan menurut dia apa yang Monica dapat dari hubungan mereka selama ini lebih dari cukup untuk hidup mewah meski prempuan itu tidak bekerja.


Lamunan Marcell terhenti saat Monica keluar dari kamar mandi.


"Kamu sudah makan belum? Kalau belum biar aku pesankan makan dulu."

__ADS_1


"Sudah mas. Aku sudah makan tadi sebelum pergi ke pesta. Sekarang aku sudah kenyang."


"Kamu masih diet dan tidak makan malam?" Tanya Marcell lagi.


Monica mengeleng.


"Gak usah diet. Kamu sekarang jauh lebih kurus saat ketimbang bareng sama aku dulu."


Monica mengangguk.


"Kenapa butiknya bisa bangkrut?" Tanya Marcell sambil membantu Monica naik ke ranjang, menutup tubuh prempuan itu dengan selimut.


"Semua uang ku di bawa kabur sama manajer ku mas. Jadi aku gak bisa belanja lagi. Dan aku gak tahu dia pergi kemana? Sudah aku suruh orang mencarinya tapi gak ketemu sampai sekarang."


"Berapa banyak yang dia bawa pergi."


"Semuanya. Lima belas milyar. Yang tersisa hanya barang belanjaan yang gak seberapa. Mungkin tidak lebih dari seratus juta. Aku gak tahu harus Gimana?"


Mata Monica kembali mengembun saat menceritakan semua itu.


Marcell tahu Monica sangat percaya dengan manajernya yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri, dan dia juga mungkin tidak menyangka jika orang yang di sangka baik ternyata menusuk dia dari belakang. Merampoknya saat dirinya lengah.


Marcell pun jadi tidak tega melihatnya, "nanti mas bantu buat cari dia. Jangan terlalu di pikiran, nanti kamu bisa setres."


Lagi-lagi Monica mengangguk.


"Tidurlah sekarang sudah malam."


"Mas temani aku ya!"


Marcell meng iya kan permintaan Monica. Dia membiarkan prempuan itu memeluk sebelah tangannya di dada sebagai teman tidur. Sedangkan tangan Marcel yang bebas dia gunakan untuk menepuk-nepuk bahu sang mantan.


Setelah Monica tertidur lelap, napasnya juga sudah mulai teratur, barulah Marcell beranjak pergi dari sana dan kembali ke hotel tempat dia menginap.


Sebelum kembali ke kamar, Marcell pergi dulu ke ruang pengawas untuk melihat kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu.


****

__ADS_1


Pukul 07.00 pagi Marcell datang ke hotel tempat Monica nginap. disana Monica sudah berberes dan dia tengah duduk di tepi ranjang sambil bermain handphone menunggu Marcell datang.


"Sudah sarapan?" Tanya Marcell sambil mengelus ujung kepala Monica, membuat prempuan itu mendongak menatap Marcell yang berdiri di sebelahnya sambil mengeleng, "belum."


"Makan dulu yuk! Kita makan di kopi shop bawah dulu, habis itu baru cek out," tukas Marcell memberitahu.


Monica mengangguk setuju.


Marcell yang tahu Monica sedang dalam kondisi tidak sehat pun mengandeng prempuan itu mengajaknya keluar. Beruntung Monica bertemu Marcell tadi malam. Pria itu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Monica seandainya dirinya tidak datang di acar Kan Petra.


Apakah Monica akan melemparkan dirinya ke jalanan yang penuh dengan mobil untuk menarik perhatian orang-orang seperti yang selama ini dikhawatirkan atau sesuatu yang lebih ekstrim daripada itu. Nyatanya sekarang mantannya juga hanya bicara saat di sapa, tidak cerewet seperti biasanya. Membuat Marcell menjadi prihatin dengan keadaan sang mantan.


Monica yang di perlukan manis dan lembut oleh Marcell meringis dan tersenyum manis, menunjukkan sikap manjanya layaknya anak kecil yang ingin di manja dan di perhatikan oleh sang ayah. Marcell yang sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu menghadapi dengan sabar semua perlakuan Monica.


"Mau makan apa?" Tanya Marcell saat mereka berdua sudah duduk di sebuah meja yang dekat dengan jendela.


"Apa saja, yang penting aku makan di suapin sama mas ya?" Pinta Monica dengan manja.


Marcell mengangguk setuju.


Monica pun senang bukan kepalang saat Marcell mengikuti kemauannya. Rasanya hatinya tidak kosong lagi, hidupnya tidak hampa lagi, dia tidak sendirian lagi, tidak kesepian lagi. Monica benar-benar bahagia.


Selesai makan, Marcell kembali ke lantai lima untuk mengambil koper Monica yang masih tertinggi di kamar, sedangkan prempuan itu sendiri, diminta menunggunya di lobby.


Setelah melakukan aktifitas cek out, mereka langsung ke bandara dimana pesawat pribadi Marcell sudah menunggu di landasan pacu, untuk melakukan penerbangan ke Yogyakarta.


"Beneran kita gak ke Jakarta dulu? Langsung ke Yogya buat ketemu keluarga ku?" Tanya Monic meyakinkan diri sendiri.


"Hm, langsung ke Yogya saja. Aku sudah bilang sama pilotnya semalam."


"Hm."


Monica duduk di sebelah Marcell dan memakai sabuk pengaman, setelah copailot memberi tahu jika mereka akan lepas landas.


Terbulensi pesawat membuat Monica seketika mual dan pusing, membuat Marcell lekas mendekap dan memeluk prempuan itu supaya nyaman dan tidak muntah.


"Heran deh, padahal sudah diajak naik pesawat berpuluh-puluhan kali juga kalau terbulensi tetep saja mabuk."

__ADS_1


Monica menyeringai, memamerkan gigi putihnya dalam dekapan Marcell yang mengubah mualnya menjadi ngantuk karena aroma musk yang menguar dari tubuh pria itu membuat dia rileks dan nyaman hingga rasanya ingin terpejam saja. Marcell yang benar-benar memanjakan Monica membiarkan prempuan itu berbuat semuanya yang penting seneng dan tidak muntah-muntah lantaran mabuk.


****


__ADS_2