
"Aku ingin cerai!"
Kata-kata Rara membuat Adam bagai di sambar petir, dia kaget juga shock dan tidak percaya.
"Aku tidak mau!" Tolak Adam tegas.
Suaranya berubah jadi tinggi, pria itu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau cerai," ujarnya jujur.
Rara menatap Adam tidak mengerti apa mau pria itu. Kenapa setelah semua sakit dan penghianat yang dia lakukan sekarang dia tidak mau cerai. Bukankah lebih bagus kalau mereka berpisah supaya Adam bisa leluasa mencintai Maelin ataupun siapa saja yang pria itu suka, pikir Rara.
"Kenapa?"
"Karena kamu istri ku."
Mendengar kata-kata Adam membuat air mata Rara turun kembali.
"Aku tidak mau lagi menjadi istri mu mas. Carikan saja aku," ujar rara.
Rara bangkit dari jongkoknya. Membalik badan untuk melangkah pergi meninggalkan Adam.
Namun baru satu langkah Adam menarik tangan Rara hingga tubuhnya membentur dada berotot Adam.
Adam menangkup kedua pipi Rara dan mengangkat wajah itu hingga mata mereka saling bertemu dan mengunci.
"Tidak perduli apa yang ku rasakan. Tidak perduli ada cinta atau tidak di hati ku. Yang jelas dan pasti hanya kamu istri ku. Tidak ada yang lain."
Mendengar kata-kata Adam tidak membuat Rara bangga tapi malah semakin jijik dan kesal pada pria itu.
"Lepas!" Rara menghempaskan tangan Adam dari pipinya dengan kasar.
"Gak usah mimpi untuk milik aku lagi, karena aku gak mau. Aku mau kita cerai saja!" Teriak Rara. Yang langsung di jawab pukulan dari Adam.
__ADS_1
"Plak!"
Adam menapar pipi Rara. Meski tidak sekuat tenang tapi perbuatan pipi mulus itu memerah. Membuat Rara tak percaya dengan apa yang telah Adam lakukan padanya
Bukan hanya Rara yang kaget. Adam pun kaget akan reaksi dirinya yang begitu berlebihan sampai menampar Rara. Tapi kata-kata cerai yang Rara ucapkan membuat dia seketika menjadi takut. Takut kehilangan perempuan itu. Perempuan yang selama ini menjadi istrinya. Ibu dari anak-anaknya, orang yang selalu sabar menunggu dia kembali pulang ke rumah. Orang yang selalu bersikap baik dan menghormati nya. Perempuan yang selalu tersenyum meski Adam memasang wajah masam. Adam takut Rara pergi, pergi dari kehidupan dia.
Adam mencoba menyentuh pipi itu sebagai bentuk meminta maaf, tapi Rara menghindar. Menjauh dari tangan Adam.
Rara mengelus pipinya yang terasa panas, kemudian menatap Adam dengan penuh kebencian.
Karena lagi-lagi harus di sakiti dan di kecewakan. Setelah menghancurkan hatinya sekarang sekarang Adam juga melakukan KDRT padanya.
"Aku tidak sudi punya suami seperti kamu. Aku tidak sudi!" Teriaknya dengan air mata yang kembali turun.
"Sudi atau tidak itu kenyataan yang ada. Takdir yang harus kamu terima."
Tajam Adam sambil menunjuk Rara.
"Bukankah kamu tidak mencintai aku selama ini? Lalu kenapa kamu tidak mau menceraikan ku dan mencoba mempertahankan pernikahan yang hanya akan menyiksa kita berdua. Terutama aku?"
"Karena kita punya Ali. Kita punya anak. Ali butuh aku sebagai papanya."
Rara terseyum sinis.
"Berhentilah menjadikan Ali sebagai alasan demi melancarkan ke egois mu mas karena selama ini juga kamu tidak pernah perduli dengan Ali. Tidak pernah perduli dengan anak kita."
"Kamu tidak mencintai ku dan kamu tidak perduli dengan Ali. Bukankah perpisahan adalah jalan terbaik bagi kita berdua. Supaya kamu bisa bahagia bersama Maelin dan aku bahagia bersama Ali.
Seenggaknya itu tidak membuat kita berdua saling menyakiti. Bukan kita berdua, tapi tidak membuat kamu menyakiti ku karena rasa cinta mu pada pacarmu itu."
Marah Rara, yang seolah kesabaran sudah habis, karena sering di permainan Adam.
__ADS_1
Adam memang begitu takut kehilangan anak dan istrinya, apalagi mendengar mantan Rara masih menunggunya.
Ditambah Rara yang tadi bilang jika dia menyesal menikah dengan Adam membuat emosinya naik begitu saja.
Karena bagi Adam, laki-laki yang harus bersama Rara hanya dia tidak boleh yang lain. Bahagia atau tidak Rara harus setia bersama dia. Harus dia pria yang bisa membuat wanita itu tersenyum tidak boleh orang lain.
Tapi sikap gengsinya yang terlalu tinggi membuat dia enggan mengakui itu semua di depan Rara.
"Pikirkan baik-baik sebelum kamu minta cerai dariku, Ra. Pernikahan ini terjadi bukan karena aku yang mau ataupun keluarga ku yang minta. Tapi ini semua permintaan ayahmu. Ayahmu yang menginginkan pernikahan kita berdua. Beliau yang ingin aku menjaga mu. Menjadikan kamu sebagai tangung jawab ku. Bukan aku yang minta itu semua. Dan aku bertahan sejauh ini juga karena amanat itu. Karena aku tidak ingin membuat ayahmu yang ada disana menjadi sedih, dan aku juga tidak ingin menjadikan kamu anak yang durhaka karena tidak menjalankan amanah itu," jelas Adam dengan arogansinya, tanpa keraguan sedikitpun.
Kata-kata Adam begitu menusuk hatinya, bagaikan petir disiang bolong yang menyambar dan menghancurkan semua, semua yang Rara miliki, termasuk kebahagiaannya.
"Aagghhh..." Rara membuangnya semua barang yang ada di depannya sebagai ungkapan jika dia sangat marah dan kecewa.
Adam tidak perduli dengan apa yang Rara lakukan. Pria itu memutar tubuhnya berjalan menuju pintu dan memilih pergi meninggalkan kamar begitu saja ketimbang menenangkan Rara yang menangis frustasi karena tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa lari meski sudah tersakiti dan hancur. Ya, Rara benar-benar hancur sekarang.
Dia hanya dapat menumpahkan tangisnya dengan kepala terkulai di kasur dan tubuh terduduk dilantai. Begitu sangat menyedihkan. Nasipnya sangat menyedihkan.
"Apakah harus seperti ini nasip ku, Ayah? Apakah memang ini yang ayah mau? Aku tidak bahagia dalam pernikahan?" Lirih Rara diantara Isak tangis.
"Kenapa harus mas Adam suami pilihan ayah? Kenapa tidak yang lain saja?" Tanya perempuan itu lagi, "lihat lah ya, menantu mu menyakiti ku sedemikian rupa? Lelaki pilihan ayah tidak bisa membuat aku bahagia. Dia tidak pernah mencintai ku, yah!" Rara mengeratkan genggaman tangannya pada seprai, menahan geram dan sakit hingga kuku-kukunya memutih.
"Apa jika aku bercerai ayah akan menganggap ku sebagai anak yang durhaka juga, karena tidak menuruti amanah ayah?"
Tanya Rara dengan harapan sang ayah tahu apa yang sekarang tengah dia rasakan. Harapan untuk membangun rumah tangga sakinah, mawadah dan warohmah tidak pernah ada dalam ke hidupnya, tapi bercerai pun Rara tidak bisa.
"Harus sampai kapan aku seperti ini, ya Allah? Harus sampai kapan hidup ku menderita begini?" Ratapnya lewat tangisan.
*****
Gimana nih, Adam gak mau cerai. 😀😀😀
__ADS_1
Yang belum kasih vote ayo kasih vote buat Rara. Biar Rara bisa masuk seratus besar.