
Adam mencibir ucapan Rangga. Baginya Ali saja sudah membuat dirinya terbelenggu dalam rumah tangga tanpa cinta begini membuat dia tidak bisa mengakhiri pernikahan nya dengan Rara begitu saja, karena adanya anak diantara mereka. Bagaimana bisa dia menambah anak lagi? Yang ada hanya akan membuat dirinya semakin susah untuk bersama Maelin.
Adam tidak mau itu. Tidak ingin ada anak lagi bersama Rara selain Ali. Jika memang dia ingin punya anak tentu bersama Maelin wanita yang dia cintai dan mencintai nya. Buah cinta mereka berdua nanti.
Melihat Adam yang hanya diam, Rangga meneruskannya kata-katanya.
"Atau jangan-jangan itu mu memang sudah tidak berfungsi lagi. Makanya Rara gak hamil-hamil juga?" Tanya Rangga yang disambung tawa mengejek dari dirinya.
Membuat Adam menendang sang adik kesal.
"Sialan, kamu pikir aku apa. Kalau cuma membuat Rara mendesah sepanjang malam juga aku masih mampu."
"Benarkah? Yakin banget? Gak percaya aku," jawab Rangga dengan raut wajah menyebalkan seperti biasa.
"Pasti alat tempur mu sekarang kualitasnya sudah tidak baik lagi."
"Sok tahu."
"Nyatanya, kamu kan ceroboh orangnya. Gak bisa merawat dengan benar. Pulang ke rumah juga suka-suka hati. Kadang sebulan, kadang tiga bulan, kadang empat bulan. Aku bilangin mas, kalau kamu kayak gitu terus nanti barang mu bisa turun mesin loh."
"Emang motor," Adam menjitak sang adik.
"Eh pak tua, kamu tahu gak. HP itu kalau nge-casnya gak teratur baterainya cepet rusak. Barang juga gitu. Hati-hati, lama gak kepakai nanti punya mu bisa imp*ten."
"Yang harusnya diragukan kualitasnya itu punya mu, bukan punya ku. Jangan-jangan kamu gak mau nikah gara-gara punya mu gak bisa tegang ya. Makanya kalau disuruh nikah banyak alasan. Kenapa takut gak bisa muasin istri. Tenang saja kalau istri mu gak puas besok bisa ku bantu mengatasi," Adam balas menyerang.
"Sembarang," jawab Rangga tidak terima.
Adam yang melihat raut kesal Rangga tertawa, membuat dia makin senang mengoda.
"Hati-hati barang yang kelamaan gak di pakai nanti expired, yang berujung langsung di buang. Kamu gak mau kan kalau punya mu yang baru mau di gesek aja udah tidur duluan.
Oh iya aku lupa, kamu kan masih polos belum tahu apa-apa, jadi gak tahu dong kalau mau masuk lobang itu digesekkan dulu bisa terasa lebih nikmat," Adam menampilkan wajah bagaimana nikmatnya saat hendak bercinta dengan wanita.
"Makanya buruan nikah. Jangan di biarkan kelamaan nganggur itu barang. Takut keburu tua," cecar Adam di selingi tawa bahagia karena dapat mengalahkan Rangga.
"Bukanya yang tua itu yang harganya mahal. Kan jadi barang antik. Kamu juga tahu barang antik yang sudah ratusan tahu itu lebih banyak peminatnya."
"Itu kan barang antik bodoh. Kalau barang mu semakin tua ya semakin gak laku. Karena udah loyo."
Lagi-lagi Adam tertawa, membayangkan alat tempur adiknya yang belum pernah di pakai sudah tidak bisa berfungsi lagi.
"Alah bohong loh. Kalau emang nikmat kenapa kamu sering nganggurin Rara. Emang Rara udah gak nikmat lagi apa?" Selidik Rangga sambil berbisik di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Adam mendelik, "Siap yang nganggurin dia bodoh," sambil tertawa lucu.
"Kamu dong."
"Mana ada? Ak.."
"Tapi nyatanya kamu sendiri juga malah menyia-nyiakan istri mu," potong Rangga pada ucapan Adam yang belum selesai.
"Aku tidak menyia-nyiakan istri ku. Aku bertanggung jawab terhadap dia," protes Adam tidak terima.
Rangga mencibir, "Tangung jawab. Tangung jawab dengan cara mengirimkan uang tunjangan setiap bulan saja bangga. Tidak pun kamu kirimkan uang istri mu juga sanggup menghidupi kebutuhan dia dan Ali.
Kamu pikir meninggalkan istri di rumah sendiri selama tiga bulan itu suatu hal yang pantas. Istrimu wanita normal, punya napsu juga, kebutuhan dia bukan hanya cuma masalah ekonomi tapi juga kebetuhan-kenutuhan yang lain, termasuk masalah ranjang dia. Apa kamu ingin Rara berselingkuh karena kelamaan menahan kebutuhan biologisnya?"
"Apa maksudnya kamu? Kenapa kamu bicara tidak sopan begitu?" Adam mulai meninggalkan suaranya.
Rupanya obat mulai merasuk dan tubuhnya sedikit lebih baik. Kepalanya juga sudah tidak pusing lagi jadi sudah bisa berdebat dengan Rangga.
"Eh pak tua!" Panggil Rangga sambil menatap tajam pada Adam, "jujur saja pada ku. Kamu jarang pulang ke rumah itu gara-gara adik kecil mu itu sudah tidak berfungsi lagi? atau karena kamu punya perempuan lain yang bisa menampung benih-benih cebong mu itu? Atau kamu memang sudah imp*ten?" Bisik Rangga yang hanya dapat di dengar oleh dia dan Adam.
Adam yang mendengar kata-kata tidak sopan Rangga tentu tidak terima atas tuduhan itu.
Karena nyatanya selama ini dia tidak memiliki wanita lain selain Rara, kalaupun ada Monica itu suatu kesalahan.
"Rangga!" Sergah Adam, "apa menurut mu aku sehina itu sehingga kamu bisa menuduh kakak mu begitu?" hardik Adam.
"Aku tidak menuduh mu, aku hanya bertanya bagaimana kamu bisa tahan menahan itu semua. Padahal kamu bilang sendiri kalau hal itu sangat nikmat."
"Lalu bagaimana dengan kamu?" Adam balik tanya, "kamu pria dewasa, tidak mungkin kamu tidak punya hasrat. Lalau bagaimana kamu mengatasi gejolak dalam diri mu itu. Sedang kamu sekarang masih belum menikah juga? Apakah kamu juga mencari perempuan di luaran sana sebagai tempat penampungan benih mu? Atau istri tetangga yang tidak punya suami."
Rangga terkekeh, "itu rahasia ku dan kamu tidak perlu tahu."
"Kamu selingkuh dengan istri orang?" Tanya Adam serius.
"Ya, aku selingkuh dengan Rara karena kamu tidak pernah menggauli istri mu. Sayangkan perempuan cantik seperti dia kalau di biarkan nganggur."
"BANG RANGGA!" Teriak Rara dari belakang.
Membuat mereka berdua kaget dan refleks menoleh ke arah Rara berada.
"Apa yang Abang bicarakan? Kenapa ngomong begitu!"
"Ngomong apa Ra?" Tanya Rangga santai tanpa dosa.
__ADS_1
"Tentang kita selingkuh. Semua itu gak bener bang. Kita gak punya hubungan apa-apa. Jangan memfitnah ku di depan mas Adam. Jangan menyebar fitnah."
Seketika Rangga tertawa melihat wajah panik dan takut Rara.
"Tenang saja Ra itu cuma bencana dan mas Adam juga gak percaya kok. Iya kan mas?" Tanya Rangga.
Adam diam.
"Meskipun hanya becanda tapi Rara gak suka bang."
"Ya maaf. Abang hanya kasih aja sama kamu. Kamu udah nungguin ada pulang selama tiga bulan. Tapi giliran sampai rumah dia sakit dan kamu gak bisa apa-apa selain merawat dia."
"Itu sudah kewajibannya ku sebagai istri."
"Ya karena itu makanya aku kasih tahu mas Adam suapaya lebih perhatian dengan kamu biar sama kayak kamu yang perhatian sama dia."
"Makasih karena bang Rangga sudah perhatian sama aku. Tapi jangan pernah bilang kalau ada perselisihan diantara kita. Rara tidak suka."
"Maaf," Rangga menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda maaf dengan wajah tampan sedih.
"Sudah gak usah debat. Aku juga gak percaya kalau kalian selingkuh kok. Jadi gak usah kuatir," Adam melerai perdebatan dua saudara itu.
"Mending kamu pulang deh ga, sekarang dah malam nanti mama nyariin," usir Adam.
"Aku pulang nanti nunggu Ali pulang ngaji."
Meskipun Rangga cuma bercanda dan dia juga percaya jika Rangga dan Rara tidak selingkuh karena dia tahu seberapa besar cinta Rangga pada mantannya yang bahakan sampai sekarang belum nikah karena nungguin jandanya perempuan itu, namun kata-kata Rangga mampu membuka mata Adam tentang kenyataan baru, yaitu kebutuhan Rara yang lain.
Lalu bagaimana jika Rara benar-benar selingkuh karena Adam tidak selalu bisa memenuhi kebutuhan biologis Rara? Adam harus sedih atau senang?
Senang karena alasan itu bisa di jadikan bumerang dalam rumah tangga nya yang membuat dia bisa pisah dengan Rara dan menikah dengan Maelin, atau sedih karena Rara sudah berhiyanat di belakangnya dan tidak setia.
Apapun itu Adam hanya ingin yang terbaik bagi mereka berdua.
Dan yang terbaik buat Adam tentu saja lekas pisah dengan Rara dan bersama Maelin lagi. Memikirkan itu semua membuat senyum di bibir Adam terbit sempurna.
"Kenapa mas senyum-senyum?" Tanya Rara sambil menyerahkan bantal ke arah Adam.
"Gak ada," jawab Adam. Mengambil bantal dari tangan Rara dan meletakkan di bawah kepala.
"Dasar pak tua aneh," cibir Rangga.
*****
__ADS_1
Jangan lupa kasih hadiah dan Vote untuk Rara ya!