Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 86. Rahasia Rara 2


__ADS_3

"Salah paham kata mu?"


Adam melepaskan lengan Rara dan mendorongnya pelan namun bertenaga membuat Rara tersungkur di lantai.


"Setelah ketahuan baru kamu bilang salah paham."


Adam menjambak rambut Rara membuat wanita itu mendongak menatap wajahnya. Rara meringis kesakitan.


"Kenapa? Kamu merasa senang karena ada yang mencintai mu selain aku? Merasa cantik dan beruntung karena ada yang memuja mu selama ini?


Mau lari bareng dia? Jangan mimpi. Semua itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan menceraikan mu sampai kapan pun! Ingat itu!"


Teriak Adam sambil menunjuk wajah Rara.


"Mas sakittt..."


Rara mengiba pada suaminya, meminta pria itu melepaskan cengkraman dari cempol rambutnya yang tertutup hijab.


Namun Adam yang di selimuti rasa cemburu tidak perduli dengan itu semua. Malah seoalah pria itu menikmati rengekan Rara yang mengiba padanya. Adam menatap datar wajah sang istri yang menangis karena kesaktian.


"Lepas mas, ini sakit!"


Rara menepuk-nepuk tangan Adam sambil berurai air mata.


Bukanya melepaskannya tapi Adam malah mempererat jambak itu dan menariknya sehingga Rara berdiri mengikuti gerakan tangan Adam.


"Mas sakit! Tolong lepaskan!"


Pinta Rara sambil memukul-mukul tangan Adam dan mencubitnya berharap pria itu menghentikan penganiayaan terhadap dirinya. Namun tampaknya semua itu tidak berpengaruh sama sekali bagi Adam.


"Sakit kata mu?" Adam smirk. "Hati ku lebih sakit lagi saat tahu kamu menghianati ku seperti ini sayang!"


"Aku tidak menghianati mu mas!"


Rara bersyukur suara sudah kembali meskipun masih tersendat-sendat.


"Aku minta maaf karena tidak menjelaskan hal ini pada mu, mas. Aku hanya takut kamu salah paham. Aku takut kamu marah pada ku saat tahu ini semua."


Rara mencoba menjelaskan semuanya pada Adam.


"Salah paham? Lagi-lagi kamu bilang salah paham. Ketika aku membaca suratnya, kalian berdua begitu sangat intim dan terlihat sangat saling mencintai. Dia juga menawarkan pelarian bersama mu. Sialan! Apa karena pria itu sehingga kamu tidak perduli apakah aku pulang sebulan sekali ataupun setahun sekali.


Apakah karena laki-laki bajingan itu sehingga kamu tidak pernah menuntut meskipun aku tidak pernah memberikan perhatian pada mu juga Ali. Karena selama ini sebenarnya pria itu sudah cukup memerhatikan dan menyayangi mu di belakang ku.

__ADS_1


Atau jangan-jangan tanpa sepengetahuan ku, kamu sering bersamanya? Saat aku tidak di rumah kamu berduaan dengan dia. Atau kamu bahkan sudah tidur dengannya? Saat aku sedang bekerja?


Suami mu banting tulang mati-matian demi kebutuhan rumah tangga kalian, tapi kamu malah selingkuh di belakangnya. Brovo... Rara, kamu bener-bener sangat menjijikkan."


Cecar Adam, menatap Rara dengan pandangan jijik dan menghina.


"AKU TIDAK SEMURAH ITU!"


Sergah Rara, yang merasa kekuatan telah kembali. Dia tidak terima dengan hinaan Adam kali ini.


Rara mendorong tubuh Adam sekuat tenaga hingga cengkraman Adam yang sedikit mengendor terlepas seketika. Pria itu terdorong beberapa sentimeter kebelakang sehingga memberi ruang bagi Rara untuk menjauhi tubuh suaminya.


Rara menyeka air mata yang mengalir turun ke pipinya dengan cepat. Dia tidak mau menangis lagi meski hatinya begitu sakit.


"Kamu masih berani melawanku setelah apa yang kamu lakukan di belakang ku?"


Adam berusaha meraih lengan Rara, tapi dengan cepat Rara menepis tangan Adam dan mendorong dada pria itu agar kembali mudur.


"Aku memang bersalah masih menyimpan barang-barang pemberian mantan ku. Tapi aku tidak semurah itu sampai harus tidur dengan dia. Aku bukan wanita murah seperti yang kamu tuduhkan, mas.


Harusnya kamu sadar diri dengan semua yang terjadi dalam rumah tangga kita selama ini.


Kamu yang berselingkuh dengan Monica dan kamu juga yang tidak perduli pada ku karena masih mengharapkan mantan sialan mu itu. Lalu kenapa sekarang kamu balik menuduh ku dan merendahkan ku seperti ini? Aku tidak terima!"


"Kamu minta kesempatan kedua padaku, dan meminta ku memulainya dari awal lagi. Tapi kenapa kamu tidak percaya pada ku? Aku tidak sehina yang kamu pikirkan mas!"


Rara mendorong dada Adam, terus mendorong sambil bergerak maju, hingga pria itu terduduk di ranjang.


"Aku tidak semurah itu. Bahkan berfikir kesana saja tidak pernah."


Rara begitu kesal dengan pria yang bersetatus suami. Dia emosi sama halnya dengan Adam, napas Rara tersengal dan naik turun.


"Hubungan ku dengan pacarku sudah berakhir saat aku menerima lamaran mu kala itu."


"Berakhir? Kau pikir aku bodoh? Jelas-jelas dia mengirim mu surat satu tahun yang lalu dan mengajak mu minggat bersama tapi kamu bilang pada ku berakhir saat kamu menerima lamaran ku. Berakhir dengan bahagia? Begitu menurut mu?" Decih Adam.


"Jika memang sudah berakhir, kenapa kamu masih menyimpan semua barang pemberian dia? Kenapa tidak kamu buang semua sampah-sampah ini!"


Adam yang semula sedikit tentang kini mulai emosi lagi. Sedangkan Rara, dia hanya diam. Dia tidak punya jawaban yang tepat untuk menyanggah ucapan Adam.


Karena kenyataannya memang seperti itu. Dia merasa sayang membuang semua barang-barang pemberian Rangga, karena ada cerita tersendiri dari setiap benda yang di berikan oleh kekasih itu.


Padahal Ratna sudah berkali-kali mengingatkan Rara untuk membuang atau mengamankan benda-benda itu sejauh mungkin suapaya tidak jadi bom waktu di pernikahan dia dan Adam nantinya.

__ADS_1


Tapi box yang sudah tujuh tahun berada di laci bawah lemari buku Rara, bahkan pemiliknya saja lupa akan kotak barang bergambarkan mawar merah itu. Box yang sengaja di bikinkan Rangga khusus untuknya. Untuk menyimpan semua barang-barang berharga pemberian pacar pertama dan terakhirnya itu.


Entah bagaimana ceritanya hingga Adam bisa ketemu kotak keramat itu. Padahal selama tujuh tahun ini box itu adem ayem saja di dalam sana, tidak pernah berpindah tempat.


"Jika memang kamu tidak percaya padaku, bagus kita akhiri saja semuanya. Kita jalani hidup kita masing-masing, dari pada kamu terus-menerus menyakiti ku seperti ini! Aku capek kamu tuduh terus menerus."


Tutur Rara begitu pelan tapi menusuk. Menusuk hati Adam yang semula sudah tenang menjadi bergemuruh lagi. Setan yang tadinya hampir tidur kini terbangun lagi, membuat pria itu menatap tajam ke arah sang istri, seolah ingin ******* wanita yang berdiri di depannya dengan sekali lahap.


"Memang itu mau mu bukan? Kamu sengaja memancing amarah ku supaya aku menceraikan mu dan kamu bisa pergi dengan lelaki sialan yang tidak tahu diri itu!"


Bentak Adam dengan suara kencang mengelegar.


Rara balas menatap mata Adam yang sudah mode singa siap menerkam mangsa. Sungguh sebenarnya Rara begitu takut melihat wajah suaminya saat ini namun dia berusaha untuk tegar dak tidak trimidasi dengan tatapan Adam.


Rara meremas sisi kanan kiri gamisnya untuk menguatkan mentalnya agar tidak ciut. Sudah cukup selama ini dia mengalah pada pria yang merasa dirinya baling benar dan sekarang dia tidak mau terinjak lagi.


"Sebenarnya aku bukan wanita seperti itu. Tapi jika kamu berfikir begitu maka aku akan menjalani seperti yang kamu pikirkan!"


Perlawanan Rara membuat Adam menjadi murka hingga dengan satu hentakan saja Adam sudah mendorong bahu Rara kebelakang hingga punggung prempuan itu membentur pintu lemari baju.


"Berani melawan kamu sekarang Hm?" Tanya dan bisik Adam seram.


Adam mengangkat tangannya ke udara dengan gerakan seolah ingin menampar Rara dan itu membuat Rara takut. Refleks ibunda Ali menutup mata dan wajahnya dengan kedua tangan, Rara nangis, hingga


"Prang!"


Tinjauan Adam menghantam pintu lemari yang di lapisi kaca di belakang kepal Rara hingga pintu itu berlobang.


Beruntung Rara mengenalkan hijab sehingga serpihan kaca yang pecah tidak menggores wajahnya.


Suara itu membuat Rara membuka mata dan tangannya seketika, dan Rara mendongak menatap wajah Adam yang juga menatapnya.


Adam mencengkram leher Rara hingga dia sulit bernafas.


"Kamu mau pergi dengan dia? Lakukan itu! Jika kamu ingin melihat pria mu mati di tangan ku?!"


Ancam Adam sambil mengelus pipi Rara yang pucat.


Badan Rara langsung lemas dan merosot kebawah saat Adam melepaskan tubuhnya begitu saja.


"Cukup diam dan jangan lakukan apa pun juga, jika kamu ingin pria itu selamat!"


Ancam Adam kesekian kalinya sebelum pergi meninggalkan kamar Rara dengan suara pintu di banting.

__ADS_1


__ADS_2