
Begitu Rara pergi dari kamar Adam berjalan menuju meja rias sang istri. Membuka laci di sana dan mencari-cari barang Rara yang biasanya disimpan di laci itu.
"Mana sih?" Tanya Adam saat tidak mendapatkan apa yang dia maksud, padahal tangannya sudah mengacak-acak isi laci itu.
"Dimana sih Rara naruhnya?" guman Adam lagi, karena biasanya dia melihat sang istri memasukan benda itu di laci meja rias, tapi kenapa saat di carinya sekarang benda itu menjadi tidak ada, "atau mungkin sekarang Rara tidak menggunakannya lagi?"
Tapi seketika Adam mengelengkan kepalanya seolah tak mungkin jika Rara berhenti begitu saja tanpa berbicara padanya.
Senyum di wajah Adam langsung terbit saat matanya melihat benda keramat yang ternyata masih berada di dalam kotak kardusnya.
Pantas saja gak ketemu ternyata di masukin kotak, pikir Adam yang kemudian membuang kedua benda itu ketempat sampah, seperti yang sudah dia rencanakan tadi siang saat masih di kantor.
"Beres!" Ujar Adam.
Suami Rara tersenyum licik saat aksinya sudah selesai, kemudian pria itu kembali merapihkan benda-benda milik sang istri yang tadi sempat berantakan karenanya menjadi rapi kembali seperti semula, tak tampak jika pernah di sentuh olehnya sama sekali.
Adam menepuk-nepuk kedua tangannya seolah membersihkan debu yang menempel di kulitnya, kemudian pria itu masuk ke kamar mandi sambil bersiul-siul tanda dia tengah bahagia kali ini.
*
Malam hari.
Seperti aktivitas pada hari-hari biasanya, setelah menjemput Ali pulang mengaji, baru mereka makan malam bersama, setelah itu baru sholat Isa berjamaah.
Karena perut sudah lapar jadi mereka memilih makan dulu ketimbang sholat. Semua ada alasannya tentu saja, karena jika sholat dalam posisi lapar, takut gak khusyuk dalam bacaan ayat-ayatnya karena pengen buru-buru selesai lantaran lapar.
Biasanya Rara akan berjamaah dengan mbok, dimana Rara yang sebagian imam dan mbok makmumnya, tapi kali ini karena Adam pulang maka. Pria itu yang menjadi imam dan Rara makmumnya, sedangkan mbok sedang minta izin tidak kerja karena anaknya sedang sakit, sehingga prempuan berusia setengah abad itu membatu anak perempuannya untuk merawat dan menjaga anak Leni yang baru berusia satu tahun.
Selesai sholat Isya Rara mereka kembali masuk ke kamar tidur mereka, sedangkan Adam menuju ruang keluarga, dimana Ali menunggu orang tuanya untuk membantu mengerjakan PR.
"Mana tasnya?"
Tanya Adam saat di lihat sekeliling Ali tidak nampak tas sekolah anaknya, malah bocah itu fokus nonton TV.
"Bukunya juga gak ada? Katanya ada PR?"
Balik tanya sang papa saat sudah menjatuhkan tubuhnya di sebelah sang anak.
"Memang ada PR pa, suruh nulis nama-nama hewan dan tumbuhan," ujar Ali sambil menoleh pada sang papa.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu ambil tas sama bukunya nanti papa bantuin ngerjain ok!" Perintah Adam pada sang putra.
Melihat sang anaknya yang masih fokus memperhatikan film Ultraman di TV ketimbang beranjak dari duduknya mengambil tas membuat sang papa geram, sehingga Adam meraih remote TV yang ada di tangan Ali, tanpa banyak bicara Adam langsung mematikan TV yang tergantung di dinding dengan lebarnya hampir dua meter di depan mereka itu.
Ali yang memang sedari kecil tidak dekat dengan sang papa hanya menatap kecewa pada sang papa tanpa berani protes dengan apa yang di lakukan Adam.
Sehingga bocah yang berencana akan pergi setelah iklan datang itu langsung beranjak dari duduknya dan lari menaiki tangga yang memang ada di ruang tengah menuju ke arah kamarnya, di ikuti Adam dari belakang.
***
Adam yang masuk kamar bersama Ali yang menyandang tas sekolah, kedua anak dan bapak itu sepakat Ali belajar di kamar saja, supaya kalau ngantuk tinggal rebahan saja.
"Nyari apa Ra?" Tanya Adam saat melihat sang istri mengeluarkan semua isi laci meja riasnya.
"Nayari Pil KB mas, kemarin masih ada di sini, tapi kok sekarang gak ada ya?" Tanya dan tutur Rara dengan wajah cemas.
Rara memang mengunakan pil sebagai program pencegahan kehamilan, karena itu satu-satunya KB yang cocok untuk dirinya.
Dia pernah KB suntik tiga bulan sekali, tapi selama itu juga Rara tidak datang bulan dan Berat badannya juga bertambah terus setiap bulannya, mana kalau sekali nambah dua kilo per bulan, membuat Rara akhirnya menghentikan progam itu, dan ganti dengan suntik satu bulan sekali, hasilnya juga sama, haid Rara tidak lancar setiap bulannya, kadang saat tiba datang bulan perutnya nyeri tak karuan.
Program pencegahan kehamilan dengan pil KB yang di berikan oleh bidan yang bekerja di kampung dan puskesmas mereka juga Rara tidak cocok, karena kepalanya sering pusing dan perutnya mual, hingga akhirnya dokter kandungan yang merawat Rara saat hamil Ali pun memberi saran supaya Rara mengkonsumsi pil KB merek YS.
Selain untuk mencegah kehamilan dan memperlancar datang bulan, pil KBnya juga bisa menjadi obat jerawat sehingga muka Rara tetep halus dan mulus. Berat badan Rara juga stabil saat mengkonsumsi nya, sehingga tidak menganggu penampilan Rara. Meski harga nya relatif mahal, diatas dua ratus ribu satu papa. Tapi jika hasilnya memuaskan harga tidak masalah bukan?
Tanya Adam dengan wajah polosnya sok tidak tahu, bahkan suami Rara membantu mencari barang milik istri.
"Itu lah mas, aku juga heran. Perasaan kemarin aku taruh sini tapi kok sekarang gak ada ya?"
Rara menunjuk laci mejanya yang sudah kosong, semua isinya pindah ke atas, begitu juga dengan lagi-lagi yang lain.
"Udah habis paling?"
"Gak mungkin ah, orang belum habis tanggalnya kok. Lagi pula aku belinya dua papa kemarin, kalau yang satu habis harusnya masih ada satu papan lagi yang baru, tapi ini sekotaknya juga gak ada."
Sambung Rara yang merasa aneh dengan kejadian yang menimpanya kini.
"Lupa naruk mungkin?" Mungkin kamu taruh di laci dapur tapi kamu pikir di laci sini!"
Rara menatap wajah suaminya heran, "mana mungkin aku lupa naruh, jelas-jelas ada di sini, setiap malam habis Isya' aku pasti ke sini buat minumnya kok. Gak mungkin aku lupa naruk," sangkal Rara begitu yakin.
__ADS_1
"Ya mas gak tahu. Lagi pula gak minum pil KB juga gak apa-apa kan?"
"Tar kalau aku hamil gimana?" Tanya dan jawab Rara spontan.
Membuat Adam yang mendengar mengernyitkan dahinya, "emang kamu gak mau hamil lagi?" Tanya pria itu tajam.
"Bukan gitu."
"Lha terus, apa?"
Rara terdiam.
Bukan dia tidak mau hamil adiknya Ali, mengingat kehamilan pertamanya yang begitu berat bagi Rara, apalagi saat itu Adam tidak ada bersama mendampingi dia menjadi rasa trauma tersendiri bagi Rara.
Karena Rara sendiri belum yakin seratus persen dengan perubahan sikap Adam. Rara takut jika saat dia hamil suaminya kembali bersikap cuek lagi dan itu hanya akan membuat dirinya semakin repot saja. Harus ngurus bayi, Ali dsn tugas sekolah. Rara belum siap dengan itu semua.
"Kenapa kamu gak mau Ra, hamil anak ku?" Tanya Adam lagi.
Tidak ingin Adam curiga dengan segala pemikirannya, Rara pun tersenyum lebar, "mau kok," jawabnya bohong.
"Ya udah kalau gitu gak usah bingung kalau pil KB mu hilang, toh bakal gak di minum juga kan?" Adam sambil memeluk sang istri, "mending di beresin lagi barang-barangnya, habis itu kita ajari PR Ali."
"Hm, ya!" Jawab Rara setingkat. Sambil tangannya kembali memasuki semua barang-barang miliknya ke dalam laci.
Pertanyaan Adam seolah memberitahu Rara jika sang suami lah pelaku dibalik hilangnya pil KB itu.
Namun melihat niat baik Adam dan pria itu yang tidak menuduh pihak manapun sebagai kambing hitam membuat Rara tidak kuasa untuk marah.
Pil KB hilang besok bisa di beli lagi, di minum lagi secara diam-diam, supaya biar mas Adam tidak tahu. Yang penting sekarang ngikutin mau dia saja, supaya dia tidak marah dan emosi seperti kemarin, pikir Rara.
Berakhir kegiatan Rara memasukkan semua barang di dalam laci dengan bantuan Adam, bersama dengan itu Ali masuk kamar sambil membawa tas Spiderman miliknya dari kamar sebelah.
Kedua orang tua itu menghampiri putra mereka yang menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
Melihat reaksi Ali yang malas begitu membuat Rara menoleh pada sang suami.
"Mas habis marahin Ali ya?" Tanya Rara seolah tahu tabiat anak dan suaminya.
"Tidak, cuma mas matikan saja TV nya. Karena dia mas suruh ambil tas gak jalan-jalan."
__ADS_1
*****
Jangan lupa vote dan hadiah untuk Rara ya!