
Rara yang baru dari toilet hendak kembali ke mejanya, dimana Adam dan yang lain menuggu ketika tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya.
"Bu, Bu Rara!"
Refleks Rara menghentikan langkahnya menoleh kiri-kanan mencari sumber suara itu berasal.
Antesi Rara terfokus pada seorang pria tampan dengan balutan tuxedo warna grey yang berjalan menghampiri dirinya. Pria berusia seperempat abad itu meraih tangan Rara dan mencium punggung tangannya, membuat Rara sedikit terkejut, meski begitu dia bersikap biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.
Rara mengamati pria itu dengan seksama, wajahnya begitu familiar membuat dia berasumsi jika dirinya saling kenal. Tapi kapan dan dimana Rara sendiri juga tidak tahu dan tidak ingat.
Ingin dia bertanya, siapa ya? Apa kita kenal? Namun Rara mengurungkan niatnya karena dia tidak ingin melihat pemuda itu malu karena pertanyaan konyolnya, sehingga Rara hanya diam mematung tanpa mengucapkan apapun juga.
Melihat reaksi Rara yang seolah bingung, maka pria itu mengenalkan dirinya pada Rara.
"Ibu lupa sama saya? Saya Riyan Bu! Murid ibu, angkat pertama ibu ngajar di SMA! Riyan Ari Hartanto murid ibu yang paling ganteng dan paling baik," tuturnya, membuat ingatan Rara kembali kemasa tujuh tahun sialan dimana dia baru pertama kali menjadi guru di SMA Nusantara yang setia kali ngajar selalu di bikin pusing oleh ulah muridnya yang bernama Riyan.
Riyan kala itu memang super bandel. Tampan dan cerdas tapi tak berakhlak Seenggaknya itu yang terpatri dalam otak Rara kala itu, saat dia belum mengenal sosok Riyan yang sebenarnya. Karena bukan sekali dua kali saja Riyan mengoda Rara saat dirinya tengah mengajar di dalam kelas.
Bahkan Rara ingat kata-kata yang di ucapkan Riyan kala dia meminta muridnya untuk mencatat waktu itu.
"Bu, ibu tuh gak cocok jadi guru saja, cocok Bu Rara itu jadi pacar saya saja. Saya tampan dan ibu cantik, pasti besok anak kita bakal lucu-lucu," oceh bocah berumur 18 tahun pada Rara yang menerangkan tentang matriks di depan kelas.
"Dari pada ibu nyuruh-nyuruh saya nulis dan ngerjakan tugas bagus kita pergi kencan. Gimana Bu? Mau tidak?
Kalau ibu jadi pacar saya, sudah pasti saya akan rajin ke sekolah dan ngerjakan semua tugas yang ibu berikan," ucap Riyan yang membuat kelas langsung ribut akibat ulahnya.
__ADS_1
Rara yang menjadi guru baru yang mengajar mengantikan guru mereka yang sedang cuti melahirkan hanya dapat terdiam, meremas sepidol di tangannya hingga kukunya memutih menahan emosi karena pelecehan yang di lakukan Riyan.
Ingin dia memukul mulut Riyan yang sudah tidak sopan jika tidak ingat tentang kasus penganiyaan guru terhadap murid akan membawanya ke meja hukum.
Aksi Riyan yang semakin menjadi-jadi membuat Rara enggan setiap harus masuk kelas itu, namun keprofesionalismenya membuat dia selalu melangkah kaki ke dalam kelas. Sifat nakal murid laki-laki yang sering menggodanya, tidak menghargai dirinya sebagai guru lantaran Rara masih muda dan cantik, Sehingga membuat mereka selalu menyepelekan Rara, tidak pernah di dengarkan nasehatnya, dan menganggap Rara layaknya teman bukan guru.
Semua itu membuat mama Ali semakin semangat dalam mengajar, juga mendidik murid-muridnya. Mengubah pemikiran mereka yang salah.
Melalui pendekatan internal dan eksternal yang kerap di lakukan di luar wilayah sekolah, membuat sebagian besar siswa jadi dekat dengan Rara. Sering curhat dan biasa main ke kosan setiap pulang sekolah. Yang berujung lama kelamaan mereka pun menjadi segan dan hormat sendiri tanpa Rara perintah. Begitu pun dengan Riyan.
Siswa yang semula merasa Rara pantas jadi pacarnya lantaran beda usia mereka hanya terpaut empat tahun, menghargai Rara layaknya guru yang sebenarnya.
Saat itu usia Rara baru dua puluh dua tahun, baru lulus kuliah. Sedangkan Riyan berusia delapan belas tahun, kelas tiga SMA.
"Astaga Riyan. Ibu gak nyangka kalau ini kamu," Rara menutup mulutnya karena begitu terkejut.
"Kamu banyak berubah. Ibu jadi pangkling, karena kamu makin tambah ganteng saja," puji Rara dengan tulus.
Karena Riyan memang makin ganteng dan tambah dewasa, sehingga terlihat mempesona ketimbang saat dia remaja dulu.
Melihat banyak hal yang ingin dia bicara pada Rara, maka pria itu mengajak sang guru duduk di mejanya, dimana sudah ada lima orang yang menanti.
Rara memperhatikan enam orang yang duduk mengelilingi meja. Dua perempuan dan empat laki-laki, yang salah satu diantaranya adalah Riyan dan Andi murid Rara juga. Sedang dua perempuan disana Rara kenal salah satu diantaranya yaitu Putri, murid Rara yang kuliah di jurusan arsitektur juga. Jika tidak salah putri wisuda tahun ini.
Melihat Rara datang menghampiri mereka, putri mengeser duduknya menjadi satu kursi dengan teman perempuannya, sedang kursi dia di berikan kepada Rara, sebagai tempat duduk mama Ali, karena setiap meja menang pas memiliki enam kursi dan tidak ada yang berlebih.
__ADS_1
Setelah Rara duduk, Riyan mengenalkan temannya satu persatu pada Rara juga menjelaskan pada guru cantik itu keberadaan mereka di acar ini.
Putri dan Andi datang sebagai peserta lomba kompetensi yang diadakan oleh kan Petra sebagai perayaan ulangnya yang ke sepuluh. Karena pemenang lomba sudah di umumkan kemarin, maka peserta lomba yang mendapat juara satu, dua dan tiga diminta datang pada acara malam hari ini untuk menerima penghargaan sekaligus hadiah yang sudah di siapkan oleh perusahaan. Berhubungan kelompoknya putri yang terdiri dari empat orang itu mendapat juara dua, maka mereka turut hadir meramaikan pesta ulang tahun perusahaan yang di gelar di hotel bintang lima ini.
Sedangkan Riyan sendiri menjelaskan jika dirinya adalah pegawai di Kan Petra. Riyan mendaftar sebagai drafter di perusahaan tempat Adam bekerja begitu lulus kuliah, dan sekarang dia sudah menjadi karyawan tetap di Kan Petra.
"Sekarang saya sudah sukses Bu, gaji saya sudah banyak. Mungkin lebih banyak dari gaji ibu yang PNS," Sambung Riyan memberitahu.
"Terus kenapa?" Tanya Rara dengan wajah seserius mungkin.
"Jadi gimana? Ibu masih mau gak sama saya? Karena ibu sudah menikah jadi, ibu mau gak jadi selingkuh saya?" Tanya Riyan, membuat kaget mereka semua yang ada di meja itu termasuk Rara.
Rara tersenyum manis, membuat Riyan terkesima dengan senyum sang guru namun tangannya langsung memelintir telinga Riyan yang ada di sebelahnya, membuat Riyan mengungkapkan tangannya memohon ampun sambil meringis menahan sakit.
"Murid kurang ajar, Bisa-bisa kamu ngajak ibu selingkuh? Kamu mau melakukan pelecehan terhadap ibu?" Tutur Rara tanpa senyum.
Riyan langsung mengusap telinganya setelah Rara melepaskan tulang lunak itu.
"Bukan begitu ibu. Saya hanya ingin menagih janji ibu saja!"
"Janji?"
*****
Janji apakah yang sudah Rara ucapkan? Kenapa sekarang di tagih begitu?
__ADS_1