Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 104. Malam Yang Panjang


__ADS_3

Menjelang magrib Rara dan Adam baru sampai apartemen. Setelah mandi dan sholat magrib berjamaah, Rara langsung menghampiri MUA sekaligus stylish yang sudah Adam boking untuk makeup Rara.


Sebenarnya Rara bisa make up sendiri tanpa bantuan orang lain, toh dalam kehidupan sehari-hari dia juga biasa make up meski hanya sederhana saja, tapi suaminya tidak setuju. Rara yang tahu jika Adam lelaki pecinta kesempurnaan memilih mengikuti kemauan suaminya ketimbang harus ribut.


Setelah satu jam menunggu, akhirnya makeup Rara selesai. Kini prempuan berusia tiga puluh lima tahun yang Rara ketahui bernama Alexa itu membantu Rara mengenakan gaun dan hijab yang sudah Adam siapkan.


Tak lupa Rara memakai cincin pernikahan di jari kirinya dan Bros bertahan batu safir warna biru di bagian dadanya. Adam bilang Bros itu sangat cocok buat Rara karena nama sama-sama safir, lantaran nama Rara sendiri terinspirasi dari batu safir.


Alexa menuntut Rara keluar dari kamar menghampiri lelaki beda usia yang sudah menunggunya. Adam dan Rangga tampak tampan saat mengenakan tuxedo berwarna hitam, sedangkan Ali duduk di tengah-tengah mereka berdua, ketiganya menunggu Rara di sofa ruang tamu.


Ali yang paling dulu melihat sang mama langsung berdiri, di ikuti Rangga dan Adam.


"Itu... itu...beneran mama? Tanya Ali sambil membuka mulutnya lebar-lebar tanda dia terkejut, "Cantik banget!" Ucap bocah itu, "Mama cantik banget!" Ulang Ali.


Anak lelaki itu berjalan menghampiri sang mama sambil memeluk kaki Rara, "aku gak nyangka mama bisa secantik ini."


Ali mendogak menatap Rara yang menunduk menatapnya. Binar bahagia yang terpasang di wajah Ali membuat Rara tersenyum senang.


"Emang mama beneran cantik sayang?" Tanya Rara, seraya mensejajarkan tingginya dengan Ali.


Ali mengangguk, "cantik banget deh ma."


"Berarti biasanya mama jelek dong?" Goda Rara.


"Gak, bukan. Biasanya mama cantik tapi sekarang lebih cantik lagi." Jawab jujur Ali.


"Baru kali ini aku lihat kakak ipar ku begitu cantik," Rangga ikut berkomentar.


Adam mengangguk setuju dengan sang adik.


"Uang memang tidak bisa menipu. Rara saja bisa jadi angsa yang cantik."


Adam menoleh pada Rangga yang berdiri di sebelahnya, "Emang istriku unggas! Ngaco aja, Rara kamu samakan dengan angsa!"


Rangga tertawa.


"Cium boleh? kan sekarang mama udah cantik!" Pinta Ali pada Rara.


Rara memasang pipi kiri kanan di depan Ali guna menyambut kecupan dari bibir kecil sang anak. Selesai Ali mencium gantian Rara yang mencium putranya.


"Kamu emang beneran cantik Ra, aku saja sampai pangling," puji Rangga.


"Makasih bang!"


Rara tersipu malu, membuat Adam yang mendengar itu menunjukkan ekspresi mau muntah lantaran gombalan sang adik, membuat Rangga mencebik kesal. Meski begitu tidak menyurutkan niatnya untuk menggoda Rara.


"Kan Abang udah muji, jadi boleh cium juga gak kayak Ali?"


Rangga mendekatkan wajahnya pada Rara minta di cium, tapi tangan Adam maju lebih dulu, didorongnya wajah Rangga menjauh dari sang istri.


"Gak boleh, milik gue!"


"Pelit loh! Padahal minta dikit dong!" Rangga manyun.


Tak tega melihat wajah sedih sang adik, Adam pun kembali berucap, "Ya udah sini, gue kasih yang banyak. Tapi ciuman Rara wakil sama gue!"

__ADS_1


Seketika Adam memeluk Rangga mendekatkan bibirnya pada pipi Rangga hendak menciumnya, membuat Rangga menutup bibir Adam dengan tangannya, mati-matian dia berusaha menjauhkan wajahnya dari serangan sang kakak.


"Ampun, ampun, ampun! Jijay banget kalau sampai elo cium gue!" Teriak Rangga sambil berlari menjauh saat pelukan Adam mengendor membuat semua orang yang ada di dalam apartemen itu tertawa akibat ulah konyol kakak beradik adik itu.


****


Adam, Rara dan Rangga pergi menuju basment, dimana mobil mereka terparkir.


Rangga pergi mengunakan Lamborgini hitam yang dia sewa, sedangkan Adam dan Rara pergi mengunakan range Rover, kata Adam tidak mungkin dia yang pergi dengan prempuan cantik naik mobil biasa.


Sedangkan Ali, Adam titipkan pada bibi yang biasa membersihkan apartemen untuk menemaninya.


Mereka pergi beriringan, menuju hotel bintang lima dimana acara ulang tahun Kan Petra di selenggarakan.


"Kamu cantik sekali malam ini!" Puji Adam saat mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Mas juga tampak ganteng malam ini, aku sampai terhipnotis karenanya," aku Rara.


''Cup'


Adam mencium pipi Rara sekilas, membuat mama Ali seketika meraba pipi bekas kecupan Adam.


"Makasih dah bilang mas ganteng."


Rara tersenyum malu.


"Aku sebenarnya dah pengen cium kamu dari tadi, tapi takut Rangga pengen jadi di tunda sampai kita bisa berduaan," Adam menjelaskan.


"Makasih dah mau mendampingi mas kali ini," ucap Adam lagi.


"Aku deg-degan tahu mas sekarang! Mau pergi di acara kantor kamu."


Rara yang baru pertama kali pergi ke acara perusahaan Adam jadi grogi, layaknya ABG yang mau ketemuan dengan sang pacar. Rara mencoba menetralkan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, layaknya orang jatuh cinta. Keringat dingin muncul di pelipisnya. Untung bedaknya tidak luntur.


Adam yang melihat berubah wajah Rara dari pantulan lampu lalu lintas kembali mengecup punggung tangan sang istri, memberi rasa nyaman pada Rara.


"Rileks. Kayak mau ketemu calon mertua aja pakai grogi segala!" Goda Adam mencairkan suasana.


"Aku gak PD, takut salah langkah yang berujung bikin mas malu."


Adam tertawa mendengarnya, "Emang kamu mau melangkah kemana? Kayak di suruh kerja aja takut salah langkah. Gak usah tegangan gitu, disana kamu gak ngapa-ngapain kok, cuma ngikutin kemana aku pergi aja, jadi gak usah kwatir."


"Maklum baru pertama kali."


Adam membernarkan ucapan sang istri.


Begitu sampai halaman hotel, Adam menyerahkan kunci pada pelayanan hotel yang akan memarkirkan mobilnya.


Mereka yang berangkat bertiga kini sampai hotel hanya berdua, Rangga gak tahu nyangkut dimana karena mobil dan sosoknya belum nampak.


Papa Ali menggenggam jemari Rara, melingkarkan lengan sang istri pada lengannya dan menuntun mama Ali memasuki hotel, menuju ballroom, dimana acara itu berlangsung.


Adam menyerahkan undangan pada pria berjas hitam yang berdiri di kanan-kiri pintu, yang bertuga memeriksa para tamu undangan.


Begitu pintu terbuka mereka berdua langsung disambut oleh pelayanan berseragam hitam putih dengan rompi hitam. Adam dan Rara diantara ke sebuah meja yang sudah di beri nomor. Meja bundar dengan enam kursi yang mengelilinginya.

__ADS_1


"Ra, ini kenali pak Dani pendiri sekaligus pemilik Kan Petra, dan ini ibu Andini istri beliau," Adam mengenalkan Rara pada sepasang suami istri yang duduk di meja mereka.


Rara berjabat tangan mereka satu persatu sambil menyebutkan namanya. Dia dan pak Dani sudah pernah bertemu dua kali saat pernikahan mereka dan saat pesta pernikahan anak gadis pak Dani, tapi kala itu mereka tidak sempat berbincang-bincang lantaran sibuk dengan tamu-tamu lain.


"Ini Rara istri pak Adam yang dulu itu kan?" Tanya Andini.


"Iya Bu, ini Rara istri saya yang dulu, belum ganti sama yang baru kok," Adam tersenyum tipis sambil melirik Rara yang duduk di sebelahnya.


"Cantik ya? Maklum pas dulu ketemu gak terlalu paham wajahnya, karena sibuk jadi lihatnya cuma sekilas," tutur Andini.


"Pantas saja dulu pak Adam tidak mau di jodohkan sama putri kita ya pak, orang Bu Rara cantik begini," sambungannya lagi.


"Kapan?" Tanya Rara terkejut, refleks gadis itu menutup mulutnya dengan tangan.


Adam yang melihat ekspresi tak menyangka pada sang istri menggenggam jemari Rara yang satunya lagi.


"Dulu sayang. Dulu banget pas aku belum ngelamar kamu. Dulu aku sempat dekat dengan putrinya pada Dani, dan pak Dani mau jodohkan aku sama mbak Niken tapi aku tolak karena beliau ngomongnya telat, saat itu aku udah tunangan sama kamu."


"Iya, Bu Rara bapak menyesal saat itu kenapa gak ngomong dari kemarin-kemarin, kenapa harus menunda-nunda niat baik yang ujung-ujungnya gak kesampaian. Terus seminggu kemudian undangan pernikahan pak Adam sampai di rumah kami," pak Dani bercerita.


"Mungkin memang kita tidak di takdirkan untuk jadi keluarga," Sambung Bu Andini.


"Mungkin," jawab Rara lemah.


Ternyata oh ternyata bos suaminya itu begitu mencintai Adam sampai berniat menjodohkan pria itu sama anak gadisnya juga.


Tentu saja siapa yang tidak tertarik pada sosok Adam yang tampan, cerdas, Soleh, beriman, gak neko-neko orangnya pokoknya tipe pria idaman banget deh.


Setelah mendengar cerita tentang masa lalu suaminya Rara pun merasa not lucky girl to day. Pertemuan itu rasanya ambyar meskipun Bu Andini dan pak Dani kembali mengajak ngobrol, gadis itu menyayangkan kenapa mereka yang tidak pernah ketemu sekali bertemu harus membahas tentang masa lalu suaminya dengan prempuan lain.


Ditengah-tengah obrolan mereka Rangga datang menghampiri mereka dan duduk disebelah Adam, membuat suami Rara kembali mengenalkan sang adik kepada bos-nya.


Rupanya Rangga dan pak Dani sudah saling kenal. Mereka pernah beberapa kali bertemu untuk membicarakan tentang beasiswa anak-anak yang kurang mampu. Hanya Bu Andini saja yang belum pernah bertemu dengan Rangga.


Tak seberapa lama setelah Rangga dan, datang juga seorang perempuan cantik menghampiri meja mereka.


"Assalamu'alaikum! Maaf saya terlambat!" Sapa prempuan itu yang membuat kelima pasang mata menatap kearahnya.


*****


Siapakah dia? Prempuan itu?


a. Maelin


b. Monica


c. Rain


d. Niken (anak pak Dani)


e. Prempuan lain


Beri jawaban kalian pada kolom komentar di bawah ini!


Jangan lupa beri vote dan hadiah buat Rara!

__ADS_1


__ADS_2