
"Hai bang! Apa kabar!"
Niken berdiri dari duduknya, menjabat tangan Adam, kemudian cipika-cipiki dengan begitu mesra, layaknya teman perempuan yang lama tidak jumpa, tak perduli posisi Rara yang menempel bak prangko pada Adam.
Membuat mata Rara membulat sempurna, kaget akan aksi absurd perempuan berjilbab ungu itu yang menurut dirinya begitu berlebihan.
"Baik!"
Adam mengeser tubuhnya, memberi jarak dengan prempuan itu.
"Kamu apa kabar?" Balik tanya Adam setelah duduk di kursi kosong sebelah Rangga yang posisinya agak jauh dari prempuan itu.
"Baik juga."
"Baru datang apa udah dari tadi?" Tanya Adam lagi, "Sendiri? Suamimu mana?"
Adam menoleh kiri kanan mencari suami dari anak pak Dani.
"Tanya satu-satu atuh Abang! Jangan banyak-banyak? Kan aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu," ujarnya dengan cengiran di akhir kata.
Adam tertawa kecil, "Maaf," ucapnya dengan wajah sedikit bersalah.
"Baru nyampe, aku langsung kesini. Gantian baju aja di bandara, karena belum pulang ke rumah. Tadi pulang kerja kita langsung terbang. Untung mami nyuruh supir buat jemput. Sekarang barang-barang kami masih ada di mobil."
"Oh...." Jawab Adam atas penjelasannya Niken.
"Aku kesini sama suami. Dia permisi ke toilet," lanjut Niken.
"Oh ya, kenalin ini istri aku namanya Rara."
Adam menoleh pada Rara yang duduk di sebelahnya, kemudian balik lagi menoleh pada Niken dan mengatakan, "Ra, ini Niken putrinya pak Dani. Dia dulu dokter kandungan di rumah sakit Santana Maria, tapi sekarang sudah pindah ke rumah sakit Elizabeth Singapura karena suaminya orang sana."
Mereka berdua berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing.
"Masih jadi dokter kandungan bukan?" Tanya Adam lagi.
"Masih. Kalau mau promil datang saja ke klinik. Aku sekarang sudah buka klinik sendiri, gak di rumah sakit lagi. Nanti kalau Adam yang daftar aku kasih free 50%."
"Wah hebat kalau gitu. Udah bisa buka klinik sendiri. Nanti lah kalau aku pergi kesana dengan istri biar sekalian periksa buat promil," tutur Adam.
Suami Rara ikut senang saat mendengar Niken sudah punya klinik. Karena dulu gadis itu memang bercita-cita mendirikan klinik bersalin agar bisa membantu persalinan warga yang kurang mampu.
Melihat pak Dani yang kaya raya tentu bukan hal yang sulit mewujudkannya impian putrinya. Tapi kala itu syarat yang pak Dani berikan harus menikah dengan Adam jika Niken mau sebuah klinik. Dan sekarang, meski tanpa Adam juga Niken bisa mewujudkan impiannya. Mungkin atas bantuan sang suami atau pak Dani yang sudah bisa menerima jodoh putrinya.
"Kalau aku yang promil free 100% ya?" Tanya Aisyah.
Niken tersenyum, "kalau buat kamu, berbayar 100%," ujarnya sambil tersenyum dan mengelus pipi mulus Aisyah.
Aisyah mencebik, "Dasar licik! Sama mantan aja ngasih geratis giliran saudara sendiri suruh bayar," sungutnya, cemberut kesal pada sepupunya, sedangkan Niken malah tertawa.
"Kalau aku yang daftar gimana?" Rangga yang semula hanya diam, ikut angkat bicara.
"Free 100% kalau Abang yang datang," kata Niken sambil tertawa.
Rara yang mendengar obrolan mereka hanya diam, menjadi pendengar terbaik tanpa suara.
"Memang anaknya berapa sekarang?" Tanya Niken pada Adam.
"Baru satu. Ini baru rencana mau nambah."
__ADS_1
"Kalau istri ada rencana mau nambah gak?" Tanya Rangga pada Adam, memancing pemikiran Adam.
"Belum tahu. Kalau dapat izin dari pihak pertama kayaknya boleh tuh di perhitungkan. Iya kan sayang?" Adam menoleh pada Rara minta persetujuan.
Rara tersenyum manis, meski itu beracun.
"Iya, boleh. Aku juga rencana mau nambah suami lagi kok mas. Dua malah. Kan lumayan, kalau mas gak bisa pulang ke rumah karena mesti pergi ke istri muda aku gak kesepian karena ada suami muda ku juga. Dua lagi."
Jawab Rara membuat Rangga terbahak seketika, karena merasa balasan skak mat kakak iparnya.
"Maruk amat kak, mau nambah sampai dua. Satu saja belum tentu keurus," Niken menjawab.
"Kalau satu memang jarang ke urus kak. Karena pekerjaan istri dobel job. Di dapur, kasur dan sumur. Tapi kalau ada tiga insyaallah bakal ke urus dengan baik. Karena banyak pemasukan jadi kerja istri cuma di kasur saja."
Aisyah tertawa mendengar pemikiran Rara yang sangat memaksa itu, "jadi poliandri lah ya?"
Rara mengangguk, "anggap saja aku seperti Drupadi yang punya banyak suami. Bergilir setiap Minggu."
"Bingung dong. Nasap anaknya kalau gitu?" Balas Niken.
"Gak juga. Kalau mau punya anak berarti gilirannya setahun. Tunggu anak lahir dulu baru pindah suami, biar jelas bapaknya. Kalau pengen lebih mudah lagi tinggal tes DNA saja, biar tahu anak siapa."
"Gimana nih Nik? Di klinik mu ada alat untuk tes DNA Sekalian gak? Siapa tahu besok Rara lahiran di klinik mu, kan biar langsung di tes, jadi bisa tahu bapaknya itu mas Rangga atau mas Adam?"
Aisyah melirik Rangga dan Adam bergantian saat mengatakan itu. Sedangkan Rangga menatap tajam ke arahnya membuat Aisyah makin terkikik di buatnya.
"Enak saja! Gak usah ngimpi! Hal itu gak bakal terjadi. Jangan kan mau kawin lagi, dekat sama laki-laki lain juga aku gak izinkan itu," potong Adam langsung.
Rara tertawa, "kalau gitu simpan impian mas buat punya istri dua. Karena ngarepin izin dari aku itu juga cuma ngimpi," balas Rara.
Jawab Rara membuat Rangga dan Aisyah tertawa meski tawa mereka terdengar beda. Aisyah tertawa senang karena peluang buat dapatkan Rangga makin besar, sedang Rangga tertawa sumbangan karena peluang buat dapatkan Rara makin kecil.
Rangga yang tidak perduli dengan Aisyah kembali bertanya pada Niken.
"Anak dokter berapa?" Tanya Rangga.
"Dua. Satu empat tahu yang satu lagi dua tahun."
"Laki-laki semua. Karena kebanyakan gen dari suami dia laki-laki makanya lahir anaknya laki-laki semua," Aisyah ikut menjawab.
"Gen keluarga aku juga kebanyakan laki-laki. Cucu ibu lima tapi yang perempuan cuma satu Mecca saja," Rara ikut nyambung.
"Kalau kita mau bikin anak berapa yang? Laki-laki apa prempuan?" Tanya Aisyah pada Rangga.
"Lima, biar rame," Jawab Rangga sekenanya.
"Wih. Mantap tuh! Tapi gak apa-apa, aku siap," jawab Aisyah, "gimana Ken? Kamu bisa progam aku bayi kembarkan? Biar sekalian lahir anak ku langsung lima. Jadi aku hamil cuma sekali aja?"
"Bisa, itu mah gampang. Datang aja tar aku ajarin caranya?"
Aisyah mengacungkan jempolnya pada Niken.
"Sip!
Obrolan mereka terhenti saat seorang lelaki berjas ungu datang dan duduk di sebelah Niken.
"Maaf lama, karena mules," jelasnya pada sang istri.
"Gak apa-apa sayang. Aku ngerti kok."
__ADS_1
Niken mengelus lengan suaminya, memberi tahu jika dia tidak mempermasalahkan hal itu. Karena bagi dia suaminya bisa menemani dia datang di acara papi maminya juga sudah bersyukur banget padahal posisi dia lagi kurang sehat.
"Jadi gimana? Udah mendingan mulesnya?" Tanya Niken seraya menoleh pada Tony.
"Alhamdulillah udah mendingan," Tony tersenyum pada sang istri.
"Oh ya beb, kenalin ini bang Adam! Pria yang bikin aku patah hati sampai kabur ke Singapura," tujuan Niken pada Adam, membuat suami Rara meringis kuda atas perkenalkan yang memalukan itu.
"Dan ini istrinya, Rara! Prempuan yang ngerebut bang Adam dari aku."
Rara membulatkan matanya.
What the hell....yang benar aja deh prempuan ini? Bagaimanapun bisa dia mengatakan kalau aku merebut mas Adam dari dia, monolog Rara dalam hati, aneh-aneh aja. Kenal mas Adam aja kagak bisa di bilang aku yang ngerebut, lanjut hati Rara.
"Tapi sekarang kamu bersyukur kan? Karena Rara ngerebut Adam makanya kamu bisa ketemu suami kamu dan sampai punya anak dua?"
Rangga yang tidak suka melihat Rara di pojokan akhirnya buka suara.
"Hem, jelas bersyukur meski dulunya sempet merasa di manfaat juga. Untung ketemu bang Tony yang baik jadi aku bisa melewati itu semua."
"Lebay," sindir Rara pelan. Tapi Adam dan Rangga yang duduk di kiri kanannya dapat mendengar. Membuat kedua pria itu menoleh pada Rara. Sedangkan mama Ali, pura-pura tidak tidak melihat.
Tony, Adam, dan Rara saling berjabat tangan dengan menyebutkan nama masing-masing, Formalitas gaya orang kenalan pada umumnya.
Sampai obrolan mereka berlanjut dan Rara menyadari jika suami Niken memperhatikan Rara dengan seksama, seolah pria itu memberikan penilaian pada dirinya membuat Rara merasa tidak nyaman saat ditatap sedemikian rupa.
"Ada apa bang? Apa ada yang salah dengan penampilan ku?" Tanya Rara memberanikan diri bertanya pada Tony.
Rara menoleh kanan kiri, mengamati penampilannya, hal itu juga membuat semua mata yang ada di meja itu tertuju pada penampilan Rara.
Tony yang merasa ke gep karena mengamati Rara diam-diam tersenyum, saat Niken menatapnya curiga.
"Tidak, bukan," sangkalannya, sambil mengibaskan tangan tanda menolak, "saya hanya berfikir kamu Fira bukan sih? Syafira Azahra putri. Sekertaris OSIS di SMA 1 Siak tahun 2008?"
Rara mengangguk, "iya, kok Abang tahu saya sekolah disana? Memang Abang alumni sana juga? Siapa? Apa kita saling kenal?" Tanya Rara penasaran.
Otaknya tiba-tiba traveling ke masa lalu mengingat-ingat siapa sebenarnya sosok di depannya ini. Namun ingatan Rara tidak mengingat siapa pun juga.
"Ya ampun Fira! Gak nyangka akhirnya kita ketemu lagi!" Ucap Tony begitu semangat, sampai pria itu berdiri guna menggegam jemari Rara.
'Deg'
Seketika jantung Rara mau loncat keluar saat mendengar suami Niken memanggil namanya dengan sebutan Fira. Hanya satu orang yang memanggilnya begitu dan dia adalah.....
****
Bantu Rara naik ranting
kasih bintang pada cerita novel Cintaku Salah Kamar ya!
ikuti petunjuk yang ada di gambar.
*****
Jreng! Jreng! Jreng!
__ADS_1
Siapakah dia? Suami Niken itu?