Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 75. Berubah


__ADS_3

"Aku mau ke sekolah sama mama," ujar Ali pada Rangga saat mereka ada di halaman rumah.


Rangga berjongkok di depan keponakannya agar tinggi mereka sejajar.


"Boy, ke sekolahnya ayah yang antar, nanti pulangnya mama yang jemput, ok!" Rangga mencoba bernegosiasi pada Ali sudah di anggap anak sendiri.


Ali mengeleng, "Aku gak mau ke sekolah kalau bukan mama yang antar!" Anak Rara nge-gas. Kemudian bocah enam tahun itu berlari masuk ke dalam rumah sambil memanyunkan bibirnya.


Rangga yang melihat kelakuanku sang ponakan hanya dapat mengelus dada, saat menghadapi Ali yang mode keras kepala begini. Dengan sabar Rangga kembali masuk kedalam rumah guna nyusulin sang ponakan.


Sebenarnya sudah dari semalam Ali ingin pulang ke rumah. Tapi saat itu baik Rangga maupun Syaputra sangat cepak, apalagi sudah kelewat tengah malam, sehingga Rangga lebih memilih merayu bocah kecil itu ketimbang mengeluarkan mobil guna mengantarkan Ali pulang. Karena Rangga pikir, jam segitu juga Rara pasti sudah tidur.


"Loh cucu nenek kok belum berangkat ke sekolah?" Tanya Eka saat melihat Ali kembali masuk ke ruang makan menghampiri dirinya.


Eka menghentikannya aktivitas nya mengelap meja makan dan menghampiri sang cucu.


"Aku maunya sekolah sama mama bukan sama om Rangga!" Adu Ali pada Eka dengan nada kesal.


Eka yang melihat perubahan pada mood Ali pun bertanya pada putranya lewat tatapan mata, yang di jawab gedikkan bahu oleh Rangga tanda cowok itu juga tidak tahu.


"Gimana kalau Ali sekolah sama nenek saja? Nanti pulang nya baru di jemput mama?" Eka mulai merayu.


"Aku gak mau. Kalau bukan mama yang anterin, Ali gak mau sekolah!" Sarkas anak Rara sambil membuang tasnya, kemudian duduk di kursi makan, melihat kedua lengannya di dada. Tak lupa bibir seksinya sudah maju mirip mulut ikan louhan.


Kalau sudah seperti ini, maka dua orang dewasa di depannya tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan bocah ganteng itu.


"Ok, baiklah. Kalau begitu ayok om antara ke rumah mama. Tapi nanti kalau mama sudah ke pergi kerja, om yang antar Ali ke sekolah ya?" Kata Rangga akhirnya ngalah, ketimbang mereka berdua terlambat.


Ali mengangguk, "Gendongan, ayah!" Rengek Ali sambil merentangkan ke dua tangannya, siap menyambut Rangga.


Bocah itu memang pintar merayu Rangga. Kalau ada maunya dia manggil Rangga kata dengan ayah, tapi kalau lagi kesal di manggil Rangga dengan sebutan om, benar-benar anak Adam yang licik.


Dengan sabar Rangga menghampiri tubuh sang ponakan dan merengkuhnya, membiarkan tangan Ali melingkar di lehernya.


"Kita berangkat dulu ma," pamit Rangga pada Eka, saat mereka sudah ada di halaman rumah. Berganti lelaki beda usia itu menyalami tangan Eka sambil menciumnya.


"Hati-hati di jalan!" Pesan Eka, sambil membantu memakaikan tas sekolah Ali yang semula dia bawa ke punggung bocah itu.


"Nenek juga hati-hati di rumah sendirian!" Ali mengingatkan.


"Baik sayang. Kamu juga sekolah yang pintar ya!" ujar Eka seraya mengusap puncak kepala Ali.


"Hati-hati naik motornya Ga, jangan ngebut!" Pesan Eka ke sekian kali, yang di jawab anggukan oleh Rangga.


Setelah membantu Ali naik ke motor matic milik Eka mereka berdua berlalu dari hadapan prempuan berusia lebih dari setengah abad setelah sebelumnya mengucapkan salam perpisahan terlebih dahulu.


Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, kini sampailah mereka pada rumah Rara.


Rumah berlantai dua dengan pagar besi setinggi satu meter, itu tampak tertutup rapat. Mungkin Rara sudah pergi kerja, pikir Rangga.


Setelah membuka pintu pagar yang ternyata tidak di kunci itu, Rangga membawa motor Vario hitamnya menuju halaman rumah Rara.


Rangga baru hendak menekan bel saat mendapati mbok sudah keluar lebih dulu dari dalam rumah sambil membawa sapu. Mungkin prempuan itu mau nyapu teras.


"Astaghfirullah, mas Ali! Bikin kaget aja!" Ucap mbok sambil mengusap dadanya, kaget menemukan Ali di depan pintu.


Mengacuhkan rasa terkejut mbok Atun, dua lelaki beda usia itu bertanya kepada mbok secara bersamaan.


"Mama ada mbok?"


"Rara ada mbok?"


"Ada mas, di kamar," mbok memberi tahu.


"Memang dia tidak kerja mbok?" Rangga kembali bertanya pada si mbok.


Mbok Atun mengeleng, "mbak Rara sakit mas. Dia demam."


Begitu mendengar jawaban mbok, Ali langsung berlari menuju kamar sang mama. Di susul Rangga yang berjalan di belakang sang ponakan.


'Brak!'

__ADS_1


Ali membuka pintu kamar secara kasar.


"Mama!" Teriak bocah kecil itu sambil lari, berhamburan di pelukan Rara yang sedang bersandar pada kepala ranjang.


Adam yang sedang menyuapi Rara makan, bergeser sedikit ke belakang saat melihat anaknya datang.


"Mama sakit apa?" Tanya Ali, "mama jangan sakit!" Bocah itu sesenggukan di pelukan Rara.


"Aku gak mau mama pergi ninggalin aku. Kalau mama pergi Ali sama siapa? Ali gak punya siapa-siapa selain mama," jujur bocah, sedih.


Bagi Ali, Rara adalah dunianya, segala-galanya, karena hanya Rara yang dia miliki dan hanya sang mama yang selalu ada buat dia. Jadi kalau Rara tidak ada tentu Ali tidak bisa membayangkan itu.


"Ali gak akan nakal, gak akan bandel. Akan nurut sama mama. Tapi mama jangan pergi ninggalin Ali."


Isak anak enam tahun itu yang berfikir jika Rara akan mati dan meninggal dia. Karena sejauh ini Ali memang tidak pernah melihat Rara sakit. Maksud nya jika Rara sakit dia akan bersikap baik-baik saja di depan Ali, karena tidak mau melihat putranya sedih.


Sedangkan Ali, beberapa hari terakhir sering melihat Rara menangis diam-diam, dan tadi dia dengan mbok bilang mamanya sakit. Jadi wajar jika bocah itu berfikir terlalu jauh.


"Sayang mama baik-baik saja. Kamu gak usah nangis!" Rara menenangkan Ali seraya memeluk dan mengusap puncak kepala Ali, serta beberapa kali mencium kepala mungil itu.


"Ali takut mama akan pergi ninggalin aku."


"Tidak sayang, mama gak akan ninggalin kamu. Mama gak akan kemana-mana. Pangeran mama jangan nangis Okey!" Pinta Rara.


"Tapi kenapa mama sakit?" Tanya Ali lagi.


"Mama cuma kecapean saja sang," jawab Adam seraya mengusap punggung anaknya.


Mendekati suara sang papa, Ali melepas pelukan Rara dan beralih melihat sang papa yang duduk di belakangnya.


"Ali takut mama pergi ninggalin aku," adu bocah kecil itu pada Adam.


"Tenang sayang. Mama tidak akan ninggalin kamu, ada papa disini yang akan merawat mama hingga sembuh," jawab Adam seraya tersenyum. Meyakinkan pada sang anak.


"Mama."


Ali kembali memeluk Rara. Begitu pun Rara yang membalas pelukan itu.


Rara menghapus air mata yang membasahi pipi putih anaknya.


"Mama beneran gak papa kan?" Tanya Ali ke sekian kalinya.


Rara mengangguk, "coba pegang kening mama, tidak panas bukan?" Pinta Rara sambil membawa tangan kecil itu ke dahinya guna mengukur suhu tubuh nya.


Ali mengangguk.


Rara pun tersenyum.


"Tapi ini kenapa? Kenapa pipi mama merah?"


Ali mengelus pipi Rara yang merah bekas tamparan Adam. Dan hal itu membuat semua mata yang ada disana, termasuk menatap ke arah pipi Rara, yang tampak merah biru.


Rangga yang mendengar suara sang ponakan pun mengalikan pandangan pada pipi Rara. Pria itu memper erat kepala tangannya yang ada di balik celana kerja, saat melihat bekas tamparan di pipi Rara.


Pasti Adam pelakunya, batin Rangga.


Rara yang merasakan elusan sayang Ali pun menggegam jemari kecil yang ada di pipinya, "tidak apa-apa sayang. Itu kemarin mama tidak sengaja terbentur pintu," bohong Rara.


"Apakah itu sakit?"


Belum sempat Rara menjawab, Ali lebih dulu meniup pipi Rara dengan pelan, "biar gak sakit," ucap bocah itu.


Menurutkan perbuatan Rara yang selalu meniup setiap bagian tubuh yang di keluhkan sakit oleh Ali, sebagai pertolongan pertama, agar rasa sakitnya berkurang sebelum kemudian dia akan mengoleskan obat pada luka putranya.


Dan kini putranya melakukan hal yang sama pada Rara, membuat hati perempuan itu bahagia juga pilu hingga tanpa sadar matanya berkaca-kaca akibat perbuatan Ali.


Makasih sayang, sudah jadi ke kekuatan untuk mama selama ini, bisik Rara dalam hati.


"Ali gak ke sekolah?" Tanya Adam, setelah melihat jam yang dinding yang hampir menunjukkan pukul setengah delapan.


Ali mengeleng.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Rara yang tersadar jika Ali masih ada di rumah.


"Ali mau jagain mama yang sakit," jawab polos bocah itu.


"Sayang, mama gak apa-apa, mama baik-baik saja," Rara memberitahu lagi sambil mengelus rambut anaknya.


"Ali gak usah jaga mama, biar papa saya yang jaga. Kamu ke sekolah saja nak," Adam memberi tahu.


"Bener sayang kamu ke sekolah saja. Biar pintar. Kata mau jadi dokter," Rara mengingatkan.


"Kalau mau jadi dokter gak boleh sering-sering bolos sekolah," sambung Rangga yang sedari tadi diam ikut angkat bicara.


"Betul sekali. Kalau mau jadi dokter sekolahnya gak boleh sering bolos. Kan katanya biar bisa ngobatin mama kalau sakit. Biar mama cepet sembuh," Rara memberi semangat pada Ali.


"Gimana kalau sekolahnya papa yang antar?" Tawar Adam.


Rara terseyum lebar, "oh iya. Kemarin kan Ali pengen sekolah di antar jemput oleh papa kan. Nah sekarang papa ada di rumah bisa ngatarkan sekolah Ali. Nanti juga pulangnya papa yang jemput. Iya kan pa?" Tanya Rara pada Adam.


Karena sering sekali Ali bertanya kenapa papanya tidak pernah mengantar jemput dirinya ke sekolah. Tidak seperti papa teman-teman nya yang lain yang kadang menjemput anak mereka, main bersama. Tapi kenapa papa dia jarang ada di rumah.


Saat seperti itu, Rara hanya bisa bilang papa sibuk bekerja sehingga gak punya waktu untuk jemput sekolah. Rara tahu meskipun ada Rangga tapi tetep saja Ali rindu dengan sosok Adam. Namun Rara juga tidak bisa menuntut banyak kepada Adam ya g memintanya untuk antar jemput Ali ke sekolah. Karena melihat Adam mau meluangkan waktunya untuk bermain bersama Ali saja Rara sudah bersyukur banget.


"Iya. Pokoknya mulai sekarang, selama papa di rumah, Papa yang akan antar jemput Ali ke sekolah," ucap Adam dengan seulas senyum tulus.


Mungkin memang ini saatnya Adam menebus semua kesalahan yang telah dia lakukan bertahun-tahun silam dan sekarang lah saatnya dia untuk dekat dengan Ali, pikir Adam.


Perkataannya Adam membuat Rangga mengernyitkan dahinya. Tumben? Batin pria itu.


Mendengar sang papa yang hendak mengantarnya, Ali pun mau pergi sekolah.


Bersama dengan Adam dan Ali, Rangga pun keluar dari kamarnya. Tapi tak seberapa lama pria itu kembali masuk lagi ke kamar Rara.


"Kenapa bang?" Tanya Rara saat melihat Rangga datang.


"HP aku ketinggalan," ujarnya sambil mengambil HP yang ada di dekat kaki Rara.


Rara agak heran. Karena sedari tadi Rangga tidak mengeluarkannya HP, kenapa bisa ketinggalan di kamar. Namun dia memilih diam dan tidak bertanya.


Namun saat sudah mendapatkan HP Rangga tidak juga pergi dari kamar Rara. Membuat Rara harap-harap cemas, takut terjadi fitnah.


"Kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Rara saat melihat tatapan mata Rangga yang berbeda dari biasanya.


"Katakan dengan jujur kepada ku Ra, apa Adam yang memukul mu?" Tanya Rangga seraya duduk di tepi ranjang.


"Bang!" Rara mengingatkan kepada adik iparnya untuk tidak terlalu dekat.


"Katakan Ra?"


"Ini urusan rumah tangga ku dan mas Adam, jadi abang tidak berhak ikut campur di sini," Rara memberitahu.


"Jangan buat aku menyesal karena sudah membiarkan kamu hidup bersama dia Ra!" Suara Rangga pelan namun penuh penekanan.


"Abang harus ingat, pernikahan ku adalah amanat ayah, jangan buat aku jadi anak yang durhaka."


Tidak menanggapi omongan Rara Rangga pun melanjutkan ucapannya.


"Tahu kamu sengsara begini, aku membawa kabur, dan kita kawin lari, seperti permintaan mu."


Penyesalan terlihat jelas saat Rangga mengatakan hal itu.


"Tapi kamu tidak mau bukan. Kamu terlalu pengecut kala itu. Sudahlah, tidak usah di bahas. Semua hanya masalalu," Rara terseyum sinis saat mengingat itu semua.


"Maaf, karena aku pikir kamu akan bahagia."


"Sudah lah bang. Sekarang aku juga bahagia kok. Aku yakin aku pasti akan bahagia bersama mas Adam, seperti harapan mu dan semua orang."


Rangga mengeleng.


"Beri aku sedikit waktu Rara. Aku akan membuatmu keluar dari penderitaan mu ini."


"Jangan lakukan apa pun bang!" Pinta Rara, "aku tidak ingin mas Adam tahu tentang kisah masa lalu kita."

__ADS_1


Rangga hanya tersenyum tipis, kemudian meninggalkan kamar Rara dengan sejuta tanya di hati wanita itu.


__ADS_2