Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 67. Ada Apa Dengannya?


__ADS_3

Adam menaikkan sebelah alisnya. Menatap layar HP-nya yang sudah menghitam. Heran, ketika mendapati sang istri yang memerintahnya dengan nada tinggi penuh amarah. Tidak seperti Rara yang biasanya lemah lembut.


"Kenapa dia? Kenapa dia marah seperti itu? Ada apa sebenarnya? Apa aku telpon disaat yang tidak tepat?" guman Adam pelan.


Merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Rara makan Adam pun kembali menghubungi Rara.


"Hish....kenapa sih tuh orang!" Kesal Adam saat yang terdengar dari sambungan telponnya hanya suara operator saja menandakan jika handphone Rara tengah tidak aktif.


Adam melemparkan handphone nya begitu saja keatas meja, kemudian menarik sebuah berkas dan membacanya dengan sesama sambil bersandar pada kursi kerjanya mencoba bersikap tidak perduli dengan apa yang terjadi pada Rara.


Dia kembali menekuni pekerjaannya, membuka kertas putih itu selembar demi selembar memeriksa apa yang ada disana sebelum membubuhkan tanda tangan pada kolom dimana namanya terpampang sebagai penanggung jadwal pada lembar terakhir.


Namun gerakan jemari lentiknya terhenti pada lembar kelima sebelum Adam menutup berkas itu dan menaruhnya kembali ke atas meja karena tidak fokus dalam bekerja. Kemarahan Rara sukses membuat konsentrasi Adam buyar, yang ada hanya rasa penasaran kenapa istri bisa bersikap sangat tidak sopan dan kurang ajar begitu. Membuat harga diri Adam yang selalu tinggi merasa terhina.


Sangat menjengkelkan, pikir Adam.


Pria itu kembali meraih ponselnya untuk menelpon Rara lagi guna memaki wanita itu karena sudah bersiap kurang ajar dan tidak sopan kepada dia yang setatusnya adalah suami. Orang yang harusnya dihormati, bukan di bentak apalagi di perintah dengan kasar begitu.


Lagi-lagi Adam di buat kesal karena ponsel Rara tidak aktif.


"Haish... Sebenarnya apa yang di lakukan wanita itu, kenapa HP-nya dinantikan," kesal Adam sambil menatap meremas handphonenya.


Masih dengan posisi duduk tegak pada kursi kerjanya yang besar Adam kembali mencari kontrakan di HP-nya, mungkin bertanya pada mbok lebih baik ketimbang mati penasaran.


Adam menempelkan benda kesayangan sejuta umat itu ke telinga kanannya setelah menekan tombol panggil pada benda pipih itu.


Setelah menunggu bunyi Tut beberapa saat terdengar suara mbok mengatakan hallo pada Adam.


Adam pun membalasnya Sapan itu dan mengucap salah seperti biasa sebelum bertanya tentang sang istri pada perempuan berusia hampir setengah abad itu.


"Rara di rumah atau kerja mbok?" Tanya Adam ingin tahu posisi sang istri sekarang. Meskipun dia tahu jika jam segini biasanya Rara masih ada di sekolah.


"Di rumah mas. Baru saja pulang."


"Sudah pulang kerja dia?" Tanya Adam tidak percaya.

__ADS_1


Di tatapnya jam dinding bulat warna putih yang tergantung di dinding di sebrang sebrang meja kerja baru menunjukkan pukul sebelas siang dan Rara sudah ada di rumah. Tidak biasanya dia pulang sepagi ini, pikir Adam. Atau mungkin memang ada acara di sekolah yang membuat dia bisa pulang cepat? Berbagai pertanyaan hinggap di benak Adam yang tak satupun mendapat jawaban dari pertanyaan itu.


"Iya mas, baru saja dia masuk. Pulang dalam keadaan nangis," adu mbok Atun pada Adam.


"Nangis? Nangis kenapa mbok?" Suara Adam terdengar antusias karena begitu kwatir juga penasaran kenapa Rara menangis.


"Gak tahu mas. Saya tanya tidak di jawab. Mbak Rara lewat begitu saja, langsung masuk ke kamar."


Ada apa sebenarnya? Kenapa Rara pulang kerja dalam keadaan nangis. Apa ada masalah di kantor? Monolog Adam pada hatinya. Karena hal seperti itu memang tidak pernah terjadi sebelumnya. Maksudnya Adam yang tidak pernah tahu jika Rara menangis.


"Sekarang dia ada di mana mbok? Tolong berikan HP-nya pada Rara mbok saya mau ngomong?! Tanya dan perintah Adam.


Mbok Atun mengaguk meski Adam tidak tahu. Kemudian wanita itu meminta Adam menunggu sebentar.


Terdengar olehnya langkah mbok Atun menaiki tangga sebelum akhirnya dia mengetuk pintu dan memanggil nama Rara.


Setelah beberapa kali di panggil hasilnya nihil, tak ada jawaban dari sang pemilik nama itu dan si mbok bilang juga pintu kamar Rara di kunci dari dalam dan mbok tidak berani membuka pintu dengan kunci duplikat.


"Sebenarnya apa yang terjadi mbok?"


"Aneh bagaimana mbok?" Tanya Adam yang begitu sangat penasaran.


Mbok Atun pun bercerita jika akhir-akhir ini Rara sering menangis diam-diam. Setiap dia keluar dari ruangan kerjanya pasti Rara menangis dan apa yang menyebabkan majikannya itu menangis mbok juga tidak tahu karena Rara tidak pernah mau bercerita. Setiap kali mbok Atun bertanya ada apa, jawaban Rara selalu sama. Jika tidak sebuah senyuman juga hanya bilang tidak apa-apa. Tapi mbok tahu jika Rara menyembunyikan sesuatu yang serius, namun dia berusaha untuk memendamnya sendiri, tidak mau berbagi dengan orang lain. Karena begitulah sosok Rara. Dia lebih suka menyimpan dan memendam sendiri, tidak mau menceraikan masalah nya pada orang lain.


Bukan hanya menangis diam-diam. Tapi mbok juga bercerita jika akhir-akhir ini Rara juga suka melamun, bengong sendirian. Bahkan kadang di panggil Ali berkali-kali juga dia tidak dengar, tapi kalau Ali menghampiri dan menepuk pahanya pelan Rara langsung terjingkat kaget.


Bahkan sekarang juga Rara lebih senang mengurang diri di kamar ketimbang menemani Ali bermain di halaman. Padahal biasanya setiap sore mereka selalu bermain bersama-sama tapi sekarang tidak pernah.


"Mbak Rara juga sekarang makin kurus mas, karena dia jarang makan malam. Kalau habis sholat isya dia langsung tidur jangan makan dulu. Mas Ali lebih sering makan bareng saya daripada bareng mbak Rara," Curhat mbok ngadu.


"Ada apa sebenarnya ya mbok? Apa Rara ribuan dengan teman sekantornya?"


Lagi-lagi mbok Atun mengelengkan kepala, "kurang tahu mas."


Kemudian Adam bertanya sudah seberapa lama Rara bersikap seperti itu, dan kata wanita yang sudah bekerja di rumahnya sedari dia kecil itu bilang jika perubahan sikap Rara di mulai dari saat Adam kembali bekerja setelah pulang kemarin.

__ADS_1


Adam pun mulai menyadari jika istrinya memang berubah akhir-akhir ini. Bahkan semenjak Adam pergi dari rumah, hampir satu bulan lamanya Rara belum pernah menelepon nya sekalipun. Padahal biasanya istri nya itu selalu menelponnya setiap seminggu sekali sekedar untuk bertanya Adam sedang apa? Sudah makan belum? Tadi masak apa? Sarapan pakai apa? Kerjaannya sibuk tidak? Sekedar bosa-basi yang dilakukan pasangan saat jauh dari rumah. Atau kalau tidak Rara bakal bilang Ali kangen dan pengen ngomong. Tapi senarnya Adam tidak tahu yang kangen beneran Ali atau dirinya.


Adam memang selama ini tidak pernah menelpon Rara lebih dahulu jika tidak ada hal penting yang harus dia bicarakan pada istrinya dan memang selama ini selalu Rara yang rutin menghubungi nya. Karena itu dia tidak ingat untuk menelpon Rara walau perempuan itu tidak menelepon nya.


Ditambah dirinya sendiri pun beberapa ini sibuk dengan masalah yang di buat Monica membuat Adam benar-benar lupa pada sosok Rara.


Dia baru akan nelpon Rara tadi, itu juga karena sang ibu mertua yang menelponnya lebih dulu dan bertanya pada Adam kenapa akhir-akhir ini HP Rara tidak aktif dan sulit di hubungi yang Adam sendiri juga tidak tahu karena dia memang tidak pernah menelepon Rara.


Ibu juga bilang Rara tidak pernah main ke rumah mereka setelah lebaran kemarin. Sampai perempuan yang menjadi mertua Adam itu kangen dengan Ali.


Lagi-lagi Adam juga tidak tahu kenapa istri nya tidak pernah main ke rumah orang tuanya sendiri. Apakah karena jauh atau karena tidak ada yang mengantarkan. Dan lagi-lagi Adam juga tidak pernah bertanya kenapa pada Rara, ataupun menawarkan pada sang istri. Adam benar-benar menjadi sosok yang begitu sangat tidak perduli pada Rara.


Kini terbesit rasa menyesal di hati Adam. Karena demi menjaga nama Maelin di hatinya dan agar tidak membuat Maelin terluka lagi Adam jadi menjaga jarak dengan Rara sehingga membuat Adam selalu tidak perduli dengan Rara hingga mereka tidak dekat satu sama lain dan membuat Adam tidak tahu apa-apa tentang masalah yang sedang menimpa sang istri, begitu pun Rara tidak bisa berbagi penderitaan yang dia alami kepada Adam. Sang suami.


Setelah ngobrol hampir dua jam yang di dominasi oleh mbok yang bercerita masalah Rara pada dirinya Adam pun mengucapkan terimakasih atas informasinya yang di berikan oleh ART-nya itu.


"Sama-sama mas Adam. Mbok juga senang bisa bantu mas Adam," ujar mbo Atun tulus.


Kemudian mbok Atun juga menyarankan Adam untuk pulang ke rumah jika sekiranya tidak terlalu sibuk atau perkejaan tidak banyak.


Adam juga setuju dengan itu semua. Terlebih karena Rara juga tadi memintanya untuk pulang. Meski bagian itu tidak Adam katakan pada mbok Atun.


Begitu telpon dengan mbok Atun berakhir Adam bertanya dengan Rain tentang jadwal nya beberapa hari kedepan hingga akhir Minggu. Apakah ada rapat atau pertemuan penting yang harus di hadiri atau tidak. Dan jawab Rain cukup membuat Adam senang karena Minggu ini jadwal Adam tidak terlalu sibuk. Sehingga dia bisa pulang kampung. Yang penting semua masalah pekerjaan sudah terselesaikan. Dan suami Rara meminta Rain untuk mengirim email jika ada sesuatu yang mendesak untuk dia kerjakan.


Setelah mendapat jawaban iya dari perempuan yang berdiri di depannya itu Adam meminta Rain kembali berkerja.


"Ya sudah, kamu boleh keluar sekarang!" Perintah Adam saat tidak ada lagi yang perlu di sampaikan pada Rain.


Setelah membungkuk sedikit tanda hormat sebelum berbalik badan dan pergi menuju pintu keluar, meninggalkan ruangan Adam.


Sepeninggalan Rain, Adam pun kembali bekerja. Menyelesaikan semua berkas yang ada di depannya supaya tidak harus di bawa pulang ke rumah. Beruntung begitu jam pulang kantor tiba semua berkas itu telah selesai di tanda tangani nya. Sehingga, tanpa mampir ke apartemen terlebih dahulu Adam langsung memacu mobilnya menuju ke rumah.


*****


Sabar menunggu mereka ribut ya....

__ADS_1


__ADS_2