Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 91. Memberi Hukuman


__ADS_3

Athor koreksi dikit ya biar tidak terjadi salah paham.


Pada bagian pertengkaran Adam dan Rara itu Adam hanya menjambak saja tidak menampar Rara. Dia hendak memukul tapi karena Rara keburu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sehingga Adam menonjok Pintu lemari kaca yang ada di belakang kepala Rara.


Dan prihal Adam marah dengan Rara dan tidak memperbolehkan jalan-jalan bukan karena cemburu pada Alan, tapi karena Alan tidak mau memberitahu Adam siap mantan Rara, ketika pria itu bertanya.


☘️☘️☘️☘️


Adam melempar handphone nya ke meja kerja dengan kesal, kemudian pria itu tertawa, menertawakan kebodohannya sampai bisa di kerjain oleh anak dan istrinya, terutama istrinya yang entah mulai kapan menjadi suka usil padanya, ataukah Adam yang baru tahu jika sifat Rara memang seperti itu, namun yang pasti Rara yang dulu lugu dan polos kini tidak ada lagi.


Semakin mereka dekat Adam sepertinya menjadi mengenal sosok Rara, dan ternyata istrinya tidak selugu dan sepolos yang dia pikirkan selama ini. Rara juga tidak sebaik yang Adam kira karena prempuan itu selalu saja membalas perbuatan Adam dengan gaya dia sendiri. Tidak membuat marah cuma cukup menjengkelkan.


Salah satunya nge-prank Adam seperti tadi, yang sukses bikin hati dia seperti di remas-remas di permainkan oleh Rara.


"Jangan panggil aku Adam kalau gak bisa bikin kamu terdiam di sisih ku, Ra. Aku pastikan kamu gak akan pernah bisa lari dari diriku."


Adam tersenyum lebar, dalam otaknya sudah ada ide bagaimana memberi hukuman sang istri biar prempuan itu tidak main-main padanya lagi.


Memikirkan ide gilanya membuat Adam tak henti-hentinya tersenyum. Bekerja pun jadi semangat kalau begini bukan.


"Bapak kenapa?"


Rain yang baru masuk ruangan Adam menatap heran sang bos yang sedang senyam-senyum sendiri.


Tidak menjawab pertanyaan sang sekretaris Adam malah balik bertanya kepada Rain.


"Ada apa?"


"Ini pak saya mau minta tanda tangan bapak."


Rain menyerahkan sebuah map hitam pada Adam yang berisi berkas persetujuan.


"Makan malam tim," ucap Adam saat saat membaca kertas yang ada di dalam map.


"Iya pak. Tim desain dua barusan memenangkan proyek yang bapak berikan kemarin dan sekarang untuk merayakan itu mereka ingin mengadakan makan malam bersama tim."


"Oh... silahkan gak apa-apa," Adam menyetujui hal itu.


"Mereka ingin bapak ikut makan malam bersama juga."


Rain menyampaikan permintaan para ketua Devisi yang tadi sempat di sampaikan pada dirinya.


"Tolong kamu gantikan saya untuk gabung ke acara makan malam itu nanti malam Rain. Karena saya malam ini ada acara jadi tidak bisa pergi bareng mereka.


Bilang kalau mereka boleh makan dan minum sepuasnya. Kalau anggaran yang di berikan oleh perusahaan kurang mereka boleh memakai kartu debit saya."


Ujar Adam sambil mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya dan menyerahkan pada Rain.


"Baik pak, trimakasih. Nanti saya sampaikan," ucap Rain.

__ADS_1


Sekretaris Adam pun pamit undur diri setelah tidak ada lagi yang di sampaikan.


*


Rara yang membuka pintu kamar terkejut ketika mendapati Adam berdiri di depannya.


"Mas Adam!"


Refleks Rara menutup mulutnya tidak percaya, matanya membulat sempurna karena terkejut.


"Ini beneran mas Adam kan?"


Ibu satu anak itu mencubit pipi suaminya yang tengah menyeringai untuk meyakinkan diri sendiri.


"Mas pulang?" Tanya Rara sambil tersenyum lebar, dia begitu bahagia melihat sosok yang berdiri di depannya itu adalah sang suami.


"Kenapa?Kaget?" Tanya Adam dengan wajah datarnya.


"Hm, aku beneran kaget banget melihat mas tiba-tiba udah nongol saja. Padahal belum week end."


Jawab Rara sambil mengambil jas dan tas kerja dari tangan suaminya.


Adam yang mendengar penuturan sang istri, lalu menunduk tubuhnya membuat wajahnya sejajar dengan wajar Rara, kemudian Adam berkata,


"kan mas mau kasih hukuman sama kamu karena sudah nge-prank mas tadi siang."


Melihat wajah rona merah pada wajah Rara karena ulahnya Adam pun tersenyum, kemudian pria itu melewati sang istri yang masih berdiri terpaku di depan pintu.


Sedangkan otak Rara yang sempat blank beberapa saat muali bereaksi lagi, memikirkan kira-kira hukum apa yang akan suaminya berikan, apakah dia akan dia hajar atau di pukul lagi seperti beberapa waktu lalu?


Tapi melihat wajah bahagia Adam tentu tidak mungkin jika suaminya akan melakukan KDRT lagi padanya, lalu apa hukuman yang akan dia terima?


Rara begitu penasaran dengan ulah Adam, sehingga mama Ali mengikuti langkah sang suami kembali masuk ke kamar.


"Apa yang akan mas lakukan pada ku?"


Adam yang sedang berjalan sambil membuka kancing lengan kemajanya seketika menghentikan langkahnya mendadak sehingga Rara yang berjalan tepat di belakangnya menumbur punggung bidang itu lantaran remnya kurang pakem.


"Auw..." Rara memekik kaget, sambil mengelus dahinya.


"Mas kalau berhenti jangan mendadak dong kan jadi numbur, untung bukan kecelakaan berdarah," omel sang Rara, sambil menatap wajah wajah Adam yang sudah menoleh ke arahnya dengan wajah kesal.


"Alah modus, bilang aja kalau kamu emang sengaja pengen cium punggung mas. Pakai alasan numbur segala," goda Adam sambil menaik-naikan aliasnya, seraya tersenyum jahil.


"Ih...males banget, siapa juga yang mau cium situ, orang belum mandi juga," jujur Rara bersungut, kemudian berjalan melewati Adam untuk menaruh tas kerja suaminya di meja rias dan menggantung jas ada ke gantung baju.


"Belum mandi juga masih wangi ya," goda Adam sambil berdiri disamping Rara dengan mengangkat sebelah lengannya sehingga ketek Adam tepat berada dia depan Rara.


"Ih...mas bau asem!"

__ADS_1


Rara memukul suaminya dan mendorong tubuh pria itu agar menjauh darinya, jujur saja Adam memang masih wangi, dia pun masih betah jika di peluk oleh sang suami lama-lama saat ini, tapi perbuatan Adam yang membuat merendahkan harga diri Rara membuat prempuan itu tidak terima.


"Masa sih? Masih wangi kok, coba deh cium!" Paksa Adam.


Papa Ali menahan tubuh sang istri dengan memeluknya dari belakang, lalu mengakat lengannya tinggi-tinggi agar Rara mencium aroma ketiaknya yang belum mandi.


"Mas bau! Jorok ah! Belum mandi!"


Rara berteriak sambil goyang kiri dan kanan mencoba melepas diri dari kukungan sang suami. Besar tubuh mereka yang tidak seimbang membuat usaha Rara tidak berhasil meski sudah berusaha keras.


Merasa putus asa karena tak bisa berkutik akhirnya Rara pun mebalas perbuatan suaminya. Dia merogohkan tangannya pada ketiak sendiri lalu mengoleskan pada hidung Adam.


"Gantian mas cium bau ketiak ku," ucap Rara di akhir aksinya.


"Huek...bauk!" Kilah Adam yang mencoba menjauhkan wajahnya dari tangan sang istri.


"Coba mas, aku dah wangi," kejar Rara.


Aksi kedua yang mencoba untuk membagikan aroma ketek masing-masing membuat pasangan suami istri itu saling tertawa dan meronta hingga,


"Mama!"


Teriakan Ali dari ambang pintu membuat kedua orang tua itu memutar kepala menoleh pada sang anak yang sudah berdiri dengan setelan baju Koko berwarna grey lengkap dengan pecinya.


Melihat ada Ali di hadapan mereka, pelukan Adam pada Rara pun mengendor sehingga membuat Rara mengeser tubuhnya ke sebelah Adam.


"Di tungguin dari tadi gak ke turun-turun mama malah asik becanda sama papa!"


Omel Ali dengan memasang wajah cemberut tanda dia sedang jengkel.


Rara memang tadi hendak mengantarkan anaknya pergi mengaji saat Adam datang, dan dia pergi ke kamar untuk mengambil hijab, namun Langkahnya terhenti saat mendapati sang suami datang.


Dengan perasaan bersalah Rara pun pergi menghampiri Ali yang sudah melipat kedua lengannya di dada sambil manyun.


"Maaf ya sayang, udah bikin kamu nunggu lama," ucap Rara sambil mengelus bahu sang anak.


"Gara-gara mama aku jadi terlambat pergi ngaji dan kena hukuman," omel sang anak.


Ali memutar tubuhnya, dengan kesal bocah kecil itu menghentak-hentakan kakinya saat berjalan, karena gara-gara Rara dia terlambat datang ke mushola dan nanti sebagai hukuman dia harus ngaji di urutan paling terakhir.


Hais, semua gara-gara mas Adam nih, omel hati Rara.


Gara-gara dia begitu penasaran dengan hukum yang akan di berikan sang suami padanya, dia jadi lupa pada Ali. Dia pikir hukum itu berupa penganiayaan ternyata malah suruh nyium bau ketek sang suami.


"Dasar mas Adam!" Batin Rara lagi. "Gara-gara mas Adam Ali jadi ngambek.


****


Di tunggu hadiah untuk Rara ya!!!

__ADS_1


__ADS_2