Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 58. Melepas Rindu


__ADS_3

Adam baru saja selesai rapat dengan beberapa klien di ruang kerjanya. Dia masih duduk di sofa sambil membereskan beberapa berkas yang ada di meja ketika pintu ruangannya di ketuk dari luar.


"Masuk!"


Perintah Adam tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Sibuk mas?" Tanya suara manja yang membuat Adam seketika menoleh ke arah sumber suara.


Perempuan dengan gaun hitam model Sabrina langsung duduk di sofa sebelah Adam.


"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Adam dengan nada datar.


"Mau ngapain lagi, tentu saja melepas rindu. Aku kangen sama kamu mas!"


Jujur Monica sambil memamerkan senyum manisnya, seraya menyilangkan kakinya sehingga gaunnya yang pendek sedikit terangkat hingga menampakkan paham yang mulus mengoda iman.


Adam menarik nafas berat, bakal ada masalah nih, pikirnya.


"Aku sibuk, pekerjaan ku banyak jadi jangan ganggu," Adam memberi tahu, seraya bangkit dari sofa dengan tangan mencekram berkas yang tadi di gunakan untuk rapat kembali duduk di kursi kerjanya.


Monica menoleh ke arah meja kerja Adam, dengan sebelah tangan menopang pada lengan sofa guna menyangga dagunya, sedangkan pandangan matanya fokus pada Adam yang mulai sibuk bekerja.


"Huff, kamu sama saja dengan Marcell. Tadi aku kesana di usir sama dia katanya pekerjaan dia banyak. Sekarang aku ke sini kamu acuhkan juga dengan alasan pekerjaan banyak. Emang kalian para pria yang menyebalkan," omel Monica, kemudian mengerucut bibirnya tanda kesal.


"Kamu gak nawarin aku minum mas?" Tanya Monica sambil memainkan kuku jarinya tangannya yang satu lagi.


"Kalau mau minum pesen saja sama Rain, dia ada di depan," Jawab Adam dengan mata fokus pada leptopnya.


Monic mencebik, "Sekertaris mas itu tidak suka sama aku, kalau aku minta minum sama dia aku takut di kasih racun sama dia. Lihatlah tatapan dia yang selalu sini saat melihat ku."


Adam tertawa mendengarnya.


"Itu karena kamu selalu datang kesini dan menganggu pekerjaan ku makanya dia tidak suka sama kamu."


"Mau bagaimana lagi, teman ku cuma mas, pasti lah aku datang ke sini saat aku suntuk. Heran aku, gak di rumah gak di kantor tetep aja ada Bulldog yang menjaganya," kesal Monica


Adam terseyum, "itulah salah satu pesona pria tampan," jawabnya dengan nada bercanda.


"Ya, cukup lumayan juga. Dan aku suka dengan pria tampan itu mesti banyak yang jagain, karena lebih menantang menurutku," jujur Monica sambil berjalan menghampiri Adam.


Monica duduk di meja kerja Adam, di sebelah tangan Adam yang sedang mengetik sesuatu di leptop. Sedangkan Adam, masih fokus sama pekerjaannya tidak merasa terganggu sama sekali.

__ADS_1


Monica menyilangkan kakinya, seraya melipat kedua tangannya di perut.


"Bagaimana liburan mas kemarin? Puas? Dapat servis dari mbak Rara gak?" Tanya Monica dengan mata fokus pada wajah Adam.


"Ku lihat dari leher mas yang penuh bercak merah ini sepertinya mbak Rara cukup membahagiakan juga."


Monica menyentuh leher Adam yang tertutup kemeja warna putih, dengan tanda merah di beberapa bagian yang tampak jelas oleh mata, karena kulit putih Adam, dan hal itu sangat membuat Monica cemburu, apalagi jika mengingat kemarin Adam marah karena dia menelponya terus menerus dan mengatakan jika dirinya sangat mengangguk, membuat Monica begitu sangat sakit hati.


Masalahnya Monica kangen sama Adam, tapi yang di kangenin malah tidak tahu diri. Bertingkah seenaknya saja seolah tak perduli.


Adam diam tidak menjawab, namun wajahnya menunjukkan jika dia bahagia, dan itu membuat Monica jadi semakin menggila.


"Apakah mbak Rara sebegitu m*ng*irahkan jika di ranjang?" Tanya Monica sambil menyentuh lembut pipi Adam.


Adam memegang jemari lentik itu, lalu menatap tajam mata Monica, "m*ng*irahkan atau tidak itu bukan urusan mu," tajam Adam.


"Bagaimana jika sekarang menjadi urusan ku."


Tantang Monica yang langsung beralih memarik dasi dan kursi kerja Adam secara bersamaan, membuat Adam refleks mendekat pada Monica.


Dengan gerak cepat Monika menjatuhkan b*birnya pada b*bir Adam. Membuat pria itu mematung mencoba mencerna apa yang Monica lakukan padanya, hingga membuat dia tidak membalas c*uman itu.


"Apa yang kamu lakukan Monic?" Tanya Adam memaksa menghentikan permainan sialan itu.


"Apalagi, aku begitu sangat merindukan mu. Tentu saja aku melakukan apa yang ingin aku lakukan. Aku ingin merasakan ciuman mu dan tubuhmu yang lain juga," jujur Monic.


"Jangan gila, aku sudah punya anak dan istrinya," jawab Adam marah dan tidak suka.


Monica mendorong kencang dada Adam, sehingga pria itu kembali bersandar pada kursi.


"Jangan munafik mas, aku tahu kamu juga menginginkan ku" tegas Monica.


"Tidak," jawab Adam sambil menurunkan Monika dari pangkuanya dan mencoba untuk berdiri untuk pergi dari ruangan itu.


Namun tangan Monica menahannya dan memutar tubuhnya. Kini posisi Monica yang duduk di kursi kerja Adam. Refleks Adam menahan tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak menimpa tubuh Monica yang mungil.


Monica kembali menc*um Adam dengan cara menarik dasinya.


Adam meng*ram frustasi saat tangan Monica dengan lihai menyentuh batangnya di luar celana.


Perempuan itu tersenyum, dengan bibir berpindah di leher Adam tangan Monica berpindah masuk ke lubang buaya. Mengg*sek dan mengelus buaya yang sudah bangun.

__ADS_1


"Kamu benar-benar gagah mas Adam," puji Monic.


Adam lagi-lagi mengutuki diri sendiri saat otak dan tubuhnya tidak singkong. Otaknya menolak namun tubuhnya menikmati membuat logika tak sejalan.


Dengan cepat tangan menekan tombol enter yang ada di komputer untuk mematikan cctv ruang kerja sebelum papa Ali membawa Monica pindah ke sofa.


Posisi Monica yang semula di bawah jadi pindah di atas karena dia ingin saingan dengan Rara, ingin menujukan kebolehannya pada Adam Sehingga Monic ingin dia yang menyetir permainan.


Adam tidak dapat menolak meski dia sadar perempuan itu bukan istrinya, tidak ada aroma strawberry di b*bir itu dan juga tidak ada harum bunga Gardenia di tubuhnya, tapi rangsangan yang di berikan sangat besar membuat dia hanya dapat menutup mata dan menikmati.


Monica yang di bakar cemburu ingin menghapus semua jejak peninggalan Rara pada tubuh Adam sehingga dia aktif membukakan baju Adam hingga batas dada.


Namun kegilaan itu terhenti seketika, ketika Monica mendengar suara Adam.


"Ah...Rara," ucap Adam tak sadar.


"Terus Ra, terus!"


Dia yang selalu bersama Rara saat bermain enak menyebutkan nama sang istri di setiap d*sahannya dan itu sukses membuat Monica marah, hingga perempuan itu menghentikan c*mbuanya begitu saja.


Menatap nyalang Adam dengan gigi beradu menahan emosi. Adam yang merasakan aliran listrik di tubuhnya terhenti membuka mata secara berlahan.


"Kenapa berhenti?" Tanya dengan tanpa dosa.


"Dasar pria br*ngsek!" Maki Monica.


Kemudian memukul wajah Adam dengan tas tangan yang sudah dia pegang.


"Apa yang kamu lakukan?" Bentak Adam sambil merapa pipinya yang panas.


Monica tidak menjawab dan juga tidak perduli dia keluar dan pergi dari ruang kerja sialan itu begitu saja. Monica benar-benar sakit hati.


Bukanya mengejar Monica dan menjelaskan, Adam malah membenahi bajunya yang kusut dan berantakan karena n*fsunya langsung down begitu mendapat tamparan dari Monica. Kemudian dia kembali ke kursi kerjanya, bersikap biasa dan tak perduli dengan Monica.


Sementara di luar, Monica tak berhenti ngomel dan menyumpahi Adam sepanjang perjalanan ke lobby.


"S*alan! Aku yang memberi enak kenapa wanita itu yang dia panggil. Br*ngsek!" Omel Monica emosi.


****


Hahaha...maaf ya Monica 🙏

__ADS_1


__ADS_2