
Setelah dirasa Monic cukup tenang, Marcell pun kembali bertanya seraya mengusap pipi wanita itu.
"Siapa yang melakukannya? Siapa yang menampar mu hingga seperti ini?" Marcell begitu penasaran.
"Ibunya Adam," jawab Monica lirih.
Marcell terkejut, kaget.
Bagaimanapun bisa ibunya Adam menampar Monica hingga merah begini? Apa yang terjadi? Pikir pria itu dalam benaknya.
Merasa kekasihnya begitu penasaran Monica pun bercerita tentang kejadian yang menimpanya.
"Aku tadi makan malam di luar. Karena kamu bilang akan lembur hari ini jadi aku keluar untuk jalan-jalan sekaligus makan malam.
Tidak sengaja ketemu Adam di restoran, dia juga sedang makan malam dan akhirnya kami pun ngobrol-ngobrol sebentar. Karena hari beranjak malam Adam berencana mengantarkan aku pulang ke hotel. Tapi sebelum pulang dia ngajak ke apartemen untuk menunjukkan desain butik yang aku minta kemarin.
Saat dia sedang menunjukkan dan menjelaskan beberapa desain yang dia miliki tiba-tiba ibu dan bapaknya datang."
Air mata Monica kembali keluar, "terus ibunya marah, dia menuduh ku sebagai selingkuhan Adam dan menampar ku.
Padahal aku tidak berselingkuh dengan Adam sayang, beneran sumpah aku tidak selingkuh. Aku hanya mau mengambil desain itu saja, tidak lebih," tutur Monica sambil menghapus air mata dan ingus dengan tisu di tangan nya.
Kini Marcell mulai memahami situasi dan kejadian itu.
"Jadi ibu dan bapak Adam datang tiba-tiba pas kalian ada di apartemen?"
Monica mengangguk.
"Aku dan mas Adam sudah menjelaskannya kalau kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Tapi ibu itu tidak percaya."
Monica makin sesenggukan saat bercerita. Mengekspresikan sakit hatinya yang paling dalam.
Marcell yang tahu bagaimana sifat Ibunda Adam memahami posisi Monica. Karena orang tua Adam sama kolotnya dengan orang tua dia yang kerap menganggap cewek yang datang ke rumah cowok itu suatu hal yang sangat tabu. Apa lagi malam-malam begini.
Beda dengan mereka para orang tua yang tinggal di Kota besar atau luar negeri. Yang merasa hal itu biasa saja.
Marcell kembali merengkuh gadis itu dalam pelukannya, "sudah jangan nangis. Nanti biar aku yang minta Adam menjelaskan semua pada ibunya. Biar tidak ada salah paham yang terjadi. Atau jika perlu biar aku suruh ibunya minta maaf sama kamu," tutur Marcell.
Monica mengelengkan kepalanya.
"Gak usah, cukup kamu jelaskan saja biar ibunya mas Adam tahu."
__ADS_1
Marcell mengangguk setuju.
****
Setelah meminta maaf atas kejadian yang menimpa Monica malam itu lewat telpon, Adam tidak lagi berkomunikasi dengan perempuan itu.
Dia menjauh dan menghindari Monica, karena Adam tidak mau terjerumus dalam hubungan terlarang lebih dalam lagi.
Dia sendiri juga bingung kenapa sosoknya menjadi tidak bisa menahan diri saat berhadapan dengan Monica. Apakah itu pengaruh karena daging kambing yang dia makannya saat itu sehingga membuat nafsunya bertambah, atau karena Monica yang memang cantik dan mengoda Sehingga membuat dia terlena. Tapi apa pun alasan yang melatarbelakangi tetep saja kejadian itu tidak benar.
Lepas kontrol, khilafah, atau mungkin karena dia sudah lama tidak menjamah tubuh perempuan untuk menyalurkan ***** biologis nya.
Beruntung malam itu Eka datang sehingga aksinya dan Monica berakhir di tengah jalan, sebelum menuju puncak kenikmatan tertinggi dunia.
Adam tidak bisa membayangkan jika dia dan Monica sampai bersatu, mungkin dia akan semakin gila karena cemas, takut masalah akan semakin panjang.
Adam yang termenung di pantry akhirnya beranjak pergi, meninggalkan handphone nya yang berkelap-kelip nemampilkan nama Monica di layarnya sebagai panggilan masuk.
Pria itu masuk ke kamar mandi, menguyur tubuhnya dia bawah air shower yang dingin. Mengiklankan sosok Monica dari otaknya, menghilang pesona janda anak satu itu dan juga mendinginkan tubuhnya yang terasa panas akibat tuntunan biologis nya.
"Sial!"
Meski begitu suami Rara tetap mencoba menahan diri agar tidak lepas Kontrol lagi.
Mencoba mengingatkan-ingat semua nasehat Syaputra pada dirinya.
Hingga akhirnya Adam tersadar, mungkin pulang ke rumah adalah pilihan yang tepat. Menemui sang istri yang sudah tiga bulan tidak bertemu.
Adam keluar kamar mandi saat tubuhnya sudah menggigil kedinginan.
****
Pagi hari Adam memberi kabar Rain, mengatakan jika dia akan pulang ke rumah. Meskipun sekarang belum week end dan meminta sang sekertaris untuk mengirimkan berkas-berkas yang harus dia periksa lewat email, juga memberi perintah untuk menjadwal ulang semua pertemuan penting dan rapat dengan klien pada Minggu depannya.
"Baik pak," ujar sang sekretaris lewat handphonenya.
"Hati-hati di jalan pak!" Pesan Rain tulus pada sang atasan.
"Ya, trimakasih," jawab Adam, "Assalamualaikum," ujar suami Rara kemudian mengakhiri komunikasi dengan Rain setelah sang sekertaris menjawab salamnya.
****
__ADS_1
Beda Adam, beda juga Monica. Setelah malam penuh dosa yang dia dan Adam lalui, pacar Marcell tidak bisa melupakan Adam begitu saja. Terlalu Manis perlukan Adam padanya yang membuat janda anak satu itu jadi mabuk kebayang.
Seumur hidupnya, berkali-kali dia bersama seorang pria, belum pernah ada laki-laki yang memperlakukan dirinya selembut dan semesta Adam.
Dari c*uman b*bir mereka saja Monica sudah tahu jika Adam memulai semua itu bukan hanya berdasarkan ***** saja, tapi ada cinta kasih dalam sentuhan lelaki itu padanya.
L*matan b*bir Adam saat mencium b*birnya terasa lembut dan manis, layaknya gula kapas, yang langsung meleleh begitu masuk ke mulut. Membuat Monica serasa terbang ke awang-awang.
Usapan telapak tangan Adam yang besar dan hangat pada punggung dan kulit tubuhnya membuat Monica seolah tersengat listrik hingga membuat tubuhnya bergetar seketika.
Tidak pernah dia merasakan sensasi aneh dalam tubuh nya seperti yang dia rasakan saat bersama Adam.
Membuat Monica merasa gila karena tidak bisa melupakan itu semua. Tidak bisa melupakan Adam, sentuhan Adam, ciuman Adam Bahkan hembusan hangat nafas Adam di kulit Nya.
Marcell yang menurut dia sangat profesional dibandingkan suami dan pacar-pacar dia juga menjadi tidak ada apa-apa jika dibandingkan Adam.
Karena Adam bisa membuat dia begitu bahagia. Bahkan lebih gilanya lagi saat bercumbu dengan Marcell dia membayangkan itu Adam. Beruntung Monica tidak salah sebut saat dia melakukan pelepasan Sehingga membuat Marcell tidak tahu jika hati Monica sudah berpaling pada Adam, sahabat pacarnya sendiri.
Monica mengigit kuku jarinya yang tampak merah. Mondar mandir di dalam kamar hotel layaknya setrikaan.
Dia gelisah juga gundah, karena sudah beberapa hari ini Adam tidak memberi kabar padanya. Padahal suami Rara itu langsung membalas chatnya saat dia ngajak ngobrol.
Tapi sekarang, lelaki itu hanya read saja tanpa membalas. Bahkan di telpon juga tidak di angkat.
"Kenapa ini? Kenapa sikap dia berubah pada ku?" Guman Monica.
"Gak mungkin kan gara-gara kejadian malam itu Terus cintanya luntur begitu saja. Jika begitu benar-benar pengecut si Adam itu. Bukan pria yang gentleman."
Monica ngomong sendiri, ngomel sendiri gak jelas.
"Gak masalah kalau Adam menghindari dan menjauh. Mungkin memang kini saatnya aku yang harus mendekati dia dan membujuk dia lebih dulu. Biarlah aku yang berinisiatif untuk mencintai nya dulu baru nanti dia yang akan membalas cinta ku," tutur Monica dengan senyum bahagia.
Bahagia karena membayangkan malam-malam panas dia dengan Adam di malam-malam panjang mereka kemudian hari.
Perempuan berambut pirang itu, masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri sebelum nyamperin Adam di kantornya.
*****
Hohoho Monica mulai bereaksi.
Maaf ya Monic, para reader gak ada yang penasaran sama foto kamu, jadi athor gak share deh 😀.
__ADS_1